
Setelah itu ia mengambil selimut dan bantal di atas ranjang, kemudian me bungkus tubuhnya di sofa. Wanita itu Berharap ketika besok terbangun, semua yang baru saja terjadi hanyalah mimpi.
Harapan sevi untuk terlelap dengan Tenang dan bangun dengan keadaan yang lebih baik sirna. begitu pasangan no akhlak itu menyelesaikan mandi mereka.
Sevi tidak tahu apa yang kedua orang itu lakukan, sebab ia tidak berani menyingkirkan selimut yang menutupi tubuhnya untuk sekedar menengok kegiatan mereka.
Suara lenguhan wanita itu, desahannya serta teriakkan nya yang terus memanggil nama Randy. Memenuhi kamar hotel itu, membuat tubuh Sevi bergetar, perut bagaikan di obok obok. Serta keringat yang mulia membasahi tubuhnya.
Dalam diam Sevi mengeratkan selimut yang menutupi tubuhnya dengan bibir yang terus merapal kan doa. Agar penyiksaan itu segera berlalu tetapi sayang malam ini sepertinya tuhan tidak ingin mendengarnya. Sebab suara suara itu terus terdengar sampai hampir menjelang pagi.
Baru saja ia ingin Memejamkan matanya, suara adzan pun berkumandang dari kejauhan, membuat wanita itu mengurungkan niatnya untuk tidur.
Dengan perlahan ia menyingkirkan selimut yang sejak tadi menutupi tubuhnya. Melirik sekilas kearah ranjang untuk memastikan kedua orang itu masih terjaga atau tidak, dan saat itulah Sevi berlari ke kamar mandi untuk mengeluarkan isi perutnya yang sejak tadi terasa bergejolak.
Sungguh pemandangan yang sangat menjijikkan untuk Sevi, bagaimana tidak! kedua orang itu tertidur dalam keadaan tidak mengunakan sehelai benang pun bahkan selimut tebal itu tidak menutup tubuh keduanya dengan benar.
Sevi menarik nafas dalam-dalam, begitu ia merasakan sedikit lebih baik. Di tatap pantulan dirinya pada cermin. " Ini hukum untukmu, karena kamu sudah jahat kepada om Arsen dan membuat mommy kecewa, kamu menyakiti dua orang yang kamu cintai secara bersamaan Almira Aksevina. Kamu salah." Ucap wanita itu pada bayangannya di cermin. Layaknya orang yang telah kehilangan kewarasannya.
Bukan hanya sekali, bahkan berkali kali sampai suara iqomah menyadarkannya.
Sevi segera membasuh wajahnya dan bersuci, sebelum keluar untuk menunaikan kewajibannya. Bersyukur Mommy tidak lupa untuk meninggalkan mukena serta sajadahnya sehingga ia bisa menunaikan sholatnya. Dengan begitu Sevi bisa mengadu dan menangis sepuasnya sampai ia tertidur.
...\=\=\=\=\=\=\=\=...
Setelah malam itu, esoknya mereka benar benar kembali ke Jerman bersama wanita yang bernama putri itu. Bahkan Randy langsung mengajak mereka untuk pindah ke apartemennya setibanya di sana, sekali pun daddy dan bundanya menolak keras hal itu. Tetapi pada akhirnya bujukan Randy yang menang.
Selama tinggal di apartemen, Kedua orang itu terus menyiksa Sevi! bukan, bukan fisiknya yang di siksa tetapi psikisnya. Yang lebih menyakitkan lagi, Sevi selalu di kurang dalam apartemen ketika kedua orang itu pergi atau berada di dalam rumah.
Bahkan Sevi masih ingat jelas ketika Randy meminta izin kepada Mommy Nya. " Mommy, seperti aku tidak akan memberikan Sevi ponsel."
" Kenapa? Lalu bagaimana cara Mommy menghubunginya nanti." Tanya mommy Devi kala itu.
" Mom, dengar dulu." Sevi melihat lelaki itu menggenggam tangan mommy nya. " Aku melakukan semua ini untuk kebaikan Sevi. Aku hanya takut lelaki itu akan menghubunginya. Walaupun kita menikah karena perjodohan, aku ingin menikah sekali seumur hidup Mommy dan aku terpaksa melakukan semua ini untuk menutup akses lelaki itu dalam mencari sevi. Mommy mengerikan! Kalau Mommy kangen sama Sevi, kan Mommy bisa menghubungi Randy atau datang kesini." Jelasnya.
" Baiklah, kamu atur mana baiknya untuk Sevi. " Sahut mommy Devi. Semenjak hari itu, kehidupan Sevi berubah tiga ratus enam puluh derajat. Ia tak ubahnya seorang tahanan yang tidak di berikan akses atau pun kebebasan.
Sevi bahkan hanya Bisa melihat lanskap kota metropolitan itu dari balik jendela apartemen randy. Dan seperti ucapannya waktu itu, Semua telpon rumah yang ada di apartemen itu benar-benar tidak dapat di gunakan. bersyukurnya ia masih bisa melihat siaran televisi yang sedikit mampu mengusir rasa bosannya.
Jika ada yang mengunjungi mereka selain bunda nadia, maka putri akan berperan sebagai pelayan di apartemen itu. Wanita itu sungguh pandai dalam bermain perannya sebagai seorang pelayan.
Selama tiga dengan kedua orang itu, Sevi tidak pernah menangis di hadapan mereka, ia tidak pernah menunjukkan sisi lemahnya, sekali pun ia di kurung tetapi tidak membuat seorang Sevi menyerah atau pun memberontak. Dan ia bersyukur karena Randy tidak pernah menyentuhnya. Itu satu satunya hal baik yang Sevi dapat dari suaminya itu lain dari itu tidak ada.
Sevi akan menangis jika ia mengingat Arsen dan bertanya tanya akan kondisinya. Di saat seperti itu, Sevi akan terus menganti siaran tv, berharap ada berita tentang Arsen. Mengingat lelaki itu adalah seorang pebisnis, pasti ada berita yang menayangkan dirinya, entah saat dia menang tender, sukses dalam bisnisnya, sakit, menikah atau paling buruknya meninggal. Tetapi sayangnya tidak tidak ada satu berita pun tentang Arsen.
...\=\=\=\=\=\=\=...
" Assalamualaikum, adek kakak yang cantik kamu apa kabar." Ucap putra, ketika ia bertemu dengan Sevi.
" Alhamdulillah aku baik kak." Jawab Sevi sembari memaksa senyumnya.
" Gimana kabar kamu ndy." Kali ini putra bertanya kepada Randy adik iparnya itu. Ketiganya sedang duduk di ruang tamu apartemen Randy.
" Seperti yang kakak lihat aku juga baik." Sahut Randy, walaupun lelaki itu jauh lebih tua dari putra. Ia tetap memanggil kakak mengingat Sevi adalah adiknya putra. " Tumben baru hari ini kakak mengunjungi kami." Randy balik bertanya.
" Iya, aku baru sempat karena, Ayah memberikan aku kesempatan untuk bersaing mendapatkan tender dengan perusahaan lain dan alhamdulillah aku menang tender itu, itu sebabnya aku kemari untuk mengunjungi Sevi sekaligus mengajaknya jalan jalan. Kamu tidak keberatan kan. " Seketika tubuh Randy membeku, Lelaki itu tidak pernah membiarkan Sevi pergi seorang diri bersama keluarga. Ia akan terus bersama mereka kemana pun mereka pergi.
". Tetapi aku ada pekerjaan yang tidak dapat di tinggal kak. " Sahut Randy.
" Tidak masalah, kita akan pergi berdua."
" Bukannya aku tidak mau tap_"
" Jangan bilang kamu tidak mengizinkan aku pergi bersama adikku." putra langsung memotong ucapan Rendy.
" Bukan begitu."
" Berarti kamu setuju." Sahut putra lagi. Dan Randy pun tidak punya pilihan, ia berharap Sevi tidak mengatakan semuanya kepada kakaknya itu.
Waktu terus berlalu, tidak terasa sudah banyak tempat yang di kunjungi mereka berdua. "Kak makan yuk, aku lapar. " Ajak Sevi.
" Ayo, bagaimana kalau kita makan di situ." tunjuk Putra pada salah satu restoran yang tidak jauh dari keduanya. Sevi mengangguk, Dengan tidak sabaran ia menarik tangan putra ke restoran itu.
Saking tergesa gesanya Sevi tubuh sampai bertubrukan dengan seseorang orang dan membuat paper bag yang Di dibawah orang itu jatuh. " Maaf, aku tidak sengaja." Ucap Sevi sembari mengambil paper bag Itu Dan menyerah kan kepada pemiliknya. Begitu tatapannya bertemu dengan sang pemilik papar bag itu. Tubuh Sevi langsung membeku.
" Tak apa." Sahut lelaki itu. Ia mengambil paper bag Dari tangan Sevi dan berlalu begitu saja, ia bahkan tidak menghiraukan tatapan Sevi.
" OM." Teriak Sevi. Tetapi lelaki itu tidak berbali kepadanya dan terus berlalu. Sementara putra tidak dapat berkata kata menyaksikan pertemuan tidak terduga itu.
.......
.......
.......
.......
...Bersambung....
...Happy reading.. 🖤🖤...
...Aku percepat ya, alurnya. Takutnya Kalian bosan kalau alurnya lambat. 🤣🤣🤣...
...Biar cepet tamat juga. 🤣🤣...