
Sebuah suara yang sangat keras membuat Leon gemetar ketakutan, meskipun tubuhnya tidak sadarkan diri namun kesadaran dalam dirinya masih dapat merasakan takut yang teramat sangat.
"Si-siapa di sana....?" tanya Leon gugup.
"Apa kau merasa takut nak?" ucap suara tersebut.
"......"
Leon diam saja dan tidak menjawab karena ia merasakan aura yang sangat kuat dari arah cahaya tersebut.
"Kenapa kau diam saja, aku mendengarkan mu mengoceh dari tadi dan sekarang saat aku mengajakmu bicara kau malah diam saja" kata suara itu lagi
"....."
Leon masih tidak menjawab.
"Baiklah, baiklah, aku akan menunjukkan diriku" ucap suara itu kesal karena di abaikan oleh Leon.
Cahaya yang terang dan menyilaukan tersebut kemudian perlahan-lahan mulai menghilang dan dari sana nampak seekor serigala putih yang sangat besar bahkan tubuh Leon hanya seukuran kukunya saja.
Di sekeliling lehernya ada bola-bola cahaya yang melayang dan melingkar bagaikan kalung, dan dari tubuhnya terpancar aura yang sangat kuno serta mendominasi bahkan Leon merasa ditekan oleh puluhan tumpukan gunung yang sangat besar.
"Nah bagaimana sekarang apa kau mau bicara denganku?" tanya serigala tersebut.
"Si-siapa kau?" tanya Leon.
"Hahaha dulu orang menyebutku sebagai hewan suci kuno, ada juga yang menyebutku dewa atau raja semesta, ada juga yang menyebutku raja para serigala, dan sekarang terserah kau mau menyebutku apa" jawab serigala tersebut.
"Hmmm, kalau begitu aku akan memanggilmu raja semesta saja" ucap Leon.
"Hahahaha baiklah nak, sebaiknya aku menyembuhkanmu agar kita bisa bicara dengan nyaman" kata raja semesta.
Kemudian dia menjentikkan jarinya dan dalam sekejap tubuh Leon di selimuti cahaya setelah beberapa saat kemudian tubuh Leon sudah bisa lagi di gerakkan.
"Bagaimana apakah sudah merasa lebih baik?" tanya raja semesta.
"Kekuatan yang sangat besar" gumam Leon.
Leon memandang serigala putih raksasa tersebut dengan penasaran, dia mencoba untuk mengukur kekuatan serigala tersebut namun tidak bisa.
"Hahaha jika kau berfikir untuk mengukur kekuatanku, bahkan jika dalam mimpimu itu takkan bisa" kata raja semesta.
"Maafkan aku" kata Leon.
"Jadi tanyalah apapun yang ingin kau tanyakan, dan aku akan menjawab semuanya" ucap raja serigala seakan mengerti apa yang sedang Leon pikirkan.
"Baiklah, pertama tempat apa ini?" tanya Leon.
"Ini adalah alam jiwaku dan aku sengaja mengundangmu kemari karena ada sesuatu yang ingin aku bicarakan" kata raja semesta.
"Apa yang ingin kau bicarakan?" tanya Leon.
"Baiklah aku akan mulai dari beberapa ribu tahun yang lalu, dulu aku adalah dewa yang ditugaskan untuk memimpin serta mengawasi alam semesta dan termasuk dunia ini yang kau tinggali saat ini, dan satu hal lagi aku bukanlah serigala aku hanya meminjam wujud serigala karena aku menyukai hewan tersebut, itu saja hahaha.."
"Memangnya aku bertanya tentang itu" ujar Leon.
"Hahaha baiklah-baiklah, karena tertarik dengan kehidupan yang beragam yang ada di dunia ini aku jadi lebih fokus memperhatikan dunia ini, hingga akhirnya ada salah seorang manusia atau mungkin manusia setengah iblis menantangku untuk bertarung dengannya, dan tentunya dengan mudah aku mengalahkannya karena aku sangat hebat hahaha"
"Ya ampun kenapa serigala ini sangat sombong" kata Leon membatin.
"Logan dan Aquila" gumam Leon.
"Benar sekali, tujuan mereka berdua adalah mengawasimu serta menghasutmu untuk mengumpulkan mereka berenam, dan jika mereka semua sudah berkumpul maka kau bukanlah lagi tandingan mereka".
"Lalu bagaiman dengan teratai tujuh warna yang ada di dahiku?" tanya Leon.
"Hahahaha teratai apa nak?, itu hanya bualan mereka saja untuk mengelabuimu, biar aku tunjukkan" kata raja semesta.
Kemudian dia mengangkat satu tangannya lalu menyentuh kening Leon dengan kukunya yang sangat besar, setelah itu muncul lambang teratai tujuh warna di sana.
"Ini hanyalah tanda biasa yang di ciptakan dari kristal es tujuh warna dan coba tebak siapa pelakunya" ucap raja semesta.
"Aquila!!" gumam Leon
"Benar sekali, mereka mengkhianatimu karena telah menyadari bahwa aku akan menemuimu, Leon dengarkan aku musuh terbesarmu bukanlah Luchifer, tapi manusia setengah iblis yang dulu aku kalahkan, sekarang aku sudah tidak bisa lagi melawannya karena saat ini aku hanyalah serpihan roh kecil, jadi tugas ini aku serahkan kepadamu, lindungi dunia ini dan juga seluruh semesta" kata raja semesta.
"Tapi bagaimana kekuatanku sangat lemah" ujar Leon.
"Hahaha, jangan khawatir setelah ini ajaklah istrimu ke puncak gunung Nord dan temui aku di sana" kata raja semesta.
"Baiklah, satu hal lagi bagaimana dengan Lyon?" tanya Leon.
"Ah... maksudmu harimau putih tersebut, ya dia memang hewan suci yang sebenarnya, ketika aku merasakan keberadaanmu di dunia ini aku memberikan kekuatan api ku pada seekor harimau dan memintanya untuk mencarimu, namun aku melakukan kesalahan karena waktu itu harimau tersebut sedang mengandung anaknya, rencanaku ini di ketahui oleh raja iblis karena orang yang bersamanya itu bisa merasakan kekuatanku, jadi dia mengutus kalajengking hitam raksasa untuk membunuh harimau itu.."
"Dan pada saat itu aku berada di sana" ujar Leon.
"Benar sekali, namun sayangnya ingatan harimau putih kecil telah dimanipulasi oleh kekuatan kegelapan, sehingga dia menganggap mereka semua saudaranya, tapi tidak apa-apa sekarang dia sudah bebas" ucap raja semesta.
Kemudian salah satu bola cahaya yang di sekelilingnya mendekat ke arah Leon sari bola cahaya tersebut nampak seekor harimau putih yang sedang tertidur.
"Selamat tinggal adikku" kata Leon sedih.
"Baiklah aku rasa sudah waktunya kau bangun, dan ingat jangan lupa untuk mengunjungi ku di puncak gunung Nord" kata raja semesta kemudian perlahan hilang.
"Logan, Aquila kalian tidak akan aku maafkan!!!" kata Leon berteriak marah.
Sebuah cahaya terang kembali terlihat dan kemudian menyelimuti tubuh Leon, perlahan-lahan tubuh Leon berubah menjadi serpihan kecil lalu menghilang bersama cahaya tersebut.
***
"Ukhuukk, ukhuukk!!!"
Ashley yang sedang duduk di samping Leon terkejut ketika mendengar Leon terbatuk-batuk.
"Sayang kau sudah bangun" kata Ashley kemudian memeluk Leon dengan erat sambil menangis.
Leon membiarkan Ashley memeluknya karena ia tau bahwa Ashley menghawatirkan dirinya.
"Maafkan aku telah membuatmu khawatir" kata Leon sambil mengusap kepala Ashley lembut.
Setelah merasa tenang, Ashley kemudian melepaskan pelukannya dan menatap wajah Leon yang tersenyum kearahnya.
"Jangan pernah melakukan hal yang bisa mengancam nyawamu lagi" kata Ashley sambil mengusap air matanya.
"Iya aku janji" jawab Leon kemudian mencium kening Ashley.