
Setelah di rawat satu Minggu, Sevi akhirnya di bolehkan untuk pulang dan selama masa awal kehamilannya, Sevi di layani layaknya seorang ratu. Segala permintaannya di turuti mau itu dari pihak orang orang tua maupun mertuanya.
Bahkan kuliah Sevi yang baru berjalan satu semester, harus di tunda karena Arsen tidak ingin Sevi kelelahan dan stress memikirkan kuliahnya.
Tidak hanya sampai disitu, kemana pun Dia pergi! Arsen harus menemaninya kecuali Sevi bersama kedua orang tuanya dan kedua kakaknya.
Selama menjalani masa-masa awal kehamilan, Sevi tidak mengalami mual tapi ia tidak dapat menghindari ngidamnya, setiap hari ada saja hal Aneh yang di inginkan Sevi. Seperti saat ini, di saat jarum jam masih menunjukkan angka dua tengah malam, Sevi terbangun dan merengek kepada Arsen, ia ingin naik bus double decker keluar kota saat ini juga. Tentu saja Arsen tidak akan menurutinya, ia lebih baik mendengar ocehan dan rengekan sang istri sepanjang malam, ketimbang harus membiarkan calon anak dan istrinya kenapa-napa.
" Om nggak mau izinin aku nih?" Tanya Sevi, setelah lelah mengomel tidak jelas. Ia kini sedang duduk di atas ranjang menatap Arsen yang tengah duduk di sofa sambil melipat tangannya di dada dan menatap lurus ke arahnya.
" Nggak." Jawab Arsen dengan tegas.
Sevi kembali menjatuhkan dirinya di atas ranjang, ia begitu ingin keluar jalan-jalan naik bus double decker. " Om jahat, om nggak sayang sama aku, aku bosan di rumah terus, aku ingin jalan-jalan! Kenapa om larang aku. Katanya sayang, katanya cinta tapi om nggak pernah nyenengin aku, om buat aku tertekan. Aku mau pulang aja ke rumah mommy." Ucapnya sambil memukul-mukul ranjang dan menghentakkan kakinya
" Ya udah, kamu mau pulang jam berapa? Nanti aku antar atau mau di jemput ayah?" Tanya Arsen. Membuat Sevi semakin marah.
" Om nyebelin, Aku benci sama om." Teriakkan Sevi memenuhi ruang kamar mereka. sebelum ia berbalik memunggungi Arsen dan menangis sampai ia kembali tertidur.
Arsen sebenarnya tidak tega melihat istrinya seperti itu, tapi untuk kebaikan Sevi dan anaknya ia harus sedikit tega, walaupun hatinya sendiri ikut sakit. Arsen beranjak dari tempat duduknya, setelah yakin Sevi telah tidur, ia dengan perlahan naik keatas ranjang dan berbaring di samping Sevi.
Salah satu tangannya menyusup kedalam baju Sevi, lalu mengusap perutnya yang terasa mulai menggumpal. "Maafkan aku nggak bisa menepati janji aku untuk membuat kamu bahagia. Tapi percayalah aku melakukan ini karena aku sangat mencintai kamu." Ucap Arsen walaupun ia tahu Sevi tidak akan mendengar ucapannya. " Istirahatlah sayang, aku mencintai kalian." Arsen mengecup Dahi Sevi dan ikut tertidur di sampingnya.
Semenjak istrinya hamil, waktu tidurnya selalu terganggu karena Sevi sering sekali terbangun di tengah malam, menutut ini dan itu. Selama pemintaan itu aman, Arsen akan dengan senang hati menurutinya tapi jika tidak! Arsen pun harus mengeraskan hatinya untuk menolak permintaan Sevi.
...\=\=\=\=\=\=\=\=\=...
Keesokan harinya, Sevi terbangun di saat Arsen sudah rapi dengan setelah kerjanya, pria itu hendak keluar dari kamar tapi suara Sevi menghentikannya.
" Aku lapar om."
Arsen meletakkan tas kerja dan ponsel yang ada dalam genggamannya saat ini, di atas meja kemudian menghampiri Sevi. " Mau sarapan sekarang." Tanya Arsen ketika ia sudah duduk di bibir ranjang tepat di hadapan Sevi, tangannya bergerak naik turun mengusap kepala Sevi dengan sayangnya.
" Iya, aku udah lapar banget om." Jawab Sevi sembari mengangguk-anggukkan kepalanya. Mood wanita yang kini tengah berbadan dua itu, cepat sekali berubah. Sehingga Arsen pun harus menyiapkan dirinya untuk menghadapi perubahan suasana hati Sevi. " Abis sarapan anterin aku ke rumah mommy, aku masih marah loh sama om." Ucap Sevi lagi.
" Iya honey." Sahut Arsen, mencium kedua pipi Sevi dan keningnya. " Sini aku gendong ke kamar mandi, habis itu baru kita turun ke bawah untuk sarapan bersama, oke." Sevi hanya mengangguk tanpa bersuara, lalu ia melingkarkan tangannya peda pundak Arsen, untuk memudahkan Arsen menggendongnya ke kamar mandi.
Dua puluh menit Kemudian keduanya sudah bergabung di ruang makan bersama papi Anggara dan mami Meisya.
" Sayang kamu mau kemana?" Tanya mami Meisya saat melintas Sevi meletakkan slim bag tepat di samping tempat duduknya.
" Sevi mau ke rumah mommy, mi! Bolehkan Sevi izin ke rumah mommy?" Jawabannya sekaligus meminta izin kepada mertuanya itu.
Dengan semangat Sevi mengangguk sembari memberikan hormat kepada Meisya dengan meletakkan tangannya di pelipisnya. " Siap mami."
" Ya sudah cepat sarapan! Kasian calon cucu mami pasti sudah sangat lapar." Sevi kembali menganggukkan kepalanya, sebelum menyantap sarapan paginya.
Sama seperti kehamilan sebelumnya, di kehamilan yang kedua ini Sevi juga suka sekali makan nasi, makan apapun harus pakai nasi dan sedikit pedas! dan untuk yang satu ini Sevi tidak ingin di tolak keinginannya.
Tidak butuh waktu lama, mereka pun selesai menikmati sarapan masing-masing, setelah itu Sevi mencium tangan Anggara dan Meisya karena dia akan di antara oleh Arsen ke rumah mommy nya saat itu juga.
" Non, sudah mau pergi? Padahal bibi udah buatin non Sevi puding Nangka loh, non nggak mau cicipi dulu." Tawar kepala pelayan, bagitu ia dan Arsen akan meninggalkan ruang makan itu.
Aroma pudding yang enak membuat Sevi tidak tahan, sesekali ia menelan saliva nya. Sevi kembali meletakkan slim bag nya di tempat semula kemudian ia kembali duduk di tempatnya. " Aku mau bi? Masih ada buah nangkanya nggak?" Tanya Sevi. Setelah kepala pelayan itu menghidangkan puding itu di piring dan meletakkannya di hadapan Sevi.
" Ada non, tunggu sebentar bibi ambilkan." Jawabannya, kemudian bergegas untuk mengambil apa yang di inginkan nyonya mudanya itu.
" Sayang mami tinggal ya, nikmati aja makanan kamu, mami harus mengantar papi ke depan." Ucap Meisya dia ia kan Sevi.
Sementara di belakang Sevi, Arsen berulang kali memijit pelipisnya, sebab pagi ini dia ada meeting di kantor sementara Sevi menginginkan dia untuk mengantarkannya ke rumah mertuanya.
" Honey, bisa lebih cepat, aku punya meeting pagi ini." Ucap Arsen mengharapkan pengertian dari sang istri.
" Kalau meeting om lebih penting dari aku, nggak papa om pergi aja! Aku nggak benaran papa kok, aku bisa ke rumah mommy sendiri."
" Honey aku tahu kamu, nggak papa kamu sebelum hamil aku bisa mempercayainya! Tapi saat hamil, nggak papa kamu itu akan berujung panjang buat aku." Gumam Arsen begitu pelan sehingga Sevi tidak dapat mendengarnya." Kamu lebih penting dari apapun, honey! Aku akan menghubungi Yudha untuk mengantikan aku." Ujarnya kepada Sevi, setelah itu, ia meninggalkan Sevi untuk menghubungi Yudha.
Setelah Arsen pergi, bibi kembali dengan membawa beberapa nangka kepada Sevi. " Ini non nangkanya." Wanita itu meletakkan nangka itu bersebelahan dengan pudding itu.
" Terima kasih ya Bi" Ucap Sevi. cukup lama ia duduk menikmati puding itu, setelah puas barulah ia dan Arsen menuju rumah orang tuanya.
.......
.......
.......
.......
...Happy reading.....
...Happy reading m..🖤🖤...