
Sepulang dari kedai paman Tyo, Quella langsung pergi ke kamar bersama Vince tentunya. Laki-laki itu tidak kembali ke kantor sebab ingin menemani istrinya beristirahat.
"Kamu yakin menemaniku di sini?" tanya Quella sekali lagi memastikan, usai meletakkan barang belanjaannya di walk in closet.
"Why not?"
Bukannya menjawab, Vince justru bertanya balik sembari melepaskan jam tangan serta melepaskan sepatu yang di pakainya. Namun kepalanya sedikit menoleh ke arah Quella yang berdiri tidak jauh darinya.
"Yah—Siapa tahu ada pekerjaan mendadak yang harus kamu kerjakan," celetuk Quella asal.
"Tidak usah di pikirkan, sayang! Ada Troy yang bisa menghandle semua pekerjaanku," sahut Vince yang kini mulai melepaskan kemejanya.
Quella berdecak pelan. "Aku lupa itu,"
Vince terkekeh mendengarnya, lalu berjalan pergi menuju kamar mandi untuk membersihkan diri. Sedangkan Quella langsung berbaring di ranjang setelah membersihkan make up di wajahnya. Pergi ke mall tadi cukup membuatnya lelah. Sepertinya ia memang harus beristirahat sekarang. Terlebih lagi sekarang jam menunjukkan waktunya tidur siang. Ia paling tidak bisa kalau melewatkan tidur siang yang sudah menjadi kebiasaannya itu.
"Sejak bangun dari koma, aku belum menghubungi Billy. Entah bagaimana keadaan perusahaan sekarang," gumam Quella tiba-tiba memikirkan keadaan perusahaannya.
Tetapi, dalam hatinya ia yakin Billy menjalankan tugasnya dengan baik. Selama ini laki-laki itu tidak pernah mengecewakannya dalam membantu mengurus perusahaan.
"Lebih baik aku telepon saja,"
Quella segera mengambil ponselnya dan menelepon Billy, usai menemukan nomor ponselnya. Tidak butuh waktu lama, teleponnya langsung di angkat.
"Halo!" sapanya lebih dulu.
[📞Billy: Halo, nona! Bagaimana keadaan nona sekarang?]
Ah laki-laki itu pasti mendapat kabar tentangnya dari Vince. Quella tidak terkejut sama sekali.
"Sudah lebih baik," sahut Quella apa adanya.
[📞Billy: Saya lega mendengarnya, nona. Maaf karena tidak pernah datang menjenguk. Ada banyak pekerjaan di perusahaan harus secepatnya saya kerjakan]
Terdengar nada penyesalan dari laki-laki itu. Padahal Quella sama sekali tidak mempermasalahkannya.
"Tidak masalah, Bil. Kau sibuk juga karena membantuku mengurus perusahaan. Jadi lupakan saja soal itu!" Quella mencetus santai.
"Aku meneleponmu untuk menanyakan keadaan perusahaan. Apa ada masalah selama aku koma?" sambungnya.
[📞Billy: Keadaan perusahaan baik-baik saja, tidak ada masalah. Bahkan keuntungan yang di dapatkan bulan ini meningkat pesat, nona! Kita juga mendapatkan beberapa tawaran kerjasama untuk proyek penting. Tetapi, saya meminta waktu untuk memutuskannya sebab sebelumnya nona sedang koma]
"Benarkah?" tanya Quella sedikit terkejut, tetapi tidak di ungkiri kalau ia cukup senang mendengar hal tersebut. Perusahaan milik orang tuanya semakin berkembang dan itu menjadi kebanggaan tersendiri untuknya.
[📞Billy: Benar, nona. Ah—Satu ada satu hal lagi nona. Selama nona koma, tuan Vince menggantikan nona untuk memantau perusahaan dan memeriksa semua berkas penting]
Sontak dahi Quella tampak mengernyit dalam. "Vince?"
[📞Billy: Iya tuan Vince]
Sejenak Quella terdiam mengetahui hal itu. Mungkin nantinya ia harus berterima kasih pada sang suami yang mau menggantikan pekerjaannya dalam beberapa waktu belakangan ini.
[📞Billy: Nona?]
Panggilan Billy membuyarkan keterdiaman Quella.
"Heum. Baiklah. Aku hanya ingin menanyakan itu saja. Nanti tolong kirimkan berkas laporan bulan ini!" seru Quella memerintahkan.
[📞Billy: Baik. Saya akan segera kirimkan ke email, nona!]
"Oh! Kirimkan juga berkas kerjasama proyek penting yang di tawarkan tadi. Aku akan melihatnya dulu,"
[📞Billy: Saya mengerti]
Tuttt!
Quella mengakhiri telepon tersebut secara sepihak. Lalu meletakkan ponselnya ke atas nakas tanpa berminat untuk melihat beberapa pesan masuk di ponselnya. Ia menatap sekilas ke arah pintu kamar mandi yang belum terbuka.
"Nanti saja aku berterima kasih padanya," Quella bergumam pelan.
Matanya sedikit mengantuk. Ia mulai memejamkan matanya dan tidak berselang lama, hembusan nafasnya sudah teratur. Tidak heran akan hal itu. Quella memang tipe yang mudah tertidur, apalagi kalau sudah berada di atas kasur nan empuk.
Ceklek.
Pintu kamar mandi terbuka, tampak Vince keluar dengan bertelanjang dada dan sebuah handuk melilit di pinggangnya. Indra penglihatannya langsung tertuju pada sang istri yang sudah tertidur. Ia menggeleng-gelengkan kepalanya, di sertai kekehan pelan. Kakinya segera melangkah pergi ke walk in closet. Di sana ia memakai kaos hitam dengan celana pendek berwarna senada. Sebelum akhirnya pergi menghampiri Quella di ranjang.
"Cepat sekali tertidur," ucap Vince tersenyum tipis sembari mengelus kepala Quella.
Sekarang ia sudah berbaring di samping Quella dan membawa istrinya itu ke dalam pelukannya. Ia mendaratkan sebuah ciuman di puncak kepala sang istri. Kemudian baru ikut memejamkan mata.
...****************...
Tanpa terasa siang hari sudah berganti menjadi gelapnya malam. Quella tengah sibuk dengan laptop di hadapannya sedari tadi sore. Bahkan ia belum ada keluar dari kamar sebab terlalu fokus memeriksa berkas yang di kirimkan oleh Billy. Sementara itu, Vince—Sang suami pergi ke ruang kerja untuk memeriksa berkas kasus yang baru sore tadi Troy berikan.
"Sudah waktunya makan malam," ucapnya melirik sekilas ke arah jam dinding.
Lantas Quella menghentikan pekerjaannya dan beranjak pergi keluar dari kamar. Ia akan menghampiri sang suami terlebih dulu untuk makan malam bersama.
"Mau kemana?" pertanyaan itu berasal dari Vince yang baru saja keluar dari ruang kerjanya.
"Aku tadi mau menghampirimu. Ini sudah waktunya makan malam," jawab Quella.
Vince melangkahkan kakinya mendekati Quella yang sudah berhenti berjalan. Tangannya langsung menggenggam erat tangan istrinya itu dan menariknya pelan untuk kembali berjalan menuju meja makan.
"Iya, sayang. Bagaimana denganmu?" tanya Vince balik.
"Masih ada satu berkas yang belum ku periksa,"
Vince menoleh sekilas ke arahnya. "Besok saja di lanjutkan. Kamu perlu istirahat,"
"Aku harus selesai memeriksa semuanya agar tidak ada yang perlu ku pikirkan lagi," imbuh Quella membuat Vince menghentikan langkahnya secara mendadak. Terpaksa ia juga harus ikut berhenti.
"Kenapa?" sambungnya.
"Biar aku yang menyelesaikan sisa pekerjaanmu, sayang. Aku tidak ingin kamu terlalu memaksakan diri. Selagi ada aku, kamu bisa mengandalkanku. Mengerti?" ucap Vince bernada lembut tapi penuh penegasan.
Spontan Quella menganggukkan kepalanya dan tersenyum tipis. "Ya, tentu saja aku akan mengandalkan suamiku. Terima kasih,"
"Apapun untukmu," sahut Vince ikut tersenyum tipis seraya mengusap rambut Quella.
Kemudian mereka berdua lanjut berjalan, sampai akhirnya tiba di meja makan. Dimana terdapat beberapa macam makanan yang telah di tata. Tanpa membuang waktu lagi, mereka berdua pun segera memulai makan malam.
SKIP
Seperti yang di katakan oleh Vince sebelumnya, laki-laki itu kini tengah di sibukkan dengan laptop milik Quella. Tentunya untuk memeriksa sisa berkas yang istrinya belum periksa.
"Sayang—Sebaiknya kamu menyetujui kerjasama ini! Aku lihat proyek ini berpeluang besar dan tingkat keberhasilannya hampir 80 persen. Kalau pun mengalami masalah selama proyek berlangsung, kerugian yang di dapatkan tidak begitu besar. Terlebih lagi semua pihak yang terlibat merupakan orang-orang terpercaya. Sehingga kamu tidak perlu khawatir akan masalah yang nantinya mungkin terjadi," jelas Vince pada Quella yang duduk di sebelahnya.
Sejak tadi Quella hanya duduk bersandar sembari sesekali memainkan ponselnya. Tetapi, penjelasan Vince barusan sontak membuatnya duduk tegak.
"Benarkah?" tanya Quella memastikan, bukan bermaksud meragukan.
Vince menganggukkan kepala. "Kerjasama proyek ini memang cocok di tawarkan padamu. Semua pihak sepertinya mempertimbangkan dengan baik,"
"Kalau begitu aku akan mengikuti saranmu," putus Quella tanpa berpikir panjang lagi.
Why? Because, ia percaya pada perkataan suaminya itu.
Zelda💃 is Calling...
Tiba-tiba ponsel Quella berdering, menyela pembicaraannya dengan Vince. Ia menatap nama si penelepon yang tertera di layar ponselnya.
"Angkat dulu!" seru Vince yang sempat melirik ke arahnya, lalu kembali menatap laptop.
Quella berdeham ringan membalasnya, sebelum mengangkat telepon dari Zelda. Entah apa yang menyebabkan salah satu sahabatnya itu menelepon malam-malam begini.
[Zelda💃: Angkat telepon gue juga lo, ya!!! Rencananya kalau lo gak ngangkat, bakal gue datangin ke rumah]
Seperti biasa sahabatnya itu setengah berteriak saat menelepon. Dan—Quella harus menjauhkan ponsel dari telinganya yang sedikit berdengung mendengar suara Zelda.
"Kebiasaan banget teriak. Lama-lama jadi budek juga telinga gue," keluh Quella usai mendengar teriakan sang sahabat. Vince yang mendengarnya menjadi terkekeh tapi tak ayal membantu mengelus telinganya.
[📞Zelda💃: Hehe, sorry. Habisnya emang udah kebiasaan sih. Susah di ubah]
Quella mendengus kasar, hal seperti ini sudah biasa untuknya. Untung stok kesabarannya tidak setipis tissue.
"Kenapa lo nelpon gue?"
[📞Zelda💃: Oh jadi gue gak boleh nelpon lo!?]
"Ck—Bukan begitu. Maksud gue, alasan lo nelpon gue apa? " sekarang Quella berdecak pelan.
[📞Zelda💃: Huh, lupain! Tadi siang gue kira lo sibuk urusan apa. Ternyata lo jalan sama pengacara Vince. Kenapa lo gak jujur aja sih? Pakai bilang ada urusan segala]
Tampak Quella memutar malas bola matanya. Jadi ini toh yang membuat Zelda menelponnya malam-malam seperti ini.
"Gue kan gak bilang urusan gue apa. Lagian darimana lo tau gue jalan sama Vince?" pertanyaan Quella berhasil mengalihkan tatapan Vince dari layar laptop. Alis laki-laki itu terangkat, penasaran.
[📞Zelda💃: Astaga, serius lo nanyain itu!!? Lupa kalau suami lo itu seorang pengacara terkenal, hah!? Sekarang beritanya ada dimana-mana. Coba buka media sosial lo dan liat sendiri!]
Tanpa menjawab, Quella melakukan seperti yang Zelda katakan barusan. Ia membuka media sosialnya. Benar saja, berandanya langsung menampilkan sebuah foto dirinya dan Vince dari arah belakang. Quella tidak terkejut akan hal itu sebab sudah menduganya dari awal. Hanya saja, ia tidak menyangka akan secepat ini.
[📞Zelda💃: Udah lo liat, Quella!?]
Quella kembali mendekatkan ponsel ke telinganya. "Heum udah,"
[📞Zelda💃: Coba lo liat lagi berita lainnya. Meski fotonya di ambil dari kejauhan maupun dari arah belakang dan di sini posisi perempuannya pakai masker. Cuma lihat dari bentuk tubuh pun, gue bisa tahu kalau lo yang bersama pengacara Vince. Tetapi, bisa-bisanya banyak yang memberitakan kalau perempuan itu adalah Stella—Si model. Mata mereka pada buta kali sampai gak bisa bedain orang]
Perempuan itu terus mencerocos. Tidak lupa pula terdengar nada yang menandakan bahwa sekarang ia sedang jengkel. Quella diam mendengarnya.
"Gue tutup dulu. Nanti kita bicara lagi!"
[📞Zelda💃: Gue bel—]
Tuttt!
Quella mematikannya secara sepihak, bahkan Zelda belum menyelesaikan ucapannya. Dapat di pastikan kalau sahabatnya itu sekarang sedang mengumpati di sana. Namun ia tidak peduli, ada hal yang lebih penting sekarang. Yaitu, memastikan apa yang baru saja di katakan oleh Zelda.
"Ada apa?" tanya Vince yang sedari tadi diam menunggu Quella selesai menelepon. Ia masih penasaran dengan yang di bahas istrinya di telepon barusan.
Pertanyaan tidak langsung di jawab oleh Quella. Perempuan itu justru sibuk berselancar di media sosial untuk melihat berita yang tengah memberitakan tentangnya dan Vince. Dan—Ternyata memang benar yang Zelda katakan. Bahkan di antara berita tersebut di selipkan beberapa bukti yang memperlihatkan kedekatan Vince bersama Stella—Salah seorang model terkenal di negara ini. Kening Quella tampak mengernyit, sebelum matanya beralih menatap Vince yang juga tengah menatapnya.
"Kamu dekat dengan Stella?"