
" Om langsung pergi aja, nggak usah mampir. Om juga nggak boleh hubungi aku, nggak boleh datang kesini, kecuali aku yang dulu hubungi om atau aku yang minta om buat datang, ingat aku masih marah loh sama om! Ya anggap aja ini hukuman karena om nggak mau turutin maunya aku dan calon anak kita " Kata-kata itu terus terngiang-ngiang di kepala Arsen, sebab sudah tiga hari Sevi berada di rumah orang tuanya dan dia melarang Arsen untuk menemuinya.
Awalnya Arsen keberatan, tapi
Sang istri kecilnya itu selalu berhasil membuat ia mengalah dan menuruti kata-katanya. Arsen pun sudah mencoba menghubungi dan mengirim pesan kepada Sevi, tapi Sevi sengaja tidak menjawab panggilannya atau membalas pesannya.
Membuat Arsen frustasi dan uring-uringan tidak jelas di rumahnya. Arsen ingin beristirahat sehabis berkerja tapi matanya sulit untuk terpejam karena terus memikirkan istrinya. Arsen pun turun dari ranjang berjalan keluar, menuruni anak tangga dengan lunglai, hingga langkahnya berhenti di ruang keluarga, ia mengambil remote tv, menyalakan televisi di ruangan itu, setelah itu Arsen duduk di sofa kemudian mengganti-ganti Channel TV. Tetapi tak ada satupun yang menarik untuk ia tonton.
Arsen meletakkan remote tv begitu saja di atas meja, kemudian ia berdiri dari duduknya, berjalan ke arah dapur untuk mengambil minum." Kenapa belum tidur?" Tanya mami, Meisya saat mendapati, Arsen berjalan dari arah dapur sambil membawa minuman bersoda di tangannya.
" Ars, belum ngantuk mi! Mami sendiri kenapa belum tidur." Jawab Arsen sekaligus Balik bertanya kepada mamanya.
" Air di kamar mami habis." Akunya sembari menunjukkan gelas kosong yang ia pegang kepada Arsen. " Habiskan minum kamu, setelah itu tidurlah! Jangan begadang. Baru tiga hari di tinggal aja udah suntuk banget. Padahal dulu nggak gitu." Sindir sang mami kemudian berjalan melewati Arsen.
" Apaan sih mi?" Arsen menengok kebelakang. Sementara maminya terus berlalu dan tak menghiraukan perasaan anaknya.
" Ingat, jangan begadang! Mami mau tidur dulu, bye sayang! Doakan saja semoga Sevi betah di rumah mommy-nya." Baru saja Arsen mendaratkan bokongnya di sofa, Meisya sudah ke dari dapur dan mengejeknya.
" Mi." Tegur Arsen lagi. Dan sekali lagi Meisya tidak menghiraukan perasaan anaknya. Hal itu membuat perasaan Arsen Semakin tidak menentu. Dia kembali beranjak dari tempat duduknya dan melangkah kembali kedalam kamar, kemudian menyibukkan diri dengan pekerjaannya.
Tapi bayangan istri tercinta terus saja berputar-putar di kepalanya, membuat dirinya tidak dapat berkonsentrasi. " Aku tidak bisa seperti ini aku harus ke rumah mommy sekarang." Ucap Arsen menyakinkan dirinya sendiri.
Tanpa menganti pakai tidurnya, Arsen langsung meraih kunci mobil dan ponselnya, kemudian melangkah keluar kamar dengan tergesa-gesa, saking tidak sabarnya ingin bertemu Sevi.
Arsen masuk ke dalam mobil dan bersiap-siap ke rumah mertuanya, tapi baru saja ia menyalakan mesin mobil, ponselnya tiba-tiba berdering.
Bibir Arsen melengkung saat melihat nama orang yang sejak tadi mengusik pikirannya, tertera di layar ponselnya.
" Honey." Ucap Arsen, begitu panggilan itu terhubung.
" Om, salam dulu." Tegur Sevi dari seberang sana.
" Iya honey, maaf! Assalamualaikum."
" Waalaikumusalam, lain kali jangan di ulang lagi." Ujar Sevi memperingati dan langsung di angguki Arsen, walaupun istrinya di seberang telepon itu tidak dapat melihatnya. " Om dimana?" Tanya Sevi.
" Di rumah Honey, ada apa?" Jawab Arsen seadanya. " Kamu butuh sesuatu?"
" Nggak." Dari cara menjawab pertanyaan Arsen dan volume suaranya, Arsen dapat menebak jika suasana hati Istrinya saat ini sedang tidak baik dan benar saja belum sempat Arsen bertanya Sevi Sudah menuduhnya yang tidak-tidak. " Om senang kan aku nggak ada di situ? akhirnya om bisa tidur tenang tanpa ada yang menganggu waktu tidur om, sementara aku di sini tersiksa nggak bisa tidur, enak banget ya! Padahal om udah janji mau nyenengin aku tapi semuanya bohong, aku di tinggalin di rumah mommy begitu saja, setelah hamil-in aku." Arsen memijit pelipisnya, mendengar setiap kata-kata yang di ucapkan Sevi.
Kenapa sekarang jadi dia yang salah, bukankah Sevi sendiri yang ingin menginap di rumah mommy-nya, dia juga yang meminta kepada Arsen untuk tidak datang dan tidak menghubunginya, bahkan panggilan dan pesannya pun di abaikan oleh Sevi. Tapi kenapa semuanya menjadi kesalahannya sekarang.
" Kenapa diam saja, om udah malas dengerin aku. Udah bosan iya?" Ucap Sevi lagi, saat dia tidak mendengar kata-kata yang keluar dari mulut Arsen.
" Nggak honey. Aku minta maaf ya! Aku salah, sekarang katakan kamu mau apa?" Tanya Arsen dengan begitu lembutnya, karena dia tidak ingin istri kecilnya itu stress, jadi sebagai suami yang sayang kepada istrinya, sudah sepatutnya ia mengalah walaupun bukan dia yang salah.
" Aku lapar om pengen makan?" Rengekannya.
Arsen menghembuskan nafasnya dengan kasar. " Kamu mau makan apa?" Tanya Arsen tapi dalam hatinya ia begitu cemas menunggu jawaban istrinya.
" Aku pengen makan di pesta pernikahan yang ada orkes dangdutnya, sekarang." Telinga Arsen berdenging seketika.
" Honey."
" Aku nggak mau dengar. Aku mau om jemput aku sekarang! Om nggak mau kan di bilang pria yang cuma tau menghamili anak orang tapi nggak mau bertanggung jawab."
" Honey, setelah aku pikir-pikir. sebaiknya kita tidak menambah anak lagi."
" Kenapa? Om nggak suka punya anak dari aku. Om nggak suka aku reporting iya! Cuma karena aku minta makan aja, aku ini istri om, sudah sepatutnya om bertanggung jawab atas apa yang aku inginkan." Ucap Sevi semakin melantur.
" Iya aku tahu honey. Sekarang aku ke sana ya." Ucap Arsen di iyakan Sevi. Dan saat Arsen ingin mengakhiri panggilan itu, agar dia dapat fokus berkendara tetapi Sevi melarangnya.
Sehingga Arsen mengemudi mobilnya sambil mendengarkan onceha istrinya yang tidak mengenal kata lelah itu.
Suasana jalan yang sepi membuat Arsen tiba di rumah mertuanya kurang dari dua puluh menit, ia pun langsung mengakhiri panggilan dari Sevi.
Seorang pelayan membukakan pintu untuk Arsen begitu ia menekankan bel rumah itu. Arsen pun tidak lupa mengucapkan terima kasih, setelah di beritahu letak kamar Sevi, ia pun bergegas menemui Sevi di kamarnya.
Saat membukakan pintu kamar Sevi, Arsen dapat melihat dengan jelas, Sevi sedang duduk di atas ranjang sambil menyilang-kan kedua kakinya.
Melihat kedatangan Arsen, Sevi langsung bergegas turun dari ranjang dan menghampiri Arsen." Ayo kita pergi sekarang." Ajaknya sambil menarik tangan Arsen, tetapi Arsen tidak berpindah sedikitpun dari tempatnya. " Om." Kedua matanya mulai berkaca-kaca.
" Besok aja, sekarang sebaiknya kamu tidur, sudah jam berapa ini." Tanpa menunggu respon dari Sevi, Arsen langsung menarik tangannya, mengangkat tubuh Sevi ala bridal style dan membawanya kembali ke atas ranjang kemudian menyelimutinya. " Tidur, aku temani." Arsen berbaring di samping Sevi dan memeluknya hingga istrinya itu tenang dan perlahan ia pun tertidur.
Setelah yakin Sevi telah tidur, Arsen langsung menghubungi Yudha untuk mencari pesta pernikahan besok yang ada orkes dangdutnya.
Dan keesokan harinya, Arsen pun mewujudkan keinginan sang istri, ia bahkan menemani Sevi ke acara tersebut. Setelah dari acara itu,, Arsen mengajak Sevi untuk check up ke dokter.
.......
.......
.......
.......
...Bersambung....
...Happy reading..🖤🖤...
...Maaf ya, aku baru update! kemarin pengen update tapi setiap kali mau ngetik. kepalaku langsung sakit....
...Jadi baru bisanya sekarang, setelah agak mendingan....
...untuk novel baru aku yang sering updatenya, itu karena ada tabungan bab-nya....
...Terima kasih untuk kalian yang sudah setia menunggu.🙏🙏...
^^^ ^^^