THE GREAT KINGDOM

THE GREAT KINGDOM
Pelan-Pelan Saja.



Setelah selesai makan mereka berdua kemudian merebahkan tubuh di atas tempat tidur karena sama-sama merasa lelah, namun seberapa keras pun mereka mencoba tetap saja mereka tidak bisa tidur.


"Ashley apa kau sudah tidur?" tanya Leon.


"Belum..." jawab Ashley singkat.


"Apa kau tidak bisa tidur?"


"Mm.."


"Aku juga sama"


Ashley kemudian berbalik dan menghadap Leon karena memang sebelumnya dia hanya membelakangi Leon. sementara Leon sendiri hanya baring dalam keadaan terlentang.


"Boleh aku menanyakan sesuatu?" tanya Ashley.


"Tentu saja"


"Apa yang terjadi padamu waktu itu, kenapa kau tiba-tiba meninggalkan aku, dan kenapa waktu kau pulang kau sudah terluka parah, dan apa kau marah padaku?" tanya Ashley.


"Bukan begitu Ashley, aku sama sekali tidak marah padamu, justru aku sangat memaklumi hal itu karena ini adalah yang pertama bagimu, aku juga merasakan hal yang sama hanya saja aku dapat menutupi itu semua dan tetap bersikap santai.."


"Lalu ketika aku menghilang waktu itu, aku merasakan adanya kekuatan jahat yang berada di sekitar kerajaan dan benar saja ketika aku sampai di kota aku menemukan salah seorang bangsa iblis, yah bisa di bilang dia adalah salah satu dari petinggi kerajaan iblis, atau bisa di sebut juga sebagai jendral mungkin.."


"Dia menantang ku untuk bertarung, awalnya aku menolak namun dia mengancam akan menghancurkan kerajaan ini jika aku tidak mau menerima tantangan darinya, dengan sangat terpaksa aku melawannya dan berakhir dengan luka di sekujur tubuhku, dan untung saja dia juga berhasil aku lukai jadi dia memilih untuk mundur dan tidak jadi menyerang kerajaan" kata Leon menjelaskan.


"Jadi begitu ceritanya, aku kira kau pergi karena marah padaku" ucap Ashley.


"Hahaha mana mungkin aku marah padamu, asal kau tau saja jika tanganku tidak terluka seperti ini aku sudah memelukmu dari tadi" ujar Shin sambil tersenyum.


Beberapa saat kemudian Ashley mendekatkan tubuhnya pada Leon dan setelah itu dia lansung memeluk tubuh Leon.


"Hah... apa ini tidak salah?" tanya Leon kaget dengan apa yang di lakukan Ashley.


"Apanya yang salah?, aku hanya memeluk suamiku memangnya salah ya?" jawab Ashley bingung.


"Hahahaha bukan begitu, sejak kapan kau punya keberanian memelukku?" tanya Leon lagi.


"Entahlah aku juga tidak tau, sejak aku melihatmu terluka parah entah mengapa aku jadi merasa sangat bersalah dan tiba-tiba saja aku seperti mendapatkan keberanian dalam diriku" jawab Ashley.


"Syukurlah kalau begitu..."


"kenapa?"


"Jika kau sudah terbiasa itu artinya aku tidak jadi tidur di kamar Xin" kata Leon dengan senyuman hangatnya.


"Iya, kau tidak perlu melakukan hal itu" jawab Ashley mempererat pelukannya.


"Ashley aku ingin mengatakan satu hal padamu"


"Apa itu?"


"Jalanku masih sangat panjang serta berliku-liku, sudah pastinya akan banyak bahaya dalam hidupku nantinya, contohnya sekarang aku sudah mendapatkan masalah dengan petinggi kerajaan iblis dan yang pastinya mereka tidak akan melepaskan aku dengan begitu saja, sudah pasti mereka akan mencariku sampai dapat, dengan begitu orang-orang di sekitarku juga akan dalam bah.."


"Aku tidak peduli, sesulit apapun jalan yang kau lalui maka aku juga akan melalui jalan itu, jadi aku mohon Leon jangan pernah berfikir untuk meninggalkan aku" ujar Ashley memotong penjelasan Leon.


"Hahaha dasar kau ini, aku bahkan belum sempat menyelesaikan ucapan ku dan kau sudah memotongnya begitu saja"


"Itu karena aku tidak ingin jauh darimu lagi Leon" jawab Ashley.


"Ashley apa kau menyadari satu hal?" tanya Leon.


"Apa itu?"


"Awalnya aku hanya menyelamatkan mu saat di hutan dan siapa sangka sekarang malah kau jadi istriku, bahkan kita hanya saling mengenal dalam waktu yang singkat"


"Mungkin ini sudah takdir" ujar Ashley.


"Yah mungkin kau ada benarnya juga" jawab Leon.


Mereka terus saja mengobrol sepanjang malam, menghabiskan setiap jamnya dengan berbincang-bincang, sesekali mereka juga bercanda dan tertawa tanpa mereka sadari tawa mereka telah mengganggu tidur yang lainya.


"Ya ampun apakan tuan dan nona tidak bisa mengecilkan suara mereka, aku ingin tidur dan ini sudah sangat larut" ucap Xin sambil menutup kedua telinganya dengan tangan.


"Tenang suamiku, mungkin mereka tengah berbahagia saat ini" kata Maria menenangkan Duke Arton.


"Mereka yang bahagia dan aku yang sengsara" ujar Duke Arton makin kesal.


"Apa yang di lakukan tuan dan nona, mengapa mereka sangat berisik selarut ini" ucap Asta.


"Aku sudah tidak tahan sebaiknya aku menegur mereka" kata Duke Arton kemudian pergi keluar kamar.


"Tidak suamiku, jangan biarkan saja mereka" ujar Maria.


Duke Arton kemudian keluar dari kamarnya dan pergi menuju kamar Leon dan Ashley namun ketika dia tiba di sana dia sangat kaget ketika menemukan tiga pria sudah berdiri di depan kamar tersebut, mereka adalah Xin, Asta dan Guts.


"Hey apa yang kalian lakukan di sini" tanya Duke Arton.


"Kami berniat menegur mereka namun tidak ada yang berani" jawab Xin.


"Sudahlah biarkan aku saja" ucap Duke Arton kemudian mencoba untuk mengetuk pintu kamar, namun ia lansung menghentikan niatnya ketika mendengar sesuatu dari dalam kamar.


"Pelan-pelan saja jangan di paksakan" ucap Ashley.


"Iya aku tau, kau tenang saja" jawab Leon.


"Aarghhh!!!"


"Kenapa kau berteriak" tanya Leon.


"Aku merasa ngilu" jawab Ashley.


"Hah?"


"Padahal aku yang terluka malah dia yang seperti itu" kata Leon dalam hati.


"Oke-oke aku akan pelan-pelan, sayang" ucap Leon dengan tersenyum manis.


"Aaahhhhh!!!"


"Kenapa lagi???"


"Sakit" kata Ashley dengan mata berkaca-kaca.


"Hah serius!, padahal kan aku...yasudah kalau begitu aku hentikan saja" ucap Leon


"Jangan, teruskan saja" jawab Ashley.


"Oke, tapi janji kau jangan berteriak lagi" ucap Leon.


"Mm"


"Aaahhhhh, aku tidak tahan" Ashley kembali berteriak.


"Ya ampun jangan berteriak sekeras itu, nanti yang lain bisa terganggu" ucap Leon.


"Aku takut, meskipun kau yang terluka tapi entah kenapa aku juga merasakan sakitnya" ujar Ashley sambil memeluk Leon.


Ternyata yang saat ini terjadi di dalam kamar adalah Leon sedang mencoba untuk menggerakkan tangannya karena sudah merasa tidak terlalu sakit, sementara itu Duke Arton, Xin, Asta, dan juga Guts yang saat ini berada di luar kamar mereka memikirkan sesuatu yang berbeda.


"Hehehe tenyata tuan, tidak bisa pelan-pelan ya" kata Xin berbisik.


"Dasar Leon, apa dia tidak bisa sedikit lembut dengan putriku" ujar Duke Arton kesal.


"Hahaha tapi bukankah itu bagus, berarti sebentar lagi anda akan menjadi seorang cucu" ujar Xin.


"Ya kau benar juga, tapi dari suaranya sepertinya gagal" ucap Duke Arton.


"Hehehe, anda jangan remehkan tuanku" ujar Xin.


"Sudahlah sebaiknya kita pergi saja, kalau di sini terus nanti bisa mengganggu mereka berdua" kata Duke Arton, kemudian pergi meninggalkan kamar Leon dan Ashley.


Xin dan yang lainnya kemudian juga meninggalkan kamar tersebut.