
Duka Abigail sangat kaget ketika melihat lencana yang berwarna emas itu, ia sangat tau bahwa lambang yang ada di lencana tersebut adalah milik kerajaan Harvest, dan tidak ada alasan untuk mereka berbohong karena lencana ini hanya di buat khusus di kerajaan, dan setiap kerajaan punya lencana seperti itu, dengan lambang kerajaan masing-masing di tengahnya.
"Ka-kau benar-benar dari kerajaan Harvest?" tanya Duke Abigail memastikan.
"Itu benar" jawab Leon santai.
"Meskipun begitu, apa hak mu untuk menolak lamaran ku ini, memangnya aku melamar mu" kata Duke Abigail yang mulai kesal lagi.
"Jelas aku punya hak untuk itu, karena aku adalah calon suaminya dan kami akan menikah besok" kata Leon tegas.
Mereka semua kaget mendengar perkataan Leon, bahkan Duke Arton sendiri juga sangat kaget mendengar hal itu, dia tidak menyangka bahwa Leon akan sangat berani mengatakan hal seperti itu di hadapan Duke Abigail.
"Wah, wah ternyata aku datang ke sini, hanya untuk di permalukan" kata Duke Abigail.
"Tidak ada yang mempermalukan dirimu, hanya kau sendiri yang membuat malu dirimu itu" kata Leon.
"Lancang sekali mulutmu itu" ujar Evan dengan nada keras.
"Ayah izinkan aku menghancurkan topeng itu, dan akan aku hajar wajah orang yang telah mempermalukan ayah" lanjutnya.
"Tapi anakku, kau lihat dia dari kerajaan Harvest" kata Duke Abigail.
"Memangnya kenapa ayah, belum tentu lencana itu asli dan siapa tau dia mencuri lencana itu dari istana kerajaan Harvest" ujar Evan.
Mereka yang mendengar hal itu ingin sekali tertawa namun mereka tahan, bagaimana bisa seorang anak Duke Abigail yang selalu di banggakan raja bisa menjadi sangat bodoh, siapa yang bisa mencuri lencana kerajaan dengan pengawalan ketat dan segala macam rintangan yang ada mereka akan menyerah ketika hanya memikirkannya.
"Hahaha, benar anakku tunjukkan kalau kau bisa mengalahkan pria itu, dan ingat baik-baik Duke Arton, jika Evan bisa mengalahkan pria itu maka kau harus menikahkan putrimu dengan anakku" kata Duke Abigail.
Leon hanya menggelengkan kepala, melihat tingkah mereka berdua yang seakan tak tau malu dan berani menantang seseorang dengan taruhan seorang perempuan.
"Apa kau takut menghadapi tantangan dariku?, jangan-jangan armor itu hanyalah bahan untuk menutupi tubuhmu agar tidak terluka" kata Evan dengan sombong.
"Kau tau, aku tidak pernah kenal dengan yang namanya rasa takut bahkan jika aku berhadapan dengan hewan suci sekalipun" ujar Leon.
"Hahahaha jangan bawa-bawa hewan suci yang tidak pernah ada, apa jangan-jangan ini memang trik mu untuk menakuti lawan? tapi satu hal yang harus kau tau aku tidak termakan dengan trik murahan itu".
"Asal kau tau saja partnerku dalam bertarung adalah seekor Black Bear yang berada di peringkat king level akhir, yang artinya tidak lama lagi dia akan naik ke peringkat Lord" kata Evan sombong.
"Leon jangan terima tantangan itu, kau bisa terluka" ujar Ashley khawatir.
"Hahahaha, Ashley dari pada kau bersama pria tidak berguna itu lebih baik kau bersamaku saja" ucap Evan.
"Sampai kapanpun aku tidak akan pernah mau menikah denganmu" jawab Ashley.
"Tenanglah Ashley, baiklah jika itu yang kau inginkan maka aku juga tidak akan sungkan" kata Leon.
Kemudian Leon melepaskan armor-nya dan berganti menjadi pakaian sederhana dengan corak abu-abu dan putih, setelah itu ia juga melepaskan topengnya dan ketika mereka melihat wajah Leon mereka sedikit tertegun dengan ketampanannya, bahkan istri dan anak Duke Felix sampai tidak bisa memalingkan pandangan mereka dari wajah Leon.
"Tampan sekali" ucap Silvia dalam hati.
"Eh,... apa kau cemburu suamiku?" jawab Yuri.
"Hummpp!!" Duke Felix memalingkan wajahnya.
Duke Arton hanya menggelengkan kepalanya melihat tingkah sahabatnya itu yang seperti anak kecil. sementara itu kebencian Evan makin memuncak kepada Leon meskipun dia enggan untuk mengakuinya tapi memang Leon lebih tampan darinya.
"Bagus kau membuka topeng mu, biar aku lebih mudah menghancurkan wajahmu itu" kata Evan.
"Baiklah jika kalian ingin bertanding silahkan di halaman latihan keluargaku" kata Duke Arton kemudian mengajak mereka semua ke lapangan latihan yang biasa ia gunakan.
Mereka semua berkumpul di sebuah lapangan yang lumayan luas tersebut, Xin, Asta dan Guts juga ikut menyaksikan pertarungan tuan mereka karena sudah lama mereka tidak menyaksikan tuanya itu bertarung, tidak hanya mereka bahkan beberapa prajurit juga ikut menyaksikan pertandingan yang akan terjadi itu, keduanya kemudian masuk ke lapangan tersebut dan lansung berdiri di sisi lapangan secara berlawanan, Evan mengeluarkan pedangnya panjang berwarna putih dari cincin ruang miliknya dan mengacungkannya pada Leon.
"Bersiaplah, karena kau akan ku buat cacat seumur hidupmu" kata Evan.
Dia memandang ke arah ayahnya, dan Duke Abigail memberikan kode dengan senyuman dingin yang menakutkan, Evan mengerti maksud dari senyuman ayahnya tersebut dan tanpa berlama-lama dia lansung menyerang Leon.
"Double Slash"
Dua tebasan beruntun ia lakukan dari jarak yang lumayan jauh dari Leon seketika dua cahaya yang membentuk huruf X melesat kearah Leon, dengan tenang dan santai Leon menghindari dua tebasan tersebut dengan melompat ke atas.
"Kena kau!!!" kata Evan.
"Death Cut"
Evan menebaskan pedangnya dengan cepat kearah Leon yang masih melayang di udara ketika ia menghindari serangan pertama Evan, cahaya gelap tercipta dari tebasan Evan dan perlahan-lahan cahaya tersebut membentuk sosok Grim Reaper yang sangat besar.
Grim Reaper tersebut menyerang Leon dengan senjata andalannya yaitu Scythe, Leon sedikit terkejut melihat sosok Grim Reaper itu seperti memiliki jiwa dan terus mengejar Leon, padahal dia tercipta dari sebuah Skill.
"Apakah sebuah skill bisa memiliki jiwa?" ucap Leon dalam hatinya.
Death Cut sendiri adalah salah satu skill terlarang, karena dari skill pemiliknya bisa memanggil monster dari bangsa arwah yang susah untuk bisa di kontrol dan bisa lepas kendali kapanpun, bahkan mereka juga bisa menyerang sang pengguna skill.
"Hahahaha, kenapa kau hanya menghindar apa kau takut" kata Evan tertawa senang melihat Leon.
"Sudah aku bilang aku tidak pernah kenal yang namanya takut" ucap Leon.
"Shadow Clone"
Leon menciptakan dua bayangan dari dirinya yang lansung maju dan melesat menyerang Grim Reaper tersebut, Guts yang merupakan seorang Assassin sangat terkejut melihat skill Leon bagaimana tidak skill tersebut adalah skill yang sangat di impikan oleh setiap Assassin.
"Sejak kapan tuan memiliki skill tersebut" ujar Guts kaget.
"Bukankah tuan adalah seorang samurai lalu mengapa ia bisa memiliki skill Assassin?" ujar Xin.
Tidak hanya mereka berdua yang terkejut dengan skill milik Leon bahkan Evan dan mereka yang menyaksikan skill tersebut juga sangat terkejut dan bertanya-tanya, bagaimana bisa Leon mempunyai skill seorang Assassin padahal dia tidak terlihat seperti seorang Assassin.
Dua bayangan tersebut menyerang Grim Reaper dengan ganas sementara Leon hanya menyaksikannya dengan tersenyum, Evan menjadi semakin kesal dan marah melihat Grim Reaper yang ia panggil malah terlihat kewalahan menghadapi dua sosok bayangan hitam itu.