
" Om." Panggil Sevi, Wanita itu kini sedang duduk di meja rias mengerikan rambutnya, sementara Arsen baru saja keluarga dari walk in closed. Walaupun Arsen sudah meminta Sevi untuk merubah panggilannya kepada Arsen tetapi Sevi belum bisa melakukan hal itu, alasannya karena ia sudah nyaman dengan panggilannya untuk Arsen saat ini. Sementara Arsen sendiri sudah merubah panggilannya dengan memanggil Sevi, Honey karena ia benar-benar tulus sayang kepada Sevi.
"Iya! Ada apa Honey?" Sahut Arsen, Pria itu dapat melihat kegelisahan Sevi, seakan apa yang nantinya Sevi katakan dapat menyinggung perasaannya. " Kamu ingin mengatakan sesuatu! Katakanlah." Pinta Arsen saat Sevi hanya Diam dan menunduk sambil menatap jari-jari tangannya sendiri.
"Honey, katakan! Aku janji tidak akan marah." Ucap Arsen lagi untuk meyakinkan Sevi, Setelah duduk sisi ranjang kemungkinan ia memutar dan menarik kursi yang di duduki Sevi dengan hati-hati ke arahnya agar istrinya itu tidak terjatuh.
" Om, Kalau boleh aku ingin tidur di kamar yang lain." Ucap Sevi Sedikit gugup.
Arsen mendengus saat mendengar ucapan Sevi, ia tidak tahu apa yang membuat Sevi ingin tidur di kamar lain. Karena sejauh ini keduanya tidak memiliki masalah apapun dan tiba-tiba Sevi meminta hal seperti ini. " Ada apa? apa kamu tidak nyaman sekamar dengan aku. Atau kamu takut aku akan melakukan sesuatu kepada kamu! jika benar Demikian, kamu tidak perlu khawatir, karena aku tidak akan menyentuh kamu tanpa persetujuan kamu." Tukas Arsen sembari menatap Sevi penuh cinta dengan satu tangan terangkat mengusap pipi Sevi.
Sementara Sevi sendiri hanya menggeleng kepalanya atas apa yang di ucapkan Arsen barusan. Dan dia pun tak berani untuk menatap Arsen secara langsung." Bukan-bukan seperti itu! aku justru takut om tidak nyaman dengan keberadaan aku dan semua sikap om kepada aku hanya karena kasihan." Ucap Sevi, kemudian memutar sedikit tubuhnya, untuk meletakkan pengering rambut yang masih ia pegang pada tempatnya, walaupun ia belum selesai mengunakan benda itu.
" Lalu! Apa alasannya untuk pemintaan kamu ini, Honey." Tangan Arsen berpindah pada kepala Sevi, bergerak naik turun mengusapnya dengan lembut.
" Om pernah bilang kalau kita harus membangun hubungan ini, untuk lebih baik lagi kedepannya! Tapi om sendiri terus menghindari aku." Ujarnya. Sevi menduga Arsen mencoba menghindarinya dengan tidur di sofa, sementara Sevi menguasai ranjangnya! Dan tanpa Arsen sadari, sikap nya selama ini justru membuat Sevi berpikir yang tidak-tidak. Dan membuat ia teringat akan sikap Randy pada dirinya. " Om, aku mungkin tidak di anggap anak lagi sama mommy, aku sekarang seorang diri! Tapi Apapun yang terjadi kepada aku saat ini jangan pernah merasa kasihan atau bersalah kepada aku karena aku tidak suka di kasihani." Lanjutnya lagi.
" Aku tahu honey, tapi jujur perasaan aku ke kamu bukan karena kasihan, aku tulus sayang dan cinta sama kamu! Dan alasan kenapa aku lebih memilih tidur di sofa dari pada seranjang dengan kamu! Padahal aku sangat menginginkan hal itu, Aku ingin memeluk kamu saat tidur! Aku ingin membuka mata di pagi hari dan melihat kamu berada dalam dekapan aku, aku ingin melakukan banyak hal dengan kamu. Tapi semua itu, aku tahan karena aku masih dibayang-bayangi kejadian di villa dan di apartemen aku, bagaimana jahatnya aku waktu itu. Jujur Aku sangat takut untuk menyakiti kamu lagi, untuk itu aku menjaga semuanya dengan sedikit menjauh." Akunya sedikit emosional tapi tetap menjaga suara terdengar lembut di telinga Sevi.
" Tapi aku sekarang istri om, dengan menjaga jarak tidak akan memperbaiki hubungan kita! Itu hanya akan membuat aku terus salah paham dengan sikap om kepada aku. Om aku pernah di pandang jijik dan di hina sama Randy , aku takut om juga akan melakukan yang hal sama kepadaku." Ucapnya menyampaikan kegelisahannya selama ini.
" Itu tidak akan pernah terjadi Honey. Karena Aku sangat mencintai kamu!" Ujar Arsen sembari menegaskan perasaannya kepada Sevi.
" Jika benar seperti itu, Kenapa kita tidak tidur bersama saja! Bukankah om ingin membuat hubungan kita lebih baik lagi. Lalu kenapa hal sekecil ini harus kita lewatkan." Alasan Sevi mengajak Arsen untuk tidak bersama di ranjang! Karena dia kasihan dengan Arsen, suami nya itu sering mengerakkan leher dan pundak nya saat terbangun di pagi hari, jelas sekali ia tidak nyaman tidur di sofa dan tanpa di tanya Sevi tahu setiap bangun pagi Arsen akan merasakan pegal dan kram karena posisi tidurnya yang tidak nyaman.
" Kamu yakin?" Tanya Arsen. Sevi mengangguk kepalanya! Arsen pun tidak memiliki pilihan lain, jika ia membiarkan Sevi tidur di kamar yang berbeda dengannya, itu sama saja ia memberi kesempatan kepada mami nya untuk menyakiti Sevi dengan kata-katanya! Dan Arsen tidak ingin hal itu terjadi.
Akhirnya malam itu keduanya tidur di ranjang yang sama untuk pertama kalinya setelah keduanya sah menjadi pasangan suami istri.
Jika biasanya Arsen akan terbangun satu jam sebelum waktu ia berangkat kerja. Maka pagi itu ia terbangun lebih cepat dari biasanya, saat merasakan pergerakan Sevi di atas ranjang. " Kenapa kamu sudah?" Tanya Arsen, dengan mata setengah terbuka.
" Ini jam empat honey, apa yang ingin kamu lakukan sepagi ini? Dan jangan bilang kamu sering bangun di jam segini!" Sevi hanya menanggapi ucapan Arsen dengan tersenyum sembari mengangguk kepalanya. Kemudian ia beranjak dari tempat tidur menuju kamar mandi.
Arsen hanya menatap punggung Sevi sampai menghilang di balik pintu kamar mandi. Ia pun tidak dapat tidur kembali. Sehingga ia menemani Sevi melakukan kewajiban mereka setelah itu kedua joging di halaman rumah Arsen.
Disisi lain, Meisya yang melihat Arsen dan Sevi joging bersama, segera mengabari Devi perkembangan hubungan anak-anak mereka. Karena biasanya Sevi akan terlihat bersama para Art di dapur membantu mereka untuk menyiapkan sarapan. Dan tanpa Sevi dan Arsen sadari kesempatan itu di gunakan Meisya untuk mengecek kamar Arsen dan baik dia maupun Devi tahu kalau mereka tidak pernah tidur seranjang selama ini. Tapi pemandangan pagi ini sedikit berbeda, dan dapat Meisya simpulkan sebagai perkembangan hubungan anak-anaknya tanpa perlu ia mengecek lagi seperti hari-hari sebelumnya. Karena Meisya kenal betul putranya itu! Ia akan sulit bangun saat di bangunkan.
" Mami kenapa senyum-senyum sendiri." Tanya Anggara saat mendapati Meisya tengah tersenyum menatap Arsen dan Sevi dari balkon kamarnya, setelah selesai menelpon Devi.
" Ya mami pengen senyum aja. Emangnya mami harus kenapa-kenapa dulu baru tersenyum. aneh deh papi ini." Sahut Meisya dengan ketusnya, kemudian melangkah kedalam kamarnya, meninggalkan Anggara yang masih menatap bingung padanya.
" Apa salah ku kali ini? bukankah aku hanya bertanya." keluh Anggara dalam hatinya.
.......
.......
.......
.......
...Bersambung....
...Happy reading..🖤🖤...
...Maaf baru sempat update lagi.🙏🙏...