Sevi Is Mine (Hate But Love)

Sevi Is Mine (Hate But Love)
Mengubah panggilan.



" Sevi, karena hubungan kita sudah sangat jelas sekarang! Ada baiknya kita memperbaiki hubungan ini untuk lebih baik lagi kedepannya." Ucap Arsen saat menunggu pesanan mereka. Keduanya kini tengah berada di sebuah restoran untuk makan siang. Setelah menyelesaikan segala urusan mereka di kantor urusan agama. " Dan harusnya aku mengatakan hal ini sejak awal, tapi aku tidak memiliki kesempatan untuk itu atau mungkin aku yang terlalu egois dan di buta kan oleh situasi saat itu! Dan tidak seharusnya aku melakukan semua itu kepadamu. Tolong maafkan aku, aku salah, aku siap menerima hukuman jika kamu ingin menghukum aku." Lanjutnya sembari menggenggam tangan Sevi dan menatap wajahnya penuh rasa bersalah.


" Om tidak perlu minta maaf untuk kejadian itu! karena aku sudah menerima semua kejadian itu, sebagai bagian dari garis takdir yang harus aku jalani. Lagian aku juga sudah berbuat jahat kepada om." Sahut Sevi sembari menunjukkan senyum tulusnya kepada Arsen.


" Tapi tetap saja aku harus minta maaf sama kamu." Ujar Arsen, pria itu tetap kekeh untuk minta maaf kepada Sevi.


" Baiklah kalau om tetap ingin minta maaf? Berarti Sevi juga harus minta maaf kepada om atas apa yang aku dan mommy lakukan kepada om waktu itu." Sahutnya kepada Arsen.


" Tidak! apa yang kamu dan mommy lakukan, Sudah sepantasnya aku dapatkan! Justru itu tidak ada apa-apanya di bandingkan apa yang aku lakukan ke kamu. Aku tidak tahu jika hal akan sangat berpengaruh kepadamu." Arsen menjeda ucapannya, ia melepaskan genggaman tangan Sevi, kemudian beranjak dari tempat duduknya, berjongkok di depan Sevi sembari menarik kedua tangannya dan mengecup punggung tangan Sevi dengan lembut penuh kasih sayang. " Maafkan aku! Aku benar-benar tidak tahu apa yang aku lakukan saat itu akan sangat berpengaruh terhadap kamu! Sungguh aku sangat menyesal telah melakukan semua itu! Mau kah kamu memaafkan aku."


Sevi menatap wajah Arsen kemudian mengangguk kepalanya seraya berkata. " Iya aku memaafkan om."


" Terima kasih sayang." Kata sayang yang di ucapkan Arsen membuat tubuh Sevi membeku seketika dengan tatapan mata yang belum sepenuhnya berpindah dari wajah Arsen. membuat suasana yang teramat sangat canggung untuk Sevi, dan kesempatan itu di manfaatkan dengan baik oleh Arsen. Pria itu memberanikan diri mencium pipi Sevi. Sebelum ketukkan di pintu menyudahi ciumannya.


Arsen beranjak dari hadapan Sevi kemudian kembali ke tempat duduknya, bersikap seolah tidak terjadi apa-apa, setelah itu mempersilahkan orang yang mengetuk pintu itu untuk masuk.


Dua orang pelayan pun masuk dengan membawa hidangan makan siang yang di pesan mereka. Setelah menyajikan semua hidangan itu kepada Arsen dan Sevi, kedua pelayan itu langsung pamit meninggalkan ruangan itu. Ya Arsen memang sengaja memilih ruang pribadi di salah satu restoran langganan untuk makan siang mereka agar keduanya tidak canggung berbicara hal pribadi seperti tadi.


" Sevi, makanlah." Ucap Arsen sembari meletakkan beberapa hidangan makan di piring Sevi.


" Terima kasih om." Sevi menutup rona merah di wajahnya dengan menunduk sembari menyantap makanan yang di sajikan Arsen di piring nya. Ia bahkan tidak berani menatap wajah Arsen.


Terlepas dari Arsen pernah merampas kehormatannya dengan cara yang begitu jahat, Sevi tetaplah gadis biasa yang bisa merasakan jatuh cinta dan malu-malu kucing saat mendapat perhatian khusus dari lawan jenis, apalagi pria itu adalah pria yang dia cintai dan kini sudah berganti status menjadi suaminya. Tentu saja perasaan seperti yang di rasakan Sevi sekarang ini wajar-wajar saja.


Selesai makan siang keduanya berencana kembali ke rumah orang tua Arsen tapi saat di perjalanan, Arsen mendapat telpon dari papi Anggara untuk segera ke kantor, karena ada pekerjaan yang harus Arsen selesaikan, pekerjaan ini sangat penting dan tidak dapat di wakilkan, sementara papi Anggara dan Yudha sedang sibuk-sibuknya dengan pekerjaan yang lain! Mau tidak mau Arsen pun mengiyakan permintaan papi Anggara.


Setelah mengakhiri panggilannya dengan papi Anggara, Arsen melirik kearah Sevi. Kemudian berkata." Aku harus kembali ke kantor sekarang untuk menyelesaikan beberapa pekerjaan! Apa kamu ingin menemani aku." Ujarnya sekaligus menawarkan Sevi untuk mengikutinya ke kantor.


" Tapi om! Om kan harus kerja." Ucap Sevi dengan gugup, ia tadi sempat mendengar sedikit obrolan Arsen dan papa mertuanya itu di telpon. Dan dia pikir setelah mengakhiri panggilan itu, Arsen akan mengantarnya pulang lebih dulu atau meminta ia pulang sendiri. Tapi yang terjadi, Arsen justru menawarkan dia untuk ikut ke kantor bersamanya.


" Iya! Dan aku butuh istriku untuk menemani aku berkerja." Arsen bisa saja, mengantarkan Sevi untuk pulang terlebih dulu. Tapi mengingat sikap mommy-nya, ia jadi ragu untuk meninggalkan Sevi sendiri! Sebagai gantinya Sevi mungkin akan merasa bosan di kantor tapi bagi Arsen itu sedikit lebih baik dari pada ia harus menerima sindiran dari mommy-nya. " Kamu mau kan?" Tanya Arsen lagi untuk memastikan jawaban Sevi.


Karena tidak tahu harus bagaimana. Sevi pun mengangguk. Dan Arsen mulai melajukan mobilnya, yang sempat berhenti untuk menerima panggilan dari papinya, menuju ke kantor.


Setibanya di kantor, Arsen dan Sevi langsung menuju ruang kerja Arsen. Saat melewati lobby, Sevi menyembunyikan wajahnya pada punggung Arsen. Karena saat itu masih waktu istirahat makan siang. Banyak pula karyawan yang berlalu-lalang dan menatap ingin tahu dengan Sevi sekaligus menyapa Arsen selaku anak pemilik perusahaan dan salah satu orang yang memiliki jabatan penting di perusahaan itu.


" Nih." Arsen menyerahkan ponselnya kepada Sevi, begitu Keduanya sampai di ruang kerja Arsen.


" Ini untuk apa Om?" Tanya Sevi, ia tidak langsung menerima ponsel yang di berikan Arsen.


" Aku akan sedikit sibuk dan mungkin akan sedikit mengabaikan kamu! Kamu bisa mengunakan ponsel aku untuk mengusir rasa bosan kamu." Jawab Arsen. Pria itu masih menunggu Sevi meraih ponsel dari tangannya.


" Terima kasih om."


Saat Sevi menyalahkan layar ponsel Arsen, terdapat gembok di sana dan meminta kata sandi.


" Om, ponselnya terkunci." Ucap Sevi sambil menunjukkan layar ponsel yang terkunci kepada Arsen.


" Sandinya tanggal, bulan serta dua angka terakhir tahun lahir kamu." Ucap Arsen sembari mulai memulai pekerjaannya.


" Haah, Om tahu tanggal lahir aku?" Tanya Sevi. Tapi tidak ada jawaban dari Arsen, karena pria itu sudah tenggelam dalam pekerjaannya.


Tak ingin menganggu Sevi mulai menyibukkan diri dengan mengotak-atik ponsel Arsen.


" Sevi." Panggil Arsen setelah cukup lama keheningan menemani keduanya.


" Iya, ada apa om?" Tanya Sevi, sembari menengok ke arah Arsen.


Arsen terlihat sedikit ragu. Tapi ia berhasil menyingkirkan keraguan itu dan berkata. " Bisakah kamu Mengubah panggilan kamu kepada aku. Kita berdua adalah suami istri! Rasanya aneh saja saat kamu memanggilku om."


" Sevi harus memanggil om apa? Tidak mungkin kan aku memanggil om dengan sebutan nama! Karena itu terdengar tidak sopan, mengingat umur aku dan om sangat jauh berbeda, belum lagi om adalah suami aku sekarang." Ucap Sevi apa adanya.


" Ya senyaman kamu saja! Tapi jangan om juga." Sahut Arsen, Sevi tidak langsung menjawab, ia terlihat berpikir keras, membuat ruang itu pun kembali hening.


.......


.......


.......


.......


...Bersambung....


...Happy reading...🖤🖤...


...Hai,, hai.....


...Kira-kira, menurut kalian! nama panggilan yang cocok untuk mereka apa?...