Sevi Is Mine (Hate But Love)

Sevi Is Mine (Hate But Love)
Bab 21



" Apa hubungan Sevi dan Mira." Pikiran Arsen berkelana akan pertanyaan itu.


Arsen tersadar dari lamunannya, Saat dering panjang dari ponsel yang ia letakkan di atas meja berbunyi dengan begitu nyaringnya.


" Hallo." Ucap Arsen setelah mengeser Icon berwarna hijau dan menempelkan ponsel itu pada daun telinganya.


Cukup lama ia berbicara dengan orang yang menelponnya. Setelah panggil itu berakhir, Arsen beranjak dari duduknya ia melangkah mendekati jendela besar yang ada di ruangannya, dengan satu tangan yang ia masukkan kedalam saku celana. Pandangannya lurus kedepanΒ  menatap keindahan kota dari balik kaca besar itu.


Akhir akhir ini ia merasa, ada yang tidak beres dengan dirinya. Pasalnya Arsen selalu merasakan sakit di dadanya saat suara teriakan serta penolakan Mira tiba tiba terlintas di pikirannya.


Bukan hanya sekali, bahkan saat dia memejamkan matanya, seperti sekarang ini. bayangan malam itu kembali berputar putar di kepalanya, membuat rasa sakit di dadanya, kembali ia rasakan.


Arsen kembali membuka kedua matanya, jari telunjuknya terangkat menulis nama sevi pada permukaan kaca itu. " Tunggu aku begitu urusanku selesai,Β  aku akan mencarimu My lovely." Arsen bermonolog.Β 


Seketika itu dia, langsung melupakan rasa sakitnya, Pikirannya kembali di penuhi rencana yang telah ia susun dengan rapi untuk membalas wanita yang bernama Mira itu. Entah apa yang akan Arsen perbuat kepada wanita malang itu.


...πŸ–€πŸ–€πŸ–€πŸ–€πŸ–€...


Disisi lain.


Mira yang sudah selesai terapi di ajak Abangnya untuk makan di restoran, sang mommy sekaligus bantu bantu disana.


" Hallo Kesayangan om! Maaf ya sayang, om hanya mengunjungimu sekali. Kan Ade tau sendiri om sibuk, ngurusin restoran sekaligus perusahaan om juga. JadiΒ  om belum sempat jengguk kamu lagi." Mira dan Nanda yang baru tiba di restoran, langsung disambut hangat Erik paman mereka.


" Nggak papa ko om, lagian tiap hari juga tante Kila jengukin aku." Sahut Mira, dengan senyum manis Setelah mencium punggung tangan lelaki yang hampir memasuki kepala lima itu. Begitu juga dengan Nanda.


" Tumben, mau di ajak kesini. Biasanya juga nolak buat bantu bantu." Ucap Erik.


" Ia om, kebetulan aku ada meeting di perusahaan papa, aku nggak tega ninggalin dia sendiri di rumah." Mendengar Ucapan Nanda, wajar Mira langsung cemberut. Ia pikir Nanda akan menemaninya, ternyata ia cuma di titipkan. " Sekalipun ada pelayan, Aku takut dia bosen. makanya aku bawa kesini sekalian bantu bantu Tante Kila." Sambungnya lagi.


" Abang apa apaan sih, emang Ade barang di titipin segala." Wajah Sevi Makin cemberut.


" Kamu itu bukan barang, Sebab kamu itu lebih berharga dari apapun." Kila menimpali ucapan mereka.


" Ceci sini sama kakak." Mira menadahkan kedua tangannya kearah Kila. Wajah cemberutnya langsung hilang ketika melihat balita 18 bulan yang berada dalam gendongan Kila.


Kila menyerahkan putrinya kepada Mira. " Ta Ta ta.ma." Seolah ia mengenal Mira, balita itu tertawa dan terus berceloteh sambil menarik helai rambut Mira.


" Duduk disana yuk." Ajak Kila. sambil menunjuk kearah pojokkan, yang tidak jauh dari tempat kasir.


Nanda mendorong Kursi roda Mira mengikuti langkah Akhila, sedangkan Erik, langsung pamit untuk kembali keperusahaannya.


Mira terus mencium wajah ceci, mulai dari kening, pipi, hidung sampai bibirnya. bukannya menangis balita itu justru tertawa sampai terlihat gusinya. membuat Mira semakin gemas kepadanya.


Nanda sampai geleng geleng kepala, Adiknya itu begitu gemas kepada anak anak, bukan hanya Ceci, adik adiknya yang lain pun di perlakuan seperti ini " Ade, Udah kasian cecinya kalau ketawa terus."


" Baru sebentar bang, lagian aku jarang ketemu Ceci."


" Itu karena kamu terlalu sibuk sama temen temen kamu! Setiap liburan juga kamu jarang kerumah Tante. salah siapa." Sahut Kila membuat raut wajah Mira langsung berubah. Nanda dan Kila pun menyadari hal itu.


Begitu makanan yang di pesan Nanda datang, Kila langsung mengambil Ceci dari gendongan Mira dan menyuruhnya untuk makan. Kedua kakak beradik itu pun Akhirnya makan dalam diam.


Begitu selesai makan Nanda langsung pamit kembali ke perusahaan ayahnya, sedangkan Mira membantu Kila menjaga Ceci.


...πŸ–€πŸ–€πŸ–€πŸ–€πŸ–€...


Esok harinya, Mira Kembali di antara Kesekolah, kali ini Putra yang mendapat giliran menemani dan mengantar sang adik.


Seperti hari kemarin, intan dan Dila kembali menghampiri Mira, mengajaknya bercerita bahkan membantunya ke toilet.


" Makasih ya." Ucap Mira begitu mereka telah kembali ke kelas.


" Nggak perlu ngucapin terima kasih, kamu itu sahabat kita, sudah sepatutnya kita bantu kamu." Sahut Dila.


" Benar Ra, kamu itu sahabat kita kalau ada masalah harusnya kamu ngomong, bukan menjauh." Intan turut menimpali. " Kamu sendiri yang bilang apa pun masalahnya kita harus terbuka satu sama lain, bukan saling menjauh seperti sekarang ini, kita tidak akan pernah tahu apa yang terjadi dengan kamu jika hanya diam." Sambungnya inta dengan mata yang mulai berkaca kaca.


" Ra, kalau aku dan intan ada salah yang secara tidak langsung menyinggung atau menyakiti kamu ngomong jangan diam seperti ini, kita nggak tahu salah kita dimana tiba tiba kamu jauhi kita."


" Bukan itu yang kita inginkan Ra! yang kita mau kamu kaya dulu lagi." Ucap intan.


" Itu nggak mungkin Tan, aku nggak mungkin seperti dulu lagi."


" Ap_" Belum sempat intan bertanya Bel sekeloh telah berbunyi, menandakan waktu istirahat telah selesai.


Intan dan Dila kembali ke tempat duduk mereka, dengan rasa penasaran mereka.


...πŸ–€πŸ–€πŸ–€πŸ–€πŸ–€πŸ–€...


Mira yang tengah merapikan buku bukunya kedalam tas, begitu jam pelajaran hari ini selesai, teralihkan dengan bunyi ponselnya.


...❀️ Mommy Calling......


" Assalamualaikum." Ucap Mira saat menjawab panggilan mommynya.


" Waalaikusalam De, Abang sama kakak sibuk, nggak bisa jemput kamu! Kamu bisa tunggu sebentar nggak? nanti mommy suruh supir kantor buat jemput kamu."


" Nggak usah mom, Ade naik taksi aja."


" Jangan dong sayang, kaki belum boleh di paksakan."


" Nggak papa ko mom, nanti Ade minta tolong sama temen Ade."


" Udah mom, nggak usah khawatir Ade langsung pulang kok." Sevi kembali meyakinkan mommynya.


" Janji."


" Janji."


" Sampai rumah langsung telpon mommy."


" Iya mommy ku sayang muuuuccchh."


" Hati hati ya! Assalamualaikum."


" Waalaikusalam." Panggilan itu pun berakhir.


" Kamu nggak jadi di jemput?" Tanya Intan yang kini sudah berada hadapan Mira.


Mira tersenyum kikuk, sambil menggeleng kepalanya. " Ya udah aku antar." Ucap Intan.


" Nggak usah, aku udah pesan taksi, lagian aku nggak di izinin naik motor lagi." Jelas Mira.


" Ya udah kita bantu kamu kedepan. nggak terima penolakan." Sahut Dila.


Dila dan intan langsung memapah Mira kedepan, begitu mendapat persetujuan dari Mira. Begitu sampai di gerbang sekolah tubuh Mira langsung bergetar hebat Ketika mobil Arsen berhenti di depan mereka.


.


.


.


.


Bersambung.


Happy reading...πŸ–€πŸ–€


Jangan lupa like. πŸ‘πŸ‘


Dan vote seikhlasnya.πŸ™πŸ˜˜