Sevi Is Mine (Hate But Love)

Sevi Is Mine (Hate But Love)
Istri orang.



" Mami, Mami tunggu!" Panggil papi Anggara sembari mengikuti langkah Meisya.


" Apaan lagi Pi, mami udah bilang mami nggak papa! Apa mami harus kehilangan hak untuk tersenyum juga." Ujar Meisya, nada bicaranya masih terdengar ketus tapi tidak begitu di hiraukan oleh Anggara. Pria paruh menarik pergelangan tangan Meisya, sehingga istrinya itu mau tidak mau harus menghentikan langkahnya dan berbalik menatap Anggara. " Apa sih Pi." Ucapnya lagi sambil menarik tangan dan melipatnya di dada.


" Lupakan soal yang tadi, karena ada yang harus kita bicarakan." Ujar Anggara tidak begitu menghiraukan tatapan tidak suka dari istrinya.


" Soal apa?" Tanya Meisya.


Anggara tidak langsung menjawab pertanyaan Meisya, ia justru menarik pergelangan tangan Meisya membawanya duduk di sofa yang ada di kamar mereka sebelum memulai pembicaraan mereka." Ini soal anak dan menantu kita?" Meisya memutar kedua bola matanya malas saat mendengar kata-kata Anggara.


" Emangnya mereka kenapa?" Tanya Meisya, wanita itu begitu pandai bersikap tidak peduli padahal dia tahu, Anggara ingin membicarakan Sevi yang terus di ajak ke kantor oleh Arsen, jika Sevi lelah dan tidak ingin kemana-mana maka Arsen akan menemaninya di rumah dan semua pekerjaannya akan di bawah ke rumah, tentu saja dengan meminta bantuan Yudha untuk membawanya.


" Apa mami tidak bisa bersikap baik kepada Sevi. Mami tidak kasihan sama dia, yang harus di bawa ke kantor terus. Mi dia pasti ingin seperti wanita lain." Dan kata-kata Anggara sesuai dengan dugaan Meisya, Anggara ingin Meisya bersikap baik kepada Sevi, sehingga ia bisa menjalani hari-harinya seperti wanita dan istri pada umumnya. Tapi Devi belum ingin mengakhiri semuanya sehingga suka tidak suka, Meisya pun harus mengeraskan hatinya dan tetap mengikuti alurnya saja.


" Mami nggak pernah nyuruh Arsen ajak dia ke kantor dan nggak pernah juga mami larang dia tinggal di rumah ini, Arsen nya saja yang mau ngajak dia pergi, jika ada yang harus di tegur, Arsenlah orangnya bukan mami." Tegas Meisya.


" Tapi Arsen melakukan semua itu karena sikap mami, andai saja mami mau bersikap lebih baik kepada Sevi sem_"


" Sudahlah Pi, mami nggak mau dengar! dan jangan terlalu berlebihan deh." Potong Meisya, sebelum Anggara menyelesaikan kata-katanya.


" Apanya yang berlebihan, justru sikap mami itu yang berlebihan sehingga membuatnya nggak betah di rumah ini mi, mami sadar nggak sih." Anggara mulai kehilangan kesabarannya menghadapi sikap Meisya.


" Nggak tuh, mami rasa sikap mami biasa aja deh." Sahut Meisya tanpa dosa. " Sekarang mending papa siap-siap terus berangkat kerja, mami akan menyiapkan sarapan untuk kita." Tanpa menunggu sahutan dari Anggara, Meisya segera keluar dari kamarnya, wanita itu sengaja menghindari perdebatan dengan sang suami, jika dia tetap berada di sana.


Saat Meisya melangkah keluar dari kamarnya, tiba-tiba ponsel yang ada dalam genggaman tangannya berdering. Begitu melihat id penelepon, Meisya langsung bernafas lega dan segera mencari tempat yang aman untuk menerima panggilan itu.


" Hallo, assalamualaikum." Ucap Meisya setelah menggeser icon berwarna hijau dan memastikan tidak ada orang yang berada di sekitarnya.


" Waalaikumusalam, mbak jangan lupa untuk mengingatkan mereka! Serta kita berdua Punya janji bertemu desainer hari ini." Sahut si penelepon dari ujung sana.


" Kamu tenang saja! Karena mbak akan mengingatkan mereka hari ini juga dan soalnya janji temu kita, mbak nggak lupa kok."


" Syukurlah kalau begitu. Nanti aku hubungi lagi ya, mbak."


" Oke. Sampai juga nanti. Assalamualaikum." Panggilan itu pun berakhir setelah terdengar jawaban waalaikumusalam dari seberang sana.


\=\=\=\=\=\=\=\=\=


Saat waktu sarapan tiba! Seperti biasa Sevi menikmati sarapan tanpa mengeluarkan sepatah katapun. Sementara ketiga orang yang ada di samping dan di depannya terus berbicara sambil menikmati sarapan mereka entah itu tentang bisnis, aktivitas masing-masing saat berjauhan atau tentang pernikahan Arsen dan Sevi seperti sekarang ini. Siapa lagi mereka, kalau bukan Anggara, Meisya dan Arsen.


" Kenapa kamu diam saja! Kami sedang membicarakan pernikahan kalian yang entah harus di bawa kemana. Dan tidak bisa kah kamu memberikan tanggapan sedikit." Ucap Meisya sambil menatap tak suka kepada Sevi.


" Semua makanan itu tidak akan kami habiskan, kamu tidak perlu takut sampai harus terburu-buru seperti itu." Sinis Meisya. Membuat senyum Sevi menghilang, baru saja ia tersenyum dan tersentuh dengan sikap Arsen, sang mertua sudah merusak suasana hatinya.


" Mi, cukup! Kita bisa melanjutkan pembicaraan ini setelah selesai Sarapan." Tegur Anggara tapi tidak di hiraukan oleh Meisya.


Wanita paruh baya itu justru menjawab." Mau, sampai kapan Pi! Mereka menikah secara tertutup! Sementara pernikahan dia sebelumnya di gelar dengan begitu meriah banyak pengusaha dan orang-orang yang terkenal di undang untuk menghadiri acara pernikahannya. Orang-orang yang tidak tahu pasti akan menganggap Arsen membawa kabur istri orang! Sementara keluarganya membuangnya kepada kita tanpa kejelasan di depan publik. Apa hanya nama baik keluarga mereka saja yang penting! Apa rumah kita ini tempat penampungan anak bermasalah." Kata-katanya begitu tajam dan berhasil mengoyakkan ketegaran Sevi. Tanpa permisi cairan bening mulai menyusuri kedua pipinya, sarapan yang tadinya nikmat berubah tawar seketika. Tapi Sevi masih berusaha untuk tersenyum dan baik-baik saja.


" Mami " Bentak Arsen begitu melihat air mata Sevi. " Jika mami tidak suka dengan kehadiran Sevi di rumah ini! Saat ini juga Arsen akan membawanya pergi! Mami tidak perlu khawatir karena kita tidak akan menginjakkan kaki di rumah ini lagi." Teriak Arsen, kemudian menarik pergelangan tangan Sevi untuk pergi. Tapi Sevi menepisnya.


" Aku nggak mau! Om kenapa ngomong seperti itu ke mami! Mami hanya khawatir kepada om, tidak sepatutnya om membentaknya seperti itu." Sahut Sevi sembari terus menepis tangan Arsen, ketika Pria itu mencoba meraih pergelangan tangannya lagi.


" Maaf." Hanya kata itu yang dapat di ucapkan Arsen kepada Sevi. Sungguh ia begitu merindukan gadis yang selalu menolaknya dan berkata-kata pedas kepadanya ketimbang gadis yang patut seperti Sevi yang sekarang. Dan Arsen sadar semua perubahan itu berawal dari dia.


Sevi menghampiri Meisya dan bertanya." Mami, Katakan apa yang mami inginkan." Seandainya Meisya ingin dia meninggalkan Arsen. Sevi akan melakukan hal itu, karena Sevi tidak ingin Arsen di usir oleh orang tuanya sama seperti dirinya.


" Hubungi orang tua kamu! Minta mereka untuk melakukan resepsi pernikahan dan mengumumkan Pernikahan kalian di depan publik."


" Tapi_"


" Kenapa! Apa kamu juga senang kalau ada yang mempermalukan anak saya." Ucap Meisya lagi, Sevi dengan cepat menggeleng kepalanya.


" Bukan seperti itu mami, tapi mami tau sendiri seperti apa hubungan aku dan keluargaku." Sevi mencoba meminta pengertian dari Meisya. Tapi wanita itu tetap pada pendiriannya dan justru berkata.


" Saya tidak peduli. Yang saya inginkan nama baik anak dan keluarga saya tetap terjaga." Tegas Meisya kemudian berlalu dari ruangan makan tanpa menunggu tanggapan Sevi.


Sementara Arsen dan papinya masih terdiam, mendengar permintaan Meisya untuk melakukan resepsi pernikahan. Tapi di balik permintaan itu, mereka tidak tahu kalau Devi dan Meisya telah menyiapkan semuanya bahkan siang nanti keduanya akan memantau proses pembuatan gaun pengantin untuk Sevi. Dan persiapan resepsi pernikahan itu sudah tujuh puluh persen.


.......


.......


.......


.......


...Bersambung....


...Happy reading..🖤🖤...