THE LAWYER'S SECRET WIFE

THE LAWYER'S SECRET WIFE
Eps 08. Jaket Hitam



"Cih siapa juga yang mau perhatian sama lo. Gue cuma takut lo gak punya baju lagi buat ke kampus," decih orang itu dengan tatapan sinis.


"Aduh udahlah, Letta. Kasihan Quella, takutnya bener gak punya baju lagi. Kan malu," timpal perempuan lainnya menyindir Quella.


"Hahaha," tawa perempuan yang bernama Shaletta itu pecah, bersama beberapa temannya.


Shaletta merupakan salah satu senior Quella. Cantik dan seksi sih. Sayangnya, sombong dan suka bertindak semena-mena. Terutama pada para mahasiswa yang tingkatnya berada di bawahnya. Sikapnya itu ada karena 4 hal utama. Ia cantik, seksi, pintar dan anak orang kaya. Sehingga ia tidak suka ada orang lain melebihi dirinya. Ah nama Shaletta sudah terkenal di semua fakultas. Ada yang menyukainya, ada pula yang sebaliknya. Itu karena sikapnya yang tidak pernah berubah. Selalu saja bersikap semena-mena dan siapapun yang tidak di sukainya, pasti akan di buat sengsara sama seperti Quella. Sejak masuk kampus, Quella memang menjadi salah satu korban perbuatan Shaletta dan masih dapat bertahan sampai saat ini.


"Jaga mulut kalian atau gue masukkin nih sambel ke mulut lo pada!" ancam Zelda sembari mengambil sebotol sambal di atas meja.


"Jangan dong, Zelda! Nanti mulut mereka tambah pedas. Mending siramin sama air aja biar impas," Wileen mencegah Zelda untuk tidak memasukkan sambal ke mulut Shaletta dan teman-temannya.


"Good Idea," sahut Zelda tersenyum menyeringai.


"Memangnya lo berani heh?" tantang Shaletta meremehkan keberanian Zelda.


"Gue mana pernah takut. Nih rasain!" tanpa menunggu lagi, Zelda langsung mengambil segelas air dingin di meja mahasiswa lain dan menyiramkannya pada Shaletta.


Shaletta melotot tidak percaya. Jari telunjuknya menunjuk tajam ke arah Zelda. "Lo berani!?"


Zelda tersenyum puas tanpa merasa takut akan Shaletta. "Gue udah bilang. Gue mana pernah takut, apalagi sama orang yang suka menindas sahabat gue. Huh yaa anggap ini sebagai peringatan dari gue. Sekali lagi lo nindas Quella, bersiaplah menerima balasan yang lebih dari ini. Mengerti!?"


"Ayo pergi!" sambungnya menarik Quella dari sana.


"Hei..." Shaletta ingin meluapkan amarahnya tapi Wileen lebih dulu menghentikannya.


"Udahlah, Shaletta! Lo salah. Seharusnya lo gak marah saat di siram balik. Itu impas. Kecuali lo gak mampu beli baju lagi. Kan jadi malu," sindir Wileen yang mengulang kembali ucapan teman Shaletta.


Wileen melambaikan tangan pada Shaletta dan teman-temannya di sana. Sebelum ia berlalu pergi meninggalkan mereka yang tengah terbakar jenggot.


"Sialan! Awas saja nanti. Bakal gue balas mereka," Zelda mengepalkan kedua tangannya.


"Iya kita harus balas! Kalau bisa, kita buat mereka gak punya muka lagi buat datang ke kampus. Biar mampus," timpal teman Zelda tidak kalah kesal.


Shaletta terdiam sesaat, berusaha memadamkan kemarahannya. "Ayo pergi!"


Shaletta dan teman-temannya segera pergi dari kantin. Para mahasiswa yang sedari tadi menonton, kini mulai berbisik-bisik. Kejadian tadi menjadi gosip hangat untuk para mahasiswa. Baik para mahasiswa senior, maupun yang baru. Gosipnya cepat tersebar tapi siapa peduli? Shaletta sulit untuk di hadapi. Sedangkan Quella, malas untuk meladeni terlalu lama. Berbeda dengan kedua sahabatnya yang mau buang-buang waktu untuk menghadapi Shaletta.


***


"Nodanya gak mau hilang ya? Terus gimana? Gue gak bawa baju ganti di mobil gue lagi," ucap Zelda tampak panik karena sedari tadi noda minuman di baju Quella masih berbekas. Padahal sudah di bersihkan beberapa kali.


"Gue minta seseorang buat beliin Quella baju baru deh. Jadi jangan panik, oke!?" seperti biasa, Wileen selalu punya solusi untuk masalah darurat seperti ini.


"Gak usah, Wil. Baju gue bentar lagi kering. Soal nodanya biarin aja. Lagian cuma sisa 1 mata kuliah," tolak Quella dengan halus.


"Tapi baju lo...?"


"Gakpapa. Mending sekarang kita pergi ke kelas. Bukankah kalian juga ada mata kuliah selanjutnya?" Quella berhenti membersihkan noda di bajunya.


"Serius gakpapa?" tanya Zelda memastikan.


"Iya, Zelda. Yuk ah masuk! Nanti kita bertiga sama-sama telat," Quella segera merangkul pundak kedua sahabatnya yang tengah menghela nafas.


"Serius gak mau ganti baju aja, Quella?" kali ini giliran Wileen yang bertanya.


"Gak usah, Wil. Orang juga tidak akan memedulikan noda di baju gue ini. Gue bukan bunga kampus yang setiap incinya di perhatikan," celetuk Quella di sertai kekehan pelan.


"Iya juga sih," cetus Wileen membenarkan.


Kemudian mereka kembali berpisah di persimpangan lorong. Quella pergi ke kelas mata kuliah selanjutnya, begitu pula dengan Zelda dan Wileen. Mereka bertiga mulai fokus mendengarkan Dosen yang tengah menjelaskan. Yah, di antara mereka tidak ada yang malas belajar. Ada cita-cita yang mendorong mereka untuk terus belajar dan mewujudkannya. Saking fokusnya mendengarkan, tanpa terasa mata kuliah terakhir telah usai. Masing-masing Dosen pergi dari beberapa kelas Fakultas, di susul para mahasiswa yang berhamburan keluar dari kelas.


Quella melihat ke arah Zelda, sebelum bergegas pergi menghampirinya.


"Dimana Wil? Apa kelasnya belum berakhir?" tanya Quella--Matanya celingukan mencari keberadaan Wileen.


"Wil udah pulang duluan. Dia ada urusan tapi entar sore, kita jadi kok jalannya," jawab Zelda yang di balas anggukan pelan Quella.


"Em, Quella..." sambungnya ragu. Quella menatapnya penuh selidik.


"Ada apa?"


"Gue mau ketemuan sama Honey sekarang. Lo bisa pulang sendiri, kan?" Zelda dengan hati-hati, takut Quella marah.


"Oh itu. Lo pergi aja. Gue bisa pulang sendiri," sahut Quella bersikap santai


"Lo gak marah?" tanya Zelda dan Quella menggelengkan kepalanya. Hal itu membuat Zelda bernafas lega.


"Ah baguslah. Sorry ya, gue gak bisa antar pulang!" Zelda memeluk singkat Quella.


"Iya,"


"Bye, Bestiee!" seru Zelda sebelum bergegas pergi dari sana. Perempuan itu tampak tergesa-gesa untuk menemui Honey tercinta.


Sementara itu, Quella berjalan santai di koridor kampus yang masih terdapat banyak mahasiswa. Mereka tengah sibuk dengan kegiatan masing-masing. Langkah Quella membawanya pergi menuju luar gerbang kampus. Ia mengambil ponselnya dan langsung memesan mobil Online terdekat.


"Mau pulang, kak?" seseorang mengejutkan Quella, lantas berhasil membuatnya menoleh ke samping.


"Hai!" sapa orang itu lagi. Orang yang sudah di kenal oleh Quella.


"Gerald?" Quella tersentak karena sedikit terkejut. Pasalnya tidak menyadari Gerald datang.


"Jadi kakak lagi nunggu jemputan atau taksi online?" Gerald bertanya dengan senyuman manis yang tidak di buat-buat.


"Opsi kedua," jawab Quella singkat tapi ramah.


"Ooo," Gerald ber-Oh ria.


"Dan lo ngapain di sini?" tanya balik Quella dengan alis terangkat sebelah.


Gerald menggaruk-garuk kepalanya yang tidak gatal. "Gak ada ngapain sih. Aku cuma mau ngasih ini,"


Laki-laki itu menyerahkan sebuah jaket berwarna hitam. Sontak hal itu membuat Quella mengernyitkan dahinya.


"Tadi aku lihat baju kakak basah. Jadi ku pikir, kakak butuh jaket ini. Biar gak masuk angin," sambungnya menjelaskan.


"Gak perlu deh. Baju gue udah gak terlalu basah juga," Quella menolak dengan halus. Memang benar bajunya sudah tidak sebasah sebelumnya. Apalagi ia sedikit tidak enak hati untuk menerima bantuan Gerald yang notabenya baru di kenal.


"Aku gak bermaksud apa-apa. Cuma mau bantu kakak. Jadi tolong terima bantuan ini! Setidaknya sebagai ucapan terima kasih karena kemarin udah di beri tempat duduk," ucap Gerald bersikeras. Quella menatapnya intens, memastikan tidak ada niat tersembunyi di mata laki-laki itu dan benar tidak ada.


"Baiklah, kali ini saja. Nanti gue kembalikan jaket lo," pada akhirnya Quella mengambil jaket itu. Ia rasa tidak ada salahnya menerima bantuan Gerald.


Laki-laki itu tampak tulus ingin membantunya, sampai membawakan jaketnya langsung. Jika saja Gerald belum membawanya, Quella pasti akan menolak seperti saat Wileen menawarkan untuk sopirnya membawakan baju baru.


"Iya santai aja. Kakak bisa mengembalikannya kapan pun," sahut Gerald tersenyum tipis. Tepat bersamaan dengan sebuah taksi berhenti tepat di hadapan mereka. Taksi itu merupakan taksi online yang di pesan oleh Quella.


"Gue pergi dulu. Terima kasih, ya!?" Quella sempat membalas senyuman Gerald, sebelum masuk ke dalam taksi sembari memakai jaket tadi.


Gerald menganggukkan kepalanya. Taksi itu pun segera melaju meninggalkan Gerald yang masih berdiri di hadapan gerbang kampus. Tidak berselang lama, ponselnya berdering dan langsung ia angkat.


"Udah gue berikan," ucapnya dengan seseorang di telepon.