THE LAWYER'S SECRET WIFE

THE LAWYER'S SECRET WIFE
Eps 19. FlashbackOn 2



`Maaf karena tidak mengatakan yang sebenarnya, sayang. Aku harus pergi untuk menyelesaikan masalahku tanpa melibatkanmu. Demi keselamatanmu,` batin Vince


Vince hanya diam melihat Quella tengah sibuk menyiapkan keperluannya. Sesekali ia menjawab saat Quella bertanya. Selain itu, ia tidak berbicara apapun. Ada perasaan bersalah karena tidak memberitahukan hal yang sebenarnya. Namun ia rasa tindakannya itu adalah pilihan tepat agar Quella tidak khawatir dan tetap aman.


"Apa ada lagi yang ingin kamu bawa?" pertanyaan Quella membuyarkan lamunan Vince.


"Ku rasa sudah cukup, sayang. Terima kasih," jawab Vince tersenyum tipis.


"Yakin tidak ada lagi?" Quella kembali memastikan.


"Iya, sayang!" sahut Vince dengan yakin. Sehingga Quella tidak punya keraguan lagi atas jawabannya.


Quella mengangguk-angguk. "Besok jam berapa penerbanganmu?"


"Jam 9 pagi,"


"Baiklah. Sekarang sebaiknya kita tidur. Jangan sampai kamu bangun kesiangan dan ketinggalan pesawat besok," ucap Quella yang baru saja menghampiri Vince.


Vince langsung memeluk dan mencium pucuk kepalanya. "Aku tidak merasa khawatir soal itu selama ada kamu,"


"Dasar!" Quella menggelengkan kepalanya.


Mereka berdua pun segera berjalan menuju ranjang. Tentu di sertai berbagai adegan mesra yang sudah menjadi rutinitas mereka. Sebelum tidur mereka saling mengucapkan kata cinta dan mencium satu sama lain.


"I Love you," ucap Quella dengan menatap penuh cinta Vince, lalu mencium beberapa bagian wajah suaminya itu.


"I Love you too," balas Vince yang juga melakukan hal serupa dan mengakhirinya dengan ciuman di pucuk kepala Quella.


Kemudian Vince memeluk Quella yang sudah terbiasa tidur dalam keadaan di peluk. Sampai akhirnya mereka berdua sama-sama tertidur.


***


Keesokan paginya, Quella bangun lebih awal dan bersiap-siap untuk mengantarkan Vince ke bandara. Ia baru membangunkan Vince usai dirinya hampir selesai bersiap.


"Sayang. Bangun! Ini sudah pagi," Quella menepuk pelan pipi Vince. Kebiasaan Quella saat laki-laki itu belum bangun tidur.


Vince sama sekali tidak terganggu. Tidurnya sangat pulas. Hembusan nafasnya yang hangat masih terdengar teratur. Meski Quella senang saat melihatnya tertidur, tetapi sekarang suaminya itu harus bangun. Quella pun segera melakukan cara lain untuk membangunnya.


"Hei, bangun! Kamu ingin ketinggalan pesawat ya, heum?" kini Quella berganti mencubit kedua pipi Vince dengan sedikit keras. Dan--Cara ini selalu saja berhasil.


Vince langsung menahan tangan Quella yang mencubit kedua pipinya. Kedua matanya perlahan terbuka.


"Hmmm pagi, sayangku!" sapanya sembari mencium bergantian kedua tangan Quella.


"Pagi juga," balas Quella tersenyum manis.


"Sudah jam berapa sekarang?" tanya Vince di sela mendudukkan dirinya. Rambutnya tampak acak-acakan. Penampilan seperti itu tidak membuat ketampanannya hilang, justru makin memesona.


Quella dengan gemasnya menyentuh rambut Vince. Salah satu bagian tubuh yang amat Quella sukai. "Jam setengah 8. Kamu pergilah mandi sekarang. Aku sudah menyiapkan pakaian dan keperluanmu yang lain,"


"Baiklah, sayang. Terima kasih,"


Vince segera beranjak berdiri. Sebelum pergi mandi, ia masih sempat memberikan ciuman di beberapa bagian wajah Quella. Tindakannya juga selalu di balas Quella dengan hal serupa. Mereka memang sudah terbiasa melakukannya sebagai rutinitas sehari-hari dan tidak boleh di lupakan, terkecuali sedang tidak bersama. Setelah itu Vince berlalu pergi ke kamar mandi dan Quella melanjutkan kegiatan bersiapnya yang belum selesai.


Tidak berselang lama, Vince sudah keluar dari kamar mandi. Laki-laki itu masih memakai handuk kimono dengan satu handuk kecil yang di gunakan untuk mengeringkan rambutnya. Huh Quella tidak bisa memalingkan matanya dari salah satu ciptaan yang sempurna itu.


"Pada siapa aku akan berpaling? Sedangkan pesonamu itu sayang untuk ku lewatkan begitu saja," celetuk Quella pelan.


Sontak Vince tertawa renyah mendengar itu. "Itu sangat bagus,"


"Sekarang cepatlah bersiap agar kita bisa segera sarapan! Aku tidak ingin melewatkan sarapan pagi ini bersamamu," Quella telah beranjak pergi dari meja riasnya. Lebih tepatnya pergi menghampiri Vince yang baru saja mulai berpakaian.


"Iya, sayang!" sahut Vince dengan tersenyum manis.


Vince bergegas memakai satu-persatu pakaiannya. Dan seperti biasa, Quella juga membantunya dalam berpakaian. Seperti mengancingkan kemeja, memasangkan dasi dan rompi, serta yang terakhir adalah memasangkan jas sebagai pelengkap penampilannya.


"Kabari aku bila kamu sudah tiba di sana," ucap Quella di sela merapikan dasi yang Vince pakai.


"Aku pasti mengabarimu," Vince sedikit menundukkan kepalanya agar bisa menatap Quella.


Quella membalas sekilas tatapan yang Vince berikan. "Jangan pernah lewatkan jam makan. Aku tidak ingin melihatmu sakit,"


"Aku akan menuruti ucapanmu, sayang. Tenang saja!"


"Jangan bekerja sampai lewat tengah malam!"


"Bagaimana kalau aku harus pergi untuk mencari bukti tambahan dalam berkas penyelidikanku?"


"Lakukan sebelum tengah malam,"


"Bagaimana kalau aku mencarinya sampai lewat tengah malam?"


Sorot mata Quella pada Vince langsung tajam. Seolah ingin menerkamnya saat itu juga. Vince pun merasa sedikit ketakutan. Wajar, suami takut istri wk.


"Aku hanya bercanda, sayang. Aku tidak akan pergi setelah lewat tengah malam," ucap Vince sembari memperlihatkan jari telunjuk dan tengahnya yang membentuk huruf V.


"Nice. Kamu juga tidak boleh macam-macam di sana!"


"Kalau satu macam saja, boleh tidak?" tanya Vince begitu jahil.


Tiba-tiba Quella menarik dasi Vince, sampai membuat kepala laki-laki itu makin menunduk. "Jika kamu berani melakukannya, aku pastikan pintu kamar ini akan tertutup untukmu dalam waktu yang lama!"


"Mengapa bisa begitu? Aku bukan bermacam-macam seperti yang kamu pikirkan. Maksudku tadi, aku akan sibuk bekerja untuk kasus klienku. Bukan yang lain," kilah Vince menjelaskan maksud dari ucapannya tadi.


"Terserah. Tetapi awas saja bila kamu berani berbuat macam-macam! Aku tidak sedang bercanda dengan ucapanku," seru Quella memperingatkan Vince dengan tegas.


Vince yang sedari tadi gemas, langsung memeluk erat pinggang Quella. "Bawel banget sih?"


"Kalau iya, kenapa? Tidak suka?" tuduh Quella--Sebelum Vince mencium sekilas bib*rnya.


"Aku pasti menuruti ucapanmu. Lagian mana berani aku macam-macam di sana. Apalagi aku punya istri sesempurna kamu. Jadi jangan khawatir, oke!?"


"Dasar pintar merayu!" sindir Quella dan Vince hanya membalas dengan kekehan pelan.


Kemudian mereka berdua segera turun ke bawah usai bersiap. Pagi ini mereka sarapan seperti biasa. Saling bercanda, mengungkapkan kata cinta dan bercerita. Hingga akhirnya tiba saatnya untuk Quella pergi mengantarkan Vince ke bandara. Di sana mereka saling berpelukan mesra. Meski tidak rela, Quella akhirnya hanya bisa melihat Vince yang sempat melambaikan tangannya sebelum memasuki pesawat. Tidak berapa lama, pesawat yang Vince tumpangi sudah lepas landas. Quella menatap kepergian pesawat Vince dengan raut wajah sedih dan berharap Vince segera kembali. Namun baik ia atau pun Vince sama-sama tidak tahu bahwa setelahnya ada kejadian yang memisahkan mereka berdua.


2 minggu setelah kepergian Vince keluar negeri, Quella mengalami kecelakaan saat sedang menuju arah pulang ke rumah. Kecelakaannya begitu tragis karena mobilnya menabrak keras pembatas jalan, sampai membuat sebagian badan mobil rusak parah. Bahkan mobilnya sampai terbanting kuat ke arah lain. Beruntung sabuk pengaman yang Quella pakai tidak terlepas. Sehingga tubuhnya tidak terlempar keluar. Hanya saja bagian kepala Quella mengalami pendarahan besar akibat benturan yang di dapat. Benturan itu juga membuatnya mengalami koma selama 1 bulan. Kabar kecelakaan Quella langsung membuat Vince bergegas pulang tanpa menyelesaikan masalahnya terlebih dulu.