
Keesokan harinya, Reyna perlahan-lahan mulai membuka kedua matanya, dan saat kedua matanya sudah terbuka dia sangat terkejut sekaligus takut melihat empat orang dengan armor lengkap sudah ada di depannya.
"Si-siapa kalian?" tanya Reyna.
"Gadis kecil kau sudah bangun rupanya mari sarapan bersama kami, namun yang ada hanyalah rusa bakar" kata Leon dengan ramah, sambil mengulurkan sepotong daging bakar.
Karena rasa lapar yang sudah tidak tertahankan lagi Reyna kemudian lansung mengambil daging pemberian Leon, dan memakannya dengan lahap hingga tidak tersisa.
"kakak kenapa kalian tidak ikut makan?" tanya Reyna.
"Gadis kecil kau tidak perlu khawatir karena kami telah lebih dulu makan saat kau tertidur" jawab Leon.
"Baiklah sekarang beritahu kakak, dimana kau tinggal kakak akan mengantarmu ke sana" lanjutnya.
"Aku tinggal di desa angin itu tidak terlalu jauh dari sini, desaku terletak di kaki gunung itu" jawab Reyna sambil menunjuk kearah sebuah gunung.
"Baiklah, setelah istirahat kita akan segera berangkat ke desamu" ucap Leon.
"Eh,... Lukaku sudah sembuh semua!" kata Reyna dia sangat senang hingga melompat-lompat kegirangan.
"Hahaha baguslah kalau kau senang, kakak juga ikut senang" kata Leon.
"Wah, jadi nanti kalu aku senang kakak juga bakalan senang kan?" ucap Lyon.
"Ada-ada saja kau ini" ucap Leon.
"Reyna kenapa kau bisa masuk ke hutan ini sendirian" tanya Leon.
"Sebenarnya aku sedang mencari tanaman obat untuk bibiku yang sedang sakit" jawab Reyna dengan nada sedih.
"Baiklah jika memang begitu mari kita segera berangkat ke sana" kata Leon.
Mereka kemudian berangkat menuju ke desa angin, perjalanan ke sana lumayan jauh karena mereka hanya berjalan kaki saja, Logan sudah menawarkan agar dia menjadi tunggangan mereka begitupun dengan Aquila namun Leon menolak dia tidak ingin terlihat mencolok.
Setelah dua jam lebih berjalan mengikuti aliran air sungai akhirnya mereka menemukan sebuah jalan kecil, dan juga sebuah jembatan yang terbuat dari kayi untuk menyebrangi sungai.
"Kakak, ini adalah jalan menuju desaku" kata Reyna.
"Baiklah kalau begitu mari kita bergegas ke sana" kata Leon kemudian dia menggendong Reyna.
Mereka berempat kemudian melesat dengan kecepatan tinggi mengikuti jalan kecil tersebut menuju desa Reyna, beberapa saat kemudian terlihat sebuah desa kecil di bawah kaki gunung, dan di depan gerbang tersebut tertulis "desa angin", Leon mempercepat langkah kakinya dan beberapa saat kemudian mereka telah sampai di depan gerbang desa.
Mereka lansung memasuki desa yang tidak di jaga tersebut, saat masuk ke sana suasana desa yang sangat tenang dan juga angin yang sangat sejuk menimbulkan perasaan nyaman pada Leon, desa tersebut tidak terlalu besar rumah-rumah di sana juga tidak ada yang terlihat mewah, hanya ada rumah-rumah yang sederhana.
Para warga desa menjadi kaget saat Leon dan yang lainnya memasuki desa pasalnya desa mereka belum pernah kedatangan tamu sebelumnya, salah seorang warga desa dengan segera berlari kearah rumah kepala desa untuk melaporkan hal tersebut.
"Reyna dimana rumahmu?" tanya Leon.
"Rumah Reyna ada di sana kakak!" jawab Reyna sambil menunjuk ke arah ujung jalan, Leon mengikuti petunjuk Reyna dan kurang dari 20 menit mereka telah sampai di sebuah rumah yang terlihat lumayan besar namun masih sederhana.
Dua orang pria paruh baya keluar dari rumah tersebut dan menghampiri mereka semua.
"Ayah!!" kata Reyna saat melihat pria itu, Leon menurunkan Reyna dan kemudian dia berlari menuju pria yang ia panggil ayah.
"Ayah kemarin aku di kejar oleh monster goblin kemudian kakak-kakak ini menyelamatkan aku" kata Reyna.
"Dan perkenalkan namaku adalah Ronald ayahnya Reyna" ucap Ronald memperkenalkan diri.
"Namaku adalah Leon, dan mereka adalah rekanku Lyon, Logan, dan Aquila" ucap Leon memperkenalkan dirinya dan teman-temannya.
Namun setelah selesai memperkenalkan diri tiba-tiba saja pria yang berdiri di belakang Ronald lansung melesat maju dan menyerang Leon dengan pedangnya, namun ketika pedang itu menyentuh armor Leon pedang itu menjadi hancur berkeping-keping.
Sebenarnya bukan armor Leon penyebab pedang tersebut hancur, melainkan aura panas dari tubuh Leon yang aktif secara otomatis saat ada ancaman yang membuat pedang itu hancur.
"Lancang sekali kau" kata Lyon.
"Berani sekali kau menyerang tuan kami, akan aku hancurkan kalian semua" ujar Logan.
"Perbuatan mu tidak bisa di maafkan" sahut Aquila.
Tiga aura yang sangat besar segera meledak dan menekan seluruh warga desa, cuaca yang awalnya cerah tiba-tiba saja berubah menjadi tak menentu, kadang-kadang menjadi sangat panas, setelah itu menjadi berangin, dan kemudian menjadi sangat dingin, fenomena tersebut terus saja berganti-ganti hingga membuat seluruh warga takut.
"Kakak, maafkan pamanku aku mohon jangan hancurkan desa kami" kata Reyna memohon.
"Huh.... sudahlah tenangkan diri kalian" kata Leon.
Satu lagi aura yang sangat besar kembali meledak di hadapan mereka namun aura tersebut tidak mengintimidasi seperti tiga aura lainnya, namun aura keemasan tersebut malah menghilangkan aura intimidasi dari yang lainnya dan menimbulkan perasaan nyaman pada semua warga desa.
"Tarik kembali aura kalian" kata Leon dengan nada tegas.
Mereka bertiga kemudian menarik kembali aura mereka sesuai perintah Leon, dan setelah itu keadaan kembali seperti semula, Leon juga menarik kembali aura miliknya.
"Maafkan kami kakak" ucap Lyon
"Makanya lain kali jangan bertindak gegabah" jawab Leon.
"Tuan Ronald maafkan ketiga rekanku ini" ucap Leon.
"Tidak tuan justru akulah yang harus minta maaf karena perbuatan adikku yang tiba-tiba menyerang" kata Ronald.
"Iya tuan, maafkan aku, aku hanya tidak ingin ada orang jahat masuk ke desa kami, dan perkenalkan namaku adalah Frank" ucap Frank.
"Tidak masalah tuan Frank, itu adalah hal yang sangat wajar" kata Leon.
"Baiklah kalau begitu mari istirahat dulu di rumahku" ucap Ronald.
Mereka kemudian masuk kedalam rumah Ronald, meskipun hanya terbuat dari kayu namun perasaan nyaman kembali terasa di diri Leon, entah kenapa tiba-tiba saja dirinya merasa enggan untuk pergi dari desa tersebut.
"Maafkan aku semuanya, hanya ini yang bisa aku sediakan karena istriku sudah meninggal jadi tidak banyak yang bisa ku berikan pada kalian" kata Ronald sambil membawakan teh untuk mereka.
"Tidak perlu sungkan tuan Ronald begini saja kami sudah sangat berterimakasih" ucap Leon.
"Rasanya kurang sopan jika kami masih menggunakan topeng" ucap Leon.
"Lepaskan topeng kalian semua" kata Leon memberi perintah kemudian membuka topengnya.
Ketika topeng mereka di lepas Ronald dan juga Frank sangat terkejut karena mengetahui bahwa mereka hanyalah sekelompok anak muda, namun kekuatan mereka sangatlah menakutkan.