THE LAWYER'S SECRET WIFE

THE LAWYER'S SECRET WIFE
Eps 28. Menerima Kembali



Kepergian Gerald justru membuat suasana di ruangan itu menjadi canggung. Quella masih berdiri di tempatnya tanpa bersuara. Perempuan itu bingung hendak memulai bicara dari mana. Sedangkan Vince juga sempat terdiam beberapa saat. Perasaannya sedang campur aduk sekarang. Antara terkejut, sekaligus senang melihat Quella datang menemuinya.


"Duduklah, Xaviera!" seru Vince memecah keheningan di ruangan itu.


"Eum.. Terima kasih," Quella pun langsung mendudukkan dirinya di kursi yang berhadapan dengan Vince. Di tengah mereka terdapat meja kerja laki-laki itu.


"Sudah makan siang?" tanya Vince dengan senyuman manis tampak mengembang di bibirnya.


Quella menggelengkan kepalanya.


"Bagaimana kalau kita makan siang bersama?" sambungnya.


"Saya belum lapar," tolak Quella secara singkat.


"Kamu tetap harus makan. Jangan lewatkan waktu makan siang agar asam lambungmu tidak naik!" Vince jelas sedang tidak menerima penolakan yang Quella berikan.


Bukan tanpa alasan. Ia sangat mengenal semua hal tentang istrinya itu. Termasuk asam lambung Quella yang akan naik, jika terlambat makan. Bahkan bisa mengakibatkan ia berakhir dengan rasa tidak nyaman di perut dan rasa terbakar di dada (Heartburn).


Quella mengernyitkan dahinya. "Bagaimana Anda bisa tahu?"


"Apapun tentangmu, saya tahu semuanya. Meski hal terkecil sekali pun," sahut Vince menyunggingkan senyuman lebih manis dari sebelumnya.


Sontak Quella berdecak pelan. Ia lupa bahwa laki-laki itu adalah bagian dari hidupnya. Typo. Maksudnya bagian hidupnya yang tanpa sengaja ia lupakan. Seharusnya ia tidak heran lagi kalau Vince tahu semua tentangnya mengingat statusnya sebagai suaminya. Ah, Quella merutuki pertanyaannya tadi.


"Jadi, mau makan apa?" sambungnya bertanya.


"Huffft... Apa saja. Saya tidak pemilih makanan," Quella menghela nafasnya dan berucap pasrah. Laki-laki itu sama seperti kedua sahabatnya. Sama-sama tidak menerima penolakan.


"Saya tahu itu," balas Vince yang tetap dengan senyumannya nan manis.


Oh astaga. Makin lama, Quella makin merasa terpesona akan senyuman laki-laki itu. Entahlah. Quella merasa perasaan terpesonanya itu bukan sekedar rasa layaknya para perempuan yang terpesona dan mengagumi sosok Vince. Mungkinkah itu perasaan cintanya yang selama ini ikut terlupakan? Quella pun tidk tahu.


`Ada apa ini? Kenapa perasaanku jadi aneh begini?` batin Quella


Quella tengah bergelut dengan batinnya. Sementara itu, Vince menelepon asistennya untuk membelikan makan siang. Teleponnya hanya berlangsung secara singkat dan Vince mematikannya, usai menyebutkan makanan yang perlu asistennya itu belikan.


"Xaviera..." panggil Vince membuat Quella tersadar.


"Heum... Ya?"


"Terima kasih," ungkap laki-laki itu bernada lembut. Bahkan tatapannya tampak menghangat.


"Untuk?" tanya Quella belum mengerti.


"Untuk kedatanganmu hari ini. Saya sangat senang," jawab Vince sejujurnya.


Alis Quella tampak terangkat sebelah. Ekspresinya itu menunjukkan kebingungannya. "Saya belum memberikan jawaban untuk semua yang terjadi. Lantas mengapa Anda sangat senang hanya karena kedatangan saya?"


"Apapun jawabanmu, saya tidak masalah. Setidaknya kamu sudah mau datang menemui saya. Itu cukup membuat saya sangat senang,"


"Bagaimana jika saya memberikan jawaban yang Anda tidak inginkan?" Quella kembali bertanya. Pertanyaan yang merupakan penentuan untuk keputusan akhirnya.


Mendengar pertanyaan itu, senyuman manis Vince menghilang seketika. Berganti dengan beberapa kali hembusan nafasnya yang terdengar kasar. Sebelum ia memberikan jawaban atas pertanyaan Quella barusan.


Sekeras mungkin Quella mencari kebohongan di mata laki-laki itu tapi tidak ada sama sekali. Di sana hanya ada kesungguhan dari seorang laki-laki yang tidak malu untuk memperlihatkan betapa besar rasa cintanya. Dan--Quella baru pertama kali melihat ada seorang laki-laki yang memiliki rasa cinta sebesar itu padanya.


"Baiklah. Saya tidak tahu harus memulai dari mana tapi ya... Baik saya atau Anda tidak pernah menginginkan hal ini terjadi. Semua ini karena keadaan. Jadi saya memutuskan untuk berdamai dengan kekecewaan di hati saya," ucap Quella langsung the to point dan mengejutkan Vince.


"Jadi kamu...?" Vince berusaha memastikan pendengarannya tidak salah.


Quella menganggukkan kepala. "Ya. Saya menerima Anda kembali ke kehidupan saya,"


"Benarkah? Kamu serius?" tanya Vince dengan sedikit meninggikan nada bicaranya.


"Saya serius," jawab Quella singkat.


Spontan Vince langsung beranjak berdiri dan pergi memeluk Quella. Pelukan dadakan itu tentu saja membuat Quella terpaku. Namun ia membiarkan laki-laki itu memeluknya untuk beberapa waktu.


"Terima kasih, Xaviera. Terima kasih sudah mau menerima saya kembali!!" ungkap Vince penuh haru, sekaligus bahagia. Setelah sekian lama, akhirnya ia bisa kembali bersama Quella--Perempuan yang sangat ia cintai.


Quella tidak membalas. Ia hanya diam di pelukan Vince. Bahkan ia juga tidak membalas pelukan laki-laki itu. Tidak masalah. Ini hanya masalah waktu. Quella belum terbiasa akan pelukan dari Vince sekarang. Padahal dulu ia paling suka di peluk laki-laki itu. Ibarat kata, tiada hari tanpa pelukan dari suami tercinta wkwkw. Namun meski merasa belum terbiasa, Quella seperti salah tingkah. Entahlah. Ada perasaan hangat, sekaligus bahagia saat laki-laki itu mendekap tubuhnya.


"Ehmmm. Bisakah Anda melepaskan saya? Saya merasa sesak," deham Quella ringan.


Lantas Vince segera melepaskan pelukannya. "Maaf! Saya tidak bermaksud memelukmu terlalu erat,"


Quella menganggukkan kepalanya. Sebisa mungkin ia bersikap biasa saja, usai di peluk laki-laki itu.


[Pov Author: Ciee yang habis di pelukšŸ˜‚Otw gak bisa tidur nih wk]


Beruntung ketukan pintu terdengar, sehingga bisa membuat tatapan Vince teralihkan. Quella menghela nafas lega.


"Masuk!" titah Vince pada si pengetuk pintu.


Tidak berselang lama, pintu ruangan itu terbuka. Seorang laki-laki muda datang membawakan nampan berisi makanan dan juga air minum.


"Ini pesanan tuan," ucap laki-laki itu.


"Letakkan saja di meja!"


Laki-laki itu pun segera meletakkan nampan di tangannya tadi ke atas meja. Kemudian ia pamit pergi dan meninggalkan Quella bersama Vince di ruangan itu.


"Kita makan di sana saja!" tunjuk Vince pada sofa yang berada di dekat jendela besar ruangannya. Dari sana tampak pemandangan kota dengan banyak gendung dan bangunan lain.


Quella hanya mengangguk setuju. Mereka berdua pun segera pergi dan duduk di sofa itu. Sedangkan nampan tadi, Vince yang menbawanya. Kini mereka berdua duduk menghadap ke arah luar jendela.


"Dari sini kamu bisa melihat pemandangan kota di malam hari. Ada banyak lampu yang menyala dengan berbagai macam warna. Sangat indah. Kamu pasti menyukainya," ucap Vince bersemangat menceritakan itu.


"Benarkah?" tanya Quella tampak antusias mendengarnya.


"Benar. Apa kamu ingin melihatnya nanti?" tanya balik Vince.


Quella lagi-lagi mengangguk tapi dengan cepat. Ia memang paling suka melihat pemandangan di malam hari. Entah itu pemandangan langit atau pun kota sekitarnya.