THE GREAT KINGDOM

THE GREAT KINGDOM
Berdamai?



Suasana berubah menjadi hening tidak ada satupun dari mereka yang berani untuk bicara, Arthur berkeringat dingin ia benar-benar tidak menyangka bahwa akan berhadapan dengan sang Lone Wolf yang namanya selalu ia dengar selama ini.


"Apa aku bisa menghadapinya?" gumam Arthur dalam hatinya.


Dia mencoba untuk tidak menyerang terlebih dahulu, atau dia akan melakukan kesalahan yang fatal, sementara Arthur sangat waspada dan berhati-hati Leon malah nampak santai dan biasa-biasa saja.


"Hey kenapa diam saja, mau bertarung atau tidak?" tanya Leon.


"Begini saja tuan, kau adalah seorang pahlawan di kerajaan ini bagaimana mungkin aku bisa melawanmu, jadi bagaimana jika kita berdamai saja" kata Arthur.


"Berdamai?, setelah kelakuan sepupumu dan anak buahnya yang keterlaluan pada istriku dan sekarang kau malah minta berdamai" kata Leon tegas.


"Sial, jika seperti ini tidak ada cara lain lagi!!" gumam Arthur.


Aura kegelapan yang sangat kuat terpancar dari tubuhnya hingga menindas semua orang yang ada di sana kecuali Leon, jika dibandingkan dengan aura bangsa iblis maka aura kegelapan milik Arthur hanyalah secuil saja.


"Kau pikir aura kegelapan akan bisa menekanku" gumam Leon.


Arthur melaju dengan kecepatan tinggi kearah Leon kemudian menebas Leon dengan pedangnya, namun sebelum pedang itu menyentuh tubuhnya Leon telah lebih dulu menghilang dan tiba-tiba muncul dibelakang Arthur.


Arthur tidak tinggal diam, dia kemudian memutar badannya dan menebaskan pedangnya lagi kearah Leon, namun lagi-lagi Leon menghilang dan muncul di sampingnya, satu pukulan Leon mendarat di pipinya hingga membuat ia terpental beberapa langkah ke samping dan membuat tepi bibirnya berdarah.


"Hahaha tuan Lone Wolf memang sangat hebat, bahkan di bawah tekanan aura kegelapan kau masih bisa bergerak dengan bebas" kata Arthur sambil mengelap darah di tepi bibirnya.


"Satu hal yang harus kau ketahui, di dunia ini tidak ada kekuatan yang bisa menekan diriku" kata Leon sombong.


Memang sudah sepantasnya untuk Leon sombong karena memang benar tidak ada yang bisa menekannya menggunakan aura sebab dalam dirinya ada aura emas yang merupakan aura seorang dewa yang selalu melindungi dirinya.


"Kau terlalu sombong tuan!!" kata Arthur kesal


Dia kembali melesat dengan kecepatan tinggi untuk menyerang Leon, namun setiap usaha yang ia lakukan hanya sia-sia tidak satupun dari serangan tersebut berhasil menyentuh tubuh Leon.


"Cihhh!!!, kecepatan macam apa ini" kata Arthur dalam hatinya.


"Apa seorang Lone Wolf hanya bisa menghindari serangan saja" kata Arthur memprovokasi.


"Jika aku bisa menghindar sudah tentu aku bisa menyerang, akan tetapi bagaimana dengan anda apa anda hanya bisa menyerang saja?" kata Leon mengejek.


"Hahaha kalau begitu coba serang aku kalau kau bisa" ucap Arthur.


Arthur tertawa keras seakan-akan dia sudah sangat yakin akan bisa dengan mudah menahan serangan Leon, namun nyatanya hanya dalam sekejap mata Leon sudah berada di depannya dan mendaratkan pukulan keras ke dadanya hingga membuat Arthur terpental beberapa meter kebelakang.


"Coughhh!!!"


Arthur tersedak dan memuntahkan seteguk darah segar, dadanya terasa sangat sakit seperti habis di tabrak oleh sebuah batu raksasa.


"Jika saja tingkat kekuatanku tidak tinggi, aku pasti sudah mati dari tadi" gumam Arthur.


"Aku akan memaafkan kalian semua asalkan kalian minta maaf pada istriku" kata Leon.


"Baiklah, terimakasih atas pengampunanmu tuan Lone Wolf" ujar Arthur.


"Edward cepat minta maaf!!" Arthur berteriak marah pada Edward.


"Beraninya kau menyerang istriku" Leon menjadi sangat marah, sebuah pedang yang sangat asing tiba-tiba muncul dari cincin yang ia kenakan, dan dalam sekejap mata Leon sudah sampai di dekat Edward dan lansung menebas lehernya.


Mereka semua hanya bisa tercengang menyaksikan kejadian tersebut, dimana kepala Edward dengan mudahnya di tebas oleh Leon dan lansung putus hingga menggelinding di lantai Arena bersamaan dengan tubuhnya yang ikut tumbang.


"Dasar bodoh, itu adalah jalan yang kau pilih sendiri" gumam Arthur.


"Aku paling tidak suka jika ada yang berani mengusik istriku" kata Leon sinis.


Leon kemudian menyimpan kembali katana-nya dan lansung pergi meninggalkan arena pertarungan bersama Ashley dan yang lainnya, karena Xin yang sedang terluka dan tak sadarkan diri mereka memutuskan untuk pergi ke tabib terlebih dahulu setelah itu baru kembali ke istana.


Setelah kepergian Leon dan teman-temannya Arthur juga lansung pergi meninggalkan arena tersebut, bahkan dirinya lansung pergi meninggalkan kota karena akan gawat jika sang Lone Wolf masih menyimpan dendam dan datang mencarinya.


Dan setelah selesai mengobati Xin mereka semua kemudian melanjutkan perjalanan untuk menuju ke istana, Saat mereka sampai di istana mereka semua lansung menuju ke kamar masing-masing begitu pula dengan Leon dan Ashley, mereka berdua juga lansung menuju kamar mereka untuk segera istirahat.


Di dalam kamar.


"Sayang apa kau tidak apa-apa?" tanya Ashley merebahkan kepalanya di dada Leon sambil memeluknya.


"Aku tidak apa-apa Ashley, lagipula serangan orang itu sama sekali tidak mengenaiku" jawab Leon sambil mengelus kepala Ashley.


"Leon kapan kita akan berangkat ke desa angin?, aku sungguh tidak nyaman berada di sini" ucap Ashley.


"Tenang saja, aku janji setelah Xin sepenuhnya pulih maka kita akan berangkat ke desa Angin" jawab Leon


"Baguslah, aku sudah tidak sabar lagi untuk tinggal dan menetap di sana" kata Ashley.


"Memangnya kau siap tinggal di desa?" tanya Leon.


"Tentu saja, asalkan kau selalu bersamaku maka aku siap tinggal dimanapun" jawab Ashley.


"Baiklah kalau begitu kita akan segera berangkat dalam waktu dekat" kata Leon.


Setelah asyik berbincang-bincang akhirnya mereka berdua tertidur lelap, dan karena tidak ada yang membangunkan mereka berdua akhirnya mereka tertidur hingga pagi.


"Hoaaammm!!! ya ampun ternyata sudah pagi lagi kenapa tidak ada yang membangunkan kami" gumam Ashley yang baru saja bangun.


Ashley lansung bergegas bangun dan pergi mandi, setelah selesai mandi dia lansung pergi keluar kamar mengambilkan sarapan untuk Leon yang masih belum bangun.


"Selamat pagi Ashley, kau mau kemana?" sapa putri Elena.


"Selamat pagi tuan putri, aku mau mengambilkan sarapan untuk Leon" jawab Ashley.


"Apa kalian tidak ikut sarapan bersama?" tanya Elena.


"Sepertinya tidak, karena Leon masih belum bangun" jawab Ashley.


"Kenapa tidak kau bangunkan?" tanya putri Elena bingung.


"Tidak tuan putri, Leon mungkin masih kelelahan jadi sengaja aku biarkan dia istirahat, kalau begitu aku permisi dulu tuan putri" jawab Ashley kemudian pergi meninggalkan putri Elena.


"Sepertinya Ashley memang sangat cocok untuk Leon" ucap Putri Elena dalam hatinya.