
Yudha yang terpojok, terpaksa harus menandatangani perjanjian perceraiannya dengan Sevi. Sesuai permintaan ketiga lelaki itu.
" Kak, bagaimana jika mama marah mengetahui hal ini! Apa kakak yakin mereka akan percaya,aku taku_" Ujar Sevi dengan gelisah.
Putra menutupi berkas yang baru saja di tanda tangani oleh Randy kemudian menghampiri Sevi, mengusap kepalanya kemudian berkata dengan begitu tenang saking tenangnya membuat Sevi pun ikut tenang. " Entah nanti mami dan keluarga yang lain percaya atau tidak! Dengan adanya perceraian kalian mami atau siapapun tidak akan bisa memaksa kamu untuk kembali bersama bajingan ini lagi dan jika mami marah kita bisa menghadapinya bersama-sama. Ingat kata pepatah, sekejam-kejamnya seekor singa, ia tidak akan memangsa anaknya sendiri. Percaya sama kakak. Kalau kita tidak bertindak sekarang selama kamu akan berada di situasi ini. " Sevi dengan berat hati menganggukkan kepalanya." Sekarang kamu kembali ke kamar kamu, bereskan semua pakaian kamu dan kita akan kembali ke Jakarta siang ini untuk mengurus perceraian kalian berdua."
Langkah Sevi terasa berat, ia ingin menolak tapi tidak tahu caranya. Dengan sekuat tenaga ia memaksa dirinya berbalik kemudian masuk kedalam kamarnya tanpa mengatakan apapun.
Jika di tanya, apa dia tidak ingin bebas dari Pernikahan itu, tentu saja Sevi akan menjawab dengan lantang kalau dia ingin lepas dari Randy, tapi mengingat wajah kecewa maminya Sevi menjadi ragu sekaligus takut.
Begitu punggung Sevi telah menghilang dari pandangan mereka, Arsen memberi kode kepada. Yudha untuk membawa putri ke kamarnya dan Randy agar segera menyiapkan beberapa helai pakaian mereka. Karena dua orang itu juga harus ikut. Mereka tentunya tidak ingin rencana mereka dikacaukan oleh Randy dan wanitanya itu. Bahkan untuk menyiapkan rencana saja, baik putra,Arsen dan Yudha tidak akan memberi kesempatan untuk mereka berpikir akan hal itu.
" Cepat! lelet banget kaya siput, giliran di iya-iya aja semangatnya minta ampun dasar wanita murahan." Bentak Randy saat putri tak kunjung berdiri dari tempat duduknya.
Arsen mengusap pelipisnya, begitu mendengar ucapan blak-blakan sahabatnya, sementara putra hanya menunjukkan tatapan jijiknya kepada wanita itu. Mengingat suara teriakan plus desahannya semalam. ' Apa tidak apa-apa, mereka melakukan hal itu saat wanita itu sedang hamil! Peduli setan dengan mereka, mereka sudah menyiksa adikku dengan suara-suara menjijikkan itu." Kedua sisi dalam diri Putra turut menyuarakan pendapatnya.
Satu jam menunggu akhirnya, Sevi keluar dari kamarnya! Sambil menyeret satu koper besar dengan tas di atas koper itu dan tas jinjing di pundaknya. " Sudah siap?" Tanya Arsen hanya di jawab anggukan kepala, Lelaki itu kemudian menghampiri Sevi dan mengambil alih koper itu dari tangannya. " Kita berangkat sekarang."Lanjutnya ketika melihat Yudha kamar bersama putrinya dan menyeret kopernya. Koper itu tidak sebesar koper Sevi tapi putri terlihat kewalahan membawanya, sebab lengannya terus di tarik Yudha, bahkan pria itu tidak peduli kalau saat ini wanita itu tengah hamil. To mereka juga tidak memikirkan janin dalam perut mereka saat berteriak ria pada malam itu.
" Sebaiknya kamu berkerja sama dengan kita, jika masih ingin melihat wanita menjijikkan itu dan calon anak kalian." Seru Putra. Usianya mungkin jauh lebih mudah dari Randy tapi didikan keras Mami dan aba nya, membuat mereka tidak takut kepada siapapun dan selalu berhasil mengintimidasi lawan mereka hanya dengan menatap saja.
Hal itu juga sebenarnya berlaku kepada Sevi, tapi kejadian demi kejadian menyakitkan, yang terjadi dalam hidupnya berhasil mengubah sosok Sevi yang tangguh dan tidak takut apapun menjadi wanita pendiam dan tidak dapat di tebak, ia hanya akan bercerita jika dia menginginkannya.
Tidak dapat berbuat apa-apa, Randy terpaksa mengikuti mereka. ' Untuk saat ini kalian menang, tapi begitu ada kesempatan aku akan membuat kalian merasakan apa yang kalian perbuat kepadaku hari ini' Ucap Randy dalam hati, ia bahkan mengepalkan tangannya sampai kuku-kukunya tertancap pada permukaan kulit telapak tangannya.
\=\=\=\=\=\=\=\=
Setibanya mereka di Jakarta, Putra mengantar Sevi ke apartemennya, ia tidak mungkin membawa adiknya itu pulang ke rumah. Dan satu-satunya tempat yang aman buat Sevi adalah apartemennya.
Selesai membawa Sevi ke apartemennya dan membeli bahan makan serta keperluan adiknya selama tinggal di apartemen. Putra langsung meninggalkan Sevi dan kembali ke rumahnya ia tidak ingin mami dan ayahnya curiga apalagi Abang Nanda nya itu.
Sementara Yudha kebagian jatah mengurus putri sampai proses perceraian Sevi selesai. Bagaimana pun caranya Yudha harus menahan wanita itu dan memastikan dia tidak akan kabur. Untuk Randy sendiri, Arsen yang meminta untuk mengurusnya. Semua itu karena dia ingin memberi pelajaran kepada Randy. Atas apa yang telah dia perbuat kepada Sevi, sekali pun Sevi adalah istrinya tapi dia tidak berhak untuk menyakiti Sevi.
Setibanya di rumah, putra langsung di sambut dengan pertanyaan dari maminya. " Kak, kamu sudah pulang? Kenapa tidak mengabari mami? Bagaimana kabar Sevi? Kamu jadikan ke tempat adik kamu! Ketemu Randy nggak. "
Maminya terlalu banyak bertanya sehingga putra hanya bisa menjawab. " Iya." Membuat Devi bingung dengan jawaban putra keduanya itu.
" Iya kakak baru sampai, maaf ya mi kakak, tidak sempat mengabari mami. Ade Sevi juga baik-baik saja waktu kakak mengunjungi mereka. Sekarang kakak mau istirahat boleh kan mi, masih jet lag nih." Ucapnya dalam satu tarikan nafas, sekaligus menjawab semua pertanyaan maminya.
Melihat maminya hanya Diam dan seperti tidak akan bertanya lagi, putra langsung melangkah menaikkan anakan tangga menuju kamarnya yang berada di lantai dua. Untuk membersihkan dirinya, melakukan kewajibannya sebelum istirahat.
Disisi lain, Sevi yang di tinggal sendiri di apartemen itu, mulai membersihkan dirinya, berhubung di masih berhalangan dan tidak bisa melakukan kewajibannya. Ia pergi ke dapur mencari bahan makanan kemudian memasak sedikit sesuai porsinya. Setelah selesai, ia duduk di sofa menyalahkan Tv dan mulai menyantap masakannya.
Selesai makan, ia kembali ke dapur mencuci piring bekas makanya kemudian kembali ke kamar, bersiap-siap untuk istirahat. Tapi baru saja ia merebahkan kepalanya di bantal, ponsel yang baru saja di berikan putra berdering.
Sevi melihat layar ponselnya, Id penelpon tidak tersimpan, hanya beberapa angka yang tertera di layar ponselnya. Awalnya Sevi ragu untuk menjawab panggilan itu, sehingga panggilan itu berakhir tanpa sempat ia menjawab, tak sampai satu menit ponselnya kembali berdering dengan id yang sama.
" Assalamualaikum." Jawab setelah menggeser ikon berwarna hijau.
" Waalaikumusalam. Maaf ganggu! Aku cuma mau kasih tau! Ini nomor aku! Jangan lupa di save ya." Sevi menarik ponselnya sedikit menjauh kemudian melihat id yang tertera di layar ponselnya.
" Om Arsen." Tanya Sevi memastikan.
" Ya, tadi putra sudah memberitahu aku nomor kamu! Ya sudah kamu istirahat ya, pasti masih jet lag kan." Sevi Mengangguk walaupun Arsen tidak dapat melihat hal itu. " Aku akan menghubungi kamu kembali nanti. Assalamualaikum." Panggilan itu berakhir sementara Sevi hanya menjawab salam Arsen di dalam hati. Ia terlalu canggung untuk mengobrol bersama Arsen. Sehingga Sevi hanya diam dan menjawab seadanya.
Sevi meletakkan ponselnya ke tempat semula kemudian melanjutkan Niatnya untuk beristirahat. Tidak butuh waktu lama kedua matanya pun terpejam dan masuk ke alam mimpi.
.......
.......
.......
.......
...Bersambung....
...Happy reading..🖤🖤...