
Evan seakan tak percaya ketika menyaksikan bagaimana dengan mudahnya Leon menghabisi black bear miliknya, dia sampai tak bisa berkata apa-apa melihat binatang iblis tingkat King miliknya telah tergeletak tak bernyawa dengan kepala yang telah terpisah dari tubuhnya.
"Ba-bagaimana mungkin, binatang iblis tingkat king mati begitu saja" gumam Duke Abigail pelan.
"Ti-tidak, tidak mungkin Black Bear ku, kau berani sekali kau menghabisi binatang peliharaan ku" kata Evan marah.
"Duke Abigail, sudah cukup perbuatan anakmu sudah keterlaluan, berani sekali dia menyerang putriku" ujar Duke Arton.
"Benar Duke Abigail, anakmu sudah keterlaluan, dan bahkan kau juga ikut mendukung apa yang anakmu lakukan" ucap Duke Felix.
"Baik hari ini aku terima kekalahan ku, tapi suatu saat kalian semua pasti akan aku balas" kata Duke Abigail dengan nada tegas.
Setelah itu ia mengajak anaknya Evan untuk pergi meninggalkan kediaman Duke Arton, awalnya mereka datang dengan rasa sombong dan bangga namun saat ini mereka pulang dengan rasa malu yang sangat besar.
"Tunggi saja, akan aku balas rasa malu hari ini berkali-kali lipat" gumam Duke Abigail.
***
Setelah pertarungan berakhir Duke Arton mengajak mereka semua untuk bersantai di belakang kediamannya, tak lupa Duke Arton juga meminta para penjaga untuk membuang mayat Black Bear yang tengah tergeletak di lapangan latihan keluarganya itu.
"Terimakasih Leon, setidaknya hari ini Duke Abigail mendapatkan pelajaran, aku berharap di masa depan nanti sikapnya yang sombong dapat berubah" kata Duke Arton.
"Tidak perlu berterimakasih paman, karena paman sudah aku anggap seperti ayahku sendiri" kata Leon.
"Apa yang kau katakan, jika aku ayahmu berarti Ashley adalah adikmu begitu maksudmu?" tanya Duke Arton.
"Bagus, jika begitu sebaiknya kau menikah saja dengan Silvia anakku" ujar Duke Felix
"Bu-bukan begitu maksudku paman, begini maksudku mengatakan itu adalah paman sudah ku anggap seperti ayah mertuaku sendiri meskipun aku masih belum menikahi Ashley" kata Leon menjelaskan.
"Hahahaha, kau dengar sendiri kan Felix, Leon sudah menganggap diriku sebagai ayah mertuanya" ucap Duke Arton senang.
"Cihh, itu menurutmu saja,... Leon apa kau tertarik menjadikan Silvia sebagai istrimu, meskipun Ashley istri pertamamu, kau bisa menjadikan Silvia istri keduamu, bagaimana?" tanya Duke Felix.
"Ukhuk!!"
Leon tersedak air liurnya sendiri ketika mendengarkan apa yang di katakan oleh Duke Felix, dia tidak menyangka bahwa Duke Felix akan mengatakan hal semacam itu di hadapan putrinya sendiri, sementara Xin, Asta, dan Guts hanya bisa tersenyum senang melihat tuan mereka di perebutkan oleh dua orang Duke untuk menjadi menantu mereka.
"Ma-maaf paman Felix, kalau masalah itu aku masih belum terpikirkan dan untuk saat ini, Ashley saja sudah cukup menjadi pendampingku" kata Leon menjelaskan.
"Hufttt, apa boleh buat jika kau berkata begitu" kata Duke Felix.
"Maafkan aku" ujar Leon canggung.
Ashley hanya bisa terdiam dan tertunduk malu ketika mendengarkan ucapan Leon, sementara Silvia entah kenapa tiba-tiba saja ia merasa sedikit kecewa dengan apa yang Leon katakan.
"Ada apa ini, kenapa aku merasakan perasaan aneh, apa aku benar-benar suka pada calon suami kak Ashley" ucap Silvia dalam hatinya.
"Baiklah Leon, sebelum pernikahan kalian besok ada yang ingin aku tanyakan kepadamu" ucap Duke Arton.
"Begini, setelah menikah apa kau akan membawa Ashley ke kerajaan Harvest?" tanya Duke Arton.
"Tentu tidak paman, meskipun aku akan membawa Ashley pergi tapi bukan ke kerajaan Harvest, melainkan ke sebuah desa yang saat ini aku pimpin" jawab Leon.
"Sebuah desa?, dimana itu?" ujar Duke Felix bertanya.
"Begini paman, saat aku dalam perjalanan menelusuri hutan yang jauh dari lima kerajaan besar aku tidak sengaja menemukan sebuah desa kecil, aku sempat menetap di saja selama beberapa waktu dan akhirnya aku diangkat menjadi pemimpin di sana" kata Leon menjelaskan.
"Jauh dari lima kerajaan besar, itu artinya daratan tersebut tak bertuan?" tanya Duke Felix.
"Benar sekali paman, aku ingin menetap di sana dan menjadikan daratan tersebut sebagai tempat tinggal ku bersama Ashley" kata Leon.
"Baiklah kalau memang begitu aku setuju, asalkan saja kau jangan menetap di kerajaan Harvest" ujar Duke Arton.
"Terimakasih banyak paman" kata Leon.
"Baiklah sudah tidak ada waktu bersantai lagi, mari kita lakukan persiapan untuk pernikahan kalian besok, dan kau Felix karena kau sudah ada di sini maka kau harus menginap di sini dan membantuku" kata Duke Arton.
"Hummpp!! dasar, bisa-bisanya kau mengambil kesempatan dalam hal ini" ujar Duke Felix.
Setelah itu mereka semua melakukan persiapan acara pernikahan yang akan di adakan esok hari, karena pernikahan tersebut sangat mendadak Duke Arton sangat kebingungan harus berbuat apa, namun karena bantuan dari sahabatnya Duke Felix akhirnya semua berjalan dengan lancar.
Duke Arton tidak mengundang banyak tamu, dan hanya mengundang beberapa bangsawan yang ia kenal dengan akrab saja, serta ia juga mengundang raja Hermes dan keluarganya namun ia tidak terlalu berharap untuk kedatangan raja tersebut.
Beberapa prajurit kepercayaan Duke Arton di minta untuk mengantarkan undangan kepada para bangsawan sementara undangan untuk raja di antar oleh ke tiga bawahan Leon, setiap orang yang ada di kediaman Duke Arton nampak sibuk melakukan tugas masing-masing yang telah di berikan oleh Duke Arton untuk mempersiapkan segalanya.
Bahkan Duke Arton dan Duke Felix juga nampak sibuk mengurus segala sesuatu yang di perlukan, sementara saat ini Leon dam Ashley tengah duduk santai menikmati waktu berdua di bawah pohon dibelakang kediaman Duke Arton, mereka bahkan sama sekali tidak terusik dengan setiap orang yang berlalu lalang di sana.
"Apa kau bahagia?" tanya Leon.
"Tentu saja, aku sangat bahagia awalnya aku hanya mengira kau tidak serius denganku bahkan aku sempat mengira bahwa kau telah melupakan aku dan menemukan wanita lain di luar sana" jawab Ashley.
"Hahahaha, kau tenang saja selama ini aku selalu memikirkan mu dan tidak pernah aku berfikir untuk mencari wanita lain" ujar Leon.
"Terimakasih" kata Ashley.
"Terimakasih karena?" tanya Leon heran.
"Terimakasih karena kau telah memilihku" ujar Ashley.
"Sudahlah jangan kau pikirkan, aku sangat mencintaimu" kata Shin tersenyum hangat.
Mereka berdua hanya mengobrol santai di bawah pohon tersebut, bercanda dan tertawa bersama melepaskan kerinduan mereka selama ini, dan tanpa mereka sadari dari jendela kamar di lantai dua kediaman Duke Arton sepasang mata tengah mengawasi mereka berdua, dia adalah Silvia anak dari Duke Felix.
Entah mengapa sejak bertemu dengan Leon hati Silvia menjadi berbunga-bunga, dan ketika ia tau bahwa Leon adalah calon suami sahabatnya entah kenapa hatinya terasa sesak dan sakit, namun ia menutupi perasaan tersebut dengan tetao tersenyum hangat kepada mereka.
"Kenapa aku bisa begini, apa aku menyukai kak Leon?, tapi tidak mungkin aku menyukai calon suami kak Ashley" gumam Silvia pelan.