Sevi Is Mine (Hate But Love)

Sevi Is Mine (Hate But Love)
Dia berbohong.



Dua Minggu setelah perceraian Sevi, wanita itu tak kunjung mendapatkan keberaniannya untuk menemui orang tuanya. Ia selalu menolak usaha putra untuk membawanya pulang dan menjelaskan semuanya kepada kedua orang tuanya.


Hal itu membuat putra cemas, apalagi ia sempat mendengar maminya! Berbicara dengan Bunda Nadia di telpon! Tapi Putra tidak mendengar dengan jelas apa yang di bicarakan maminya dan bunda Nadia.


Dan ia sedikit bernafas lega, saat maminya tidak menanyakan dia tentang apapun dan tetap bersikap biasa-biasa saja, seolah tidak terjadi apa-apa. Dari sini Putra yakin Randy belum berbicara apapun kepada kedua orang tuanya.


Tapi jauh di lubuk hatinya ia merasa begitu khawatir, entah untuk apa? Dia sendiri juga tidak tahu. " Assalamualaikum." Putra memberi salam seperti biasa saat melangkah masuk kedalam rumah orang tuanya.


" Waalaikumusalam, kamu sudah pulang kak? Bagaimana kuliah dan pekerjaanmu hari?" Seperti biasa Devi menjawab salam putra dan berbasa-basi sejenak.


" Baik mi."


" Syukurlah! Kamu sudah makan malam?" Tanya Devi lagi. Kali ini putra menjawab dengan anggukan kepala. Karena dia benar sudah makan malam bersama Sevi saat mampir ke apartemennya tadi." Ya sudah sana bersih-bersih turus istirahat."


" Iya mi." Jawabannya, kemudian berlari kecil sembari naik anakan tangga menuju lantai dua dimana kamarnya berada.


Begitu sampai di dalam kamarnya! Putra meletakkan tasnya dengan asal kemudian merebahkan dirinya di sofa selama lima belas menit untuk mengusir rasa lelahnya.


Setelah merasa sedikit lebih baik, putra melangkah masuk ke dalam kamar mandi. Untuk membersihkan dirinya.


Selesai mandi dan berpakaian, putra naik keatas ranjang, ia setengah berbaring dan bersandar pada kepala ranjang, kemudian mengambil ponselnya untuk menghubungi Sevi.


Setiap hari berhadapan dengan maminya membuat putra di rundung perasaan gelisah dan takut. Walaupun sikap maminya biasa-biasa saja.


" Hmmuuuhhf ." Putra mendengus saat panggilan pertamanya tidak di jawab oleh sang adik. Panggilan kedua dan ketiganya pun begitu. ' Apa mungkin dia sudah tidur ya.' Pikirnya sembari menatap layar ponselnya. Kemudian meletakkan benda pipi itu ke tempat semula begitu ia yakin Sevi telah tidur.


...\=\=\=\=\=\=\=...


Di lain tempat, tepatnya di apartemen putra. Sevi yang merasa gelisah dan cemas sama seperti putra, memilih mengalihkan perasaannya itu dengan berlari di taman yang masih terletak di apartemen putra.


Iya sudah berlari lima putaran, tapi perasaannya tetep gelisah, semakin gelisah Mala. Merasa usahanya akan sia-sia, Sevi menghentikan aktivitas larinya kemudian melangkah kembali ke apartemen sang kakak.


Setibanya di apartemen, Sevi mendinginkan tubuhnya sejenak sebelum melangkah ke kamar mandi untuk menyegerakan tubuhnya.


Setengah jam kemudian, ia berjalan keluar dari walk in closed . Wanita itu kini sudah gunakan piyama dan bersiap-siap untuk tidur. Sayang matanya tidak kunjung terpejam, membuat ia bergerak gelisah! Berbalik kesana-kemari mencari kenyamanan, namun rasa kantuknya tidak kunjung datang, sehingga ia memutuskan untuk bermain dengan ponselnya.


Sevi sedikit terkejut saat melihat panggilan tak terjawab dari putra. Dan yang membuat jantungnya berdetak kencang! Panggil tak terjawab itu sudah puluhan kali.


"Ada apa ini! Kenapa kak putra menelpon sebanyak ini." Tanya Sevi pada dirinya sendiri, sembari mencoba untuk menghubungi putra kembali. Tetapi belum sempet panggilan itu di jawab oleh putra, bel apartemennya berbunyi. Sevi mengakhiri panggilan itu, kemudian ia beranjak dari tempat tidurnya, berjalan keluar kamar saat suara bel apartemennya berbunyi tanpa jeda, sepertinya orang yang bertemu ke tempatnya itu, sedikit tapi sabaran.


Tatapan Nanda, begitu gelap seakan ia dapat menguliti Sevi hanya dengan memandang seperti itu. Belum lagi ekspresinya yang begitu datar, tidak ada senyum sedikitpun untuk Sevi." Cepatlah mami menunggu mu." Tanpa menunggu tanggapan dari Sevi, Nanda langsung berbalik dan melangkah meninggalkan Sevi menuju lift.


Melihat sikap nanda, setidak ingin membuang waktu dengan bertanya! Karena ia yakin kakaknya itu sudah mengetahui apa yang terjadi, sehingga ia bisa datang kesini menemukannya .


Tak ingin memperburuk keadaan, Sevi segera menutup pintu apartemen putra, kemudian berlari kecil mengikuti Nanda yang sudah berada di dalam lift, sedang menahan pintu lift untuknya.


Begitu keduanya sampai di parkiran apartemen, Nanda langsung masuk ke dalam mobil di ikuti oleh Sevi. Tidak ada yang ingin memecah keheningan di antara mereka baik itu di dalam lift maupun di mobil seperti sekarang ini. Setelah memastikan Sevi telah memasang sabuk pengaman dengan benar, Nanda pun mulai menjalankan mobilnya, keluar dari area parkiran menuju apartemennya.


...\=\=\=\=\=\=\=\=...


" Katakan kepada mami! kenapa kalian sampai bercerai?" Tanya Devi, wanita itu seperti biasa, selalu tenang dalam situasi apapun! Tapi untuk orang yang sudah mengenal siapa Devina! Ketenangan wanita itu, hanyalah awal sebelum bencana sesungguhnya.


Sebenarnya masalah yang terjadi dengan anak-anaknya itu, sudah di jelaskan seminggu yang lalu oleh Nadia di telpon, tetapi wanita itu sebisa mungkin menunjukkan sikap tidak tahu apa-apa, menunggu putri dan putrinya datang ke hadapannya untuk menjelaskan semuanya. Tapi sampai satu Minggu berlalu, Baik Putra maupun Sevi tetap bermain acuh tak acuh dengannya. Hingga Devi kesal dengan ulah kedua anaknya itu, dan meminta Nadia serta Rayhan untuk datang ke Jakarta dengan membawa Randy bersama mereka.


Dan disinilah mereka berkumpul di ruang tamu rumahnya. Dan Nanda pun sudah datang bersama Sevi, sementara putra yang baru saja istirahat. Devi bangunkan begitu Nadia, Rayhan dan Randy datang .


" Semua ini salah aku mi, buka salah Sevi! Karena kesal dengan Sevi yang tidak ingin aku sentuh. Aku marah kemudian pergi ke club untuk melampiaskan kekesalanku dengan minum-minum. Siapa sangka hal itu akan menjadi masalah yang lebih serius mami, aku yang pulang dalam keadaan mabuk, mengira putra adalah Sevi. Aku memaksa dia dan menidurinya mami. Maaf aku khilaf mami." Randy langsung beranjak dari tempat duduknya dan bersujud di bawah kaki Devi. Ia bahkan tidak malu mengeluarkan air matanya agar demi mempercayai kata-katanya. " Mami aku ini lelaki normal, selama berbulan-bulan harus tidur bersama Sevi di ranjang yang sama! Aku bangkan memaklumi dia, karena aku pikir dia mungkin trauma dengan apa yang di lakukan lelaki bajingan itu. Aku juga tidak ingin menceritakan semua ini kepada mami dan bunda agar kalian tidak khawatir dengan hubungan kita tapi justru mengadukan aku kepada putra mami hanya karena mengetahui putri Hamil dan menuduh aku berselingkuh dengannya mami! Padahal aku hanya menyentuh putri sekali, itu karena aku mabuk mi."


" Dia berbohong mami." Sevi dan putra langsung menyangkal hal itu.


Lelaki itu harusnya di berikan piala Oscar untuk perannya malam ini, ia sungguh pandai berakting di hadapan orang tua mereka.


" Mami aku tahu, aku salah! Harusnya aku tidak melakukan itu kepada putri mami, aku harusnya lebih bisa menahan diri lagi, andai malam itu aku tidak mabuk. Mungkin semuanya tidak seperti ini." putra terus menyalahkan dirinya untuk mencari simpati Devi dan yang lainnya. Tanpa Devi sadari dalam hati Randy lelaki itu sudah bertekad untuk membalas perbuatan putra, Arsen dan Yudha. Randy tidak peduli jika Sevi pun terkena imbasnya.


.......


.......


.......


.......


...Bersambung....


...Happy reading..🖤🖤...