THE LAWYER'S SECRET WIFE

THE LAWYER'S SECRET WIFE
Bab 06. Hadiah Zelda



"Pulang sekarang, yuk! Gue ada janji sama honey nih," ucap Zelda melihat ke arah jam tangan yang melingkar di pergelangan tangannya.


Quella bernafas lega. Tubuhnya benar-benar lelah dan ingin beristirahat. "Huh akhirnya,"


Zelda tersenyum kecil tanpa berdosa. Padahal dirinya sadar bahwa sahabatnya selalu merasa tersiksa akan ulahnya. Meski terkadang Quella tidak mengungkapkan rasa keberatannya. Tetapi ia sadar dan juga tahu.


"Tapi sebelum itu, gue punya hadiah buat lo. Gue beliin khusus untuk lo," Zelda mengeluarkan sebuah kotak kecil dari tasnya.


"Apa?" tanya Quella dengan dahi mengernyit.


"Nih, buka aja! Gue harap lo suka," jawab Zelda sembari menyerahkan kotak kecil tadi pada Quella.


Quella mengambil kotak itu dan langsung membukanya. Tidak ada raut wajah apapun yang ia perlihatkan. Sontak hal itu membuat Zelda penasaran, sekaligus berperasangka negatif.


"Gimana? Gak suka, ya?" Zelda memasang raut wajah kecewa.


"Siapa yang bilang?" celetuk Quella menaik-turunkan alisnya.


"Itu raut wajah lo. Gak ada terlihat bahagianya. Padahal menurut gue, hadiah itu cocok buat lo. Sayang lo gak suka," ucap Zelda masih dengan raut wajah yang sama.


"Gue suka kok. Terima kasih," tampak sudut bibir Quella terangkat. Ia juga mengeluarkan hadiah dari Zelda yang berupa jam tangan berwarna hitam dengan desain simpel tapi indah.


"Serius!? Ah senangnya," pekik Zelda yang spontan memasang raut wajah bahagia. Ternyata sahabatnya itu menyukai hadiah yang ia berikan.


"Heum," Quella berdehem pelan sembari memasang jam tangan itu di pergelangan tangannya. Sempurna. Pilihan Zelda selalu terbaik dan ia akui benar.


Kemudian mereka berdua segera pergi dari mall tersebut. Zelda mengantarkan Quella pulang ke rumahnya dalam waktu terbilang cepat. Perempuan itu sedang terburu-buru karena tidak ingin terlambat bertemu sang kekasih.


"Bye-bye bestie!" seru Zelda dari dalam mobil, tangannya sempat melambai pada Quella yang sudah berdiri di depan rumahnya.


Quella membalas lambaian tangannya, sebelum sahabatnya itu melajukan mobilnya dengan cepat. Ia pun segera masuk ke dalam rumahnya dan berganti pakaian. Setelah itu, ia kembali lanjut beristirahat karena perjalanan tadi malam benar-benar membuatnya lelah. Apalagi dirinya harus mempersiapkan diri untuk besok kembali turun ke kampus. Pastinya akan banyak kegiatan yang juga melelahkan.


***


Keesokan harinya, Quella sudah bersiap dengan dress putih selutut, berlengan pendek. Rambutnya di ikat tinggi hingga jenjang lehernya terlihat. Tidak lupa pula make tipis di oleskan pada wajahnya. Cantik sempurna. Sneakers putih yang terpasang di kakinya juga menjadi pelengkap penampilannya. Sementara itu, barang-barang penting miliknya di letakkan di dalam ransel kecil. Dengan setumpuk buku yang hanya di pegang di tangannya.


Ting tong...


Bell rumahnya berbunyi. Siapa lagi yang datang kalau bukan Zelda--Sang sahabat dengan penampilan seksi seperti biasa. Namun kali ini, ia tidak datang sendirian. Ada seorang perempuan seusianya yang datang bersamanya. Penampilannya tidak seksi tapi elegan.


"Pagi, Bestiee!" seru keduanya pada Quella yang baru saja membukakan pintu.


"Pagi. Kapan lo pulang, Wil?" Quella menatap perempuan muda yang datang bersama Zelda itu.


"Kemarin malam," sahutnya.


"Oh," Quella hanya ber-Oh ria mendengarnya.


"Nanti aja lanjutin bicaranya. Mending kita segera pergi sekarang sebelum terlambat," sela Zelda sembari menunjukkan jam tangan miliknya. Sekitar 45 menit lagi mata kuliah pertama mereka akan di mulai.


"Tumbenan lo mau datang cepat. Biasanya aja telat," celetuk Wileen menatap heran pada sahabatnya itu.


"Lo kaya gak tahu dia aja, Wil. Hari ini kan kampus kita kedatangan para mahasiswa baru secara resmi," sahut Quella mencerocos lebih dulu.


"Oh astaga. Gue lupa. Ternyata karena itu lo mau pergi cepat?" Wileen menepuk dahinya karena lupa. Lupa akan kebiasaan Zelda.


Baru saja Zelda ingin berucap, Quella sudah lebih dulu menyahut kembali. "Iya, Wil. Bahkan kemarin, gue di paksa nemenin dia buat cuci mata di kampus. Terus gue juga terpaksa menunggu sesi fotonya sama para mahasiswa baru selesai. Bosan banget sumpah,"


"Ih kok gitu sih. Gue gak ada maksa ya," sanggah Zelda tidak terima.


"Tapi gue ngerasa di paksa," timpal Quella dengan santainya.


"Yah kalau lo ngerasa kaya gitu, okelah. Lagian gue memaksa lo untuk hal yang menguntungkan. Bukan hal yang sia-sia," Zelda tidak mau kalah debat dengan Quella.


"Itu sih bagi lo, bukan gue!" cetus Quella yang juga tidak mau kalah.


Perdebatan seperti itu sering terjadi. Hanya perdebatan singkat yang berakhir dengan Wileen menengahi, sama seperti saat ini.


"Udah, stop! Perdebatan kalian unfaedah. Mending kita pergi sekarang!"


"Ya, lo bener. Gak ada habisnya berdebat dengan si ratu debat sepertinya," sindir Quella yang di sambut dengan Zelda memasang raut wajah cemberut.


"Pasti begitu," cicit Zelda tapi tidak mendapat balasan lagi dari Quella.


Mereka bertiga segera memasuki mobil Zelda. Wileen tidak membawa mobilnya hari ini. Makanya ikut mobil Zelda. Kemudian Zelda langsung melajukan mobilnya dengan kecepatan di atas rata-rata. Kalau soal mengemudi ala pembalap, Zelda bisa menjadi kandidatnya. Orang-orang yang pertama kali ikut dengannya, mungkin akan merasa sedikit shock. Mereka pasti akan menyebut Zelda tidak sayang nyawa. Hei, Zelda sangat sayang nyawanya. Namun mengemudi mobil dengan kecepatan tinggi adalah hobinya. Jadi jangan mengatakan itu padanya atau ia akan merasa kesal.


30 menit kemudian...


Zelda telah menghentikan mobilnya tepat di parkiran kampus. Quella, Zelda dan Wileen bergegas turun dari mobil. Keadaan parkir sudah hampir penuh semua dengan banyaknya kendaraan para mahasiswa. Ada juga yang baru datang seperti mereka. Suasana yang cukup di rindukan selama liburan.


"Gue ke kantin bentar. Mau beli cokelat hangat," ucap Quella sembari memeriksa jam tangannya. Masih ada waktu sekitar 15 menit, sebelum masuk.


"Gue ikut. Mau beli cokelat hangat juga," sahut Wileen cepat.


"Eh gue ikut juga. Belum sarapan nih," timpal Zelda yang tidak mau ketinggalan pastinya.


"Yaudah, ayo!" seru Quella mengajak kedua sahabatnya itu.


Mereka bertiga langsung berjalan menuju kantin kampus. Di sepanjang koridor, ada beberapa mahasiswa seangkatan atau pun senior yang menyapa mereka bertiga. Mereka membalas dengan sapaan balik dan juga senyuman. Hingga akhirnya mereka tiba di kantin kampus yang ramai akan para mahasiswa dengan tagname mahasiswa baru.