THE GREAT KINGDOM

THE GREAT KINGDOM
Kode Keras



Xin, Asta, dan Guts bergegas meninggalkan kediaman Duke Arton dan lansung menuju kedalam hutan untuk menaikkan tingkatan level kekuatan mereka.


Sesampainya di hutan Forgotten mereka lansung melaju kuda mereka dengan cepat menuju ke kedalam hutan agar bisa memburu monster dengan level tinggi, bagi mereka saat ini memburu monster tingkat normal dan Elit hanya akan membuat peningkatan mereka sangat lama, jadi mereka memutuskan untuk berburu monster tingkat warior atau yang lebih tinggi.


"Berhenti, sepertinya ada hewan buas di depan sana" kata Guts.


"Benar aku juga merasakan tekanan yang kuat berada di depan kita" ucap Asta.


"Baiklah, kita tinggalkan kuda kita di sini dan kita periksa dengan berjalan kaki saja" ujar Xin.


Mereka kemudian mengikat kudanya di pohon setelah itu mereka melanjutkan perjalanannya dengan berjalan kaki, setelah beberapa meter berjalan tekanan yang yang mereka rasakan semakin kuat menindas mereka bertiga, mereka berjalan dengan sangat hati-hati karena tidak ingin membuat sesuatu di depan mereka yang memiliki tekanan kiat tersebut merasa terganggu.


Semakin lama tekanan tersebut terasa semakin berat, namun mereka masih belum menyerah hingga akhirnya mereka sampai di sebuah gua yang sangat besar dan di depan mulut gua tersebut nampak sepasang singa api yang sangat besar sedang tidur lelap.


"Jadi tekanan kuat yang kami rasakan tadi berasal dari dua singa ini?" gumam Xin.


"Hey, apa yang harus kita lakukan?" tanya Guts.


"Apa lagi, tentu saja kita habisi mereka" ujar Asta.


"Apa kau gila, kedua singa itu memiliki tingkat king" kata Guts.


"Tunggu, jika kita menyerang mereka dengan rencana yang matang aku yakin, kita bertiga bisa mengalahkan mereka berdua" ucap Xin.


"Huhhhh terserah kalian saja lalu apa rencananya?" tanya Guts.


"Baiklah begini, kau gunakan serangan sembunyi-sembunyi, dan gunakan juga skill yang diberikan tuan, Aku akan menyerang mereka secara lansung dan Asta akan melindungiku, satu hal lagi cobalah untuk mengontrol bayanganmu agar menyerang bagian vital dari singa itu" kata Xin menjelaskan.


"Baiklah kalau begitu mari kita mulia" ujar Asta.


Mereka bertiga lalu mengangguk kemudian mengambil posisi masing-masing, Guts lansung bersembunyi di balik semak-semak sambil menunggu kode dari Xin.


"Double Slash"


Xin lansung menggunakan skillnya untuk menyerang sepasang singa yang sedang tidur tersebut, namun terlambat kedua singa tersebut terlebih dahulu merasakan kehadiran Xin dan berhasil menghindari serangannya.


"Cihhh, dasar singa sialan!" kata Xin kesal.


Kedua singa tersebut berlari kearah Xin dengan cepat untuk menyerangnya menggunakan cakar mereka, namun serangan mereka berhasil di tahan oleh Asta menggunakan perisainya.


"GROOOAARRR!!!"


Melihat serangan mereka berhasil di tahan kedua singa tersebut sangat marah, mereka berdua kemudian menyerang Asta dengan ganas, Xin tidak tinggal diam dia juga menyerang kedua singa tersebut menggunakan kekuatan penuhnya, sementara Asta akan lansung melindungi Xin ketika kedua singa itu hendak menyerangnya.


Guts menunggu dengan sabar di balik semak-semak sambil menyaksikan pertarungan antara kedua temannya dan juga sepasang singa api tersebut, ketika ia mendapatkan kode dari Xin maka dia akan lansung menyerang kedua singa tersebut.


Pertarungan tersebut berlangsung lama hingga akhirnya serangan Xin berhasil melukai singa betina hingga membuatnya lengah.


"Guts sekarang!!!" kata Xin.


"Shadow Clone"


"Silent Step"


"Sonic Acceleration"


"Venom Knife"


Guts lansung menggunakan semua skillnya tiga puluh bayangan hitam melesat dengan sangat cepat menyerang singa betina yang awalnya sudah berhasil di lukai oleh Xin


'Silent step' membuat serangan dari ketiga puluh bayangan Guts sama sekali tidak di sadari oleh singa tersebut, serangan mereka juga sangat cepat dan tepat mengenai bagian vital, serta dari setiap serangan yang mereka lakukan juga mengandung racun hingga saat serangan tersebut berakhir singa betina itu juga menghembuskan nafas terakhirnya.


"GROOOAARRR!!!"


Mengetahui pasangannya telah mati singa jantan tersebut menjadi sangat marah, dari tubuhnya terpancar aura yang sangat kuat bahkan membuat mereka bertiga kesulitan untuk bergerak.


"Gawat bagaimana ini" ujar Asta.


"Double Slash"


"Aura Sword"


"Deadly slash"


Xin lansung melesat maju menyerang singa api tersebut dengan kekuatan penuhnya, meskipun dalam keadaan kesulitan bergerak namun serangan Xin masih bisa mengenai singa tersebut.


"Wall of Reflection"


"Aura Shield"


"Tenang saja aku akan melindungi kalian berdua dari serangannya jadi maju dan habisi dia" ujar Asta.


"Kalau begitu mari kita habisi hewan jelek ini" kata Guts kemudian melesat maju membantu Xin untuk menyerang singa tersebut.


Xin menyerang singa tersebut secara terang-terangan dan ketika singa itu hanya fokus pada Xin maka Guts akan menyerangnya secara diam-diam, sementara Asta akan melindungi mereka berdua ketika singa tersebut akan melakukan serangan.


Setelah satu jam lebih berusaha mereka bertiga akhirnya bisa menghabisi singa api tersebut dengan gabungan serangan terkuat mereka, meskipun dalam kondisi tertekan akibat aura yang kuat namun pada akhirnya mereka bertiga berhasil menghabisinya.


Kemudian mereka mengambil inti core yang ada pada kedua singa api tersebut, setelah itu mereka bertiga melanjutkan perjalanan untuk mencari lebih banyak monster lagi, mereka juga telah menyetujui bahwa saat inti core telah banyak barulah mereka akan menyerapnya untuk meningkatkan level kekuatan serta energi mereka.


***


Dikediaman Duke Arton, Leon dan Ashley masih menikmati waktu santai mereka berdua dengan duduk di tempat favorit mereka yaitu di bawah pohon dibelakang mansion.


"Leon, Ashley, ternyata kalian berdua ada di sini" ucap ibu Ashley yang baru saja datang bersama Duke Arton


"Ayah, ibu ada apa?" tanya Ashley.


"Tidak ada apa-apa, ayah dan ibu hanya ingin mengobrol bersama kalian berdua, apakah boleh?" tanya Duke Arton.


"Tentu saja ayah, silahkan" jawab Leon.


Duke Arton dan istrinya kemudian duduk di dekat mereka berdua, Ashley kemudian menuangkan teh untuk ayah dan ibunya.


"Jadi apa kalian benar-benar akan pergi setelah masalah disini selesai?" tanya Duke Arton, sambil meminum tehnya.


"Benar ayah, aku rasa kami berdua harus hidup mandiri" jawab Leon.


"Begitu ya,..." ucap Duke Arton pelan.


"Sudahlah suamiku, memang sudah seharusnya mereka berdua belajar mandiri, lagipula mereka bukan pergi untuk selamanya, sudah pasti mereka akan mengunjungi kita nanti" kata Maria menenangkan Duke Arton.


"Ayah, ibu maafkan aku jika terlalu egois, hanya saja aku tidak ingin merepotkan ayah dan ibu" ujar Leon, ia merasa bersalah dengan situasi saat ini.


"Baiklah, aku akan izinkan kalian pergi asalkan dengan satu syarat" kata Duke Arton.


"Apa itu ayah?" tanya Leon sambil meminum tehnya.


"Berikan kami cucu" ucap Duke Arton singkat.


"Ukhuukk, ukhuukk!!!" Leon tersedak tehnya mendengar ucapan Duke Arton.


"Ta-tadi ayah bilang apa?" tanya Leon.


"Berikan kami cucu, agar saat kalian pergi kami tidak kesepian" ucap Duke Arton tegas.


"A-anu, masalahnya a-adalah...."


"A-aku be-belum si-siap ayah" ujar Ashley memotong ucapan Leon.


Duke Arton lalu memandang wajah anaknya yang kini sudah memerah bagaikan tomat yang sudah matang, sementara Leon hanya tersenyum canggung sambil menggaruk-garuk kepalanya yang tidak gatal.