
Setelah hari itu, kehidupan Yocelyn dan kedua temannya benar-benar berubah. Keluarga mereka di buat bangkrut dalam sekejap. Bahkan tindakan kejahatan yang keluarga mereka lakukan terkuak. Tidak ada hal yang bisa mereka lakukan selain menghindari dari kecaman banyak orang. Apapun yang terjadi pada mereka tidak lain adalah perhitungan yang di berikan oleh Vince. Laki-laki itu tidak pernah bercanda dengan ucapannya, apalagi jika itu sudah menyangkut Quella—Gadis yang amat di cintainya dan merupakan kehidupannya.
"Bagaimana? Apa sudah ada perkembangan?" tanya Vince pada Gerald, usai memasuki ruangan Quella.
Beberapa hari ini Gerald memang membantu menjaga Quella secara bergantian dengan Wileen dan Zelda. Sedangkan Vince hampir setiap hari datang tapi hanya pada saat kedua sahabat Quella tidak berada di sana. Ia tidak ingin mengambil resiko sebab mengingat identitas istrinya itu masih di sembunyikan.
"Masih sama," jawab Gerald menggeleng pelan.
Tampak Vince menghela nafas mendengar jawaban Gerald. "Kau keluarlah dulu!"
"Baiklah, kak. Kalau ada apa-apa panggil saja!" seru Gerald yang mengerti bahwa kakak sepupunya itu ingin sendirian menemani Quella.
Tanpa menunggu balasan dari Vince, Gerald bergegas keluar dari ruangan itu. Kini tinggallah Vince seorang diri. Ia pun menarik sebuah kursi dan duduk di sebelah brankar Quella. Lalu meraih tangan sang istri yang terasa sedikit dingin.
"Sayang—Kapan kamu bangun? Ini sudah cukup lama kamu tidur. Apa tidak merasa bosan?" Vince bertanya dengan raut wajah sendu menatap Quella.
Ini sudah ke sekian kalinya ia bertanya selama satu bulan terakhir. Benar—Quella telah koma selama satu bulan tanpa ada perkembangan apapun. Namun ia yakin bahwa Quella mendengar semua ucapannya dan akan segera bangun.
"Cepatlah bangun, sayang! Aku menunggumu," sambungnya lirih sembari mengecup sekilas punggung tangan Quella.
Kemudian Vince memejamkan matanya tanpa melepaskan tangan Quella dari genggamannya. Beberapa menit berlalu, tiba-tiba ia merasa seperti ada pergerakan jari-jari sang istri. Sontak ia membuka matanya untuk memastikan bahwa yang baru saja di rasakannya tidak salah. Dan—Memang benar jari-jari Quella bergerak meski pelan.
"Sayang!!!" seru Vince yang begitu merasa antusias karena setelah sekian lama, Quella memberikan respon lewat pergerakan kecil.
Perasaan antusias Vince semakin bertambah saat melihat sang istri perlahan membuka matanya. Bola mata nan indah yang sudah sebulan ini terperjam. Seketika perasaan Vince menjadi campur aduk antara bahagia sekaligus terkejut.
"Gerald!"
"Gerald!!"
"Gerald! Kemarilah!"
Vince memanggil adik sepupunya itu beberapa kali tanpa mengalihkan tatapannya dari Quella yang baru saja membuka mata. Meski nadanya tidak terdengar begitu keras tapi Gerald dapat mendengarnya. Laki-laki muda yang sedang duduk di luar ruangan itu, bergegas masuk ke dalam ruangan.
"Ada apa, kak?" tanya Gerald sebelum menyadari bahwa Quella telah tersadar dari koma.
"Cepat panggilkan Dokter!" Vince memberikan perintah sebagai jawaban.
Laki-laki itu masih tidak mengalihkan tatapannya dari Quella membuat Gerald ikut melihat ke arah kakak iparnya. Raut wajahnya cukup terkejut melihat Quella sudah membuka mata.
"Gerald, cepatlah!" sekali lagi Vince berseru pada Gerald yang belum bergerak dari tempatnya.
"Ba—Baik, kak!"
Gerald segera pergi untuk memanggilkan Dokter. Sementara itu Vince sesekali mengecup punggung tangan Quella dan juga keningnya. Tampak Quella sempat terpaku akan tindakannya itu, serta mengedarkan pandangannya ke arah ruangan.
"Sa—Sayang,"
Meski terdengar lirih, Vince tetap dapat mendengarnya dengan sangat jelas. "Iya, sayang! Apa ada yang sakit?"
Quella tidak membalas melainkan hanya menatap lekat laki-laki yang sedang menunjukkan raut wajah kekhawatiran. Rasanya ia ingin berbicara lagi tapi tenggorokannya terasa tercekat. Mungkin efek karena terlalu lama koma.
"Jangan khawatir! Sebentar lagi Dokter akan datang untuk memeriksamu," ucap Vince mengelus puncak kepala Quella.
Tidak berselang lama, Gerald kembali masuk ke dalam ruangan itu bersama seorang Dokter dan juga perawat.
"Tapi—"
Vince ingin mengungkapkan rasa keberataannya untuk menunggu di luar ruangan. Namun Gerald telah lebih dulu menyela sembari menarik lengan sang kakak sepupu.
"Baik, Dok. Kami akan menunggu di luar,"
Gerald benar-benar menarik Vince keluar dari ruangan itu tanpa menunggu persetujuannya. Lantas sang kakak sepupu langsung memberikan tatapan yang sulit di artikan.
"Jika kita tetap berada di sana, itu hanya akan mengganggu. Biarkan Dokter melakukan pemeriksaan terlebih dulu pada kakak ipar. Setelah kondisinya di pastikan, baru kakak kembali ke dalam sana," ucap Gerald menjelaskan tindaknnya barusan.
Padahal tanpa ia jelaskan pun, Vince sangat mengerti prosedur rumah sakit. Dimana mereka harus menunggu di luar saat Dokter melakukan pemeriksaan atau pun tindakan pada pasien. Hal itu di lakukan agar Dokter dan perawat bisa bekerja tanpa gangguan. Hanya saja sekarang ia merasa sangat ingin berada di dekat Quella. Entahlah. Mungkin perasaan yang sedang campur aduk membuat ia enggan untuk meninggalkan istrinya itu meski hanya sebentar. Sehingga ia ingin meluapkan semua perasaannya pada Quella.
"Hmmm," Vince berdeham pelan. Mendapat jawaban seperti itu, Gerald tidak berbicara lagi. Ia tahu sang kakak sepupu sudah sangat mengerti apa yang baru saja di ucapkannya.
Hening.
Beberapa menit berlalu dengan di iringi suasana hening. Sedari tadi Vince hanya berdiri di dekat pintu ruangan. Sedangkan Gerald tampak duduk di kursi tunggu yang ada di sana.
Ceklek...
Pintu ruangan terbuka, tampak Dokter serta perawat tadi keluar. Hal itu membuat Vince langsung berjalan mendekatinya, begitu pula Gerald yang melakukan hal serupa.
"Bagaimana, Dok? Dia tidak apa-apa, kan?" belum sempat sang Dokter angkat bicara, Vince sudah lebih dulu bertanya dengan nada khawatir.
Dokter tersebut tersenyum tipis melihat kekhawatiran Vince. Sebelumnya seluruh rumah sakit telah di minta untuk merahasiakan alasan keberadaan Vince di sana. Meski tidak mengatakan dengan jelas apa hubungannya dengan Quella tapi seluruh rumah sakit cukup mengerti. Ya, mereka mengerti bahwa Quella adalah orang yang sangat berarti untuk Vince.
"Tidak perlu khawatir. Keadaan nona Quella jauh lebih baik daripada sebelumnya. Tetapi, kami akan tetap memantaunya selama 24 jam. Jika tidak ada masalah, nona Quella akan di pindahkan ke ruang rawat," jelas Dokter itu yang tentu saja membuat Vince dapat bernafas lega.
"Syukurlah," gumam Gerald ikut bernafas lega mendengarnya.
"Lalu apa saya boleh masuk ke dalam untuk melihatnya?" tanya Vince begitu tidak sabaran.
"Boleh tapi jangan terlalu lama! Nona Quella perlu istirahat," jawab Dokter tersebut mengingatkan.
Vince membalas dengan anggukan kepala. "Terima kasih,"
"Sama-sama. Kalau begitu saya permisi dulu!" Dokter tersebut berjalan pergi bersama perawat tadi, usai berpamitan pada Vince dan Gerald.
Tanpa membuang waktu lagi, Vince pun bergegas masuk ke dalam ruangan di ikuti sang adik sepupu. Kali ini pemandangan di dalam ruangan itu berbeda. Biasanya saat Vince masuk, hanya tampak Quella yang terbaring koma dengan beberapa alat medis terpasang di tubuhnya. Sekarang sebagian alat medis telah di lepas dan yang lebih penting—Quella tengah menatapnya begitu intens. Tatapan yang sudah sebulan ini ia rindukan.
"Air," ucap Quella lebih terdengar dari sebelumnya.
Sontak Vince bergegas mengambil segelas air yang tersedia di atas nakas tepat di samping Quella. Lalu mengubah sedikit posisi brankar sehingga memudahkannya untuk membantu sang istri minum. Quella langsung meminum air tersebut.
"Sudah?" tanya Vince saat Quella tampak berhenti minum.
Quella pun menganggukkan kepala dan Vince meletakkan kembali gelas yang di pegangnya. "Bagaimana perasaanmu, sayang? Apa ada merasa tidak enak?"
Diam. Gadis itu hanya diam menatap wajah Vince yang berada dekat dengan wajahnya. Tidak mendapat respon apapun, ia merasa kebingungan sekaligus khawatir.
"Xaviera—Kamu kenapa? Jangan menatapku seperti itu. Seakan kamu tidak mengenaliku lagi," sambungnya.
"Maaf," satu kata itu lolos dari mulut Quella membuat Vince makin kebingungan.