
Leon masih tak bisa percaya dengan apa yang telah dia dengar dari suara aneh yang ada di kepalanya, dia bahkan mencoba untuk mencerna setiap perkataan dari suara aneh tersebut namun tetap saja tidak bisa, dan saat ini hatinya hanya dipenuhinya oleh rasa gembira.
"Sayang kau kenapa?" tanya Alisha.
"Eh... tidak apa-apa sayang, mari kita keluar dari sini" kata Leon.
Sebuah cahaya yang sangat menyilaukan kemudian menyelimuti tubuh mereka berdua dan beberapa saat setelah itu mereka kembali berada di puncak gunung Nord, namun berbeda dengan saat mereka datang saat ini puncak gunung tersebut tidak lagi dipenuhi oleh kabut yang tebal.
"Sayang apa ini kristal yang di maksud oleh raja semesta tadi?" tanya Ashley saat melihat sebuah kristal besar tertancap di atas sebuah batu.
"Aku rasa memang itu kristalnya, coba kau rasakan banyak energi kehidupan yang keluar dari kristal tersebut" kata Leon.
"Baiklah, kalau begitu mari kita teteskan darah kita lalu pergi dari sini" kata Ashley.
Mereka berdua kemudian melukai sedikit ujung telunjuk mereka setelah itu mereka berdua meneteskan darah mereka ke kristal tersebut, lalu setelah itu Leon menyimpan kristal tersebut ke dalam cincin Blue Ocean Ring miliknya.
Setelah selesai Leon kemudian menggendong tubuh Ashley dan lansung membawanya untuk turun dari gunung, dalam sekejap mata mereka berdua telah kembali ke pinggiran kebun buah tempat mereka sebelum naik ke gunung, karena Leon menggunakan skill teleportasi miliknya.
"Huhhhh, akhirnya kembali lagi ke sini" kata Ashley menghela nafas lega.
"Kenapa sayang?" tanya Leon.
"Tidak apa-apa, hanya saja tadi aku terlalu tegang hingga membuat tubuhku terasa pegal semua" jawab Ashley.
"Hahaha jadi begitu ya, oh ya sayang mengenai pertemuan kita dengan raja semesta sebaiknya jangan kau ceritakan pada orang lain, begitu juga dengan elemen cahayamu itu" kata Leon.
"Baik aku janji akan merahasiakan semuanya" jawab Ashley.
"Bagus sayang, kalau begitu mari kita kembali ke rumah paman Ronald" ucap Leo kemudian kembali menggendong Ashley, dan dalam sekejap kemudian mereka telah sampai di dalam kamar mereka berdua.
"Aku akan mandi dulu" ucap Ashley.
"Oke" jawab Leon singkat.
Setelah kepergian Ashley Leon kemudian mengambil katana yang baru saja ia dapatkan, katana tersebut juga berwarna putih sama seperti katana yang sebelumnya, namun perbedaannya adalah aura serta kekuatannya, White Wolf katana memiliki aura yang sangat kuat bahkan aura tersebut hampir menyamai aura dari raja semesta sendiri.
"Sungguh senjata yang mengerikan, sebaiknya aku menggunakanmu saat terdesak saja" ucap Leon kemudian kembali menyimpan katana tersebut di dalam Blue Ocean Ring miliknya.
"Selain koin emas yang berlimpah aku juga mendapatkan skill pertahanan dan skill menyerang, tapi skill menyerang ini lebih cocok untuk seorang warior" gumam Leon
"Skill ku juga naik level, bahkan sekarang aku bisa menggunakan semua elemen, eh selain itu aku juga mendapat ruang jiwa, apa itu?" ucap Leon pelan sambil berfikir.
*Ruang jiwa adalah sebuah ruang khusus yang berada di dalam jiwa tuan, ruang jiwa bisa di katakan sebuah dunia kecil milik tuan sendiri, tuan bisa melakukan apa saja di sana dan bisa memasukkan apa saja, untuk masuk ke ruang jiwa tuan hanya perlu memasuki jiwa tuan, dan untuk memasukkan sesuatu ke ruang jiwa tuan harus menarik sesuatu tersebut dengan kekuatan jiwa*.
"Hahaha kau selalu saja menjelaskan di saat yang tepat" gumam Leon senang ketika mendengar sebuah suara menjelaskan tentang ruang jiwa di kepalanya.
Leon kemudian duduk bersila dan memfokuskan pikirannya, setelah itu di mencoba untuk memasuki jiwanya sendiri dan beberapa saat kemudian dia membuka mata dan sudah ada di sebuah padang rumput yang sangat luas.
"Eh apa ini yang namanya ruang jiwa?, ini terlihat seperti dunia biasa, baiklah aku akan mencoba untuk menelusuri tempat ini lebih dulu" gumam Leon, kemudian berjalan menelusuri padang rumput tersebut.
Setelah cukup lama ia berjalan ia tidak menemukan apapun selain dari padang rumput luas yang tiada ujungnya, karena merasa lelah Leon kemudian memejamkan matanya dan kembali ke dunia nyata.
"Jika ruang jiwa bisa aku kendalikan sesuka hati berarti aku bisa berbuat apa saja di dalam sana, aku juga bisa memasukkan benda lain ke ruang jiwa, apa orang juga bisa masuk?" gumam Leon.
"Sayang kau kenapa melamun lagi?" tanya Ashley yang baru saja selesai mandi.
"Jangan terlalu sering berfikir nanti rambutmu akan memutih dengan cepat" ucap Ashley.
"Rambutku memang sudah putih" kata Leon.
"Hahahaha jangan marah aku hanya bercanda, bagaimana kalau kita jalan-jalan keliling desa" ajak Ashley.
"Oke, aku juga merasa agak bosan di kamar terus" kata Leon.
"Sebentar, ada yang ingin aku coba" ucap Leon.
"Apa itu?" tanya Ashley.
"Tutup matamu" ucap Leon.
"Mm oke, baiklah" Ashley kemudian menutup matanya.
"Jangan di buka sampai aku perintahkan" ucap Leon.
Ashley hanya menganggukkan kepalanya pelan, setelah itu Leon juga ikut menutup matanya dan memfokuskan pikirannya kemudian mengedarkan kekuatan jiwanya ke pada Ashley lalu ia mencoba untuk menarik Ashley kedalam ruang jiwanya.
Dalam sekejap mata tubuh Ashley kemudian terhisap oleh sesuatu yang ada di tubuh Leon, setelah beberapa saat Leon kemudian membuka matanya, dia agak kaget karena Ashley sudah tidak ada di depannya dan ia takut kalau usahanya akan gagal, karena penasaran Leon kemudian masuk kedalam ruang jiwanya sendiri.
Di dalam ruang jiwa Ashley masih berdiri tegak dengan mata tertutup, namun kali ini bukan lagi di dalam kamar melainkan di sebuah padang rumput yang luas, beberapa saat kemudian Leon muncul di ruang jiwa dia merasa lega ketika melihat Ashley juga berada di sana.
"Sayang buka matamu" kata Leon.
"Baiklah" jawab Ashley kemudian membuka matanya secara perlahan, dia sangat kaget ketika menyadari bahwa dirinya sudah tidak berada di kamar lagi, melainkan di padang rumput yang sangat luas.
"Sayang kita ada dimana?" tanya Ashley bingung.
"Kita sekarang ada di dalam ruang jiwaku" jawab Leon.
"Maksudnya?" Ashley makin bingung.
"Ya bisa dibilang ini adalah duniaku sendiri" jawab Leon.
"Tempat ini sangat indah, coba saja kalau aku punya rumah di sini" kata Ashley pelan.
"Rumah ya.... hmmmm kenapa tidak aku coba saja" gumam Leon.
"Sayang jika aku bisa membangunkan rumah di sini, kau mau rumah yang seperti apa?" tanya Leon.
"Aku ingin rumah sederhana yang terletak di atas bukit agar aku bisa memandang indahnya hamparan padang rumput yang luas ini, dan juga aku ingin rumah kota di kelilingi oleh pepohonan yang rindang agar udaranya terasa sejuk" ucap Ashley.
"Baiklah kalau begitu mari kita coba" kata Leon sambil membayangkan rumah yang diimpikan oleh Ashley, beberapa saat kemudian tidak jauh dari mereka tiba-tiba saja ada sebuah bukit yang lumayan tinggi lengkap dengan sebuah rumah serta pepohonan yang mengelilingi rumah tersebut.
Ashley hanya bisa tercengang ketika melihat fenomena aneh yang sedang terjadi di depan matanya tersebut, dia masih tidak percaya bahwa keinginannya bisa menjadi kenyataan.
"Sayang bagaimana mung..."
"Ingat ini adalah duniaku, jadi apapun yang aku inginkan akan terwujud" jawab Leon memotong ucapan Ashley, walaupun sebenarnya dia juga agak kaget kerena tidak menyangka bahwa yang ia bayangkan akan terwujud dalam sekejap.