
Sementara di tempat duduknya, Randy tersenyum penuh kemenangan, ' Ini belum seberapa.' pikirnya, ia tidak akan puas dengan putra dan Sevi yang di marahi mommy mereka.
" Ya mom!" Jawab putra jujur, bukan hanya Putra, Sevi pun memiliki nomor telepon Arsen, karena lelaki itu sendiri yang menghubunginya dan meminta Sevi untuk menyimpan nomor teleponnya.
Walaupun keduanya jarang berkomunikasi, tapi Arsen sering mengirim pesan kepada Sevi. Entah itu hanya sekedar ucapan selamat pagi, selamat malam atau sekedar menanyakan kabar Sevi yang hanya di balas! ya, tidak atau baik.
Bukan tanpa sebab Sevi membatasi dirinya dengan Arsen, semua itu dia lakukan agar sang mommy tidak kecewa saat mengetahui bahwa Arsen baik-baik saja dan Sevi tahu tentang hal itu.
" Apa kamu juga mengetahui nomor ponselnya?" Kali ini pertanyaan yang sama tertuju kepada Sevi.
Sevi menatap wajah sang mommy kemudian mengangguk kepalanya. " Ya, mommy." Devi pun ikut menganggukkan-anggukan kepalanya.
Sementara Keluarga Randy, memilih duduk di tempat mereka masing-masing dengan tenang. Menikmati tontonan yang menarik di hadapan mereka.
Tidak sampai satu jam, suasana yang awalnya tenggang untuk mereka, kini berpindah kepada Sevi dan putra. Setidaknya Nadia dan Rayhan tidak perlu menggunakan rencana mereka, untuk menyangkal kebenaran perbuatan Randy.
" Kenapa dia bisa sembuh?"Devi bertanya tanpa menatap putra maupun Sevi. Untuk memastikan siapa yang telah membantu Arsen. " Jika mommy tidak salah ingat, dia akan menjadi gila dan tidak ada dokter yang dapat menanganinya, kecuali papa Anwar_"
" Maaf mommy." Belum selesai Devi berbicara, Putra dan Sevi sama-sama kompak minta maaf kepada Devi.
Hal itu membuat kening Devi berkerut dan menatap bingung kedua anaknya." Kalian sedang saling membela satu sama lain atau kalian berdua yang membantu dia." Tebak Devi. Walaupun tebakan itu tidak sepenuhnya benar! Tapi keduanya pun tidak dapat menyangkalnya. " Katakan sesuatu agar mommy tidak bingung. " Devi berjalan kearah sofa single yang sebelumnya di duduki Aksel kemudian duduk di sana, dengan satu kaki ia tumpukan di atas kakinya yang lain. Menopang dagunya dengan tangannya yang ia letakkan di atas kakinya. Menunggu jawaban dari putra dan Sevi.
" Maaf mommy, Sevi tidak dapat memberikan semua obat itu kepada om Arsen, Sevi tidak tega om Arsen terlihat begitu tersiksa. Sevi juga tidak ingin mommy jadi seperti ini. Bukannya mommy mengajarkan kita untuk tidak benci dan dendam kepada orang yang sudah menyakiti kita." Ucap Sevi begitu guguk, ia berharap itu semua dapat mengubah pandangan mommy-nya.
" Aku tahu mommy orang yang baik. Untuk itu aku berani mendatangi papa Anwar dan meminta papa Anwar membantu dokter yang menangani Arsen dan menyembuhkannya." Putra pun ikut mengakui kesalahannya di depan Devi.
" Jadi menurut kalian mommy yang salah? Apa kalian lupa dengan apa yang telah dia lakukan?" Tanya Devi lagi untuk kesekian kalinya.
Dan ia kembali beranjak dari tempat duduknya. " Katakan apa mommy salah?" Tegasnya. keduanya kompak menggeleng kepala masing-masing.
" Mommy tidak salah, tapi cara mommy memperlakukan dia itu salah! Apapun kesalahan dia, ada tuhan yang akan membalas itu semua. Jika mommy turun tangan langsung seperti ini. Apa bedanya mommy dengan dia."
PLAK.
" Devina." Teriak Aksel, lelaki itu baru selesai menelepon, ia kembali keruang keluarga dan mendapati Devi menampar wajah Putra.
" Apapun kesalahan mereka! Kita sudah berjanji untuk tidak mengunakan tangan untuk mendidik mereka! Saat kamu menampar Sevi, aku membiarkan kamu melakukannya karena kita sama-sama kecewa kepadanya tapi dengan menampar putra seperti ini sudah membuktikan kamu salah dalam hal ini. Bukankah sejak awal aku telah memintamu untuk tidak menikahkan Sevi dengan Randy. Tapi kamu tetap keras kepala dengan tetap Memaksakan kehendak kamu. Jika sudah seperti ini siapa yang ingin kamu salahkan?" Aksel kini berdiri tepat di samping Devi kemudian menatap kepada Nadia, Randy dan Rayhan Seraya kata. " Keluarlah dari rumahku sekarang juga! Berdoa saja semoga anak kalian tidak bersalah, jika tidak! Apa yang kalian tonton hari ini hanya sebagian kecil dari apa yang akan Keluarga kalian dapat. Aku bersumpah untuk waktu putriku yang berharga, akan ku buat kalian menyesal pernah mengenali aku."
" Aku tidak akan menyangkal hal itu." Balas Aksel. Tak ingin di permalukan lebih lama lagi, Rayhan menarik tangan Randy dan Nadia keluar dari rumah Aksel.
Hal itu membuat Devi marah kepada suaminya itu. " Kenapa kamu mengusir mereka! Kamu harusnya menegur Sevi dan putra, mereka sudah tidak menghargai kita sebagai orang tua mereka. Dengan bertindak tanpa memberi tahu kita terlebih dulu." Teriak Devi.
" Kamu salah! Karena sampai saat ini mereka masih sangat menghargai kita! Dan sebagai seorang kakak apa yang di lakukan putra itu memegang benar." Setelah Nadia menelepon sevi memberitahu tentang perceraian Sevi dan Randy. Aksel sudah menggunakan koneksinya untuk mencari tahu itu semua, mengingat seperti apa istrinya. Tapi sampai kedatangan Rayhan dan keluarganya tadi Aksel belum mendapatkan kabar apa-apa. Hingga lirikan dari Devi yang meminta dia menyelidiki hal ini, membuat ia memiliki kesempatan untuk menghubungi orang itu dan mengetahui sebagian kecil masalah putrinya dan meminta orang itu menyelidiki lebih jauh soal Randy. Dan Rencananya ia ingin memberitahu Devi, informasi apa yang ia dapatkan tapi melihat Devi menampar pipi Putra. Seketika itu kemarahannya kepada keluarga Rayhan tidak bisa ia bendung dan mengusir mereka.
" Jadi menurut kamu! Mendekatkan Sevi lagi dengan bajingan itu sudah benar? Kenapa tidak sekalian saja kamu minta keluarga mereka datang dan nikahi Sevi dengannya. " Sahut Devi. Wanita itu jelas salah paham dengan maksud Aksel.
" Bukan Seperti itu, sayang! Tapi apa yang dia lakukan putra untuk kebebasan Sevi."
" Kebebasan apa yang kamu maksud! Siap yang mengambil kebebasannya. Kita hanya melarang dia untuk tidak bertemu dengan Anak sialan itu dan kamu berpikir kita membatasi kebebasan Sevi. Apa yang di beri papanya kepadamu sampai kamu begitu membela nya_"
" Cukup Devina. Kamu salah_"
" Ya aku yang salah, sekalian saja kamu hubungi keluarga mereka dan nikahkan mereka karena aku yang salah di sini, sudah melarang Sevi." Devi menghampiri Sevi dan mencengkeram kuat kedua lengannya sembari menguncang tubuh Sevi dan bertanya. " Apa kamu mencintai bajingan itu." Teriak Devi sembari terus mendesak Sevi.
Melihat hal itu Aksel memijit pangkal hidungnya, seraya berkata dengan tegas. "Devina Aldira, Hentikan semua ini." Bukan Devi namanya jika ia mendengar Aksel dengan mudahnya di saat seperti ini.
" Katakan, jangan Diam saja." Devi masih terus mendesak Sevi. Dan tak menghiraukan kata-kata Aksel, wanita itu seakan telah kehilangan akal sehatnya jika bersangkutan dengan Arsen.
Nanda yang melihat pemandangan itu, menunduk kemudian mengusap wajahnya dengar kasar. Sementara putra hanya terdiam memejamkan matanya. Mereka bukan tidak tahu cara menenangkan mommy mereka. tapi mereka takut tindakan mereka akan membuat Devi semakin menyudutkan Sevi.
.......
.......
.......
.......
...Bersambung....
...Happy reading...🖤🖤...