
Zelda tampak begitu terkejut mendengar pengakuan Quella barusan, begitu pula Wileen. Mereka berdua menatap tidak percaya ke arah Quella serta Vince secara bergantian. Namun tidak berselang lama, tatapan mereka berubah menjadi menuntut penjelasan dari Quella. Vince menyadari hal tersebut.
"Ehem. Kalian bicaralah. Saya mau ke kantor dulu!" seru Vince memecah keheningan yang sempat terjadi sesaat.
Quella langsung menatapnya. "Baiklah. Kamu hati-hati di jalan!"
Sekali lagi Zelda dan Wileen terkejut, baru kali ini mereka mendengar Quella berbicara selembut itu pada laki-laki. Apa mungkin ini karena status Vince sebagai suaminya? Pikir mereka berdua.
"Iya sayang. Kabari aku kalau perlu sesuatu, oke!?" Vince tersenyum tipis sembari mengusap lembut puncak kepala Quella yang masih terbalut perban.
Raut wajah kedua sahabat Quella lagi-lagi menunjukkan keterkejutan. Mereka sangat mengenal sosok Vince yang terkenal akan sikap dinginnya dan jarang tersenyum seperti itu. Lalu lihatlah sekarang, laki-laki berucap begitu hangat pada Quella. Bahkan tersenyum tipis, menambah pesonanya menjadi dua kali lipat. Kalau bukan mengingat status Vince yang baru mereka ketahui sebagai suami Quella, mungkin mereka berdua akan berusaha mendekatinya.
Quella menganggukkan kepalanya yang kemudian di balas kecupan singkat di keningnya oleh Vince. Sebelum akhirnya bergegas pergi meninggalkan Quella dan kefu sahabatnya itu.
"Lo harus jelasin semua ini sama kita, Quella!" desak Zelda tidak sabaran. Bahkan ia mendudukkan dirinya di pinggiran brankar Quella.
"Iya bener. Gimana bisa lo udah punya suami? Terus yang jadi suami lo itu pengacara Vince. Mana gak ngabarin kita lagi," timpal Wileen sama tidak sabarannya seraya bersedekap dada.
Quella tampak menghela nafasnya sesaat. "Sebenarnya gue dan Vince udah nikah 3 tahun yang lalu. Kenapa gue gak ngabarin lo berdua? Saat itu lo berdua ingat bukan kalau kita lagi lost kontak,"
"Ya kita berdua ingat. Cuma kan lo bisa beritahu kita saat udah kontakan lagi. Bukan di rahasiakan kaya gini. Lo anggap kita sahabat atau bukan sih?" cerocos Zelda menunjukkan raut wajah kesal.
Bagaimana tidak kesal, kalau sahabatnya merahasiakan hal sebesar itu. Padahal ia sudah menantikan datang ke pernikahan Quella ataupun Wileen.
"Gue gak sengaja rahasiakan soal ini dari lo berdua. Walau bagaimana pun lo berdua sahabat gue. Kebahagiaan gue harus ikut di rasakan lo berdua. Sayangnya saat itu ada situasi lain yang gak di duga terjadi. Gue mengalami kecelakaan dan kehilangan sebagian ingatan gue," jelas Quella yang tentu mengejutkan kedua sahabatnya itu.
"Kecelakaan? Hilang ingatan?" ulang Wileen memastikan bahwa pendengarannya tidak salah.
"Heum. Lo berdua ingat? Saat pertama kali kita bertemu setelah lost kontak. Ternyata gue baru beberapa hari keluar dari rumah sakit, tepat sebelum gue masuk kuliah. Nah ingatan gue yang hilang itu, termasuk Vince beserta kenangan kami berdua. Gue sama sekali gak ingat. Makanya gue gak cerita apapun pada lo berdua. Bukan sengaja merahasiakan soal ini," Quella menatap kedua sahabatnya secara bergantian.
Zelda dan Wileen tampak terdiam mengingat pertemuan kembali mereka dengan Quella 3 tahun lalu. Namun mereka berdua sama sekali tidak tahu masalah Quella kecelakaan dan hilang ingatan.
"Kok waktu itu gak cerita masalah lo kecelakaan?" tanya Zelda sedikit kecewa sebab baru mengetahui soal kecelakaan yang di alami Quella.
"Sorry. Waktu itu gue terlalu bahagia bisa ketemu dan kontakan lagi sama lo berdua. Jadinya lupa ngasih tau," jawab Quella tersenyum kecut.
"Lupanya sampai 3 tahun, ya?" sindir Wileen yang langsung membuat Quella meringis pelan.
"Tapi gue penasaran deh. Lo dan pengacara Vince kan udah nikah 3 tahun lalu? Kenapa kita berdua gak pernah liat kalian bersama? Apa pernikahan lo memang sengaja di rahasiakan?" sambungnya.
"Hooh sama. Gue juga penasaran," timpal Zelda.
"Ceritanya panjang," sahut Quella singkat.
"Ck—Ceritakan! Gue dan Wileen mau denger cerita lo. Daripada nanti gak bisa tidur gara-gara penasaran. Lo mau tanggung jawab sama mata gue yang nanti kaya mata panda!?" cerocos Zelda seperti biasa. Gadis itu tidak akan berhenti sebelum mendapatkan apa yang di inginkannya.
Wileen mengangguk setuju. "Lo tau sendiri, kalau kita berdua juga kaya lo yang gak suka cerita nanggung. So, lo harus ceritakan sampai habis!"
Ia pun langsung menceritakan semuanya yang ingin di ketahui Zelda dan Wileen. Tidak ada satupun terlewatkan, termasuk bagaimana ia bisa bertemu kembali Vince. Lalu mulai mendapatkan satu-persatu ingatannya kembali seperti sekarang.
"Intinya kaya gitulah. Beruntung Vince datang menemui gue beberapa waktu lalu, kalau gak—Mungkin sampai berapa tahun ke depan gue gak bakal tau kalau dia itu suami gue," ucap Quella mengakhiri ceritanya.
"Kenapa baru sekarang pengacara menemui lo?" tanya Wileen.
"Ada masalah yang gue sendiri gak tau itu apa. Dia hanya mengatakan bahwa masalahnya terlalu beresiko untuk gue saat itu. Makanya dia baru menemui gue sekarang karena masalahnya sudah selesai," jawab Quella apa adanya.
"Sudahlah. Terpenting sekarang kita berdua udah tau, Wil! Alasan kenapa selama ini Quella tidak pernah tertarik sama laki-laki mana pun. Ingatannya memang hilang tapi hatinya tetap milik seorang Vince Marson," celetuk Zelda tersenyum menggoda sang sahabat.
"Gak heran sih kalau gak ada laki-laki yang bisa bikin lo tertarik. Ternyata udah punya pawang modelan pengacara Vince. Di lihat dari segi manapun sempurna," Wileen ikut-ikutan menggoda Quella. Jarang sekali ia bisa mendapatkan kesempatan seperti ini.
Quella tampak memutar malas bola matanya. "Udah deh. Sekarang kenapa lo berdua kompak godain gue? Biasanya juga kompak soal laki-laki,"
"Jarang-jarang bisa godain lo. Iya gak, Wil!?" ujar Zelda menatap Wileen yang berdiri di dekatnya.
"Hooh," sahut Wileen membenarkan.
Terserahlah. Quella tidak mau menanggapi godaan kedua sahabatnya itu lagi. Apalagi kalau Wileen si Wileen sudah ikut-ikutan dengan Zelda. Ia tidak mungkin bisa menang dari mereka berdua.
"Eh btw, keadaan lo gimana sekarang? Apa masih ada yang harus di khawatirkan?" Wileen hampir melupakan pertanyaan itu karena terlalu larut dalam pembahasan soal pernikahan Quella dan Vince.
"Keadaan gue sudah lebih baik. Cuma kata Dokter, gue masih perlu di rawat beberapa hari lagi. Untuk memastikan keadaan gue benar-benar pulih," ungkap Quella sesuai apa yang di jelaskan Dokter padanya saat pemeriksaan sebelumnya.
"Huffft... Syukurlah. Kita berdua khawatir banget sama keadaan lo. Ini semua gara-gara kelakuan tuh Yocelyn yang buat lo celaka sampai kaya gini. Untung lo udah sadar dari koma. Kalau masih belum sadar—Udah gue dan Wileen balas Yocelyn dengan cara yang sama," Zelda mencerocos panjang, jangan lupakan raut wajah kesalnya itu.
"Sebelum lo dan gue lakuin itu, pengacara Vince sudah bergerak lebih dulu. Lihatlah—Sekarang keluarga Yocelyn dan kedua temannya udah bangkrut. Lalu mereka bertiga juga mendapatkan hukuman yang setimpal. Gak ada orang yang bisa lakuin itu selain pengacara Vince mengingat statusnya itu," cetus Wileen sedikit membuat Quella terkejut.
"Benarkah?" sentak Quella.
Wileen mengangguk, tanda membenarkan. "Itu terjadi tidak berapa lama setelah lo di nyatakan koma. Awalnya gue dan Zelda bingung akan kejadian yang menimpa Yocelyn secara mendadak. Tetapi setelah mendengar kebenaran hari ini, gue yakin itu kerjaan pengacara Vince. Ternyata suami lo emang orangnya gercep,"
Quella yang sempat terkejut, sekarang bibirnya mengembangkan senyuman tipis. "Dia memang seperti itu,"
"Huhu gue juga mau punya suami kaya pengacara Vince," cicit Zelda pelan.
"Mimpi lo. Gimana mau punya suami kaya pengacara Vince, kalau kerjaan lo cuma main-main sama banyak laki-laki!" celetuk Wileen begitu menohok.
Zelda mendelik tajam ke arahnya. "Lo juga sama. Kalau lo lupa,"
Wileen hanya menatap jengah Zelda. Tanpa berniat membalas lagi. Sedangkan Quella tampak terkekeh akan tingkah kedua sahabatnya itu. Ia cukup terhibur dengan keberadaan mereka berdua. Bahkan tanpa terasa sudah berjam-jam Zelda dan Wileen menemaninya. Sampai akhirnya mereka berdua harus pamit pulang.
"Kita pulang dulu. Daaah!" pamit Zelda dan Wileen secara bersamaan.
Sepeninggal kedua sahabatnya itu, Quella pun memutuskan untuk beristirahat.