
Mobil Arsen berhenti di besment apartemennya. Arsen keluar dari mobilnya begitu ia selesai memarkirkan mobil itu.
Dengan langkah tergesa gesa ia mengitari mobilnya, membukakan pintu untuk Mira, tetepi wanita itu tidak bergeming sedikitpun.
" Keluar." Pinta Arsen, Mira masih tetap mengacuhkan perintahnya. " Mau keluar sendiri atau aku paksa." Ucap Arsen penuh Ancaman, Mira hanya meliriknya sekilas, tatapan tak suka terpancar dengan jelas di wajahnya.
Arsen yang teramat sangat kesal langsung menarik Mira keluar dari mobilnya, tangannya mencengkram lengan Mira dan kembali menyeretnya untuk masuk kedalam lift tanpa ia hiraukan sakit yang Mira rasakan.
Begitu keduanya berada di dalam lift, Mira membelakangi Arsen. ia berpegang sambil mengangkat salah satu kaki yang masih belum sembuh.
Dalam hati Mira merasa tidak berguna dalam kondisi seperti ini, ingin menangis tak bisa mengeluh pun tak bisa.
" Apa yang kamu lakukan?" Tanya Arsen sembari menarik pundak sevi agar ia menatap kepadanya.
" Aku tidak melakukan apa pun." Teriak Sevi, sambil menepis tangan Arsen dengan begitu kasarnya.
" Kamu jangan macam macam, ya sama aku." Arsen tidak suka tangannya di tepis oleh Sevi. ia dengan teganya mencengkeram kuat kedua pipinya.
"Siapa kamu? Aku bahkan tidak kenal siapa kamu. Kenapa kamu melakukan semua ini kepadaku! Apa salah aku sama kamu." Sevi membalas tatapan tajam Arsen, membuat tetapan keduanya bertemu.
Deg.
Debaran yang di rasakan arsen, seakan mengenali siapa pemilik hati, tetepi sayang matanya tak sepandai hatinya. matanya di butakan perasaan dendam yang membuatnya menggabaikan debaran dalam hatinya dan terus menjalankan rencana yang telah ia susun untuk kehancuran wanita yang ada di hadapannya saat ini.
" Jika kamu tidak mengenali aku! mulai sekarang berlajarlah mengenal aku, karena kamu sekarang adalah mainanku."
" Apa maksud kamu? punya masalah apa kamu sama aku? Dan kenapa kamu membawaku kesini." Tidak ada ketakutan sedikit pun yang di tunjukkan Mira, Sekali pun tatapan mata Arsen begitu tajam dan menusuk kedalam bola mata coklat yang indah itu.
" Jangan banyak tanya, cukup turuti aku." Ia melepaskan tangannya dari pipi Mira dan mendorong tubuh Mira. membuatnya hampir terjatuh
Ting .. pintu lift kembali terbuka.
Arsen mendekati Mira, ia sedikit menunduk menyelipkan tangannya dibelakang lutut Mira satu satunya lagi di pinggang mira. Arsen langsung mengangkat tubuhnya. " Apa yang ingin kamu lakukan kepada ku, turunkan aku." Mira terus melayangkan protesnya tetepi Arsen tidak peduli ia terus melangkah keluar lift itu sambil menggendong Mira.
Begitu tiba di depan pintu apartemennya Arsen langsung membuka pintu apartemennya tanpa menurunkan Mira. begitu pintu terbuka ia langsung masuk dan menghempaskan tubuh Mira diatas sofa.
Arsen meninggalkan Mira sendiri di sana. Tak lama berselang Arsen kembali dengan membawa kotak obat di tangannya, ia berjongkok tepat di hadapan Mira, Mengangkat kaki Mira yang sakit kemudian meletakkannya di atas pahanya. Arsen dengan telaten memijit serta mengoles salap di atas permukaan kulit yang memar.
Seandainya Arsen tidak memiliki niat terselubung untuk Mira, mungkin Orang yang melihat sikapnya saat ini akan berpikir, Arsen begitu mencintai Mira. " Apa ini sakit?" Tanya Arsen tetap tidak mendapatkan jawaban dari Mira.
" Apa ini sakit?" Ulang Arsen lagi, tangannya masih setia memijit pergelangan kaki Mira.
" Aauuuuuhh." Mira langsung meringis saat Arsen dengan sengaja menekan kuat di area yang sakit.
" Siapa namamu." Tanya Arsen. Entah apa yang di rencanakan saat ini. " Apa kamu kamu bisu! Kenapa kamu begitu sombong." Ucap Arsen lagi. Ia kembali menekan bagian kaki Mira yang sakit. membuat Mira meringis kesakitan tetapi ia begitu enggan untuk berbicara dengan lelaki yan kini sedang berjongkok di hadapannya.
" Jika kamu terus diam, aku akan membuat kakimu ini tidak akan pernah bisa berfungsi lagi." Arsen kembali mengancam Mira, sebab ia begitu tak suka di acuhkan.
" Aku tidak mengenal siapa kamu? jadi, untuk apa aku menyebut namaku, bukankah sudah sering kamu melihat dan mendengar teman temanku memanggil namaku. Untuk apa kamu masih bertanya." Mira terpaksa membuka suaranya karena Arsen terus menekan kakinya yang sakit.
" Karena aku ingin mengenal lebih dekat siapa kamu.."
" Sayangnya aku tidak." Jawab Mira.
" Kamu benar benar tidak tahu terima kasih! Aku sudah berbuat baik sama kamu, tetepi sikap kamu masih saja sombong."
" Oh itu hak aku, lagian aku seperti ini juga karena kamu. Setelah semua kebiadaban yang kamu lakukan kepada aku, kamu masih berharap aku bersikap baik sama kamu." Mira tersenyum mengejek. " Jangan mimpi, kamu bunuh aku sekali pun aku tidak takut sama kamu, Aku justru kasian sama orang tua kamu karena telah memiliki anak se mbarengsek kamu." Ucapan Mira benar benar melukai ego seorang Arsen. ia bangkit dari tempatnya, dan berjalan menuju kamarnya, tak lama Arsen kembali keluar dengan membawa dasi.
" Mau apa kamu." Tanya Mira, ia bergerak menjauhi Arsen. Dengan kakinya yang masih sakit, sekeras apapun Mira mencoba ia tetap berakhir dalam genggaman Arsen. " Aku tidak mengerti kenapa kamu selalu mencari masalah denganku, aku tidak tahu salah ku apa, sehingga kamu begitu membenciku." Tanya Mira saat Arsen mengikat kedua tangannya dan meletakkan tubuh mungilnya di atas meja yang ada di hadapan mereka.
"Ini belum saatnya, kamu tahu, cukup nikmati kesialanmu saat ini, sampai waktunya tiba, kamu akan tahu kenapa aku melakukan ini padamu." Ucap Arsen, ia menggenggam tangan Mira yang terikat menggunakan salah satu tangannya sedangkan tangannya yang lain, menarik rok sekolah yang Mira pakai keatas.
Melepas dalam man yang di pakai Mira, kemudian menyatukan tubuhnya dengan wanita itu, Mira yang tak berdaya karena kakinya yang sakit dan tangan yang terikat, hanya mampu meneteskan air matanya ketika Arsen kembali mengulang perbuatannya malam menyakitkan itu. Dalam hati Mira berjanji, ia Akan mengembalikan semua rasa sakitnya. " Akan kubuat kamu menyesal seumur hidupmu."
Disisi lain.
" Assalamualaikum, Kediaman Firmasha a_"
" Waalaikusalam, Ini Nanda bi." Sahut Nanda memotong ucapan bibi, begitu sambung telpon itu di terima.
" Aden, Ada apa den?"
" Sevi udah di rumah bi?" Tanya Nanda.
" Belum den, non Sevi belum pulang." Kening Nanda berkerut, mendengar jawaban bibi.
" Ko bisa, bukannya dia sudah di jalan dari sejam yang lalu?"
" Mungkin macet den atau non sevinya mampir dulu ke rumah teman temannya."
" Mungkin Bi, ya sudah aku tutup dulu, nanti Nanda coba hubungi sevi, Assalamualaikum."
" Iya den, waalaikusalam." Panggilan itu pun berakhir dengan Arsen yang memilih untuk kembali keperusahan .
Selama perjalanannya, ia terus mencoba menghubungi sevi tetepi panggilannya tidak pernah di jawab.
Nanda mencoba bersikap tenang, tetepi hatinya begitu gelisah entah apa penyebabnya nanda sendiri tidak tahu.
Bukan hanya Nanda sebab putrapun Measakan hal yang sama, bahkan kakak kedua sevi itu juga merasakan apa yang di rasakan kakaknya.
Putra berusaha fokus dengan pekerjaannya, tetepi, kekhawatiran membuat ia tidak bisa berkonsentrasi, Akhirnya putra memutuskan untuk menghubungi sang adik, siapa tahu dengan mendengarkan suaranya itu dapat membantu.
Sama seperti Nanda, telpon putra pun tidak dijawab sevi membuat perasaan cemas semakin menyelimutinya.
" Assalamu'alaikum bang." Putra memutuskan untuk menghubungi Nanda.
" Waalaikusalam, kenapa dek? ada masalah di perusahaan?" Tanya Nanda.
" Aman ko bang, tidak ada masalah disini."
" Terus, kamu telpon Abang buat apa?" Tanya Nanda.
" Aku dari tadi telpon sevi ko nggak di angkat bang." Bukannya menjawab putra malah balik bertanya.
" Mungkin dia di rumah intan atau Dila, kamu kan tahu sendiri sudah sebulan dia tidak berkumpul dengan mereka." Nanda mencoba menenangkan Putra walaupun dirinya juga dilanda perasaan cemas yang sama.
" Semoga aja."
" Ya udah ya! Abang masih di jalan nih, Assalamualaikum."
" Waalaikusalam." Panggilan kedua kakak beradik itu pun berakhir, dengan perasaan cemas yang masih menyelimuti mereka.
.
.
.
.
Happy reading.💋💋
Jangan lupa like.👍👍
Dan vote seikhlasnya.🙏😗
Kita lanjut habis lebaran ya😗😗