THE LAWYER'S SECRET WIFE

THE LAWYER'S SECRET WIFE
Eps 37. Mendekor Panggung



"Aku pulang, ya?" Vince berucap di saat Quella baru saja membuka pintu rumah.


Mereka berdua sudah pulang tepat di jam 11 malam. Hawa dingin telah menusuk sampai ke tulang--Sangat dingin. Namun tidak membuat rasa bahagia Vince karena bisa pergi bersama Quella.


"Em baiklah," sahut Quella mengangguk.


"Selamat malam, Xaviera!" seru Vince dengan tersenyum manis.


"Selamat malam juga,"


Vince pun berbalik badan dan hendak pergi menuju mobilnya. Namun laki-laki itu kembali membalikkan badan menghadap Quella. Dan--Langsung mendaratkan ciuman di kening istrinya itu.


"Aku lupa," ungkapnya. Sebelum berjalan pergi menuju mobilnya.


Tindakan Vince sontak membuat Quella terpaku sesaat. Untuk ke sekian kalinya, ia di kejutkan oleh laki-laki itu lagi. Detak jantungnya menjadi kencang.


Tit.. Tit..


Suara Klakson mobil Vince menyadarkan Quella. Lantas kedua matanya menatap ke arah Vince yang sudah berada di dalam mobil.


"Masuklah, Xaviera! Udara diluar sudah sangat dingin," seru Vince dari dalam mobil.


Tanpa sadar Quella langsung mengangguk setuju. Ia segera berjalan masuk ke dalam rumah dengan perasaan campur aduk. Bagaimana tidak? Tindakan Vince beberapa kali mengejutkannya. Quella menyentuh jantungnya yang masih terasa berdetak kencang.


"Kenapa dengan jantungku? Apa mungkin ada masalah? Aku harus memeriksanya nanti," gumamnya pelan.


Semalaman Quella habiskan dengan memikirkan apa yang terjadi pada dirinya saat Vince bertindak mengejutkan. Ia tidak pernah merasa dirinya seperti sekarang. Ini hanya terjadi sejak bertemu Vince dan mengetahui hal yang tanpa sengaja di lupakannya.


***


Sejak malam itu, Quella tidak bertemu Vince lagi. Ia di sibukkan dengan jadwal kuliah dan persiapan acara tahunan kampus. Namun mereka berdua tetap berhubungan lewat ponsel.


Ting...


Terdengar sebuah notifikasi pesan masuk. Quella yang sedang mengatur dekorasi panggung di aula, langsung memeriksa ponselnya dan membuka pesan itu.


[Vince📞: Aku sudah sampai di Paris]


Beberapa jam lalu, Vince mengatakan sedang bersiap berangkat ke Paris. Sekarang laki-laki itu memberikan kabar bahwa sudah sampai. Quella segera memberikan balasan singkat


[Baguslah]


[Vince📞: Iya. Kamu sedang apa sekarang?]


[Mengatur dekorasi panggung untuk acara besok]


[Vince📞: Kalau begitu, kamu lanjutkan saja dulu. Jangan lupa makan!]


[Kamu juga]


Kemudian Quella memasukkan kembali ponselnya ke dalam saku celananya. Ia lanjut mengatur dekorasi panggung yang sudah 80% jadi. Tinggal di tambahkan beberapa bagian saja lagi.


"Kak Quella!" panggil seseorang.


Sontak Quella mencari asal suara itu. Dan--Kedua matanya menangkap keberadaan Gerald di dekat pintu masuk aula. Laki-laki itu tampak melambaikan tangan ke arahnya. Quella pun segera datang menghampirinya.


"Ya, Gerald? Ada apa ke sini?" tanya Quella usai berdiri di hadapan laki-laki itu.


"Kak Vince memintaku untuk memberikan ini!" jawabnya sembari memperlihatkan sebuah paperbag di tangannya.


"Untuk gue?"


"Iya untuk kakak. Ambil dan bukalah!" seru Gerald memberikan paperbag itu.


"Sama-sama. Kalau begitu aku pergi dulu! Ada mata kuliah yang sudah menunggu," pamit Gerald yang langsung di angguki Quella.


Laki-laki itu pergi dari sana. Quella sempat mengintip isi paperbag itu. Dimana terdapat sebuah kotak berukuran besar. Ia meletakkannya ke dekat tas miliknya dan akan membukanya nanti sebab harus menyelesaikan tugasnya terlebih dulu. Di bantu beberapa mahasiswa lain, Quella dapat menyelesaikan dekorasi panggung sebelum jam 8 malam.


"Gue duluan ya!" pamit Quella pada mahasiswa yang satu tugas dengannya.


"Hati-hati, Quella!"


Quella menganggukkan kepala. Sebelum akhirnya ia berjalan pergi dari Aula kampus. Di luar kampus sudah terdapat taksi Online yang di pesannya. Padahal bisa saja Quella memakai mobil sendiri atau bahkan Vince menyediakan mobil serta sopir untuknya. Namun ia sama sekali tidak mau sebab prinsip kesederhaan yang memang sangat melekat dalam dirinya. Terlebih lagi, dirinya cukup nyaman dengan kehidupannya sekarang.


Seperginya Quella dengan taksi online yang di tumpanginya, para mahasiswa lain tadi juga mulai pulang satu-persatu. Hingga suasana kampus sepi dan gerbang kampus di kunci. Tetapi tidak berselang lama, datang sebuah mobil keluaran terbaru. Sang pemilik turun dari mobil bersama dua orang lainnya di depan gerbang kampus.


"Loh nona, kenapa datang ke sini? Semuanya udah pulang," tanya penjaga kampus yang sangat mengenali ketiga orang itu.


"Ada barang saya yang ketinggalan, pa. Saya baru sadar pada saat mencarinya tadi. Barang itu penting. Jadi saya datang untuk mengambilnya," jawab orang itu.


"Tapi nona... Ini sudah malam," ucap penjaga itu ragu.


"Sudah deh, pa. Kita masuknya bentar aja kok. Gak bakal lama. Janji deh," ucap satu orang lainnya memohon.


Penjaga itu sempat berpikir sesaat. "Baiklah nona. Hanya sebentar ya!? Soalnya ini sudah di luar jam ijin masuk,"


Kemudian penjaga itu segera membukakan gerbang kampus. Sehingga ketiga orang tadi bisa masuk dengan tersenyum samar. Mereka bertiga berjalan menyusuri koridor kampus yang redup akan pencahayaan. Justru hal itu sangat bagus untuk mereka. Di karenakan mereka bisa berjalan di kegelapan agar tidak terpantau semua CCTV kampus yang di lewati. Langkah mereka terus berlanjut sampai mencapai pintu aula kampus yang terkunci rapat.


"Cepat buka pintunya!" titah orang yang berdiri di tengah.


"Oke-oke," sahut satu-satunya laki-laki di antara mereka bertiga.


Laki-laki itu mengeluarkan sebuah kunci duplikat dari dalam saku celananya. Lalu segera menggunakannya untuk membuka pintu Aula.


Klek...


"Berhasil," ucapnya pelan saat pintu Aula berhasil di buka.


Mereka bertiga pun bergegas masuk ke dalam Aula dan menutup kembali pintunya. Suasana Aula sama seperti koridor kampus yang redup akan pencahayaan.


"Lo harus melakukannya dengan cepat!" seru orang yang sedari tadi berdiri di tengah.


"Beres. Serahkan saja pada gue!" sahut laki-laki itu.


Lantas laki-laki itu langsung berjalan mendekati panggung untuk acara besok. Ia berkeliling di sana. Entah apa yang sedang di carinya.


"Apa lo sudah menemukannya!?"


"Ya, gue sudah menemukannya. Tunggu bentar!" seru laki-laki itu.


Laki-laki itu mengeluarkan sesuatu dari sakunya. Bukan kunci duplikat tadi tapi benda lain. Kemudian ia tampak melakukan sesuatu pada salah satu bagian panggung itu. Beberapa menit berlalu, laki-laki itu menepuk pelan kedua tangannya.


"Sudah beres!" beritahunya pada kedua temannya.


"Kerja bagus," puji orang yang tengah tersenyum licik di kegelapan.


"Lihat saja besok! Apakah lo masih bisa bertingkah sok berani di depan gue atau gak. Siapa suruh lo mencari masalah sama gue. Sekarang bersiaplah menerima pelajaran dari gue yang gak akan pernah lo lupakan, Quella!" gumamnya.


Setelahnya mereka bertiga segera keluar dari aula. Tidak lupa pula mengunci kembali pintunya agar tidak ada yang curiga. Lalu barulah mereka bertiga kembali ke mobil yang tadi berada di depan gerbang kampus.


"Makasih, pak!"


"Ya, sama-sama non!'