Sevi Is Mine (Hate But Love)

Sevi Is Mine (Hate But Love)
Bab 34



Tidak tahan dengan keadaannya saat ini, Arsen berkerja siang dalam malam untuk menyelesaikan pekerjaannya yang telah menumpuk selama ia tinggalkan.


" Aku harus selesaikan semuanya dan memastikan wanita itu masih hidup atau sudah mati." Geram Arsen saat bayang bayangan Sevi terus menghantuinya.


Membuat ia tidak bisa menyalurkan kebutuhan biologisnya seperti dulu, sebelum ia mengenal serta menghancurkan wanita yang bernama Mira itu.


Tidak butuh waktu lama, begitu semua pekerjaannya selesai dan ia menyerahkan pekerjaan yang bisa di Hendel asistennya. Arsen langsung bergegas kembali ke Jakarta mengunakan zetpri keluarganya.


Setelah beberapa jam mengudara, akhirnya ia tiba lagi di tanah kelahiranya dan seperti biasa Yudha lah yang menjemputnya.


" Pulang ke rumah atau Apartemen?" Tanya Yudha. Keduanya kini telah berada di dalam mobil Yudha.


" Langsung kerumah aja." Jawab Arsen. Yudha melirik Arsen yang berada di sebelahnya, setelah itu ia kembali fokus menyetir.


" Kamu kenapa sih? Aku perhatiin, kaya orang banyak pikiran gitu." Tanya Yudha lagi.


Arsen menghembuskan nafasnya dengan kasar berulang kali ia mengusap wajahnya. " Entahlah." Sahut Arsen, seraya menatap keluar jendela. Sore itu keadaan jalan begitu rampai, orang orang berlalu lalang untuk kembali kerumah mereka masing-masing setelah beraktivitas di luar rumah, ada juga pasangan muda-mudi mencari tempat untuk berduaan. menyebabkan jalan begitu macet. bunyi klakson kiri kanan semakin memperburuk mood Arsen saat ini.


Mungkin karena ia sudah lama tidak melapaskan kecebong dalam dirinya atau rasa bersalah karena tidak sengaja menghilangkan darah daging yang baru saja berkembang di dalam tubuh wanita yang ia benci. Entahlah Arsen sendiri binggung dengan keadaan dan perasaannya saat ini. Tanpa ia sadari dendam salah alamat itu, Telah membuka gerbang kehancurannya yang tinggal menunggu waktu.


Pada saat hari itu datang, Kata penyesalan dan maaf pun tidak ada gunanya sebab ia dari awal telah salah mencari lawan.


" Kenapa." Tanya Yudha. Arsen hanya menjawab dengan menaikkan kedua bahunya. Tidak ingin terlalu jauh mencampuri urusan sahabatnya, Yudha memilih kembali fokus untuk melajukan mobilnya, begitu jalanan mulai sedikit lancar.


Bunyi Dering ponsel Arsen, memecahkan keheningan di antara mereka berdua, Arsen meraih benda pipih itu, setelah mengeser Icon berwarna hijau, ia menempelkan benda itu ke daun telinganya.


" Halo, Mi."


" Ar, Kamu jadi datang hari ini kan?" Tanya Mesya dari seberang sana.


" Jadi ko mi, ini Arsen udah mau sampai rumah, di jemput sama Yudha."


" Syukurlah, mami pikir kamu nggak jadi datang." Sahut Mesya.


" Emangnya ada apa mi?" Tanya Arsen saat mendengar suara sedikit tidak sabaran dari wanita yang telah mengantarkannya ke dunia ini.


" Hari ini mami, mengundang Tante Devi Ar, buat makan malam di rumah kita, sebagai ucapan terima kasih, karena sudah membantu kamu bebas dari tuduhan itu. jadi Kamu harus hadir dan mengucapkan terima kasih secara langsung untuk Tante Devi." Jelas Meisya. Arsen mengangguk anggukkan kepalanya, walaupun sang ibu tidak dapat melihat hal itu.


" Iya mi, ini Arsen udah mau sampai rumah."


" Ya udah cepat mami tunggu." sahut Meisya sebelum mengakhiri panggilan itu.


Suasana dalam mobil kembali hening, tak selang berapa lama, mobil yang di kemudikan Yudha Akhirnya memasuki pekarangan rumah Arsen.


Begitu Arsen melangkah masuk ke dalam rumah, Meisya langsung menyambut kedatangan putranya itu. Ia meminta Arsen untuk beristirahat di kamarnya. sedangkan Yudha langsung pamit untuk pulang dan Akan kembali lagi untuk makan malam bersama mereka.


......🖤🖤🖤🖤🖤......


Tepat jam tujuh malam, Devi dan Aksel sampai di kediaman Aldrich. Anggara dan Meisya menyambut mereka dengan begitu ramah.


Anggara dan Meisya langsung mengajak mereka untuk makan malam, mengingat hidangannya telah di sediakan pelayan rumah itu.


" Terima kasih ya Jeng! Sudah membantu anak saya, kalau saya nggak ketemu jeng Devi hari itu mungkin Arsen masih di tahan sampai sekarang." Ucap Meisya, setelah mereka menyelesaikan makan malam.


" Oh sama sama Jeng Meisya! saya juga akan membalas perbuatan orang yang menyakiti anak saya, karena setiap darah dan air mata harus di balas dengan airmata dan darah juga. Benarkan jeng Meisya." Ucap Devi Sekaligus bertanya.


" Tante terima kasih ya atas bantuannya." Ucap Arsen Seraya mengulurkan tangannya untuk berjabat tangan dengan Devi.


Devi tidak membalas uluran tangan Arsen, ia hanya tersenyum sambil mengangguk kepalanya.


Obrolan mereka terus berlanjut, Devi begitu pandai menyembunyikan perasaan serta mengatur mimik wajahnya agar terlihat baik baik saja. walaupun dalam hatinya ia ingin sekali mencabik-cabik tubuh anak dari kolega suaminya itu. Bukan hanya Devi. Aksel pun bersikap Demikian.


" Mi, aku ke kamar dulu ya." Pamit Arsen. ia merasa kehadirannya sudah tidak di butuhkan di antara pasangan paruh baya itu. Meisya mengangguk dan Arsen pun kembali ke kamarnya di ikuti Yudha yang sejak tadi menjadi pendengar setia.


" Jeng bagaimana kabar putrimu." Tanya Meisya membuat membuat tangan Devi terkepal. sebisa mungkin ia menahan kemarahannya saat ini.


" Sevi baik." Jawab Aksel.


" Bagaimana kalau putri jeng di jodohkan dengan cucuku Fai_"


" Maaf jeng Meisya, Soal jodoh sudah ada yang mengatur semua kembali, Siapapun pilihan putriku nanti, aku tidak keberatan Selama bisa menjaga putriku bukan merusaknya." Ucap Devi membukam mulut Meisya seketika.


" Apa jeng Masih terpengaruh dengan berita bohong itu."


" Bohong atau tidaknya hanya keluarga anda yang tahu. tetapi saya belum berpikir untuk menjodohkan putrii saya, mungkin pulang dari sini saya akan membicarakan hal itu dengan keluarga kami."


" Baiklah jeng, Aku menunggu kabar dari jeng Devi." Sahut Meisya, ia begitu senang mendengar ucapan Devi. " Kalau begitu Saya akan mengambil sesuatu untuk putri jeng Devi." Meisya langsung pergi ke kamarnya Tanpa menunggu jawaban dari Devi.


Begitu Meisya Pergi, Devi langsung mengajak Aksel untuk pulang. ia sudah tidak tahan berada di rumah Anggara.


" Apa kalian akan memutuskan kerja sama kita." Tanya Anggara, saat mengantar Aksel dan Devi keluar.


" Tenang saja tuan Anggara, kami tahu bedakan yang mana urusan pribadi dan pekerjaan! kami berharap kamu juga dapat bersikap seperti itu suatu hari nanti."


" Maaf, ini semua karena aku yang gagal mendidik mereka."


" Kami tidak punya masalah dengan hal itu, hanya saja, simpan kata maafmu. mungkin suatu hari kita sama sama membutuhkannya." sahut Devi lagi." Bukankah sudah hukum alam, siapa yang suka menyakiti, pasti akan di sakit, Tunggu saja."


" Sayang Ayo." Aksel membuka pintu mobil untuk istrinya.


" Selamat malam tuan Anggara, terima kasih untuk makan malamnya." Mobil yang di kemudikan Aksel perlahan lahan keluar dari kediaman itu. menyisakan Anggara yang mematung dengan seribu pertanyaan di otaknya.


.


.


.


.


Bersambung.


...Happy reading..🖤🖤🖤...


...Jangan lupa like dan komen.👍🙏...


...Maaf baru update lagi 🙏🙏🙏...