Sevi Is Mine (Hate But Love)

Sevi Is Mine (Hate But Love)
Proses perceraian.



Keesokan harinya, sebelum putra berangkat ke kantor, ia mampir terlebih dulu di apartemennya, sekaligus membawakan sarapan untuk Sevi. " Nih kakak bawain sarapan? belum sarapan kan. " Ucap Putra saat Sevi membukakan pintu untuknya.


" Kakak sudah sarapan?" mengambil sarapan yang di bawah kakaknya. " Masuk kak!" Lanjutnya sembari melangkah lebih dulu, di ikuti putra.


Setibanya di ruang makan! Ia melihat ada nasi goreng berserta lauknya tertata di atas meja. " Kebetulan tidak ada kerjaan jadi aku masak aja. Cobain kak! Terus kasih penilaian ya." Ucap Sevi lagi, begitu menyadari arah tatapan kakaknya itu. Ia melangkah kearah meja, kemudian menyendok nasi goreng buatannya serta meletakkan beberapa lauk di atasnya, kemudian menyerahkan kepada putra. " Ini kak, buruan di cobain. "


Tak ingin membuat sang adik kecewa, ia segera mengambil piring berisi nasi goreng itu dari tangan Sevi. Kemudian Mendaratkan bokongnya di sofa, sebelum memulai menyantap makanan yang di masak adiknya.


Melihat itu, bibir Sevi membentuk sebuah senyuman, ia tidak pernah berpikir akan berada di sini lagi, bersama orang-orang yang benar-benar tulus mencintainya. " Kamu tidak sarapan Dek?" Tanya putra, membuyarkan lamunannya.


" Eh iya, ini Dede mau sarapan." Jawabannya, sembari ikut duduk di samping Putra, membuka bungkusan makanan yang di bawah sang kakak, kemudian menyantapnya.


Kedua kakak beradik itu, menikmati sarapan mereka dalam diam! Ini bukan pertama kalinya, tapi sudah menjadi kebiasaan mereka! Sesuai ajaran sang mami. Dimana mereka di larang berbicara saat makan.


Satu jam kemudian, keduanya sudah selesai dengan sarapan mereka, Sevi pun telah membereskan meja dan membawa piring bekas makan mereka untuk di cuci.


" Kakak, ada kuliah pagi ini! Nanti begitu kuliah kakak selesai, kakak akan langsung ke pengadilan untuk mengurus proses perceraian kamu selanjutnya. Setelah itu kakak juga harus ke perusahaan, mungkin malam kakak akan mampir." Ucap Putra, memberi tahu.


" Terima kasih kak! Maaf jika Sevi selalu merepotkan kakak dan yang lain."


Putra menghampiri Sevi, kemudian menarik adiknya itu kedalam pelukannya seraya berkata. " Kamu itu adikku, apapun yang menjadi urusan kamu akan menjadi urusan aku juga! Ingat Selama nafas kakak masih ada, kakak akan terus membantu kamu, sempai kamu mendapatkan kebahagiaan kamu! Bukankah kita selalu berbagi sejak dalam kandungan, lalu kenapa kamu harus merasa sungkan dengan bantuan kakak, Hmm."Tangan putra bergerak naik turun, mengusap rambut Sevi.


" Tapi aku sudah sering membuat, masalah untuk mami, ayah, bang Nanda dan kakak!"


" Ssssttthh, Jangan berbicara seperti itu, kakak tahu kamu tidak ingin membuat masalah untuk kita! Tapi Tuhan sudah mentakdirkan hidup kamu akan berjalan seperti ini, jadi berhentilah merasa tidak enak. Kakak harus pergi sekarang, gunakan kartu ini jika kamu ingin keluar berjalan-jalan. Kakak pergi ya, Assalamualaikum." Putra melepaskan pelukannya kemudian mengulurkan tangannya kepada Sevi.


" Hati-hati kak!" Ujarnya sembari menyambut uluran tangan sang kakak kemudian mencium punggung tangannya. Sevi mengantar putra sampai di depan pintu apartemen.


Saat lelaki itu baru dua langkah dari depan pintu apartemennya. Ia kembali berbalik dan bertanya kepada Sevi." Bagaimana perasaanmu kepada Arsen?"


Sevi mengerutkan keningnya! Bingung dengan apa yang di tanyakan putra. " Maksud kakak apa?" Untuk memastikan pertanyaan sang kakak, Sevi balik bertanya.


" Kakak rasa pertanyaan kakak sudah jelas? Tapi jika kamu masih bingung, kakak akan memperjelas pertanyaan kakak barusan." Putra menjeda ucapannya, sembari menelisik wajah sang adik. " Apa kamu masih mencintai Arsen."


Pertanyaan itu begitu jelas, sehingga mampu membuat Sevi bingung sekaligus gelisah. ' Apa aku masih bisa mengatakan aku mencintainya, setelah apa yang aku lakukan kepadanya! Tapi jantung aku selalu berdetak sat berada di sampingnya aku, ingin dekat dengan dia tapi rasa bersalah dan apa yang aku lakukan membuat aku takut jika kita akan saling menyakiti lagi. Kenapa cinta harus sesakit ini.'


" Diamnya kamu, kakak anggap sebagai jawaban. Iya." Sevi terlalu lama larut dalam pikirannya sehingga ia tidak sadar kalau sang kakak tengah menunggunya. " Kakak pamit ya." Pamit putra lagi. Tanpa menunggu jawaban Sevi, ia pun segera berbalik dan meneruskan langkahnya.


Sementara di belakang sana, Sevi melangkah kembali ke dalam apartemen sang kakak setelah punggung putra tak terlihat lagi.


Selama dua bulan Sevi tinggal di apartemen kakaknya, Selama dua bulan itu juga, tidak ada yang mengetahui dan menyadari Sevi dan Randy tidak berada di apartemen mereka yang berada di Jerman.


Rayhan dan Nadia jarang sekali mengunjungi anak dan menantunya itu, hal itu sungguh memudahkan putra dalam mengurus proses perceraian Sevi tanpa ada gangguan dari pihak keluarga.


Sementara untuk orang tua dan abangnya, putra selalu memiliki rencana untuk menahan mereka, ketika mereka berencana menggunjungi Sevi atau menghubungi Randy.


Dan dalam dua bulan itu segala proses perceraian adiknya di permudah, walaupun ia harus rela kehilangan pundi-pundi uang dalam tabungannya. Bagi putra, uang masih bisa ia cari, tapi untuk memastikan kebahagiaan adiknya, hal beruntung itu tidak akan datang dua kali, jika tidak sekarang, mungkin selamanya ia tidak bisa membantu adiknya.


" Apa kamu tidak bosan, berada di apartemen terus?" Tanya Putra, saat mengantarkan akta cerai Sevi.


Selama proses perceraian, Sevi hanya menghadiri persidangan dua kali, selebihnya putra dan Yudha yang mengurus hal itu.


Wanita yang baru saja mendapatkan status barunya itu, langsung menggeleng kepalanya. Seraya berkata " Nggak."


" Kamu yakin?" Kali ini ia hanya mengangguk tanpa bersuara. Sejujurnya, putra sangat khawatir mengingat Sevi tidak pernah meninggalkan apartemennya selain untuk menghadiri persidangan. Bahkan persediaan bahan makanannya habis pun, ia akan memesan secara online atau mengirim nota bahan-bahan yang telah habis kepada putra. Untuk membelinya. " Besok kita akan pulang ke rumah dan mengatakan semuanya kepada mami dan ayah! Sementara Randy dan wanitanya sudah di kirim kembali ke Jerman setelah persidangan tadi." Putra memberi tahu Sevi tentang rencananya.


" Kak, aku belum siap! Tolong berikan aku waktu untuk ketemu sama mami, aku takut mami akan marah dan semakin kecewa kepada ku." Sahut Sevi, wanita itu terlihat begitu gelisah ketika putra memberi tahu rencananya.


" Kamu tidak perlu khawatir, mami tidak akan kecewa! Lagian bukti-bukti kita sudah jelas." Putra tetapi yakin dengan rencananya.


" Kak, aku mohon."


Melihat wajah sendu sang adik membuat, Putra tidak dapat menolak permintaan Sevi. " Baiklah, tapi jangan terlalu lama. Kita tidak tahu apa yang akan di rencanakan Randy dan keluarganya untuk kita nanti." Sevi Mengangguk kemudian memeluk tubuh putra sembari mengucapkan terimakasih.


Hal yang paling ia syukur adalah, memiliki kakak seperti putra dan Nanda, karena mereka akan selalu ada untuk dirinya, walaupun Nanda tidak ada di sini untuk membantunya! Tetapi Sevi yakin rasa sayang yang Nanda punya kepadanya sama besar seperti rasa sayang putra kepadanya.


.......


.......


.......


.......


...Bersambung....


...Happy reading..🖤🖤...