
Sevi kembali harus terbaring di rumah sakit, beruntung ia cepat di bawah kerumah sakit sehingga ia dapat tertolong, sayangnya janin yang belum di ketahui berapa umurnya itu tidak dapat di selamatkan, sebab bentur yang di alami Sevi terlalu keras, membuat janin itu tidak tertolong.
Malam itu Nanda tidak menghiraukan lalaki yang membeku menatap sevi yang tidak sadarkan diri, ia hanya tahu bergerak cepat, agar adik kesayangannya dapat di selamatkan, sebab nyawa adiknya lebih penting dari apapun.
Nanda tidak pernah tidur, ia terus menanti dengan harap harap cemas, berharap adiknya dapat membuka matanya lagi.
Drrrrrtt drrrttt
Getaran ponsel Nanda yang berada dalam saku celananya, membuat Fokusnya untuk sang adik teralihkan pada benda pipih itu.
Nama sang mommy terterah di layar ponselnya, Nanda mengeser Icon berwarna hijau, Setelah itu menempel pada telinganya.
" Assalamualaikum." Ucap sang mommy dari seberang sana.
" Waalaikusalam, mom kapan kesini." Tanya Nanda.
" Nanti setelah menyelesaikan, masalah yang di buat adik kamu."
Nanda menarik nafas dalam-dalam untuk membuat lebih rileks. " Masalah apa mom."
" Ade di keluarkan dari sekolah bang, ada yang menyebar video serta kehamilannya ke publik." Hampir saja ponsel yang di genggam Nanda terlepas dari tangannya. " Kamu tidak perlu khawatir, Papa Ano ayah dan yang lainnya sudah mengurusnya." Sambung Devi membuat putranya sedikit legah.
" Putra dimana." Tanya Devi.
" Kayanya, dia lagi ngurus lelaki itu mom."
" Biarkan putra melakukannya, leleki itu memang harus mendapatkan hukumannya! Ya sudah nanti mommy hubungi kamu lagi, jagain Ade ya bang."
" Iya mom." Panggil itu pun berakhir. Nanda kembali menantap ranjang di mana adiknya masih senang tiasa memejamkan matanya.
...🖤🖤🖤🖤🖤🖤...
Begitu urusan Devi selesai di sekolah Mira ia langsung menyusul Nanda untuk melihat keadaan Sevi di rumah sakit.
" Jeng Devi ya." Tanya seorang wanita paruh membuat langkah Devi terhenti. Ia menatap wanita itu, seraya meingat ingat dimana ia bertemu dengan wanita ini. " Aku Meisya, istrinya Anggara." Ucap wanita itu lagi.
" Ya ampun maaf ya! aku sampai lupa sama jeng, Meisya! makin cantik sih."
" Bisa aja jeng Devi. Jeng kali, yang makin awet."
" Makasih loh, tapi ngomong ngomong ngapain disini. ada yang sakit?" Tanya Devi.
" Aku sampai lupa loh, Untung jeng Devi tanya." Meisya tersenyum sedikit canggung, ia bergerak lebih dekat dengan Devi, seraya berbisik." Jeng Dengar dengar suami jeng mantan anggota Intel ya."
" Minta tolong apa ya?" Bukannya mengiyakan, Devi malah balik bertanya.
" Untuk lebih jelasnya, bagaimana kalau kita ngobrol di kantin rumah sakit, itupun kalau jeng Devi nggak sibuk." Ajak Meisya, ia sedikit ragu! tetapi hati kecilnya mengatakan dia harus ikut. Devi pun menuruti kata hatinya, toh Sevi masih di jaga sama Nanda.
Kedua wanita paruh baya itupun melangkah ke kantin, Setelah tiba disana, Meisya mengajak Devi untuk duduk di meja yang terletak di pojokan pada kantin, mengingat apa yang akan dia bicara sedikit sensitif.
Meisya memulai pembicaraan mereka, begitu pelayan selesai menganti pesanan mereka. " Anak aku membuat sedikit masalah, Aku tahu anak aku salah tetapi aku berharap dia mendapatkan sedikit keringanan, mengingat apa wanita itu yang memulai lebih dulu ja_"
" Langsung ke inti masalahnya aja." Devi memotong ucapan Meisya, karena wanita itu begitu berbelit-belit.
Meisya meyakinkan hatinya untuk menceritakan apa yang terjadi kepada Devi, setelah yakin Meisya punk mulai menceritakan kejadian tentang Risya versi yang ia tahu, setelah itu menceritakan semua rencananya dengan Arsen untuk Sevi., Ekspresi Devi yang awalnya biasa perlahan lahan mulai berubah setelah ia menggabungkan kepingan cerita yang ia tahu serta kejadian yang di alami putrinya.
" Nama gadis itu siapa." Tanya Devi. ia ingin memastikan semuanya lebih jelas lagi.
" Amira Aksevina." begitulah nama Mira di sekolah tanpa embel-embel nama Firmasha di belakangnya." Nggak ada nama keluarganya, Tetapi anggara begitu menghormati keluarganya."
" Sekolahnya dimana."
" Kayanya dia baru di keluarkan deh, sesuai rencana kita."
" Nama Anak kamu?"
" Arsen." Devi Fokus mendengarkan ucapan Meisya sehingga ia mengabaikan panggilan masuk dari suami dan putra putranya.
Begitu ia mendengar nama Arsen, Tanpa sepatah kata pun ia langsung meninggalkan Meisya begitu saja bertepatan dengan Panggilan masuk dari putra.
Devi menempel ponsel ke telinganya. " Bebaskan dia kak! penjara tidak akan cukup untuknya." Saat mendengar penolakan dari putra Devi kembali meyakinkannya. " Percaya sama mommy, apa yang Mira rasa akan ia dapat sepuluh kali lipat dari itu." Seolah tahu putra setuju, Devi langsung mematikan sambungan telepon mereka, seraya berlari ke ruang rawat putrinya.
.
.
.
.
Bersambung.
...Happy reading..🖤🖤...
... Jangan lupa like dan komen 🙏😘...