
Dengan langkah ragu, Vince mulai berjalan memasuki ruang ICU. Pakaian hijau juga telah melekat di tubuhnya. Kedua matanya fokus menatap sang istri yang tengah terbaring koma di atas brankar. Dimana wajahnya tampak memucat. Meski begitu, istrinya tetap terlihat cantik dalam keadaan apapun. Vince berjalan mendekatinya sembari menatap peralatan Monitoring, Ventilator dan beberapa alat medis yang terpasang di tubuh Quella. Telinganya dapat mendengar jelas detak jantung istrinya itu—Detakan yang juga menjadi detak jantungnya. Jika terhenti, maka detak jantungnya terasa ikut berhenti. Begitu pula dengan hembusan nafas Quella yang terlihat lewat Ventilator. Jika hembusan nafas itu berhenti, maka Vince merasa paru-parunya tidak lagi berfungsi—Ikut berhenti bernafas.
Apapun yang menyangkut diri Quella telah menjadi satu dengan Vince karena perasaan cinta. Yeah. Dua hati dan jiwa bersatu karena perasaan cinta yang begitu besar. Oleh karena itu salah satunya merasa sakit, satu orang lainnya ikut merasakan hal yang sama.
"Xaviera... Sayang," panggil Vince pelan sembari menyentuh wajah Quella.
Perasaan sedih dan hancur, semakin terasa di hatinya. Saat melihat keadaan Quella yang begitu menyedihkan. Ini kali kedua, ia melihat Quella terbaring di rumah sakit. Pertama, saat mengalami kecelakaan hampir dua tahun lalu. Dan sekarang, Quella terbaring di rumah sakit lagi dengan keadaan koma. Vince sangat membenci keadaan Quella seperti itu. Jika saja bisa bertukar posisi, ia pasti sudah menggantikannya. Sayangnya itu tidak bisa ia lakukan.
"Maaf. Aku terlambat mengetahui keadaanmu karena sibuk mengurus kasus klienku. Kamu boleh marah atau bahkan memukulku atas keterlambatanku ini. Tetapi, tolong buka matamu!" serunya dengan perasaan bersalah dan memohon pada istrinya yang sedang terbaring koma itu.
Meski tidak mendapat respon apapun dari Quella, Vince tahu istrinya itu pasti mendengar ucapannya. "Bagaimana ini bisa terjadi padamu, sayang? Padahal kemarin pagi kita masih berbalas pesan. Lantas mengapa tiba-tiba aku harus mendapat kabar soal keadaanmu ini?"
"Kamu tahu? Aku sangat membenci melihat keadaanmu seperti ini. Kenapa tidak aku saja yang menggantikan posisimu?" sambungnya menatap sendu Quella.
"Cepat buka matamu dan lihat aku, sayang! Aku sudah pulang. Jangan membuatku menunggu lama untuk yang kedua kalinya! Cukup 2 tahun ini aku harus menunggu untuk bertemu denganmu. Masih banyak hal yang perlu ku ceritakan. Tentang dirimu, aku dan kita. Kamu pasti ingin tahu juga, kan? Tidak masalah kamu belum ingat. Aku bisa menceritakan semuanya. Bahkan kita bisa membuat kenangan yang lebih indah dari sebelumnya. Bangunlah! Ku mohon!" Vince menggenggam erat tangan Quella. Berharap istrinya itu dapat merasakan kehangatan yang tengah di berikannya lewat genggaman tangan. Dan bisa merasakan kesedihan yang tengah di rasakannya. Namun istrinya itu tidak kunjung memberikan respon. Sehingga ia hanya bisa menghembuskan nafas dengan kasar.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
"Gerald!" panggil Vince usai keluar dari ruangan ICU.
Melihat sang kakak sepupu datang menghampirinya, Gerald langsung beranjak berdiri.
"Ya, kak?"
"Dimana kedua sahabat Xaviera?" Vince celingukan sekilas melihat keberadaan kedua gadis yang merupakan sahabat Quella.
Saat datang tadi, ia tidak sempat menanyakan keberadaan mereka karena sibuk mengkhawatirkan keadaan istrinya yang tengah terbaring koma.
"Mereka sudah ku suruh pulang untuk beristirahat kak," jawab Gerald.
"Hmmm baguslah," balas Vince di sertai dehaman ringan.
"Lalu bagaimana soal kejadian ini? Apa kakak sudah mendapatkan informasinya?" giliran Gerald yang bertanya pada kakak sepupunya itu.
"Kejadian ini di sengaja oleh seseorang,"
Sebelumnya Vince telah memerintahkan anak buahnya untuk menyelidiki kejadian yang menimpa Quella. Tentu saja perintahnya bukan hal yang sulit di lakukan bagi anak buahnya. Tidak sampai 1 jam, ia sudah mendapatkan informasi yang di perlukan. Dimana dari penyelidikan anak buahnya itu, di temukan fakta dan bukti bahwa kejadian itu sengaja di lakukan oleh beberapa orang. Sekarang ia sudah mengetahui siapa orang itu dan tentu saja dirinya akan segera bertindak. Orang itu harus menerima balasan darinya karena berani melakukan hal buruk, sampai membuat keadaan Quella seperti sekarang.
"Apa!? Di sengaja?" Gerald memekik dengan mata membulat sempurna.
"Ada rekaman CCTV malam sebelumnya yang menunjukkan kejadian ini di sengaja," sahut Vince menjelaskan.
Gerald menganga tidak percaya. "Astaga. Kenapa bisa ada orang sejahat itu dengan kakak ipar?"
"Aku belum tahu kejadian ini memang di rencanakan untuk Xaviera atau orang lain. Tetapi, aku tidak akan tinggal diam. Mereka harus mendapat balasan setimpal karena telah berani membuat Xaviera terluka!" kilatan amarah tampak dari sorot mata Vince. Laki-laki itu sangat marah dan hanya menunggu waktu untuk meledakkan amarahnya.
"Ya—Aku mendukungmu, kak! Siapapun orang yang telah membuat kakak ipar terluka, harus mendapatkan balasan. Mereka tidak bisa berbuat jahat seperti ini pada kakak ipar. Beruntung kakak ipar bisa di selamatkan, meski akhirnya terbaring koma. Namun tetap saja, perbuatan mereka hampir membahayakan nyawa kakak ipar. Orang seperti mereka tidak boleh di diamkan saja!" Gerald juga ikut merasa marah mendengar itu.
Bagaimana pun Quella adalah kakak iparnya—Orang lain tidak boleh mengganggu, apalagi sampai melukainya. Dan siapapun orang yang berani melakukan itu, tentu harus di beri pelajaran agar kapok.
"Hmmm jaga kakak iparmu!" seru Vince tiba-tiba. Sontak Gerald meredam rasa amarahnya dan menatap laki-laki yang merupakan kakak sepupunya itu dengan bingung.
"Bukankah kakak baru saja datang, lalu kenapa mau pergi lagi?" tanyanya.
"Aku tidak bisa menunggu untuk memberi mereka pelajaran," jawab Vince yang langsung di mengerti oleh Gerald.
Sebenarnya Vince tipe orang yang cukup sabar tapi bila sudah menyangkut Quella, percayalah—Kepercayaannya hanya setipis tisu. Oleh karena itu, ia tidak bisa menunggu lebih lama dan membiarkan mereka yang telah melukai Quella dapat tidur dengan nyenyak lagi.
"Baiklah, kak. Pergilah! Soal kakak ipar, aku akan menjaganya sampai kakak atau kedua sahabat kakak ipar kembali. Tenang saja," sahut Gerald, usai mendengar jawaban Vince dan sangat mengerti bagaimana sifat kakak sepupunya itu.
Vince menganggukkan kepala. Dengan segera, kakinya mulai melangkah pergi meninggalkan Gerald di sana. Ia yakin bahwa adik sepupunya itu selalu bisa di percaya. Sehingga ia merasa lega menitipkan Quella padanya selama dirinya pergi menuju ke tempat dimana orang-orang yang telah melukai Quella berada. Vince tidak pergi sendiri ke sana, melainkan membawa beberapa anak buahnya yang memang sudah mengikutinya sejak di rumah sakit tadi.
"Kau sudah yakin mereka ada di sana?" tanya Vince pada anak buahnya yang duduk di samping kursi kemudi. Sedangkan dirinya duduk di kursi penumpang dengan raut wajah datar dan aura dingin mencekam seperti biasa.
"Yakin, tuan. Saya sudah memastikannya,"