
Mentari pagi sudah kembali berganti dengan sang rembulan malam, cahaya-nya menyinari seluruh daratan Blue Continent, suasana tenang dan sejuk itu di perindah dengan kicauan berbagai macam burung.
"Hoaammm!!!" Ashley mulai membuka matanya perlahan, mencoba untuk mengumpulkan kembali tenaganya yang telah banyak terkuras karena kelelahan.
Ashley mencoba untuk bangkit dari atas tempat tidurnya namun ada yang aneh dia merasakan ada seseorang yang tengah memeluk tubuhnya, dia melihat ke tubuhnya dan benar saja ada sebuah tangan yang sedang memeluk tubuhnya.
"Ta-tangan siapa ini, ini bukan tangan ibu tangan Silvia juga bukan, apa jangan-jangan?" gumam Ashley dalam hati.
Wajahnya terlihat pucat, jantungnya kembali berdetak kencang dia menoleh ke samping dan benar saja ada seorang pria tengah baring di sampingnya dan memeluk tubuhnya, Ashley ingin berteriak dan memukul pria itu namun sebuah ingatan muncul di kepalanya dan membuat dia mengurungkan niatnya.
"Huuh hampir saja, inikan Leon suamiku sendiri" ucap Ashley dalam hati.
"Leon!"
"Leon bangun!" Ashley mencoba untuk membangunkan Leon.
"Bisakah aku tidur sebentar lagi?, aku sangat Lelah" kata Leon.
"Baiklah nanti aku akan membangunkan mu lagi" ujar Ashley.
Ashley kemudian bangkit dari tempat tidur dan lansung menuju ke kamar mandi dan memutuskan untuk mandi terlebih dahulu, namun ketika sudah mandi dia kembali memikirkan hal-hal yang aneh.
"Bagaimana ini pakaianku semuanya di luar, sedangkan saat ini di luar ada Leon, tidak mungkinkan aku ganti baju di sana?, jika dia melihat bagaiman?, tapi bukannya dia tidur?, tapi kalau dia pura-pura tidur dan mengintip ku bagaiman?" gumam Ashley.
Entah apa yang membuat dia memikirkan hal-hal aneh seperti itu, padahal satu hal yang sudah sangat pasti saat ini yaitu mereka berdua sudah menikah, setelah hampir setengah jam Ashley bingung antara harus keluar atau menunggu di dalam kamar mandi dengan rasa dingin, akhinya Ashley memberanikan dirinya untuk keluar.
"Ya ampun apa yang aku pikirkan, sekarang dia adalah suamiku jadi adalah hal yang wajar jika dia berada di kamarku, dan juga aku rasa bukanlah hal yang masalah jika aku mengganti baju di depannya" gumam Ashley pelan.
"Ta-tapi, aku sangat malu jika di lihat oleh Leon, meskipun dia adalah suamiku tapi..."
"Ah.... sudahlah keluar saja, daripada aku mati kedinginan di sini" kata Ashley menyemangati diri sendiri.
Dia kemudian berjalan keluar kamar mandi dengan sangat pelan dan waspada takut kalau Leon akan melihat dirinya kemudian dia berjalan perlahan menuju ke lemari pakaian miliknya, pada akhirnya ia berhasil mengambil pakaiannya dan mengenekannya dengan cepat.
"Leon bangun!!" kata Ashley.
"Hoaammm!!!, iya-iya aku bangun" kata Leon kemudian berdiri dan lansung menuju ke kamar mandi, namun ketika hendak melangkahkan kakinya masuk ke kamar mandi Leon berbalik dan menatap Ashley.
"Oh ya, Ashley kau terlihat sangat cantik ketika mengganti pakaian" kata Leon dengan senyuman khasnya kemudian masuk kedalam kamar mandi.
Perkataan Leon barusan bagaikan sambaran petir untuk Ashley, suhu tubuhnya tiba-tiba menjadi panas dan wajahnya memerah, dia hanya terdiam dan tidak bisa berkata apa-apa, hingga beberapa menit kemudian Leon telah selesai mandi.
"Ashley kau kenapa?" tanya Leon.
"Ti-tidak, aku tidak apa-apa" jawab Ashley gugup.
"Baiklah tunggu aku selesai berpakaian lalu setelah itu kita pergi ke bawah untuk sarapan" ucap Leon.
Ashley tidak menjawab perkataan Leon melainkan hanya mengangguk pelan, setelah selesai mengenakan pakaian Leon dan Ashley kemudian pergi ke lantai bawah untuk sarapan, setibanya di ruang makan ternyata semuanya telah berkumpul di sana lalu mereka berdua duduk bersebelahan.
"Ashley apa kau sakit?, kenapa wajahmu memerah?" tanya Duke Arton.
"Ti-tidak apa-apa ayah, aku tidak sakit" jawab Ashley.
"Leon Ashley kenapa?" tanya Duke Arton pada Leon.
"Hey, bisakah kau tidak memanggilku paman lagi" kata Duke Arton kesal.
"Hahahaha iya maafkan aku ayah mertua" kata Leon
"Dasar bodoh, aku seperti ini karena kau mengintip ku" gumam Ashley dalam hatinya.
"Sudahlah mungkin dia masih kelelahan" ujar Maria.
Setelah selesai sarapan, Leon mengajak Ashley duduk di tempat biasanya yaitu di bawah pohon besar di belakang mansion tersebut.
"Ashley kau kenapa?" tanya Leon.
"Aku tidak apa-apa" jawab Ashley singkat.
"Kenapa kau terlihat sangat murung?, apa kau tidak bahagia telah menikah denganku?" tanya Leo sedih.
"Ti-tidak, bukan seperti itu.." jawab Ashley.
"Lalu?"
"Ma-maafkan aku, hanya saja aku belum terbiasa dengan keadaan seperti ini, apa lagi ketika kau mengintip ku tadi pagi ketika aku mengganti baju" jawab Ashley.
"Ya ampun ternyata cuma itu masalahnya" gumam Leon dalam hati.
"Baiklah jika memang kau belum terbiasa tidak masalah, nanti malam aku akan tidur di kamar Xin" kata Leon, dia mengalihkan pandangannya ke arah kota.
"Ma-maaf" ucap Ashley.
"Sudahlah tidak apa-apa jangan kau pikirkan, kalau begitu aku pergi dulu" kata Leon, kemudian dalam sekejap mata dia sudah hilang dari pandangan Ashley.
"Apa yang sudah kulakukan, dia adalah suamiku sendiri seharusnya aku tidak seperti itu" gumam Ashley pelan.
Dia kemudian pergi dari tempat itu dan lansung mencari ibunya, karena hanya ibunya yang akan mengerti keadaannya saat ini.
"Nona, apa anda melihat tuan?" tanya Guts menghentikan langkah Ashley.
Ashley tidak menjawab melainkan hanya menggelengkan kepalanya, setelah itu dia kembali berjalan dengan cepat meninggalkan Guts sendirian.
"Kenapa dia terlihat sedih?" gumam Guts.
***
Sementara itu jauh dari kediaman Duke Arton tepatnya di langit kota awan, terlihat ada seseorang dengan sepasang tanduk di kepala dan juga sepasang sayap di punggungnya tengah melihat ke arah istana kerajaan Torterres, ia seperti sedang mengamati sesuatu, dia adalah jendral iblis ke lima yaitu Ingrid
"Kerajaan yang lumayan besar, namun sayangnya di sini tidak ada seseorang yang sangat kuat yang bisa membuatku ingin bermain-main sebentar" gumam Ingrid pelan.
"Lalu apa yang harus aku lakukan dengan kerajaan ini?, apa aku hancurkan saja?, tapi raja iblis akan marah jika aku bertindak tanpa perintah darinya" lanjutnya.
Ingrid menghela nafas panjang, dia sangat ingin bermain-main dan memporak-porandakan kerajaan tersebut, hanya saja dia juga tidak bisa bertindak sesuka hati atau raja iblis akan mengamuk dan menghukumnya.
Ketika Ingrid ingin berbalik dan pergi meninggalkan kerajaan itu tiba-tiba saja ia merasakan aura yang sangat kuat mengarah padanya.
"Hahahaha, benar inilah yang aku inginkan, padahal aku sudah menyembunyikan aura keberadaan ku dengan sangat baik tapi dia masih bisa menemukanku, bahkan aku tidak tau dia berada di mana, hahahaha hebat, hebat, hanya ada satu kemungkinan orang ini sangatlah kuat, dan pantas untuk menjadi lawan ku hahahaha" Ingrid tertawa senang ketika aura yang sangat besar itu berhasil menekannya.