Sevi Is Mine (Hate But Love)

Sevi Is Mine (Hate But Love)
Bab 25



Pagi harinya, seperti biasa sebelum ayam berkokok, Ketiga saudara itu, sudah bangun dan melakukan ritual pagi mereka seperti biasa.


Mulai dari mandi setelah itu sholat dan seterusnya. Didikkan sedari dini membuat mereka terbiasa dengan hal itu.


Kini ketiganya tengah duduk di ruangan makan, Nanda dan putra sudah rapi. Setelah Kemeja putih dan biru Dongker di padukan dengan celana Chino Zara, Berwarna Gray dan Cream yang di pilih untuk menyempurnakan penampilan keduanya, pagi ini.


Berbeda sekali dengan Sevi yang masih mengunakan setelan rumahnya. " Kamu tidak sekolah de?" Tanya Putra Sambil melirik jam tangannya di pergelangan tangannya.


" Kaki aku sakit Ka! Aku libur dulu ya. Kak, bang! boleh ya." Jawab Mira sedikit memohon.


" Nggak bisa de, Kamu harus sekolah." Putus Nanda.


" Tapi benar bang, kaki aku sakit! Aku juga nggak enak kalau harus merepotkan teman teman aku." Ucap Mira lagi. Ia berharap Kedua kakaknya luluh dan membiarkan ia tetap tinggal di rumah, sebab Mira, takut jika akan bertemu Arsen lagi.


" Tapi De."


" Abang kan, bisa minta tolong guru Ade untuk ngajar Ade di rumah. Masa Abang tega biarin Ade jadi beban buat orang lain." Nanda menyapu wajahnya dengan kedua tangannya, terlihat ia begitu gusar dengan permintaan adiknya itu. Begitu juga dengan Putra.


Kedua pria itu, menatap kearah Mira. " Please." Mohon Mira sambil mengangguk anggukkan kepalanya.


" Untuk hari ini saja." Ucap Putra.


" Nggak, Ade akan masuk sekolah lagi, kalau kaki Ade udah sembuh, kalau Abang sama kakak nggak setuju, Ade nggak papa tuh kalau berhenti sekolah." Ucap Mira memulai sarapannya.


Sementara itu, putra dan nanda, hanya saling memandang. ingin membantah Ucapan adiknya pun tak bisa karena Mira sudah memulai sarapannya. " Jangan bicara jika kalian sedang makan." Ucap sang mommy terlintas di benak mereka, sehingga mau tidak mau keduanya pun ikut menikmati sarapan mereka.


Begitu selesai sarapan, Mira langsung kembali ke kamarnya tanpa menunggu kedua kakaknya itu selesai sarapan.


Mira mengunci pintu dari dalam, ia mengambil ponsel dan earphone, kemudian memasang benda itu di telinganya Setelah ia menyetel musik dengan cukup kerasnya.


Sengaja Mira melakukan hal ini, agar di tidak di desak untuk Kesekolah. sementara itu di luar sana Nanda dan putra terus memanggil namanya. tetapi Mira tidak mendengar.


Nanda dan putra memutuskan untuk pergi kekantor dan akan menghubungi Devi nanti, untuk membicarakan hal ini.


Disisi lain.


Arsen baru saja membuka kedua matanya, ketika cahaya matahari, masuk melalui sela sela tirai jendela.


Dua puluh menit kemudian Arsen yang sudah siap dengan Setelan kerja. bergabung bersama kedua orang tuanya untuk sarapan.


Usai sarapan Anggara lebih dulu berangkat kekantor, sedangkan Arsen masih menemani mommynya di meja makan.


" Kapan mami mendengar scandal gadis itu tersebar." Tanya Meisya sambil menyesap kopinya.


" Kalau untuk itu, Arsen sudah menyiapkan semuanya mi. Kalau Arsen mau! Arsen bisa menyebarkan semua itu hari ini juga."


" Terus kamu tunggu apa lagi." Desak Mesya sedikit tidak sabaran.


" Jika dia hancur, tetepi keluarganya melindungi dia! Sama aja donk mi."


" Terus kamu maunya gimana dan kapan?" Tanya meysa lagi. entah terbuat dari apa hati wanita tua itu sampai dengan teganya ia mendukung anaknya untuk menghancurkan putri orang lain.


" Tunggu saja mi, nggak lama lagi! Arsen akan menghancurkan wanita itu bahkan Keluarganya pun tidak akan Sudi untuk menampungnya."


" Mami, tidak sabar menanti hari itu tiba! Dengan begitu tidak akan ada yang berani bermain main dengan keluarga Aldrich." Wanita paruh baya itu tersenyum smrik kearah putranya dan di balas hal serupa.


Tanpa Ibu dan anak itu sadari mereka telah salah memilih lawan untuk bermain, mungkin Mira tidak sehebat mommynya tetepi apa jadinya jika seorang Devina mengetahui hal ini. Bisakah Meysa menyelamatkan putranya nanti, hanya waktu yang bisa membuktikan hal itu.


.


.


.


.


Bersambung.


Happi reading..🖤🖤


Jangan lupa like dan komen.. 🖤🖤