Sevi Is Mine (Hate But Love)

Sevi Is Mine (Hate But Love)
BAB 49



Selama tinggal bersama Randy dan kekasihnya, Sevi tidak pernah terlelap dalam tidurnya, selain alasan suara mereka yang berisik saat melakukan penyatuan, Sevi juga takut kalau Rendy atau kekasihnya itu akan berbuat tidak tidak kepadanya. Membuat Devi sering terjaga sepanjang malam. Jikalau pun ia tertidur, karena tubuhnya yang benar benar butuh istirahat, maka dia akan terbangun di jam 3 atau jam 4 pagi, seperti sekarang ini.


Sevi melirik jam dingin yang berada dalam ruangannya, waktu masih menunjukkan pukul 3 lewat 25 menit.


Wanita itu berjalan kearah pintu kamarnya, membuka dengan perlahan pintu kamar itu, lalu mengintip situasi di luar. Satu menit kemudian ia bisa bernafas lega, karena kedua pasangan no akhlak itu tidak berada di luar sana.


" Semoga mereka kesiangan lagi." Gumam Sevi, sambil mengelus dadanya nya. Ia berbalik menuju kamar mandi yang ada dalam kamarnya, setelah mengunci rapat rapat pintu kamarnya, tidak lupa ia juga mengganjal pintu itu dengan bangku yang biasa ia duduk di untuk sekedar berias.


Setengah jam kemudian, Sevi sudah selesai mandi dan berpakaian, dress rumahan dengan motif flower berwarna biru muda, menjadi pilihan Sevi. Di tambah sedikit rias natural dengan rambut panjangnya yang di gerai. Semakin menambahkan nilai plus untuk penampilannya pagi ini.


Sevi meraih slim bag nya, setelah itu ia keluar dengan hati hati dan sedikit mengendap ngendap menuju pintu utama Apartemen itu. Begitu berada tepat di balik pintu, Sevi membuka pintu itu dengan amat sangat pelan, sebisa mungkin ia tidak mengeluarkan suara sedikit.


" Huuuuffhh." Sevi menghembuskan nafasnya ketika ia berhasil keluar dari Apartemen itu. " Aku benar benar lelah. Semoga kakak tidak marah aku beristirahat di tempatnya sebentar." Ucap Sevi sepanjang kakinya melangkah menuju lift. Wanita itu berusaha untuk meyakinkan diri sendiri kalau apa yang di lakukan tidak salah dan bersyukurnya hari ini pintu apartment itu tidak di gembok dari dalam seperti biasanya.


Keberuntungan Sevi tidak sempai di situ saja. Karena begitu ia keluar dari lobby apartment, bertepatan dengan salah seorang penghuni gedung apartemen yang sama dengan nya, keluar dari sebuah taksi.


Setelah memastikan taksi itu tidak ada yang memesan lagi, Sevi langsung masuk dan duduk di jok belakang, taksi itu pun berlalu menunju alamat yang di sebut Sevi. Dia ingat saat bersama putra kemarin, Lelaki itu sempat mengatakan nama serta no kamar tempat ia menginap selama enam hari di sini.


Setibanya di hotel tempat putra menginap Sevi langsung mengecek apa kamar yang di sebut putra itu di pesan atas namanya. Dan resepsionis membenarkan hal itu. Sehingga Sevi bisa kembali bernafas lega untuk kesekian kalinya pagi ini. Seandainya putra tidak ada di hotel ini, Sevi sudah berencana untuk memesan satu kamar untuk dirinya. Toh dia memiliki beberapa lembar uang pemberian putra. Walaupun ia sendiri memiliki credit card dalam lain lain. Tapi itu bisa menimbulkan masalah baru jika Mommy Nya sampai tahu dari bukti transaksi yang masuk ke Mommy Nya dan bisa Sevi pasti kedua penipu ulung itu akan memainkan drama mereka dengan baik. Pada akhirnya bukan dia saja yang bermasalah. Putra juga akan terkena imbasnya.


" Huuuuffhh menyebalkan." Gumam nya saat mengingat kemungkinan kemungkinan yang bisa saja terjadi.


...\=\=\=\=\=\=\=...


Arsen yang tengah terlelap di sofa, mulai menggerjap matanya, saat suara bel mengusik indra pendengarannya dan memaksa ia harus bangun dari mimpi indahnya.


Arsen meraih ponselnya dan melihat jam yang tertera di sana, waktu menunjukkan pukul 5 lewat lima menit. " Sial, siapa sih." Di liriknya, Yudha dan putra masih terlelap di ranjang. " Sabar woi, siapa sih ganggu aja." Umpatnya begitu suara bel itu kembali berbunyi.


Dengan malas Arsen beranjak dari tempat ternyaman nya, ia membuka pintu kamar hotel tempatnya menginap bersama Yudha dan putra.


Begitu pintu terbuka, Arsen langsung terkejut, mendapati Sevi berdiri tepat di hadapannya. Wanitanya yang dulu ia sakit kini ada di hadapannya, wanita itu juga alasan Arsen harus melewati empat bulan penyiksaan di rumah sakit dan wanita ini juga alasan kenapa dia berada di sini, bahkan di saat wanita itu telah resmi menjadi milik orang lain, dia tidak melepasnya dan tidak mau beranjak dari hati " Oh tuhan, apa ini mimpi." Tanya Arsen pada dirinya sendiri.


Seandainya putra putra itu tidak ada disini, Arsen pasti sudah akan menculik dan membawanya pergi sejauh mungkin, agar suami serta keluarganya tidak dapat menemukan mereka.


" Maaf, sepertinya aku salah kamar. " Ucap wanita itu begitu lirih, membuat Arsen tersadar dari lamunannya dan kembali mengontrol pikirannya. Yang sudah melambung terlalu jauh.


Sevi berbalik hendak pergi, tetapi baru satu langkah ia kembali menatap Arsen." Tapi kata resepsionis ini kamar yang di pesan kakak aku." Ucap Sevi lagi. Ia sedikit gugup dan takut.


" Putra Viksel Firmasha." Jawab Sevi.


" Masuklah, kamu tidak salah kamar, ini memang benar kamarnya, semalam kamu baru saja menandatangani kontrak kerja sama, jadinya kami habiskan waktu untuk minum minum sampai tertidur."


" Minum? Setau Aku kak putra bukan orang seperti itu." Bantah Sevi.


" Hanya aku dan asistenku, sebagai rekan kerja yang baik, kakak mu hanya menemani kami berdua mengobrol. " Jelas Arsen lagi." Jadi masuk atau tidak? ". Tanya Arsen, sebab Sevi masih diam di tempatnya.


" Hhmm. " Gumam Sevi seraya melangkah melewati Arsen, begitu lelaki itu memberinya jalan dengan menggeser sedikit tubuhnya kedalam." Kakak masih tidur? " Tanya Sevi.


" Seperti yang kamu lihat! Apa perlu aku membangunkannya untuk mu." Sevi menggeleng kepalanya.


" Tidak, kakak sepertinya lelah! Aku akan menunggu kakak bangun sembari beristirahat sebentar." Jelas Sevi. Ia meletakkan slim bag nya di atas meja, kemudian mendaratkan bokongnya di sofa yang tadi Arsen gunakan untuk tidur.


Saat ia merasakan perasaan nyaman dan aman, Sevi mulai mengantuk, tanpa mengucap sepatah kata pun kepada Arsen, Sevi langsung membaringkan tubuhnya di sofa itu dan tidak butuh waktu lama, ia pun tertidur dengan nyenyak tanpa perasaan waspada sedikit pun kepada Arsen, Lelaki yang pernah merenggut kesuciannya.


" Seyakin itu kah." Ucap Arsen seraya menggeleng geleng kapala nya.


Lelaki itu berjalan kearah ranjang, menarik paksa selimut yang di tindih Yudha dan putra. Ia bahkan tidak peduli tidur kedua orang itu terganggu.


Setelah mendapatkan selimut itu, Arsen pun menyelimuti tubuh Sevi. Ia dengan berani mengusap puncak kepala Sevi. " Sebenarnya apa yang terjadi?" Tanya Arsen sambil menatap lekat lekat wajah Sevi.


.... ...


.... ...


.... ...


.... ...


...Bersambung. ...


...Happy reading. 🖤🖤...