
...POV Arsen....
" Ndaa, tata mommy yang boleh cium Dede cuma Olang-olang yang sayang sama Dede." Kata-kata itu, begitu melekat di ingat ku! Walaupun hal itu sudah terjadi dua puluh tahun yang lalu.
Tapi setiap kali mendengar Nala berbicara, aku langsung teringat akan kegilaan ku dulu meminta ciuman dari mamanya! Dan saat itu Sevi ku baru berusia empat tahun sama seperti usia Nala Sekarang.
" Papa, papa." Nala berlari ke arahku sembari membuka kedua tangannya lebar-lebar. Aku pun menyambutnya dengan hangat! Putri kecilku itu memang lebih antusias menyambut aku saat pulang kerja ketimbang kakak dan mamanya.
Yang mereka berdua hanya akan mendekat saat mereka melakukan kesalahan dan menginginkan sesuatu. Aku tahu ibu dan anak itu memang suka memanfaatkan aku tapi entah kenapa aku menyukainya. " Hai, sayang mama sama Abang kemana, kok nggak kelihatan?" Tanyaku sambil mengecup ke pipi Nala secara bergantian. Tak lama Art yang menjaga Nala datang dan saat melihat Nala berada dalam gendonganku, ia pun pamit kebelakang.
" Ndaa ada! Pelgi ." Jawaban Nala.
" Loh, Pergi kemana? Kenapa Nala, nggak di ajak?" Tanya ku sambil mencium kedua pipi Nala bergantian.
" Ndaa, selem banyak ngeng-ngengnya, Husssshh." Jelas gadis kecil itu sembari mempraktekkan kecepatan mobil yang pernah ia lihat bersama mama dan abangnya itu.
" Mama dan Abang ke arena balap lagi?" Tanya Arsen. Gadis kecilnya itu pun menganggukkan kepalanya. Membuat Arsen tidak bisa berkata-kata.
Mengurus istrinya yang suka tantangan dan balapan liar saja sudah membuatnya pusing! Sekarang Malah di tambah Nathan yang ikut-ikutan mamanya.
" Udahlah pa! Tata mama, cuma sebental, ental juga pulang agi. Mama, bang. Masih ingat pulang gitu."
" Papa tahu sayang! Tapi tetap aja papa khawatir."
" Nala ugaa." Gadis kecil terkadang bisa berbicara lancar, terkadang juga tidak. Membuatnya terlihat semakin mengesankan.
" Kalau gitu, Nala temani papa nyariin mama dan Abang ya."
" Oke pa." Jawabannya sembari mengangkat jempolnya kepada Arsen.
" Kita pergi sekarang." Nala menganggukkan kepalanya. Dan aku pun membawanya pergi setelah menitip tas kerjaku kepada Art di rumah kami.
Ya setelah Nathan dan Nala berusia dua tahun, aku mengajak mereka untuk pindah ke rumah baru kami. Walaupun hal itu sempat mendapat penolakan keras dari mami aku tapi berkat bujukan dari Sevi dan mommy mertuaku. Kami bisa tinggal sendiri seperti sekarang ini. Walaupun kedua orang tua kita masih sering turun tangan membantu mengurus anak-anak kita. Tapi setidaknya kami bebas melakukan apa saja dan pergi kemana saja tanpa di larang ini dan itu.
Tidak lama berselang mobil yang aku kendarai berhenti di arena balap yang suka berpindah-pindah itu. Dan jika di tanya kenapa aku bisa mengetahui keberadaan istri dan anakku di sini. Tentu saja dari GPS yang sengaja aku pasang di kalung Sevi.
" Mama, bang." Teriak Nala saat melihat Sevi yang tengah duduk di sebuah bangku di pinggir jalan sambil memangku Nathan, dengan di kelilingi teman-temannya. Tempat itu sudah Sepi. Hanya beberapa orang yang masih berada di sana.
" Sayang, sudah selesai." Tanyaku begitu langkahku berhenti tepat di hadapan Sevi.
" Iya, baru saja! " Jawab Sevi sembari menurunkan Nathan dari pangkuannya kemudian memelukku di depan teman-temannya . " Kenapa kesini? Kangen ya." Godanya lagi, dan aku pun membenarkan hal itu.
" Iya! Nathan ayo kita pulang sayang. Dila, intan aku duluan ya." Kedua sahabat istriku itu mengangguk dan melambaikan tangan mereka. Setelah itu kami pun meninggalkan arena balapan itu dan pulang ke rumah.
Jika kalian bertanya kenapa aku tidak marah dan membiarkan istriku melakukan apa yang ingin dia lakukan? Jawabannya karena aku sangat mencintainya. Aku tidak masalah dengan apapun yang dia lakukan selama dia bisa menjaga dirinya sendiri. Lagian dia sudah lama tidak ikut balapan lagi, hanya saja dia masih sering ketempat itu untuk bertemu dengan teman-teman. Jadi kenapa aku harus marah. toh itu kesenangannya.
Dan kebahagiaan dia adalah kebahagiaanku juga. Aku tidak peduli jika orang menganggap aku bodoh. Karena bagiku Sevi ku adalah segalanya, seekstrim apapun keinginannya selama itu tidak mengancam keselamatannya aku akan dengan senang hati mengabulkan hal itu. Dan jika aku di minta memilih antara, Sevi, anak dan orang tuaku sudah pasti aku akan memilih Sevi. Karena dia segalanya bagiku, Dia Alasan dan tujuan hidupku . Dan senyum diwajahnya adalah prioritas aku saat ini.
Setibanya di rumah Nathan dan Nala langsung berlari masuk kedalam rumah sambil berpegangan tangan sementara Sevi menunggu ku untuk berjalan bersama. " Terima kasih sayang. Aku mencintaimu" Ucapnya.
" Aku juga sangat mencintaimu." Aku membalas ungkapan cintanya, kemudian kita berdua melangkah masuk kedalam rumah sambil merangkul satu sama lain, menyusul buah hati kami. Dan semoga selamanya kita tetap akan seperti ini. Saling mencintai dan mendukung satu sama lain.
.......
.......
.......
.......
...Happy reading..💝💝...
...Jangan lupa mampir juga di cerita aku yang baru Love me....
...Dan cerita aku yang lainnya....
...~ Bukan wanita penggoda dan Kamulah semangat hidupku.~...
...~Istri kedua.~...
...~Secret of the heart~...
...~ Satu cinta untuk dua hati~...
...~ Pernikahan yang menyakitkan~...
...Terima kasih 🙏🙏**...