
Sudah lebih dari satu jam Sevi berada di dalam kamar mandi, bunyi percikan air pun sudah tidak terdengar lagi, tapi belum ada tanda-tanda pintu kamar mandi akan di buka. Arsen yang sejak tadi menunggu Sevi pun sudah selesai mandi dan berpakaian, ia mengunakan kamar mandi yang ada di kamar tamu.
Arsen yang takut terjadi sesuatu dengan istrinya. memutuskan untuk mengetuk pintu kamar mandi sembari memanggil-manggil nama Sevi dan berkata " Sevi, kamu baik-baik saja kan! di dalam, kenapa belum keluar juga? tolong jangan berbuat hal yang aneh-aneh." Bukan tanpa Sebab Arsen berkata seperti itu. ia hanya khawatir mengingat apa yang terjadi kepada Sevi dan sikap mommy Devi semalam.
" Aku baik-baik saja om." Jawab Sevi, membuat Arsen bernafas lega.
" Terus kenapa belum keluar! apa kamu butuh sesuatu?" Tanya Arsen. lelaki itu masih di posisi yang sama dengan tangan berpegangan pada handel pintu dan telinga yang di tempelkan pada daun pintu, untuk mendengar aktivitas Sevi di dalam sana.
" Maaf ya om! jika aku merepotkan om! tapi aku lupa nggak punya baju ganti dan di sini juga cuma ada handuk kecil. apa om mempunyai bath robes." Sahut Sevi. Dari suaranya, Arsen yakin wanita itu saat ini sedang gugup.
" Sebentar ya, akan aku ambilkan." Ucap Arsen, kemudian menuju lemari penyimpanan handuk dan selimut yang ada di kamarnya. 'Kenapa aku bisa lupa! semalam juga kita tidak membawa pakaiannya.' Keluh Arsen sambil mencari apa yang di butuhkan Sevi.
Setelah mendapatkan apa yang dia cari Arsen kembali mengetuk pintu kamar mandi. " Sevi ini bath robes nya! sementara pakai ini dulu, aku akan keluar untuk membelikan pakaian kamu dan segera kembali." Ucapnya begitu Sevi membuka sedikit pintu kamar sehingga ia dapat meraih bath robes yang di berikan Arsen.
" Nggak usah om! aku nggak bisa pakai baju baru, kalau belum di cuci." Akunya dengan jujur.
Hal itu membuat Arsen mengerutkan keningnya. " Terus, kamu gimana?" Tanya Arsen lagi.
" Kira-kira kalau aku pinjam baju mommy atau kakak om, boleh nggak?" Tanya Sevi dengan ragu-ragu. Tapi tidak ada jawaban dari Arsen, hanya suara langkah kaki yang menjauh.
Sevi pikir Arsen tengah menemui mommy-nya untuk meminjam baju! Tapi tidak sampai lima menit, pintu kamar mandi kembali di Ketut. " Sevi nih, untuk sementara pakai ini dulu ya! nanti selesai sarapan aku akan mengantar kamu untuk mengambil pakaian kamu sekaligus kita beli yang baru." Ucap Arsen, ia memberi baju kaos dan celana boxer nya untuk Sevi melalui celah pintu yang kembali di buka oleh Sevi. " Kamu tidak perlu khawatir, aku belum pernah memakainya! Semua itu masih baru dan sudah di cuci." Lanjutnya, menjelaskan.
" Nggak kok om! Aku justru sangat berterima kasih untuk ini."
" Tidak perlu berterima kasih! Itu sudah kewajiban aku untuk menyiapkan apa yang kamu butuhkan." Sahut Arsen.
Tidak ada jawaban dari Sevi membuat Kamar itu kembali Hening. Setelah Sevi selesai berpakaian! Keduanya turun ke ruang makan untuk sarapan bersama.
Saat menuruni tangga, Arsen dan Sevi berpapasan dengan Meisya, mamanya Arsen yang baru saja mengantar papanya berangkat kerja. " Citra keluarga kamu terkenal sangat baik. Dan aku mendapatkan seorang menantu dari keluarga yang terkenal baik itu. Tapi baru hari pertama dia datang di rumah ini. Sudah bangun kesiangan! Apa itu termasuk hal baik yang di ajarkan mommy kamu." Ucapan Meisya terdengar seperti sebuah sindiran. Dan hal itu sukses memperburuk suasana hati Sevi. Karena sejak kecil ia sudah di didik dengan aturan oleh mommy-nya itu dan anggap saja hari ini masih termasuk hari kesialannya sehingga ia bangun terlambat, belum lagi ia harus berada di dalam kamar mandi hampir dua jam sebab tidak memiliki baju ganti dan mendapat sindiran dari sang mertua.
" Mom, Sevi sudah bangun sejak pagi! Dan alasan dia baru turun jam segini, karena ia tidak memiliki pakaian ganti dan harus menunggu Arsen bangun dulu untuk mencarikannya pakaian ganti. Apa mommy tidak melihat baju siapa yang di gunakan Sevi? apa mommy tidak melihat wajahnya yang sedikit pucat karena terlalu lama beranda di dalam kamar mandi! Jika ada yang harus di salah kan dalam hal ini, maka Arsen lah orangnya! sebab secara tidak langsung Arsen sudah gagal menjadi seorang suami di hari pertama Arsen menjadi seorang suami! Apa ini bisa di bilang mommy juga gagal mendidik Ars_"
" Cukup." Teriak Meisya kemudian melangkah lebih cepat meninggalkan Sevi dan Arsen. Dengan wajah kesal. ' kamu sudah di butakan oleh cinta Ars.' gerutu nya di dalam hati.
Arsen tersenyum menatap punggung mommy-nya. Tanpa ia sadari Sevi justru menatap tidak suka dengan sikapnya kepada Meisya." Hei ada Apa? Kenapa kamu menatap aku seperti itu." Tanya Arsen saat menyadari tatapan Sevi.
" Sebagai anak tidak baik menjawab ucapan orang tua seperti itu om." Tegur Sevi. Tapi tidak begitu di hiraukan oleh Arsen.
Saat sarapan Arsen terus mencoba mengajak Sevi berbicara! Tapi wanita itu tetap diam dan menikmati sarapannya. Sehingga Arsen berpikir Sevi marah kepadanya.
Selesai sarapan keduanya langsung pergi ke apartemen putra, untuk mengambil pakaian dan keperluan Sevi lainnya.
Di dalam mobil, Sevi juga masih Dian. Sehingga Arsen memutuskan untuk memecah kesunyian di antara mereka. " Apa kamu masih marah kepadaku." Pertanyaan itu sukses memancing perhatian Sevi. Sevi yang sejak tadi hanya menatap kendaraan yang ada di depan mereka, kini memalingkan wajahnya ke pada Arsen.
" Marah! Marah untuk apa om?" alih-alih menjawab Sevi justru balik bertanya Sembari mengerutkan alisnya.
Arsen menaikkan kedua bahunya. Kemudian menjawab. " Kamu terus mendiami aku, saat sarapan aku mencoba mengajak kamu berbicara tapi kamu hanya diam. Dan sejak tadi juga sama. Jadi aku pikir kamu masih marah karena aku menjawab ucapan mommy.'' Sevi tersenyum kemudian menggeleng kepalanya. Usia Arsen jauh lebih tua darinya tapi sikap dia saat menjelaskan semuanya itu, tidak sesuai dengan umurnya. Itu terlihat lucu sekaligus mengemaskan untuk Sevi.
" Aku tidak menjawab pertanyaannya om, karena itu sudah kebiasaan aku sejak kecil! Kalau lagi makan di larang ngomong sama mommy." Jelas Sevi. " Dan soal aku yang hanya diam! Karena aku tidak tahu harus bicara apa." Lanjutnya lagi.
" Benar seperti itu." Tanya Arsen masih tidak yakin dengan jawaban Sevi.
" Iya om."
" Syukurlah, nanti setelah sampai di apartemen putra kamu langsung ganti pakaian kamu ya! Karena kita harus ke Kantor Agama setelah dari sana." Ucap Arsen.
" Kantor agama om? Untuk apa?" Tanya Sevi. Ia tidak langsung mengiyakan ucapan Arsen.
" Untuk memperjelas status kita lah! Apa lagi? Emangnya kamu mau jadi istri simpanan aku." Sevi spontan menggeleng kepalanya. Dan hal itu membuat Arsen tertawa sembari mengulurkan tangannya untuk mengacak-acak rambut Sevi, penuh kasih sayang.
.......
.......
.......
.......
...Bersambung....
...Happy reading..🖤🖤...