THE GREAT KINGDOM

THE GREAT KINGDOM
Amarah Leon.



Malam harinya Ashley dan Leon tengah merebahkan tubuh merek di atas tempat tidur, meskipun sudah larut namun tidak nampak bahwa mereka akan segera tertidur, pikiran keduanya melayang entah kemana.


"Sayang, apa kau masih memikirkan perkataan ayah tadi siang?" tanya Ashley.


"Benar, entah kenapa aku tidak bisa berhenti untuk memikirkannya" jawab Leon.


"Lalu apa yang harus kita lakukan?" tanya Ashley.


"Masalahnya sekarang adalah apa kau sudah siap?" Leon bertanya pada Ashley.


"Se-sebenarnya, a-aku be-belum siap, hanya saja aku rasa ayah dan ibu sangat menginginkannya" jawab Ashley gugup.


"Lalu, bagaimana menurutmu sayang?" tanya Leon.


"Se-sebentar, aku ingin ke kamar mandi" ucap Ashley kemudian lansung menuju ke kamar mandi.


Ashley termenung dalam diam, dia memikirkan setiap perkataan ayahnya, meskipun terkesan bercanda namun ia bisa merasakan kalau ayah dan ibunya benar-benar menginginkan seorang cucu.


"Huhhhh, aku harus melakukannya!!" gumam Ashley menyemangati diri sendiri.


"Tapi aku masih belum yakin untuk melakukan itu,..." kata Ashley dalam hatinya.


Ashley berfikir dengan keras mencoba untuk mencarikan solusi yang tepat bagi masalahnya, di satu sisi dia tau bahwa ayah dan ibunya sangat menginginkan seorang cucu, di sisi lain dirinya sama sekali belum siap dengan hal tersebut.


"Ashley, kenapa kau sangat lama?, apa terjadi sesuatu?" tanya Leon.


Suara Leon membangunkan Ashley dari lamunannya, dia menarik nafas panjang kemudian menenangkan hati dan pikirannya setelah itu dia memantapkan hatinya pada satu pilihan yaitu menuruti keinginan orang tuanya, lalu beberapa menit kemudian dia akhirnya keluar dari kamar mandi.


"Ma-maaf membuatmu menunggu" ucap Ashley, keluar dari kamar mandi.


Leon tersentak kaget ketika melihat Ashley yang terlihat sangat cantik setelah menghias wajahnya, serta saat ini ia hanya mengenakan handuk sebagai penutup tubuhnya, aroma bunga yang semerbak memenuhi kamar mereka berdua, hingga membuat jantung Leon berdetak dengan cepat.


"Sa-sayang, ka-kau kenapa??" tanya Leon gugup sekaligus heran.


"A-anu, aku sudah memutuskannya" jawab Ashley.


"Memutuskan apa?" tanya Leon kemudian menghampiri Ashley.


"Te-tentang ucapan ayah tadi siang" ucap Ashley.


"Sayang apa kau yakin?" tanya Leon sambil memeluk erat tubuh Ashley.


Ashley hanya menganggukkan kepalanya pelan sebagai tanda bahwa ia sudah sangat yakin dengan pilihannya, Leon kemudian melonggarkan pelukannya dan mencium kening Ashley, setelah itu Leon menggendong tubuh Ashley dan membawanya ke tempat tidur.


"Sayang, aku tidak menyangka bahwa kau akan senekat ini" kata Leon menggoda.


"Jangan menggodaku!!" ujar Ashley kesal.


Leon kemudian merebahkan tubuh Ashley di tempat tidur, dia memandang wajah cantik istrinya dengan penuh arti, setelah itu Leon mencium bibir Ashley awalnya Ashley tersentak kaget namun ia mencoba untuk membiasakan diri, begitu juga dengan Leon.


Malam yang panjang mereka hiasi dengan penuh rasa cinta dan juga kasih sayang antara mereka berdua, hingga membuat keduanya menuju kenikmatan yang tak bisa digambarkan.


***


Beberapa bulan telah berlalu, raja Hermes yang merupakan raja dari kerajaan Torterres serta para jendral telah kembali ke kerajaan, bahkan mereka juga telah menyiapkan rencana penangkapan untuk Duke Arton serta Leon.


"Jendral bawa seratus prajurit dan seret Duke Arton serta pemuda tersebut ke hadapanku" kata raja memberi perintah.


Sesampainya di kediaman Duke Arton, jendral Alex menyampaikan maksud kedatangannya kepada Duke Arton dan dengan tenang Duke Arton serta Leon menuruti jendral menuju ke istana kerajaan.


Sesampai di istana mereka lansung di hadapkan kepada raja, para menteri serta bangsawan lainya, mereka semua menatap Duke Arton dengan tatapan sinis, serta mereka semua memandang Leon dengan tatapan jijik dan muak, kecuali Duke Felix yang merupakan teman dekat Duke Arton serta orang yang sangat mengenal Leon setelah Duke Arton.


"Duke Arton, aku tidak menyangka bahwa kau telah menyelinapkan seorang mata-mata ke kerajaan kita, jadi jelaskan maksudmu itu" bentak raja.


"Maaf yang mulia, tapi hamba tidak pernah menyelinapkan seorang mata-mata ke kerajaan kita" jawab Duke Arton tegas.


"Lalu pemuda yang di sampingmu itu apa?" tanya raja.


"Yang mulia dia adalah menantu hamba, dan bukan seorang mata-mata, dia adalah jendral kerajaan Harvest" kata Duke Arton.


"Hahaha aku tau dia adalah menantumu, dan status itulah yang membuatnya mudah untuk mencari informasi tentang kerajaan kita, lalu jika dia memang jendral kerajaan Harvest sudah tentu raja Hector akan memperkenalkannya pada kita, dan kenapa saat kompetisi aku sama sekali tidak melihat wajahnya" kata Raja.


"Tapi yang mulia..."


"Sudah mengaku saja kau Duke Arton, dan kau pemuda sialan siapa yang menyuruhmu" ujar Duke Abigail.


"Tunggu yang mulia, aku mengenal pemuda ini, dia memang jendral kerajaan Harvest" ucap Duke Felix mencoba membela.


"Duke Felix, jangan ikut campur masalah ini atau jangan-jangan kau juga terlibat" kata Duke Abigail.


"Sudah jangan bertengkar, tidak masalah jika mereka tidak mau menjawab, biarkan orang lain yang menjawabnya" kata raja.


Jantung Leon tiba-tiba berdetak kencang ketika mendengar perkataan raja tersebut, dia mencoba untuk tenang dan berusaha untuk melupakan apa yang ia pikirkan saat ini, namun semuanya telah terlambat, Ashley dan ibunya di bawah menghadap raja oleh Evan dan nampak bibir Ashley sedikit berdarah.


"Keparat, apa yang kau lakukan pada istriku?" tanya Leon marah.


"Hahaha, yang aku lakukan hanyalah menghiasi pipinya dengan sedikit warna merah" ujar Evan tertawa senang.


"Sekarang jawab siapa sebenarnya pemuda ini" tanya raja.


Namun Ashley dan ibunya hanya diam saja, mereka sama sekali tidak membuka suara, hingga membuat raja geram.


"Sialan ternyata kalian sama saja, cambuk mereka berdua" kata raja memberi perintah.


"Tidak yang mulia, jangan, jangan lakukan itu" kata Duke Arton memohon.


"Aku peringatkan jika kalian berani menyentuh istriku, maka kerajaan ini akan aku hancurkan" kata Leon tegas.


Namun mereka tidak menghiraukan ucapan Leon, Evan kemudian mengambil sebuah cambuk dan lansung mencambuk punggung Ashley dengan keras hingga membuatnya meneteskan air mata menahan sakit.


"SIALAN.....!!!, AKAN AKU HABISI KALIAN SEMUA"


"LYON, LOGAN, AQUILA KELUAR DAN HANCURKAN MEREKA SEMUA" kata Leon marah.


Tiga hewan suci muncul di tengah-tengah mereka semua, aura yang sangat kuat terpancar dari mereka bertiga dan seketika setiap orang yang ada di sana dibuat tertekan oleh aura mereka bertiga.


Leon berdiri dari tempatnya dan berjalan kearah Evan masih memegang cambuk dengan tubuh yang gemetaran.


"Crashhh, crashhh" Shin memotong tubuh Evan menjadi beberapa bagian dengan katana-nya, mereka semua hanya bisa bengong dan bergidik ketakutan menyaksikan kejadian tersebut.


"Tidak Anakku!!!" Duke Abigail menjadi histeris ketika melihat tubuh anaknya telah terpotong-potong oleh Leon.