
Setelah Kejadian Hari itu, Sevi sedikit jera, ia tidak lagi melakukan sesuatu atau meminta sesuatu yang membuat Arsen maupun orang tuanya khawatir Hingga saat ini, dimana usia kandungannya telah memasuki bulan kesembilan dan tengah menunggu kelahiran buah hatinya bersama Arsen.
Dengan keadaan perut yang semakin besar, Sevi mulai kesulitan melakukan segala sesuatu seorang diri sehingga mommy dan mami mertuanya, memutuskan untuk meninggalkan kehidupan sosialita dan pekerjaan mereka sejenak untuk mengurus anak mereka yang akan memberikan mereka berdua, dua orang cucu sekaligus itu. Dengan menemani berjalan-jalan atau di rumah seperti yang dilakukan Meisya sekarang ini.
" Mi, melahirkan itu sakit banget ya?" Tanya Sevi kepada mertuanya. Wanita itu kini sedang bersantai di ruang keluarga bersama Meisya sembari menikmati puding yang baru saja di suguhkan oleh Art.
" Sakit, tapi cuma sebentar kok! Nanti kalau kamu udah liat anak-anak kamu! Rasa sakitnya langsung hilang berganti perasaan senang." Jelas Meisya.
" Tapi aku sedikit cemas mi, gimana kalau aku nggak bisa melahirkan dengan lancar."
" Huusstth nggak boleh ngomong gitu dan jangan berpikir yang aneh-aneh. Percaya sama mami semua akan lancar pada waktunya, mami yakin kamu bisa." Tegur Meisya sembari meyakinkan menantunya. " Semua wanita hamil, yang berada di fase seperti kamu ini juga merasakan hal yang sama. Khawatir dan kadang-kadang suka berpikir yang tidak-tidak tapi buktinya mereka bisa-kan dan mami yakin anak mami juga bisa. " Lanjut Meisya lagi.
Sementara Sevi, mengangguk-anggukkan kepalanya dengan lemah, sebab ia masih tidak yakin untuk ini. " Tapi kenapa Aku belum merasakan apa-apa ya mi! Padahal perkiraan hari lahirnya udah lewat sehari loh mi."
" Terus waktu check up kemarin, dokter nya ngomong apa?" Tanya Meisya.
" Katanya sih! Kandungan aku baik-baik aja Mi! dokter juga nyaranin aku untuk lebih banyak bergerak dan menunggu seminggu lagi, kalau dalam waktu seminggu aku masih belum mendapatkan tanda-tanda dan merasakan kontraksi, dokter menyarankan untuk Melakukan Tindakan operasi. "
" Ya udah kamu operasi aja, kalau memang itu yang terbaik."
" Tapi. Sevi pengennya lahiran normal, Mi."Sahut Sevi .
" Normal atau sesar sama aja sayang! yang terpenting, Kalian sehat dan prosesnya juga lancar." Ujar Meisya. "Ingat ya sayang, jangan cuma karena keinginan kamu, kamu abaikan keselamatan kamu dan anak-anak kamu." Sambungnya lagi.
" Iya mami."
Tidak lama berselang, Arsen pulang dengan membawa beberapa paper bag di tangannya, hal ini bukan sekali dua kali. Tapi hampir setiap hari semenjak usia kandungan Sevi, memasuki bulan ke tujuh.
" Ars, apa lagi kali ini?" Tanya Meisya kepada putranya itu. Sembari melihat papar bag di tangan Arsen.
Arsen menggaruk belakang kepalanya yang tidak gatal kemudian menjawab. " Ini lucu mami, aku udah bayangi mereka akan semakin mengemas saat menggunakannya nanti." Yang di tanya apa, yang Arsen jawab apa.
" Mami tanya itu apa? Bukan lucu atau tidak." Kesal Meisya, pasalnya semua keperluan cucu-cucunya telah Ia dan Devi siapa kan, tapi putranya itu selalu menambah satu set pakai lengkap dengan asesorisnya setiap hari mau untuk yang laki-laki ataupun perempuan. Sementara menantunya tidak seheboh putranya itu. Bahkan lemari pakaian dan Aksesoris calon cucunya itu sudah penuh dan belum tentu mereka bisa mengunakan semua itu.
" Maaf mi, aku membeli satu set pakai untuk mereka lagi. Masing-masing satu. " Meisya tidak dapat berkata-kata, hanya bisa mengeleng kepalanya karena dugaannya tidak meleset sama sekali. mengingat tingkah anaknya akhir-akhir ini.
Sementara Sevi hanya tersenyum mendengar perdebatan mertua dan suaminya. Sevi sendiri, bahkan sudah melarang Arsen, tapi mau bagaimana lagi, suaminya itu terlalu bersemangat menyambut kehadiran anak-anak mereka.
...\=\=\=\=\=\=\=...
Empat hari telah berlalu, Sevi juga belum merasakan kontraksi! Membuat dia semakin cemas menunggu kelahiran anaknya.
" Om, Aku mau operasi aja." Ucap Sevi sembari mengusap perutnya.
Arsen yang sedang fokus dengan tablet di tangannya langsung menatap ke arah Sevi. " Loh kenapa sayang? Katanya mau lahiran normal!"
Arsen beranjak dari duduknya, kemudian berjongkok di hadapan Sevi. " Sabar sayang, mungkin mereka masih Beta di dalam sini." Ucap Arsen sembari ikut mengusap perut Sevi dan sesekali mengecupnya. " Kan kata dokter mereka sehat. Kita tunggu saja ya." Bujuk Arsen. Tapi Sevi mengeleng kepalanya.
" Nggak om, aku mau operasi aja." Putus Sevi.
" Baiklah sayang, kalau itu sudah menjadi keputusan kamu! aku akan menghubungi dokter kamu, untuk membicarakan hal ini. Tapi_" Arsen sengaja menggantung ucapannya, membuat Sevi mengerutkan alisnya. " Izinkan aku untuk mengunjungi mereka. Kamu tahu kan setelah ini aku harus berpuasa." Rayunya, membuat Sevi memutar kedua bola matanya malas dengan permintaan Arsen. Namun ia
tetap meladeni permintaan suaminya.
Dan malam itu keduanya kembali menyatukan tubuh satu sama lain dalam posisi yang nyaman untuk Sevi.
...\=\=\=\=\=\=\=\=\=...
Keesokan harinya. Setelah menghubungi dokter kandungan Sevi dan mendapatkan persetujuan dari sang dokter. Arsen langsung mengantar Sevi ke rumah sakit untuk menjalani pemeriksaan sebelum melakukan operasi malam harinya. Arsen pun telah membicarakan hal ini dengan Meisya dan Devi, kedua wanita paruh baya itu pun setuju. Karena sesungguhnya mereka juga cemas menunggu kelahiran cucu mereka.
" Kamu sudah siap?" Tanya Devi yang baru saja datang. Mereka kini sudah berada di rumah Sakit dan Arsen meminta pihak rumah sakit untuk menyediakan ruang VVIP untuk istrinya. " Kamu harus tenang dan percaya semua akan baik-baik saja dan jangan lupa berdoa ya! Kita disini juga akan mendoakan yang terbaik untuk kalian." Ucap Devi lagi sambil memeluk dan mencium wajah putrinya.
" Iya mommy! Maafkan Sevi ya mommy." Ucap Sevi di angguki Devi.
Bukan hanya Devi saja! Bahkan Arsen Meisya, dan semua anggota keluarganya ia hubungi untuk minta maaf.
" Berhentilah meminta maaf sayang! Kamu membuat aku takut." Tegur Arsen. " Sebaiknya kamu istirahat dulu, karena sebentar lagi dokter akan datang untuk memeriksa kondisi kamu."
" Iya sayang istirahatlah." Meisya pun turut menimpali ucapan Arsen.
Didalam ruangan VVIP itu, Sevi di temani Arsen, Meisya dan Devi. Sementara anggota keluarganya yang lain masih berada dalam perjalanan begitu juga kedua sahabatnya yang telah ia kabari.
Tak lama berselang dokter datang bersama dua orang perawat yang akan membantunya. Memasangkan infus, mengambil darah dan beberapa hal lainnya untuk prosedur operasi.
Setelah semuanya selesai dan jadwal operasi yang telah di tetapkan tiba, Sevi pun di dorong mengunakan kursi roda menuju ruang operasi dan semala itu Arsen tidak pernah melepaskan genggaman tangan Sevi. Pria itu mungkin terlihat begitu tenang tapi jauh dalam lubuk hatinya ia begitu takut dan cemas.
.......
.......
.......
.......
...Bersambung....
...Happy reading..🖤🖤...