THE LAWYER'S SECRET WIFE

THE LAWYER'S SECRET WIFE
Eps 31. Nomor Vince



Quella mulai membuka matanya, usai sinar mentari pagi masuk lewat celah-celah gorden kamar dan membuat tidurnya terganggu. Perlu beberapa menit untuknya mengumpulkan kesadarannya yang hilang sebab tertidur beberapa jam. Setelah kesadarannya terkumpul, ia merenggangkan kedua tangannya. Rasanya ia baru saja memejamkan tapi terpaksa bangun. Yeah. Tadi malam Quella harus memeriksa hasil laporan bulanan perusahaan orang tuanya yang membuatnya begadang sampai 2 malam. Dan karena itu pula, ia bisa melupakan sejenak pikirannya soal Vince.


"Hoammm," Quella menutup mulutnya yang terbuka dengan tangan kirinya. Tidak dapat di ungkiri kalau ia masih sangat mengantuk. Namun matanya sudah melihat ke arah luar jendela yang sudah tampak terang akan cahaya mataharinya.


Ia pun segera mengambil ponselnya yang terletak di atas nakas tepat di sebelah kanan ranjangnya. Di lihat jam sudah menunjukkan pukul 7 pagi. Tetapi bukan itu saja yang menjadi pusat perhatiannya, melainkan banyaknya notifikasi panggilan tidak terjawab.


Dahi Quella mengerut melihat nomor pemanggil yang tidak di kenali. "Siapa yang meneleponku?"


Rasa penasaran membuat Quella berniat menelepon balik. Baru saja ia ingin melakukan itu, ponselnya kembali berdering dan tertera kembali nomor si pemanggil yang panggilannya beberapa kali tidak terjawab. Lantas Quella langsung mengangkatnya.


"Halo!?" sapa Quella tapi tidak terdengar balasan dari si pemanggil.


"Halo!? Ini siapa?" ulangnya menyapa, sekaligus bertanya.


[0xxxxx: Xaviera?]


Suara bariton di ujung sana terdengar. Quella bisa mengenalinya hanya dari cara orang itu memanggilnya.


"Vince?" tebak Quella.


[0xxxxx📞: Syukurlah kamu mengenalku]


Vince yang terdengar sedang terkekeh. Mungkin laki-laki itu berpikir bahwa Quella akan kembali tidak mengenalinya.


"Em ya. Ada apa?" tanya Quella bernada ragu.


[0xxxxx📞: Aku hanya memastikan bahwa ini benar nomormu. Takutnya kamu memberikan nomor orang lain]


Quella terdiam sejenak. "Hmmm. Tadi malam aku sibuk memeriksa laporan perusahaan papa dan mama. Jadi ya.. Aku tidak tahu kalau kamu meneleponku. Maaf,"


[0xxxxx📞: Aku mengerti, Xaviera. Tidak masalah. Kamu baru saja bangun?]


"Heum. Kenapa?" tanya Quella sembari menyandarkan dirinya di dinding kamar--Tepatnya di bagian atas ranjang.


[0xxxxx: Aku berniat mengajakmu sarapan bersama. Apa kamu punya waktu?]


Quella berpikir sesaat untuk mengingat jadwal kegiatannya hari ini. "Em maaf. Tapi pagi ini aku tidak bisa,"


[0xxxxx: Begitu ya?]


Terdengar kekecewaan dari seberang sana. Vince sangat berharap bisa sarapan bersama dengan Quella.


"Selama 2 hari ini, aku ada kegiatan organisasi di kampus. Mungkin kita bisa sarapan bersama lusa? Bagaimana?" terang Quella, serta memberikan usulan sebab merasa tidak enak hati saat mendengar kekecewaan laki-laki itu.


[0xxxxx📞: Baiklah. Aku mengerti. Kita masih punya banyak waktu untuk sarapan bersama]


"Iya. Sekarang aku harus bersiap untuk pergi kuliah. Ku matikan dulu, ya?" ucap Quella sebab dirinya perlu sedikit banyak waktu untuk bersiap-siap, sekaligus menyiapkan semua hal yang di bawanya untuk kegiatan organisasi.


[0xxxxx📞: Iya baiklah. Beritahu aku kalau kamu sudah sampai di kampus!]


"Oke," sahut Quella singkat.


Tut...


"Aku pakai ini saja. Hari ini pasti akan melelahkan," gumamnya, usai menjatuhkan pilihan pada setelan pakaian berkombinasi warna hijau mint-hitam


Crop top hijau mint dengan lengan panjang terpasang sempurna di tubuhnya. Begitu pula celana cargo hitam yang terpadang sebagai bawahannya. Sedangkan untuk sepatu, ia gunakan yang berwarna hitam pekat. Terakhir rambutnya di ikat tinggi dan di wajahnya di poleskan make up tipis. Penampilan yang simpel. Meski banyak orang yang menghina penampilannya itu. Quella mana peduli, justru menurutnya penampilannya itu lebih fashionable di banding berpakaian seksi seperti kebanyakan perempuan seusianya.


Selesai bersiap, Quella mengambil tas yang isinya sudah di persiapkan untuk kegiatan organisasi hari ini. Btw, bicara soal kegiatan organisasi yang Quella ikuti, organisasi itu merupakan perkumpulan mahasiswa yang bertugas untuk menyiapkan acara penting kampus. Quella sudah bergabung sejak beberapa bulan lalu. Dan hari ini mereka akan mengadakan kegiatan berupa rapat untuk menyiapkan acara tahunan kampus, serta mengobservasi tempatnya. Quella pun bergegas pergi ke kampus dan seperti biasanya, ia membeli sarapan di pinggir jalan.


Quella sampai di kampus tepat jam 8 lebih beberapa menit. Suasana kampus sudah ramai dengan para mahasiswa yang memiliki jadwal mata kuliah pagi ini. Ia berjalan menuju bagian taman kampus. Sesampainya di sana, ia duduk dengan tenang sembari menyantap sarapannya. Earphone juga telah terpasang di telinganya, dimana terdengar alunan musik yang ia sukai. Quella benar-benar menikmati suasana sarapannya yang di iringi alunan musik nan enak di dengar. Di tambah pemandangan kampus yang cukup nyaman di lihat.


Plak


Seseorang memukul lumayan keras pundak Quella. Sontak perempuan itu langsung menoleh ke belakang.


"Zelda!! Itu sakit!" pekik Quella--Tatapannya tajam pada Zelda yang baru memukul pundaknya dengan lumayan keras.


"Habisnya lo dari tadi gue panggil gak denger-denger. Jadi gue pukul deh. Sorry!" ungkap Zelda sembari memperlihatkan deretan gigi putihnya yang tersusun rapi.


"Tapi gak usah di pukul juga, Zelda!" seru Quella seolah tidak terima atas perlakuan sahabatnya itu. Ia melepaskan earphone yang tadi terpasang


Zelda menggembungkan pipinya. "Iya deh. Maaf,"


"Hmmm lo baru datang?" deham Quella, mengganti topik pembahasan.


"Iya. Baru banget. Rencananya gue mau jemput lo. Eh ternyata lo udah duluan," celetuk Zelda, usai mendudukkan dirinya di sebelah Quella.


"Gue ada kegiatan. Makanya datang cepet," ucap Quella.


"Ck. Emang lo yang paling Ontime deh. Padahal kan biasanya kegiatan lo itu sekitar 1 jam lagi," Zelda berdecak pelan. Pasalnya ia sangat hafal jadwal kegiatan sahabatnya itu akan selalu mulai sekitaran jam 9. Hanya saja Quella yang suka datang lebih awal. Biasa, si paling Ontime.


"Mana Wil? Dia belum datang?" Quella tidak menghiraukan ucapan Zelda barusan.


"Yeah. Tuh anak masih di jalan. Paling bentar lagi sampai,"


Baru saja di sebut, Wileen sudah tampak berjalan menuju ke arah mereka.


"Baru juga di omongin, udah datang aja si Wil," sambungnya menceletuk.


"Hayoo, ngomongin apa tentang gue!?" desak Wileen yang baru saja tiba di hadapan Quella dan Zelda.


"Gue nanya lo dimana. Zelda bilang kalau lo udah di jalan. Eh tahunya lo udah nyampe ke sini, Wil!" jelas Quella, sebelum Zelda berucap yang tidak-tidak.


"Oh," Wileen hanya ber-Oh ria mendengar penjelasan Quella. Perempuan itu langsung mendudukkan dirinya di antara kedua sahabatnya itu. Seketika raut wajahnya tampak muram.


"Ada apa sama raut wajah lo itu?" tanya Zelda yang lebih dulu menyadarinya. Quella pun ikut memperhatikan raut wajah Wileen.


"Huffft... Kayanya Gerald udah mau tunangan deh," Wileen menghembuskan nafasnya dengan kasar.


"Whattt!?" pekik Zelda sangat terkejut.


Begitu pula dengan Quella yang bereaksi sama seperti Zelda. "Apa!?"