
Esoknya Sevi tetap menjalani hari harinya seperti biasa, sebab pertunangannya dengan Randy tidak merubah apa pun, termasuk perasaannya, sekali pun ia pernah tumbuh bersama mereka.
" Selamat pagi." Sevi menyapa anggota keluarga yang telah lebih dulu, berada di ruang makan. Disana Ada Mommy Devi, Ayah Aksel, Nanda, putra, Anaknya tante fhiza, dan Anwar. Keluarga yang lain sudah kembali ke rumah mereka masing-masing setelah makan Malam itu berakhir.
" Pagi juga Sayang."
" Pagi." Jawab Mereka dengan kompaknya.
" Mau sarapan apa?" Tanya Devi, begitu Sevi duduk pada tempat duduknya.
" Nasi goreng aja Mom." Kebiasaan Sevi saat Hamil waktu itu, masih tertinggal Sampai sekarang dan semua anggota keluarganya mulai terbiasa dengan hal ini. Sevi yang dulunya, tidak terlalu menyukai nasi tidak ada lagi. Sebab Sevi yang sekarang tidak akan merasa kenyang jika tidak makan nasi.
" Sedikit saja! Takutnya gaun kamu tidak akan muat. Ingat pernikahan kamu tinggal sebulan, ingat jangan melakukan sesuatu yang akan membuat keluarga kita malu untuk kedua kalinya." Ucap Devi, langsung di iyakan Sevi dengan mengangguk kan kepalanya.
Semua orang mulai menikmati makanan mereka dalam diam, hanya suara dentingan sendok bertemu piring yang terdengar.
Begitu Selesai sarapan, Sevi dan sepupunya membantu, Devi merapikan meja makan dan mencuci piring bekas sarapan mereka.
" Habis ini kamu temui, papa ano! Ada yang harus kamu lakukan, dan lakukan seperti yang di ajarkan papa ano jangan sampai salah." Sebenarnya Devi tidak tega bersikap seperti ini kepada Sevi. Ia Sengaja melakukan ini semua agar Sevi tidak memberontak.
Dia bukanlah ibu yang tidak peka terhadap perasaan anaknya, hanya saja Sevi telah salah memilih orang untuk ia menempatkan hatinya.
" Iya mom." Ucap Sevi. Ia pun melanjutkan kerjaannya. Begitu selesai, Sevi langsung menghampiri Anwar, sesuai yang di minta mommy nya. " Ada apa Pa." Tanya Sevi, sembari duduk di sofa yang ada di hadapan Anwar.
Anwar menatap lekat, wajah putri dari adiknya." Kamu masih ingat alamat lelaki itu." Tanya Anwar, ia begitu enggan mengucapkan Nama Arsen.
" Siapa Pa?" Sevi balik bertanya. Bukan tanpa sebab ia bertanya, karena Sevi benar benar tidak tahu dia siapa yang di maksud Anwar.
" Pacar kamu." Anwar masih saja berbelit belit.
" Pacar! Sevi nggak punya pacar pa."
" Lelaki yang telah menghamili kamu waktu itu."
" Maksud Papa, om Arsen."
" Hmm! Tahukan tempat tinggalnya." Sevi mengangguk. " Kamu pergi ke tempatnya dan pastikan dia minum obat ini, lakukan dengan rapi, jangan meninggalkan jejak. " Anwar menyodorkan botol berukuran kecil yang berisi cairan sebening air itu.
" Ini obat apa Pa. " Kamu tidak perlu tahu, ini obat apa! Cukup lakukan seperti yang papa bilang. Satu lagi obat ini tidak akan membunuhnya." Jelas Anwar, membuat Sevi tidak bisa berkata kata, dengan berat hati ia harus melakukan apa yang di perintahkan orang tuanya walaupun hati kecilnya menolak hal itu.
...🖤🖤🖤🖤🖤...
Obat yang di minum Arsen pada hari pertunangan Sevi, bereaksi begitu cepat, dalam sehari Arsen mulai merasa pusing dan objek yang ia lihat menjadi dua. Jika Arsen terus mengkonsumsi obat itu, ia akan mengalami depresi berat dikarenakan terus berhalusinasi paling buruknya mungkin dia akan menjadi pasien tetap di rumah sakit Tempat Anwar bekerja.
Dan gejala dari obat itu mulai bekerja dengan semestinya. Bahkan Sejak bangun tidur, Arsen terus terbayang bayang Jeritan serta tangisan gadis kecilnya, membuat kepalanya semakin terasa sakit.
Bel Apartemennya, berbunyi dengan begitu nyaringnya, Arsen Berpegang pada dinding dan benda apa saja bisa ia pegang untuk menopang tubuhnya serta menahan rasa sakit di kepalanya. Ia berjalan untuk membukakan pintu apartemen untuk tamunya.
Saat pintu itu terbuka, Arsen di sambut Senyum menawan dari wanita, yang terus mengusik pikirannya, sejak kemarin. " Assalamualaikum. Apa kabar Om." Sevi tersenyum begitu manis, senyumnya bagaikan obat penyembuh. Bagaimana tidak, Arsen sampai melupakan rasa sakitnya saat ini.
" Ini, benar an kamu kan." Tanya Arsen, ia menggenggam kedua tangan Sevi sembari menampar pipinya menggunakan tangan Sevi, untuk memastikan, bahwa wanita itu kini tengah berdiri tepat di hadapannya.
" Iya, ini aku Sevi, boleh Sevi masuk." Bukannya memberi jalan untuk, Sevi masuk kedalam apartemennya. Arsen malah memeluk, Sevi.
" Tolong Maafkan kebodohan aku yang telah, menyakiti kamu! Aku sudah dengar semuanya dari Papi, kamu tidak salah, aku dan Faiz yang salah." Ucap Arsen. Ia mulai berlutut di hadapan Sevi, Sembari membawa kedua tangan Sevi pada pipinya. " Aku bodoh, kamu tidak pantas untuk memaafkan aku. " Ucapnya lagi sambil menampar pipinya sendiri menggunakan tangan Sevi.
" Om jangan Seperti ini,. Sevi udah maafin Om kok." Sevi yang tidak nyaman dengan posisi, mereka saat ini, memaksa Arsen untuk berdiri dan membawanya masuk kedalam apartemen lelaki itu.
" Om, sudah sarapan?" Tanya Sevi. Setelah keduanya berada dalam apartemen dan Arsen mulai tenang.
" Belum. " Jawab nya sambil menggeleng kepala.
" Sevi buat Om sarapan ya?" Tawar Sevi. Kali ini Arsen menjawab dengan mengangguk kepala.
Setelah mendapat persetujuan dari Arsen, Sevi segera ke dapur untuk membuat lelaki itu sarapan, Dan Sandwich adalah menu yang di pilih Sevi untuk lelaki itu, sesuai dengan bahan bahan yang tersedia di kulkas.
Tidak butuh waktu lama, Sandwich dan jus mangga yang telah di campur obat yang di berikan Anwar telah tersedia di hadapan Arsen, tanpa merasa curiga sedikit pun, Arsen menyantap sandwich dan meminum jus itu tanpa tersisa sedikit pun. " Kepalaku pusing." Ucap Arsen, saat rasa pusing itu semakin bertambah.
Sevi yang Mulai di selimut perasaan bersalah! Membantu memapahnya ke dalam kamar dan membantu lelaki itu, beristirahat di dalam sana, Setelah itu ia keluar, merapikan semua seperti sebelumnya, seolah olah Sevi tidak pernah datang ke apartemen lelaki itu.
Untuk menutupi jejak Sevi, Nanda sudah Mereset Cctv yang ada di gedung Apartemen Arsen.
.......
.......
.......
.......
...Bersambung....
...Happy Reading.. 🖤🖤...