
Suasana menjadi hening setelah menghilangnya Leon, putri Elena hanya bisa terdiam dan menundukkan kepalanya perlahan air matanya mulai mengalir dan menetes ke gaun yang ia gunakan, raja dan ratu hanya bisa menghela nafas panjang karena mereka tidak bisa melakukan apa-apa.
"Maafkan ayah nak, ayah juga tidak tau bahwa jendral Leon sudah memiliki tunangan di sana" ucap raja pelan.
Ketiga jendral baru mengerti situasi yang tengah terjadi saat ini, awalnya mereka tidak tau bahwa putri Elena menyukai Leon dan itulah alasan mengapa ia sangat terlihat khawatir ketika Leon tidak ada di istana.
"Sudahlah anakku, mungkin dia bukanlah jodohmu" kata ratu Rosalina.
"Ta-tapi aku sangat mencintai dia ibu" ucap putri Elena sambil menangis di pelukan ibunya.
"Maaf tuan putri, tapi jika tuan putri menyukai jendral Leon sebaiknya tuan putri lebih berusaha lagi agar dia tertarik dan membalas cinta tuan putri" ujar jendral Evan.
Putri Elena melepaskan pelukannya kemudian menghapus air matanya, kata-kata jendral Evan telah membuatnya termotivasi untuk terus berjuang agar bisa mendapatkan Leon.
"Apa, paman memiliki solusi untuk itu?" tanya putri Elena.
"Kalau masalah itu maafkan saya tuan putri, saya sama sekali tidak faham" jawab jendral Evan.
"Tenanglah putriku, ibu akan membantumu mendapatkan jendral Leon" ujar ratu Rosalina.
"Tapi, bagaimana caranya ibu?" tanya putri.
"Yah, sebaiknya kau memberikan perhatian yang lebih padanya, karena laki-laki sangat senang jika ada perempuan yang perhatian padanya" kata ratu Rosalina.
"Hahahaha, kau sangat mengerti aku istriku kau bahkan tau aku sangat senang mendapat perhatianmu" ujar raja.
"........"
"Hey, kita sedang membahas putri kita dan juga jendral Leon, sebaiknya diam dan bantu aku berfikir" jawab ratu dengan kesal.
"Hahahaha, baiklah putriku ayah akan sepenuhnya mendukungmu, dan ayah akan berusaha untuk membujuk jendral Leon" kata raja.
"Terimakasih ibu, terimakasih ayah" ujar putri Elena dan kemudian memeluk mereka berdua.
"Jendral Robert, apa perlu kita membantu tuan putri?" bisik jendral Evan.
"Kenapa kita juga harus ikut?" jawab jendral Robert.
"Hey, kau ini cobalah sedikit mengerti, putri Elena merupakan tuan putri kita jadi sudah seharusnya kita membantu" ujar jendral Ryo.
Mereka bertiga kemudian saling pandang dan lansung menganggukkan kepala mereka pelan, seakan apa yang saat ini mereka pikirkan adalah sesuatu yang sama.
"Kenapa mereka berdua menganggukkan kepala juga?" ucap jendral Robert dalam hati.
"Apa yang mereka pikirkan, dan kenapa malah menganggukkan kepala, aku bahkan tidak tau apa yang harus di lakukan" ucap jendral Ryo dalam hati.
"Apapun yang mereka pikirkan sebaiknya aku turuti saja" kata jendral Evan dalam hatinya.
"Dasar aneh!!!!, kenapa mereka bertiga menganggukkan kepala seperti itu, dan kenapa mereka malah tersenyum" kata raja dalam hati yang juga melihat tingkah ketiga jendralnya.
"Apa mereka sehat?, kenapa mereka menganggukkan kepala seperti itu" ucap ratu dalam hati.
"Ya ampun kenapa ketiga jendral senyum-senyum seperti itu, apa mereka...." gumam salah seorang prajurit dalam hatinya sambil memikirkan sesuatu yang aneh
("Dasar koplak!!!....." Author.)
***
Sementara itu di kediaman Duke Arton seperti biasa Ashley hanya duduk di bawah pohon besar yang ada di belakang mansion mereka, dia masih saja memandang kota Awan dari sana namun hati dan pikirannya entah kemana.
"Nona, apa yang anda lakukan di sini?" tanya Xin.
"Paman Xin, kapan kau datang?" jawab Ashley yang masih kaget dengan kedatangan Xin.
"Begitulah paman, aku sangat rindu padanya" jawab Ashley.
Xin tidak menjawab perkataan Ashley, sebenarnya dia juga sudah rindu dengan tuannya, dia sangat ingin kembali berpetualang bersama tuannya seperti dulu, Xin menengadah ke atas dan tidak sengaja dia melihat Leon yang saat ini tengah duduk bersantai di atas pohon.
"Tu..."
Belum sempat Xin menyelesaikan ucapannya Leon sudah memberikan kode kepada Xin untuk diam dan tidak memberitahukan keberadaannya kepada Ashley, Xin tersenyum dan mengangguk pelan tanda ia mengerti maksud Leon.
"Ada apa paman?" tanya Ashley.
"Hahaha, tidak ada apa-apa nona sebaiknya saya pergi dulu karena ada hal yang masih harus saya kerjakan" kata Xin kemudian pergi meninggalkan Ashley.
Ketika Leon meninggalkan kerajaan Harvest, ternyata dia lansung menggunakan skill teleportasi miliknya dan lansung menuju ke kediaman Duke Arton tepatnya di atas pohon besar di belakang kediaman tersebut, hal itu terjadi karena Leon masih belum terbiasa dengan Skill teleportasi itu, saat dia ingin turun dia melihat Ashley sudah ada di bawah pohon tersebut jadi dia memutuskan untuk tetap diam di sana.
"Leon, dimana kau sekarang, apakah kau sudah melupakan aku, apakah cincin ini hanyalah sebuah benda biasa yang kau titipkan saja" kata Ashley pelan.
"Aku sangat merindukanmu" lanjutnya kemudian kembali duduk di kursi yang ada di bawah pohon.
"Benarkah kau merindukan aku?" tanya Leon.
"Aku sangat merindukanmu, aku sangat senang saat kau memberiku cincin ini, meskipun aku tidak faham apa maksudmu entah ini hanya cincin biasa ataukah cincin ini tanda kau akan bertunangan denganku, namun aku sangat senang" jawab Ashley, dia masih tidak menyadari bahwa saat ini tengah bicara dengan Leon.
"Jika aku bilang itu adalah cincin tunangan dariku, apa yang akan kau lakukan?" tanya Leon.
"Aku akan sangat bahagia, mungkin aku akan menjadi wanita yang paling bahagia di dunia ini, kau tau aku sangat mencintaimu" jawab Ashley.
"Aku juga mencintaimu Ashley" ujar Leon.
"Terimakasih" jawab Ashley pelan, perlahan air mata membasahi pipinya namun itu bukanlah kesedihan melainkan air mata kebahagiaan.
"Ashley sedang apa kau di sana?" kata Duke Arton bertanya pada Ashley.
"Tidak ada apa-apa ayah" jawab Ashley.
Duke Arton kemudian berjalan kearah Ashley dan kebetulan tanpa sengaja ia juga melihat Leon sedang duduk di salah satu dahan pohon, kemudian melambaikan tangan padanya.
"Leon kapan kau kembali?" tanya Duke Arton.
"A-apa ayah juga bisa mendengar suara Leon?" tanya Ashley.
"Apa maksudmu Ashley?" Duke Arton balik bertanya karena heran dengan pertanyaan putrinya itu.
"Begini ayah, aku tadi mendengar suara Leon dan dia bilang cincin ini adalah cincin tunangan darinya, dia juga bilang bahwa dia mencintaiku, meskipun itu hanya halusinasi saja tapi aku sangat senang, tapi aku tidak menyangka ayah juga bisa mendengar suara Leon yang ada dalam halusinasi ku" jawab Ashley.
"Halusinasi apa Ashley, ayah tak paham apa maksudmu, bukankah yang ada di atas pohon itu Leon?" kata Duke Arton menunjuk keatas pohon.
"Apa yang ayah mak...."
"Hai...!" ucap Leon sambil melambaikan tangan kepada Ashley, kemudian dia melompat turun dari atas dahan pohon.
"K-kau, sejak kapan kau ada di sana?" tanya Ashley.
"Sejak kau datang dan duduk di bawah pohon itu" jawab Leon dengan tersenyum ramah.
Ashley tidak menjawab perkataan Leon melainkan dia lansung berlari dan memeluk Leon dengan sangat erat dan menumpahkan air matanya dalam pelukan Leon
"Kau jahat, kenapa kau pergi begitu lama" kata Ashley.
"Maafkan aku" ucap Leon.
Mereka berdua hanyut dalam pelukan hangat, Bahkan mereka tak menghiraukan Duke Arton yang saat ini tengah berdiri menyaksikan mereka yang sedang berpelukan.