
Rasa sayang yang mereka punya untuk sevi mengalahkan segalanya. Keinginan untuk tidak mengikuti jam pelajaran di sekolah pun di turuti oleh Devi dan Aksel, bagi mereka selama putri mereka nyaman, tak masalah, toh Sevi tetap mendapatkan pelajaran tanpa ada yang terlewatkan.
Satu bulan telah berlalu, Baik Arsen mau pun Dila dan intan, tidak pernah ketemu dengan Sevi. Sebab sevi tidak pernah keluar rumah terkecuali untuk terapi. itupun harus bersama Nanda dan putra atau Papa Anwar. Jika tidak Mira tidak akan mau pergi.
Awalnya Mereka merasa aneh, tetepi Mira kembali meyakinkan mareka, jika dia melakukan itu karena tidak ingin merepotkan orang lain terkecuali keluarganya.
" Mommy tadi telpon Abang! Katanya besok, Ade sudah harus masuk sekolah lagi. nggak ada bantahan dan nggak alasan, kamu udah bisa jalankan." Ucap Nanda, kepada adik perempuannya itu.
Mira yang tengah berbaring, langsung duduk mendengar ucapan kakaknya. " Tapi bang."
" Nggak ada tapi tapi, lagian lusa mommy dan Ayah udah balik! kalau kamu mau ngebantah langsung aja sama mereka." Sahut Nanda membuat bibir Sevi manyung. " Abang mau mandi dulu." Nanda mengecup kepala adiknya sebelum meninggalkan ruang keluarga dimana adiknya kini tengah berbaring di Sofa.
Saat akan melangkah masuk kedalam kamarnya, Nanda berpapasan dengan bi Sri, wanita yang menjadi kepala pelayan Sekaligus yang mengurus mereka selama ini.
" Sevi udah makan Bi." Tanya Nanda.
" Sudah Den."
" Makan apa? Mi lagi."
" Iya Den! Akhir akhir ini bibi perhatian, sering banget non Sevi bangun tengah malam buat cari makan dan satu yang buat bibi bingung itu, non Sevi kan nggak terlalu suka nasi goreng, tapi selalu bangun bibi untuk dibuatkan nasi goreng."
" Pantas saja dia sedikit berisi." Gumam Nanda. " ya udah bi makasih ya! maaf jika sevi masih sering repotin bibi." Ucap Nanda.
" Nggak ko den, ini kan udah tugas bibi. permisi ya den."
" Iya Bi." Begitu Bi Sri pergi, Nanda pun meneruskan niatnya untuk membersihkan diri.
Begitu selesai, Nanda kembali turun kelantai bawah untuk bergabung bersama, Mira yang masih berbaring di tempatnya.
" Bang, kakak dimana?" Tanya Mira saat melihat kedatangan Nanda.
" Keluar kota, paling besok pagi udah balik."
" Oohh." Mira pun melanjutkan nontonnya, sedangkan Nanda memilih duduk sambil membaca buku menemani adiknya itu.
" Hmm."
" Abang."
" Kenapa Dek." Nanda menutup Buka yang dia baca, kemudian Melihat ke arah Mira.
" Aku lapar, temanin cari makan yuk."
" Emang mau makan apa? sampai harus di cariin. kan bisa minta sama bibi." Tanya Nanda.
" Tapi aku mau makan Bakso terus pulang nya kita beli batagor sama martabak." Ucap Mira sambil menelan salivanya, membayangkan makan yang baru ia sebutkan itu. " Ayo bang, temani aku! kalau nggak besok aku nggak mau Kesekolah."
" Iya iya, Abang temanin! tapi janji besok kamu harus sekolah."
" Siap Bos." Setelah memberi hormat kepada, Nanda Mira langsung bergegas kekamarnya, mengambil Hoodienya Setelah itu ia kembali turun menemui Nanda. " Ayo bang."
Mira benar-benar membeli semua makanan yang dia sebutkan tadi. Nanda di buat geleng geleng kepala oleh tingkah adiknya malam itu. Aneh tapi nyata, Mira yang pemilih makan dan tidak terlalu suka makan pedas justru keluar dari zona nyaman nya itu, Nanda pun sudah mencoba melarangnya, karena takut adiknya itu sakit. tetapi Mira justru menangis tanpa di buat buat, membuat ia menjadi pusat perhatiaan penggunaan jalan yang lewat serta mereka yang tengah menunggu pesanan mereka datang. dalam hati ia bertanya kenapa adiknya jadi sensitif seperti itu.
.
.
.
.
Bersambung.
Happy reading..🖤🖤
Jangan lupa like dan komen..🙏😘