
Tiga hari telah berlalu, sakit kepala dan halusinasi Arsen semakin menjadi, ia bahkan tidak tanggung tanggung meneriakkan nama Sevi dan memohon untuk di maafkan.
Saat sahabatnya berkunjung, untuk melihat kondisinya, Arsen menceritakan soal kedatangan Sevi beberapa hari yang lalu.
Yudha tentunya tidak percaya begitu saja. " Sen, jangan mengarang deh! Kamu pikir setelah semua yang kamu lakukan kepada dia, orang tua nya mau membiarkan anak mereka untuk menemui kamu begitu saja. Tidak sen." Ucap Yudha. Ia tidak bermaksud menghancurkan harapan Arsen, tetapi lelaki itu, membantu Arsen untuk berpikir yang logis aja.
" Tapi dia benar benar datang Yudha! Dia buatin aku sarapan, mengusap kepala aku, sampai aku tertidur."
" Kayaknya kamu makin parah deh sen, sebaiknya kita ke rumah sakit sekarang." Sahut Yudha. Lelaki itu tidak percaya sedikit dengan ucapan Arsen.
" Kamu nggak percaya sama aku, kamu pikir aku berhalusinasi begitu. " Tanya Arsen.
" Apalagi Sen, coba kamu pikir! Kamu udah memperkaosa nya dua kali, menyakitinya bahkan yang terakhir dia sampai kehilangan anaknya. Dan setelah semua itu, orang tuanya masih mau anaknya menemui kamu begitu saja. Hmmm, nggak sen! Bahkan jika orang tuanya mengizinkan dia pergi, dia sendiri pasti akan Gemetaran saat berhadapan sama kamu. Pikir. " Tegas Yudha sambil menunjuk pelipisnya sendiri.
" Tapi aku yakin dia datang Yudha! kamu bisa mengecek cctv apartemen dan membuktikan sendiri, kalau kamu masih ragu. " Ucap Arsen dengan suara yang begitu pelan. Wajahnya terlihat semakin pucat.
Yudha tahu betul siapa Arsen dan bagaimana sifat sahabatnya itu, jika dia tetap kekeh dengan pendapatnya. Itu berarti Arsen, benar karena lelaki itu tidak suka membuang waktu untuk bermain main kecuali tentang Sevi dan wanita yang bernama mira itu. Sialnya mereka adalah orang yang sama.
Yudha berdiri dari duduknya, ia melangkah menuju ruang kerja Arsen, mangambil laptop sahabatnya dan kembali duduk di tempat semula.
Yudha mengotak atik laptop Arsen, tetapi tidak menemukan apa pun, saat dia ingin Melakukan protes kepada sahabatnya.
Yudha justru menyadari sesuatu. " Cctv apartemen ini sudah di reset Sen."
" Hmmm, aku tahu! Bahkan aku berani bertaruh, kalau keluarga Sevi yang melakukan ini semua." Jelas Arsen, tidak ada ekspresi marah di wajahnya.
" Kamu tidak Marah sen." Tanya Yudha, sambil menelisik wajah Arsen. Lelaki itu hanya menggeleng kepala. " Terus kamu membiarkannya. " Tanya Yudha lagi. Kali ini Arsen bereaksi dengan menaikkan kedua bahunya.
" Aku salah Yudha, aku juga mencintainya! Melihat dia bertunangan dengan orang lain saja, itu sangat menyakitkan untuk aku! Jujur aku rasa Ini tidak ada apa apanya di bandingkan darah dan air mata yang ia keluarkan karena kebejatan ku waktu itu." Arsen terlihat begitu pasrah dengan Hidupnya saat ini.
" Tapi nggak bisa seperti ini sen, ingat kamu itu putra satu satunya yang keluarga Aldrich punya, kamu penerus keluarga. Bagaimana perasaan mami dan Papi jika mengetahui anaknya selama ini hanya karena cinta." Bukan hanya Arsen yang hancur, bahkan Yudha pun saat ini juga hancur, karena keluarga calon istri nya membatalkan rencana pernikahan mereka. Disaat semua persiapan telah rampung, bahkan sebagian undangan telah di sebarkan.
" Aku janji akan bertahan! Paling tidak sampai aku melihatnya menikah." Sahut Arsen.
" Terserah kamu, tapi sebentar malam! Kamu harus mau ikut aku ke dokter. Aku tidak terima penolakan."
" Hmmm."
Setelah itu, mereka pun membahas masalah pekerjaan Arsen yang tertunda beberapa hari karena kondisinya saat ini.
...\=\=\=\=\=\=...
Tepatnya di rumah keluarga Firmasha, setiap orang mulai di sibukkan dengan rencana pernikahan Sevi, mulai dari pemilihan ballroom hotel tempat di adakan nya resepsi. Undangan, Gaun pengantin.,Catering, Mua sampai WO.
Tanpa mereka sadari, calon mempelai tidak menginginkan pernikahan ini. Sebab Setiap kali di tanya. Konsep pernikahan dan gaun seperti yang dia mau. Jawabannya selalu sama. Terserah Mommy saja, Sevi ikut apa kata mommy. Selalu seperti itu.
Jika tidak ada yang membutuhkan dirinya, maka Sevi akan kembali ke kamar, mengurung dirinya di sana. Gadis yang dulunya ceria. Kini sudah tidak ada lagi.
Sebab raganya ada disitu tetapi jiwa entah hilang kemana. Dia tidak jauh berbeda dengan sebuah boneka.
Tok... Tok...
Pintu kamarnya di ketuk. Menghentikan Sevi dari lamunan nya.
" Masuk."
Begitu pintu terbuka tampaklah putra. Sang kakak melangkah lebih dekat dengan Sevi. Ia duduk di bibir ranjang, sementara Sevi tetap pada posisinya. Ia masih melihat keluar jendela, seolah objek yang ada di luar sana begitu menarik. Sehingga sayang untuk Ia lewatkan.
" Apa kamu tidak menginginkan pernikahan ini." Tanya putra, membuka obrolan di antara mereka.
" Apa yang di pilih mommy, itu pasti yang terbaik buat aku." Jawab Sevi tanpa mengalihkan pandangannya kepada putra.
" Itu buka jawabnya de." Sahut putra. " De. " panggil putra. Saat Sevi hanya membisu.
" Kenapa kamu seperti ini, mana adik kakak yang dulu! Kakak merasa tidak berguna, sebagai kakak kamu! Seandainya waktu bi_"
" Tidak perlu berandai, pada hakikatnya kita harus sadar, beberapa hal yang penting dalam kehidupan kita tidak bisa di ulang kembali. Suka atau tidak suka. Aku tidak berada dalam posisi memilih sebab posisiku saat Ini adalah menjalani." Putra terdiam. " Aku mau istirahat, kalau tidak ada lagi yang ingin kakak bahas. " Usir an halus itu, membuat putra mengalah.
Ia berdiri dari duduknya." Kalau kamu membutuhkan sesuatu, jangan sungkan memberi tahu kakak ya De. " Ucap putra sebelum meninggal kamar sang adik.
.......
.......
.......
.......
...Bersambung....
...Happy reading.. 🖤🖤...