
Setelah putra lebih tenang, mereka pun melanjutkan pembahasan mengenai rencana membongkar kebusukan Randy dan putri.
" Dek ada makanan nggak! Lapar nih, aku nggak bisa konsentrasi dalam keadaan lapar kaya." Ucap Yudha sambil mengusap perutnya yang mulai keroncongan
" Apaan Dah dek dah dek! Emangnya dia adik kamu, kalau mau makan cari sendiri dong ngapain nyuruh-nyuruh Adik aku. " Protes Putra." Aku yang kakaknya aja, nggak nyuruh dia. "
" Kalau ini di hotel atau di tempat lain, aku juga udah keluar cari sendiri, nggak akan nyuruh - nyuruh Adik kamu. " Sahut Yudha." Sayangnya situasi kita ini lagi sulit, mau tak mau aku harus minta sama dia, karena cuma dia yang bisa masuk keluar ruangan ini tanpa takut ketahuan! Ngerti kau. " Lanjutnya.
" Sssttthh Jangan ribut. Kita bisa ketahuan. " Ujar Arsen, membuat Yudha membekap mulutnya sendiri, begitu juga dengan Putra.
" Maafin kakak aku yang om, nanti aku keluar cari makanan buat kalian. " Sevi mencoba untuk menenangkan mereka.
" Terima kasih ya. " Ucap Arsen, hanya di tanggapi dengan anggukan. Setelah itu ia melangkah keluar kamarnya untuk mencari apa yang mereka butuhkan.
Dan saat melewati ruang tamu sekaligus ruang keluarga itu, Sevi tidak menemukan keberadaan Putri maupun Randy. Kedua pasangan no akhlak itu sedang berada di kamar mereka, Sehingga Sevi bisa mengeluarkan roti tawar, selai coklat dan buah-buahan untuk mereka makan.
Setelah merasa cukup Sevi segera mengantar semua itu ke kamarnya, Meletakkannya di atas meja yang ada di kamarnya kemudian, Sevi kembali lagi ke dapur untuk mengambil minuman. Entah itu air mineral ataupun minuman
yang sengaja di stok oleh Randy dan putri, untuk kebutuhan bersama.
Ya semua kebutuhan rumah ini putri yang mengurusnya, sementara Sevi hanya tahu. Diam di kamar dan menikmati fasilitas yang ada. Peran keduanya seakan terbalik dimana Sevi itu simpanan dan putri adalah istri sesungguhnya.
" Apa ini cukup Kak?" Tanya Sevi, sembari meletakkan minuman yang ia bawa, tepat bersebelahan dengan roti dan buah yang telah lebih dulu dia ambil.
Putra menghampiri, Sevi kemudian mengusap kepalanya seraya berkata. " Apa kamu sering melakukan hal ini?" Sevi terlihat sedikit ragu untuk menjawab pertanyaan yang di lontarkan kakak. " Apa kamu harus mengendap-endap di rumah kamu sendiri hanya untuk mencari makan! Sesulit itukah?" Lanjut Putra, seakan tahu seperti apa jawaban adiknya.
Tersadar dari lamunannya Sevi segera menggeleng-gelengkan kepalanya. " Nggak gitu juga kak! Semua yang Sevi lakukan itu, karena Sevi tidak ingin menganggu kesenangan mereka saja kok. Ayo om, kak dimakan dulu. Maaf cuma ini yang bisa Sevi dapatkan untuk kalian."
" Ini sudah lebih dari cukup! Lagian kita tidak sedang bertamu atau di undang kesini, jadi kamu tidak perlu merasa sungkan." Ucap Yudha. Lelaki itu mulai mengambil buah di atas meja dan mulai menggigitnya, Putra pun ikut mengambil buah sementara Arsen masih terdiam, ia terlihat larut dengan rasa bersalahnya.
Perlahan, kepingan-kepingan masa lalu Arsen terlintas di kepalanya, Dimana ia mulai membenci dan menyakiti gadis tak berdosa itu! Ia semakin merasa bersalah dan menyesal saat mengetahui kehidupan Sevi sekarang. " Tolong maafkan aku! Kalau aku tidak gegabah dan sedikit saja mendengarkan kata-kata papi, mungkin semuanya tidak akan seperti ini. " Ucap Arsen lelaki itu begitu tulus menyampaikan permintaan maafnya.
" Sudahlah lupakan saja om, aku baik-baik saja! Mungkin ini takdir yang harus aku jalani." Sebuah senyum di Sevi berikan untuk meyakinkan mereka." sebaiknya om makan dulu, aku akan beristirahat," Pamit nya.
Sementara ketiga lelaki itu saling melirik satu sama lain sebelum menjawab lirikan mereka dengan gelengan kepala maupun menaikkan kedua bahunya.
...\=\=\=\=\=\=\=\=...
Keesokan harinya Sevi tidak tahu apa yang terjadi selanjutnya malam itu, ia terbangun saat mendengar suara keributan luar kamarnya, bahkan suara tamparan yang bergema dari balik pintu kamarnya yang memaksa Sevi tersadar dari mimpi indahnya. Ia perlahan turun dari tempat tidur tanpa mengunakan alas kaki ia langsung berlari menghampiri suara keributan itu.
" Ada ap_" Kata-kata Sevi tertahan di tenggorokannya saat melihat. Randy terduduk dengan babak belum di hadapan ketiga lelaki itu, sementara kedua pipi putri memiliki bekas tamparan.
" Cepat tanda tangan." Desak Putra sambil menyodorkan beberapa lembar berkas yang di hekter, kepada Randy dan meletakkan pulpen di atasnya. Sementara di tangan Arsen ada sebuah pulpen yang ia perhatikan, untuk orang awam mereka mungkin akan berpikir itu adalah pulpen biasa, tapi Sevi tau pulpen itu di desain sebagai kamera tersembunyi.
' Kapan mereka menyiapkan semua ini, bukan semalam mereka terlihat bingung?' Sevi bertanya dalam hatinya, ada kamera tersembunyi di tangan Arsen, beberapa lembar berkas di atas meja, tanpa membaca isi lembaran itu Sevi tahu itu berkas perjanjian perceraian dari logo yang tertera pada lembaran itu.
Sementara di tangan Yudha ada sebuah map, Sevi tidak tahu isi dari map itu, ia pun tidak ingin menghentikan ketiga pria itu dan membiarkan mereka melakukan apa yang harus mereka lakukan.
" Sebaiknya kita serahkan bukti-bukti ini kepada orang tua kamu terlebih dulu, sebelum memaksanya untuk menandatangani surat perjanjian perceraian ini." Usul Arsen. Yudha pun mendukung usulan dari sahabatnya itu. Tetapi Putra segera menolaknya.
Iya menatap kepada Randy kemudian berpindah kepada putri. Sambil geleng-geleng kepala ia berkata." Mereka bisa menyiksa adikku selama ini dan mereka begitu pandai dalam memerankan peran mereka sehingga mami, ayah dan Abang aku tidak tahu kebusukan mereka, padahal mereka sering mengunjungi Sevi. Apa menurut kamu dia akan Dian saja, aku tahu di otaknya sudah ada rencana baru dan aku tidak ingin rencananya berhasil. Karena terpenting untuk adalah kebebasan adikku." Ucap Putra dengan tegas. Arsen pun tidak dapat mengatakan apa-apa selain menganggukkan kepalanya untuk setuju dengan keputusan Putra.
Sementara Sevi, masih diam di tempatnya, ia benar-benar tidak paham dengan situasi saat ini, Karena ketiga lelaki itu terlalu cerdik dan licik saat di satukan. Kenapa begitu, ya karena begitu Sevi terlelap mereka langsung bergegas mengumpulkan bukti-bukti, Yudha menghubungi salah klien mereka dan meminta bantuan untuk mendapatkan bukti-bukti kehamilannya dari rumah sakit. Arsen menyelinap ke kamar pasangan no akhlak itu saat keduanya berada di kamar mandi. Sementara putra meminta orang kepercayaannya untuk menyiapkan berkas perceraian adiknya. Sebelum jam Enam pagi semua yang mereka butuhkan telah rampung dalam laptop Yudha. Hal baik lainnya, Randy yang terlalu lelah setelah pergulatan panjangnya dengan putri, memudahkan mereka untuk menyelinap ke ruang kerja Randy dan mencetak bukti-bukti itu. ketiga rela mengorbankan waktu tidur mereka hanya untuk kebebasan Sevi.
.......
.......
.......
.......
...Bersambung....
...Happy reading..🖤🖤...