
" Kak, bisa duduk nggak. Aku pusing loh lihat kakak terus kesana-kemari seperti setrikaan " Tegur Sevi kepada lelaki yang tidak lain adalah kakaknya itu.
Sejak kembali dari rumah sakit dan mengetahui perbuatan bejat adik iparnya, di belakang mereka, putra begitu marah rasanya Ia ingin mengajar lelaki itu saat ini juga tetapi semuanya masih bisa dia tahan.
" Tahu nih! Bukannya susun rencana buat bongkar keburukan dia di depan keluarga kalian malah habisin waktu dengan mondar-mandir nggak jelas." Sahut Yudha. Lelaki itu juga pusing melihat kelakuan putra. Yang terlihat seperti anak gadis ketahuan keluar malam sama cowoknya. Sedangkan Sevi yang korban disini, tidak terlihat terluka ataupun kecewa. Ia begitu acuh dengan pasangan no akhlak itu.
" Sebaiknya kamu pulang, terus kumpulin bukti sebanyak-banyaknya, ya minimal buat ke pengadilan lah, atau kamu mau terus di perlakukan seperti ini." Sevi langsung menggeleng kepalanya. " Ya mau gimana lagi ini cara satu-satunya agar kita bisa membongkar kebusukkan suami kamu. Pokoknya, sebelum makan malam kita sudah harus mengantar kamu kembali ke apartemen kalian. " Lanjutnya. Seketika itu Sevi langsung menunduk sementara putra tidak setuju dengan saran Arsen begitu juga dengan Yudha.
" Kayanya jangan sekarang deh Sen! Takutnya Dia bakalan di apa-apain kalau balik sekarang. " Usul Yudha.
" Nggaklah! Buktinya, selama ini dia nggak pernah di apa-apain kan."
" Ya itu karena dia menurut selama ini. Coba kamu pikir! Seandainya dia tahu istrinya udah hilang dari pagi, apa semua akan tetap sama." Tanya Yudha lagi.
" Benar kata Yudha." Sambung putra.
" Kalau kaya gini, jadinya kita yang salah! Dan bisa memperburuk keadaan kamu, kalau kita punya bukti, kita gampang bertindak nya." Dan perdebatan di Antara mereka pun terus berlanjut, sementara Sevi hanya Dian.
" Baiklah Aku akan ikutin saran om! Aku akan kembali ke apartemen itu, tapi salah satu di antara kalian harus ikut menyelip di apartemen kita, untuk mengumpulkan bukti. " Ucapnya. Membuat ketiganya saling menatap satu sama lain. Sebelum menyetujui ucapan Sevi.
" Oke setuju. Aku yang akan ikut menyelip kedalam Apartemen kalian." Usul Arsen.
" Nggak-nggak! Enak aja. Aku nggak setuju biar aku saja yang menyelinap ke sana." Sahut Putra. Dan Arsen pun hanya bisa menyetujui hal itu.
" Ya udah, nanti setelah makan malam kita langsung ke apartemen kalian, semakin cepat akan semakin baik buat Sevi." Ucap Arsen tetapi di tolak oleh Sevi.
" Nggak, kita pergi aja sekarang! Seperti yang di katakan om semakin secepat semakin baik." Tanpa menunggu jawaban ketiga lelaki itu, Sevi langsung berdiri dari duduknya dan menyambar slim bag nya. Kemudian melangkah kearah pintu. " Tunggu apa lagi, Ayo!" Serunya kepada ketiga laki-laki yang masih diam di tempat masing-masing. Tanpa di minta dua kali, ketiganya pun menyusul Sevi.
Perjalanan dari Hotel menuju Apartemen Sevi dan Randy, memakan waktu hampir satu jam. Dan setibanya mereka Di Apartemen, keempatnya berpisah dengan menggunakan Lift yang berbeda. Tak lupa ketiganya mengunakan topi yang mereka beli dadakan di salah satu tempat berbelanja dalam perjalanan tadi, agar tidak mudah di kenali.
Begitu tiba di lantai delapan di mana Apartemen Sevi dan Randy berada. Mereka langsung berbagi tugas. yudha duduk di sudut dekat tangga darurat sambil mereset kamera cctv di apartemen itu, sedangkan putra Dan Arsen memantau keadaan sekitar, untuk Sevi sendiri. Ia tetap bersikap seperti biasa dan melangkah menuju apartemen.
Sevi mencoba untuk membuka pintu apartemen itu dengan kode yang pernah ia hafal, syukurnya Randy belum mengganti kode Apartemen mereka.
Dengan mengendap-endap Sevi menyusuri setiap sudut ruangan yang ada di apartemen itu, seraya menengok kesana-kemari untuk mastikan keberadaan pasangan no Akhlak itu.
Setibanya di depan pintu kamar Randy, Sevi berhenti tangannya dengan perlahan meraih handel pintu kamar itu dan memutar nya dengan perlahan. Entah mengapa Sevi merasa dia, kakaknya dan om Arsen berserta Yudha tengah menjalani misi rahasia besar.
Begitu pintu itu terbuka, Sevi dikagetkan oleh Yudha, Arsen dan putra yang masuk secara bersamaan dalam keadaan panik. " Dimana kamar kamu." Desak Yudha sambil membawa laptopnya. " Cepat, katakan dimana kamar kamu." Desaknya lagi. Sevi yang masih bingung dengan keadaan mereka saat itu hanya bisa menunjuk pintu kamarnya. Dan Yudha pun lebih dulu berlari ke sana sementara Arsen menutup pintu kamar Randy, yang sebelumnya di buka oleh Sevi. Dan menarik tangan wanita itu, untuk mengikuti mereka masuk kedalam kamarnya di susul oleh putra, tentunya setelah menutup pintu apartment itu.
Begitu pintu kamar Sevi di tutup, terdengar suara pintu Apartemen terbuka dan tertutup kembali. Di ikuti suara obrolan Randy dan Putri.
" Kenapa jadi kita semua di sini." Tanya putra saat menyadari kebodohan mereka.
" Oh iya ya! Harusnya kan cuma kalian berdua kenapa jadi kita juga ikut-ikutan." Sahut Arsen sambil menunjuk Sevi dan putra, kemudian menatap kepada Yudha.
" Ngapain lihat aku, ini semua karena kamu! Ngapain narik-narik tangan aku segala tadi. Akhirnya kita semua terjebak disini. Mana nggak ada makanan lagi." Semua ini bisa terjadi karena keteledoran Arsen. Ia terlalu fokus menatap Sevi, sampai tidak mendengar panggilan Yudha mau tak mau Yudha pun menghampirinya dan mengatakan kalau Randy dan putri sudah berada di dalam lift. Setelah itu Arsen menarik tangan Yudha untuk memberitahu putra yang berdiri tidak jauh dari pintu apartment Randy dan Sevi.
Begitu selesai, ketiganya hendak berbalik mencari tempat bersembunyi. Pintu lift itu pun terbuka dan keluarlah sih Randy dan Putri, karena panik dan takut ketahuan mereka pun masuk kedalam apartment dan berakhir mereka di sini menatap satu sama lain.
" Sudahlah nggak usah saling melempar kesalahan. sekarang yang harus kita pikirkan itu langka selanjutnya, berhubung kita sudah ada disini." Ucap Putra. Di setujui oleh yang lainnya. Dan mereka pun berdiskusi langkah selanjutnya harus apa dan apa.
TOK... TOK..
" Anak mommy, kamu Di dalam kan. " Tanya Randy. Membuat ketiga lelaki yang sedang bersama Sevi. Kocar-kacir mencari tempat bersembunyi. Melihat hal itu Sevi hanya bisa geleng-geleng kepala. Sembari melangkah ke arah pintu.
" Ada apa?" Tanya Sevi dengan melipat kedua tangannya di dada. Tentunya, setelah membuka pintu untuk Randy.
" Tidak ada, aku hanya ingin memastikan kamu tidak kabur atau mati di dalam sini." Ejeknya, membuat Sevi mengepalkan tangannya. " Oh iya aku juga ingin memberitahukan kabar gembira kepada kamu. Kalau sekarang putri tengah hamil anak aku! Hebatkan aku."
Sevi tersenyum seraya berkata." Hebat ya! Tapi aku nggak peduli." Setelah itu ia menutup pintu kamarnya dengan begitu keras. Membuat Randy terkejut dan mengata-ngatai nya. Tentu saja ucapan Randy di dengar oleh putra. Jika bukan karena yudha dan Arsen yang menahannya. Mungkin saat ini Randy hanya tinggal nama.
.......
.......
.......
.......
...Bersambung....
...Happy reading.. 🖤🖤...