THE LAWYER'S SECRET WIFE

THE LAWYER'S SECRET WIFE
Eps 26. Tentang Kita



"Saya lepaskan. Asal kamu mau bicara dengan saya," ucap Vince mengajukan syarat.


Quella menghembuskan nafasnya secara kasar. Sungguh ia belum siap untuk berbicara dengan laki-laki itu tapi mau bagaimana lagi? Quella tidak ingin tangannya di pegang terlalu lama oleh Vince. Ia merasa risih. Meski mereka sudah menikah lama dan mungkin juga sudah melalui banyak hal bersama, tetapi ia tidak ingat sama sekali. Wajar jika sekarang ia merasa risih.


"Oke. Kita bicara di dalam! Sekarang lepaskan!" sahut Quella dengan berat hati.


Vince pun mau melepaskan tangannya. Quella segera berjalan masuk ke dalam rumahnya di ikuti laki-laki itu dan kemudian duduk di ruang tamu. Mereka duduk berhadapan. Di tengah mereka ada meja minimalis sebagai penghalang.


"Jadi apa yang ingin Anda bicarakan?" tanya Quella bersedekap dada. Nada bicaranya datar.


"Tentang kita," sekali lagi Vince menjawab dengan jawaban yang sama.


"Tentang kita yang mana? Tentang saya yang melupakan Anda atau tentang Anda meninggalkan saya?" Quella memberikan pertanyaan yang menohok. Sampai rasanya ada sebuah pisau tajam menusuk jantung Vince.


"Semuanya Xaviera," sahut Vince bernada berat.


"Katakanlah!"


Vince tampak menghela nafasnya, sebelum mulai berbicara. "Pada saat itu saya harus pergi keluar negeri untuk menyelesaikan sebuah masalah. Tetapi, saya tidak menyangka kamu akan mengalami kecelakaan dan kehilangan ingatan. Sungguh, Xaviera. Saya sangat sedih melihatmu melupakan saya,"


"Jika benar Anda sedih, lalu mengapa Anda pergi selama ini? Bukankah seharusnya Anda ada di samping saya untuk membantu mengembalikan ingatan saya," tukas Quella yang kembali membuat jantung Vince rasa tertusuk.


"Masalah saya belum selesai saat itu, Xaviera. Paman Sam meminta saya untuk pergi sementara waktu, selama masalah saya belum selesai. Makanya saya pergi dan baru menemuimu hari ini," ungkap Vince--Sontak hal itu membuat Quella terkejut.


"Paman Sam? Tapi kenapa?" ulangnya.


Vince menganggukkan kepala. "Paman Sam ingin kamu tidak terlibat masalah saya saat itu,"


"Masalah apa sampai paman meminta Anda pergi? Dan kenapa Anda menyetujui permintaan paman?" tanya Quella semakin ingin tahu.


"Masalah yang amat penting dan sangat beresiko untukmu, jika saya tetap bersamamu pada saat itu. Paman Sam ingin memastikan kamu baik-baik saja, Xaviera. Lalu bagaimana bisa saya menolak permintaan seorang paman yang sudah menjagamu selama ini seperti menjaga anaknya sendiri?..." Vince menghela nafas dan barulah lanjut berbicara.


"Saya tidak sejahat itu, Xaviera. Saya tahu paman Sam sangat menyayangimu. Begitu pula dengan saya yang sangat mencintaimu. Kami memiliki tujuan yang sama, yaitu menjagamu. Dan pergi darimu pada saat itu adalah pilihan terbaik untuk saya dan untukmu. Mungkin kamu berpikir tindakan saya egois tapi saya harus bagaimana, Xaviera? Saya sangat mencintaimu, bahkan melebihi diri saya sendiri. Tetapi saya juga tidak ingin perasaan cinta ini membuatmu berada dalam bahaya. Oleh karena itu saya memilih pergi untuk sementara waktu sampai masalah saya selesai," terang Vince panjang lebar. Nada bicaranya lebih berat dari sebelumnya.


Begitu pula dengan hembusan nafasnya. Quella terpaku melihat penyesalan dan kesedihan dari laki-laki itu. Sangat jelas. Bahkan sorot matanya yang tajam, seolah menghilang. Di sana hanya ada perasaan sesal dan sedih yang bercampur menjadi satu. Sesak. Entah mengapa hati Quella terasa sesak melihat itu.


`Apa yang terjadi? Kenapa hatiku sangat sesak?` batin Quella


"Xaviera... Saya tidak pernah berniat meninggalkanmu. Ini hanya masalah keadaan," lanjut Vince menatap sendu ke arah perempuan yang sangat di cintainya.


"Dan sekarang, kenapa Anda kembali??" tanya Quella--Berusaha menutupi rasa sesak di hatinya.


Vince menganggukkan kepala. "Saya memang harus kembali. Jika tidak kembali padamu, saya harus kembali pada siapa? Kamu cinta dan hidup saya, Xaviera. Saya tidak tahu harus bagaimana lagi bila benar-benar berpisah darimu selamanya. Sungguh!"


Deg


Jantung Quella berdetak tidak karuan. Laki-laki itu--Oh bukan. Ucapan laki-laki berhasil membuatnya terpengaruh. Terlebih lagi, tidak ada kebohongan yang terlihat dari sorot matanya. Laki-laki itu serius akan ucapannya. Namun Quella menggelengkan kepala. Ia tidak boleh mudah menerima kehadiran dan alasan kepergian laki-laki itu.


"Tapi cinta Anda mengecewakan saya," sahut Quella tersenyum kecut.


"Maaf, Xaviera. Saya tidak bermaksud mengecewakanmu," ungkap Vince bersungguh-sungguh.


"Oke, saya tahu maksud Anda baik tapi haruskah seperti itu? Anda pergi meninggalkan saya yang sedang terbaring di rumah sakit pada saat itu. Dan sekarang, Anda berusaha kembali pada saya. Anda pikir hidup saya hanya sebuah lelucon? Dimana orang bisa kapan saja pergi, lalu datang kembali. Begitukah?" Quella meringis saat tahu kehidupannya di anggap seperti sebuah lelucon.


"Bukan begitu. Kamu jangan salah paham, Xaviera. Saya tidak pernah berpikiran seperti yang kamu katakan," kilah Vince menyangkal ucapan Quella.


"Lalu apa arti semua ini? Jangan pikir saya bisa di bodohi!" seru Quella meninggikan nada bicaranya. Emosinya tiba-tiba naik, mungkin karena sudah merasa tidak tahan akan pembicaraan itu.


Vince tampak frustasi dengan mengacak-acak rambutnya. "Xaviera... Sudah saya katakan bahwa semua ini terjadi karena keadaan. Saat itu saya tidak punya pilihan lain. Tolong mengerti posisi saya pada saat itu!"


"Bagaimana saya bisa mengerti? Jika Anda juga tidak mengerti posisi saya pada saat itu. Seharusnya Anda katakan semuanya dari awal. Meski saya tidak ingat, setidaknya saya tahu bahwa Anda adalah bagian dari kehidupan saya. Setelah itu Anda bisa pergi untuk menyelesaikan masalah Anda. Bukan seperti saat ini. Anda kembali dan membuat saya bingung harus berbuat apa," ucap Quella masih dengan nada bicaranya nan tinggi.


Seketika mulut laki-laki itu bungkam. Ucapan Quella benar. Oleh karena itu Vince terdiam tanpa suara. Hanya terdengar beberapa kali hembusan nafas kasar dari mulutnya.


"Maaf," lirihnya.


Quella kembali terpaku untuk ke sekian kalinya. Selama ini ia tidak pernah melihat laki-laki yang meminta maaf seperti itu. Mungkin juga pernah tapi ia tidak ingat. Entahlah. Quella menjadi merasa kasihan pada laki-laki yang baru saja meminta maaf padanya.


"Huffft... Sudahlah. Cukup sampai di sini kita bicara. Saya perlu waktu sendiri untuk memahami semua ini,"


"Baiklah. Saya tidak akan mengganggumu untuk saat ini. Tetapi, temui saya bila kamu sudah bisa memahami semua ini. Saya menunggu kedatanganmu," Vince berucap penuh harap.


Quella tidak membalas apa pun. Bahkan sampai akhirnya Vince pergi dari rumahnya. Ia hanya menatap kepergian laki-laki itu.


"Aku sulit memahaminya," gumamnya.