
Selama di rawat di rumah sakit, Quella di jaga secara bergantian. Saat Vince sedang sibuk urusan yang tidak bisa di tinggalkan, maka Gerald atau kedua sahabatnya yang datang menjaganya. Terkadang Troy—Asisten Vince juga datang untuk mengurus keperluannya. Setelah seminggu di rawat untuk memastikan keadaannya benar-benar pulih, akhirnya sore ini ia di ijinkan untuk pulang.
"Apa tidak ada lagi yang perlu di khawatirkan?" tanya Vince pada Dokter yang baru saja melakukan pemeriksaan pada Quella.
Dokter tersebut menganggukkan kepala, lalu tersenyum tipis. "Keadaan nona sudah pulih sepenuhnya tapi meski begitu, saya tetap membuatkan resep obat. Nona harus meminumnya selama 3 hari ke depan. Obat ini akan meminimalisir rasa nyeri yang kemungkinan muncul pada bekas luka di kepala nona,"
"Itu bukan masalah serius, kan?" Vince sedikit mengkhawatirkan keadaan Quella usai mendengarkan ucapan Dokter itu barusan.
"Hal ini wajar terjadi pada pasien pasca operasi di bagian kepala. Tuan tidak perlu merasa khawatir!" jelas Dokter itu menghilangkan kekhawatiran yang Vince rasakan.
Vince tampak menghela nafas lega. "Syukurlah,"
"Baiklah, tuan. Kalau begitu saya permisi dulu. Masih ada beberapa pasien yang perlu saya periksa," Dokter itu berpamitan pada Vince yang langsung di balas anggukan kepala.
"Terima kasih, Dok!" ungkap Vince singkat.
"Sama-sama,"
Dokter tersebut pun pergi dari sana, usai sempat melirik ke arah Quella seraya tersenyum. Quella yang tengah duduk di pinggiran brankar membalasnya dengan senyumannya tipis.
"Aku tahu kamu murah senyum tapi jangan tersenyum seperti itu pada laki-laki lain," celetuk Vince bernada dingin.
Sontak membuat Quella mengalihkan tatapannya ke arah laki-laki itu. Sudut bibirnya sedikit terangkat. "Kamu cemburu?"
"Hmmm," Vince berdeham pelan.
Tidak lupa pula raut wajahnya nan datar. Belum lagi sorot matanya yang menunjukkan kilatan cemburu. Arghh—Laki-laki itu justru terlihat begitu lucu di mata Quella sekarang. Tanpa sadar ia beranjak berdiri tepat di hadapan Vince yang sedang menunjukkan kecemburuannya itu.
"Aku tidak akan melakukan itu lagi. Berhenti cemburu, oke? Kamu terlihat lucu sekarang. Seperti bukan seorang pengacara Vince yang terkenal akan berwajah tegas dan tenang," ucap Quella seraya menyentuh pipi Vince—Sang suami.
Sejak terbangun dari koma, ia tidak merasa canggung lagi saat berinteraksi dengan Vince. Hal itu karena perlahan ingatannya mulai kembali, meski belum semuanya. Namun itu sudah cukup untuk membuat hubungan mereka menjadi dekat seperti semula.
"Aku tidak bisa berhenti cemburu. Kamu itu milikku. Tidak ada yang boleh mengalihkan perhatianmu apalagi sampai merebutmu dariku," Vince mengucapkannya sembari menarik pinggang Quella agar lebih mendekat padanya. Hingga tubuh mereka saling menempel satu sama lain tanpa jarak.
"Iya, aku tahu. Siapa yang berani melakukan itu padaku? Ku rasa tidak ada. Jadi sekarang bisakah kita pulang? Aku sudah bosan mencium bau rumah sakit ini," pinta Quella mengerjapkan lucu matanya. Sungguh ia tidak menyukai berada di sini.
Vince yang tengah cemburu di buat gemas olehnya. Spontan ia melupakan kecemburuannya itu, lalu menganggukkan kepala.
"Baiklah, sayang. Kita pulang sekarang!"
Vince melepaskan rangkulannya pada pinggang Quella dan sebagai gantinya—Ia menggenggam tangan istrinya itu. Quella tampak tidak keberatan sama sekali. Istrinya itu justru tersenyum sumringah. Melihat itu, tentunya ia ikut tersenyum tipis. Mereka berdua pun segera berjalan keluar dari ruangan yang selama seminggu ini menjadi ruang rawat Quella. Untuk situasi di sana, Vince sudah meminta Troy—Asistennya itu untuk mengatasinya agar tidak membuat kehebohan atau bahkan sampai muncul berita tentangnya bersama Quella nanti.
Bukan karena tidak ingin semua orang tahu bahwa ia sudah menikah. Tetapi selama Quella masih ingin menyembunyikan identitasnya, maka ia akan melakukan hal yang sama. Hubungan mereka tidak akan di publikasikan, sebelum istrinya itu mengijinkan.
"Sudah kau urus, Troy?" Vince bertanya pada seorang laki-laki yang memakai setelan jas hitam. Tepat saat ia dan Quella sudah sampai di parkiran rumah sakit.
Laki-laki itu memang adalah asistennya—Troy yang baru saja selesai mengurus kepulangan Quella.
"Sudah, tuan!"
"Bagus," balas Vince singkat.
Troy bergerak membukakan pintu mobil untuk mereka berdua. Vince mempersilakan Quella masuk terlebih dulu, baru setelah itu dirinya. Pintu mobil di tutup kembali oleh Troy, usai mereka berdua sudah duduk di kursi penumpang. Lalu ia segera masuk ke dalam mobil dan mengemudikannya, meninggalkan kawasan rumah sakit. Namun jalan yang di tuju bukan arah menuju rumah Quella.
"Ini bukan jalan menuju rumahku," celetuk Quella seraya menatap Vince yang tengah duduk dengan tenang di sebelahnya. Laki-laki itu masih menggenggam tangannya.
"Memang bukan. Kita sedang menuju ke rumahku. Mulai sekarang kamu akan tinggal bersamaku," Vince tersenyum tipis—Sesekali ia mencium tangan Quella.
Quella terkesiap mendengar itu. "Tapi gimana dengan barang-barangku? Kenapa mendadak begini?"
"Jangan khawatirkan soal itu, sayang! Barang-barangmu sudah ada di rumahku. Aku meminta kedua sahabatmu untuk mengemasnya," jawab Vince menjelaskan.
"Hmmm begitukah?"
"Aku justru senang bisa tinggal denganmu lagi," jawab Quella tersenyum tipis.
Vince pun ikut tersenyum tipis mendengarnya. Perlahan tangannya yang bebas, bergerak mengusap lembut puncak kepala Quella. Lalu ia mendaratkan sebuah ciuman singkat di sana. Tindakan kecil seperti itu sudah cukup membuat hati Quella berdebar dan tersentuh.
'Ini—Perasaan ini yang tanpa sengaja ku lupakan, kini telah kembali. Rasanya masih sama. Bahkan terasa lebih besar daripada dulu,' batin Quella
...****************...
Setelah menempuh perjalanan hampir setengah jam, akhirnya mereka berdua tiba di salah satu rumah yang berada di perumahan elit terkenal. Rumah itu telah Vince tinggali sejak Quella berkuliah di sini. Ia memang sengaja agar bisa memantau lebih dekat. Rumah yang di tinggalknya itu berukuran cukup besar dengan terdiri dari 2 lantai dan desainnya mengangkat tema modern-klasik. Di kelilingi pagar hitam yang tidak terlalu tinggi, serta memiliki halaman nan hijau akan tanaman hias. Rumah yang sangat bagus sesuai dengan kriteria perumahan elit.
"Ayo masuk! Udaranya sudah terasa sangat dingin," ajak Vince sembari masih menggenggam tangan Quella.
Quella hanya menganggukkan kepala dan mengikuti langkah Vince yang membawanya masuk ke dalam rumahnya. Di ikuti Troy yang berjalan di belakang mereka. Laki-laki itu tidak langsung pulang sebab masih ada urusan dengan Vince—Sang bos.
"Rumah yang bagus," puji Quella saat mengedarkan pandangannya ke setiap sudut rumah Vince yang memang seperti pujiannya barusan. Ia ingin berkeliling dan melihat semuanya secara menyeluruh.
"Aku senang mendengarnya tapi nanti saja kamu berkeliling untuk melihat semuanya. Sekarang kita makan malam dulu. Baru setelahnya kamu beristirahat," ucap Vince yang tentu bisa menebak isi pikiran istrinya itu.
"Yeah. Aku juga sudah lapar," Quella tidak berbohong—Perutnya memang lapar sedari tadi.
Padahal baru beberapa jam yang lalu ia makan. Tidak usah heran. Inilah kebiasaannya yang mudah lapar dan sangat suka makan. Namun meski begitu, tubuhnya sama sekali tidak terpengaruh akan kebiasaannya itu. Buktinya ia tidak mengalami perubahan dalam segi berat badan.
Vince terkekeh pelan mendengar itu. "Ayo ke meja makan! Di sana sudah ada beberapa makanan menantimu,"
"Heum," Quella berdeham, menyetujui ajakan Vince.
"Kalau begitu saya akan menunggu di ruang kerja, tuan!" suara Troy menyela pembicaraan antara kedua orang itu.
"Tidak ikut makan malam, asisten Troy?" tanya Quella yang langsung mendapat gelengan kepala darinya.
"Tidak, nona. Terima kasih,"
"Baiklah. Kau bisa bantu memeriksa berkas yang ada di meja saya dulu!" seru Vince memerintahkan.
Troy menganggukkan kepala, sebelum menunduk hormat dan pergi menuju ruang kerja Vince yang berbeda arah. Begitu pula Quella yang segera mengikuti langkah Vince menuju meja makan yang letaknya di dekat dapur. Seketika kedua matanya berbinar menatap semua makanan yang ada di atas meja makan itu. Dimana semuanya adalah makanan kesukaannya.
"Kamu yang menyiapkan ini!?"
"Lebih tepatnya aku meminta pelayan untuk memasak semuanya. Ini untuk merayakan kesembuhanmu, sekaligus menyambut kedatanganmu di rumahku. Semoga rasanya tidak membuatmu kecewa" sahut Vince seraya menarik kursi untuk Quella duduk.
"Terima kasih. Aku yakin rasanya tidak akan mengecewakan," tutur Quella tersenyum manis.
Fyi, pelayan yang bekerja di rumah Vince hanya dua orang. Mereka bekerja dari pagi dan baru pulang setelah memasakkan makan malam kalau Vince sedang tidak ada kerjaan di luar. Kenapa kedua pelayannya tidak menginap? Jawabannya adalah karena Vince yang meminta hal tersebut.
"Sama-sama," balas Vince usai mendudukkan diri di kursi di dekat Quella.
Mereka berdua mulai makan usai saling melayani satu sama lain. Vince mengambilkan makanan untuk Quella, begitu pula sebaliknya. Kebiasaan yang sudah lama tidak mereka lakukan. Yeah, semenjam Quella hilang ingatan tentunya.
"Bagaimana?" tanya Vince tampak sedikit khawatir saat Quella terdiam dengan suapan pertamanya.
Mendengar pertanyaan itu, Quella pun segera mengunyah makanannya dan kemudian menatap ke arah sang suami. "It's so delicious,"
Kekhawatiran Vince menghilang, di gantikan senyuman manis yang terbit di bibirnya. Ia merasa senang mendengar pendapat Quella barusan dan istrinya itu tampak makan dengan lahap. Di sela makan, ia sesekali membersihkan noda makanan yang ada di sudut bibir Quella. Istrinya itu terkadang memang blepotan saat makan. Tidak mencerminkan seorang pemimpin perusahaan sama sekali kalau sudah di hadapkan dengan makanan, apalagi itu makanan kesukaannya.
"Makannya pelan-pelan, sayang! Tidak akan ada yang merebutnya darimu," tegur Vince yang hanya di balas cengiran singkat sang istri.
Quella mematuhi teguran Vince, meski tidak sepenuhnya. Dan—Seperti biasa, Vince hanya bisa menggeleng-gelengkan kepala melihatnya. Namun ini adalah salah satu moment yang cukup ia rindukan selama ini.
'Tolong jangan renggut lagi dia dan semua moment ini dariku, takdir! Aku tidak akan sanggup,' batin Vince