
Arsen menatap tubuh Mira, yang terbaring tak sadarkan diri. Setelah ia gagahi dengan Kasarnya layaknya orang kesetanan.
Perlahan kelopak mata itu mulai bergerak dan terbuka, Sang pemilik manik itu kembali menutup matanya untuk menyesuaikan cahaya lampu.
" Sudah bangun." Suara barito itu, membuat Mira membuka lebar kedua matanya. seketika itu Mira langsung duduk, ia bergerak mundur membuat punggung polosnya bertabrakan dengan kepala ranjang. Menyadari keadaannya saat ini, Mira langsung menarik selimut untuk menutupi pundaknya.
" Kenapa terkejut seperti itu? Lagian untuk apa kamu menutupinya, aku sudah melihat semuanya sampai kebagian paling terdalam." Ucap Arsen sambil, menyesap sebatang rokok yang ia himpit di antara jari tengah dan Telunjuknya, sesekali ia bermain dengan gembulan asap yang keluar dari mulutnya. Kakinya lurus kedepan bertumpuk pada meja yang ada di hadapannya, Sungguh pose yang begitu menyebalkan di mata Mira.
Ingin sekali Mira mencaci maki dan mencakar wajah pria yang tengah duduk di hadapannya itu dengan senyum bak malaikat pencabut nyawa.
" Sebenarnya kamu siapa? punya masalah apa kamu sama aku?" Tanya Mira.
" Begitu saatnya tiba, aku akan mengatakan masalahnya, untuk saat ini kita nikmati dulu permainan ini." Jawab Arsen ia menurunkan kakinya dari meja dan berjalan menghampiri Mira.
" Aku akan membuatmu pandai dalam permainan ini dan akan kubuat kamu tidak akan pernah bisa melupakan aku dan semua kenangan ini sekeras apapun kamu mencobanya." Ucap Arsen lagi, ia kini telah berada di atas ranjang yang sama dengan Mira, Arsen setengah berjongkok di hadapan Mira dengan salah satu lututnya sebagai penopang, ia mengapit pipi Mira dengan satu tangannya.
" Chuu." Mira langsung meludahi wajah Arsen. Membuat Arsen geram, ia mengangkat tangan kanannya untuk menampar pipi Mira.Di jarak tiga senti dari pipi Mira, Arsen menganti tampar itu dengan usapan lembut di pipinya sebelum melu amat bibir Mira dengan begitu kasarnya.
" Huumffhh." Mira mendorong tubuh Arsen dan memukul dadanya, tetapi Arsen tidak peduli ia semakin memperdalam ciumannya.
Wajah Mira mulai memerah! tetapi Arsen belum juga melepaskan tautan bibir mereka. Arsen baru melepaskan Mira begitu dirinya membutuhkan oksigen. " Jika kamu terus melawan aku akan semakin bersemangat menyakitimu tanpa perlu meninggalkan jejak." Arsen perlahan turun dari tempat tidurnya, ia mengambil baju seragam Mira yang sengaja ia lepas untuk mengambil beberapa gambar saat Mira tidak sadarkan diri, beberapa saat yang lalu.
" Pakai bajumu." Arsen melempar pakaian itu kepada mira. " Aku sudah memesan taksi untukmu. Jika kamu belum ingin pulang aku tidak keberatan, Kita bisa melanjutkan ronde berikutnya." Arsen terus menyakiti Mira, bukan hanya tubuhnya kata katanya pun sama menyakitkan.
Begitu Arsen meninggalkannya sendiri, Mira langsung bergegas mengunakan pakaiannya, Tanpa membersihkan tubuhnya terlebih dahulu, sebab Mira tidak ingin berlama lama di tempat itu.
Ia yakin kedua kakaknya akan mencarinya, jika mereka pulang dan tidak menemukannya di rumah.
Dengan menahan sakit di kakinya Mira berjalan keluar dari kamar itu, walaupun itu begitu sulit dan memakan waktu, Mira tetap berusaha.
Mira mengambil tas sekolahnya, yang terletak di sofa ruang tamu bersama dengan tubuhnya yang terangkat, karena Arsen tiba tiba mengendongnya.
Arsen berjalan Keluar dari apertemennya, Sambil mengendong Mira ala bridal. " Jangan pernah mengacuhkan aku begitu kita bertemu, jika tidak nasibmu akan berakhir seperti ini." Ancam Arsen begitu Mira telah berada di dalam taksi.
" Jalan pak." pintanya kepada supir taksi. Tanpa menunggu lama sang driver langsung melajukan taksinya dengan perlahan meninggalkan Arsen yang masih berdiri di tempatnya.
Sepanjang perjalanan pulang, wajah Mira terlihat begitu lesu, ia ingin memberi tahu mommynya tentang apa yang menimpanya saat ini, tetepi Mira tidak siap melihat kekecewaan mommynya. tetapi jika tidak memberitahu orang tuanya, Mira takut Arsen semakin berbuat kurang ngajar dan semakin tidak terkendali.
Mira pun tidak ingin menjadi Boneka pemuasa Arsen, tetepi dia terlalu binggung dan takut, takut dengan kekecewaan orang tuanya, bingung karena tidak ingin terus di manfaatkan oleh lelaki itu.
...🖤🖤🖤🖤🖤🖤...
Tepat pukul lima sore, Mira sampai di rumahnya, begitu turun dari taksi, Bibi yang berkerja di rumahnya langsung menghampirinya sambil mendorong kursi rodanya.
" Assalamualaikum."
"Waalaikusalam Non, ko jam segini baru pulang." Tanya bibi. Mira hanya tersenyum sambil duduk di kursi roda. " Habis dari rumah non intan atau non Dila? Jangan sampai mommy tahu ya non kan mommy masih marah sama mereka." Ucap bibi, yang berfikir jika Mira dari rumah intan atau Dila.
" Iya Bi, Sevi kekamar dulu ya." Ucap Mira ia menekan tombol pada kursi roda itu, agar dapat bergerak sendiri.
" Iya non, Nanti bibir antarkan makanan kekamar non."
" Terima kasih bi."
Mira masuk kedalam kamarnya, Usai meletakkan tasnya, ia langsung bergegas menuju kamar mandi, membasahi tubuhnya di bawah guyuran shower Tanpa pakaian yang masih menempel di tubuhnya.
Sudah dua jam, Mira berada di kamar mandi dengan posisi yang sama, jari jari tangannya mulai mengkerut dan tubuhnya mulai mengigil, tetapi belum ada tanda-tanda Mira akan menyudahi mandinya itu.
Begitu samar samar ia mendengar suara Azan, Mira langsung bergegas membersihkan dirinya. Setelah itu ia keluar kamar mandi untuk melakukan kewajiban. Habis sholat Mira langsung tertidur tanpa menyentuh makanan yang sejak tadi di bawah oleh bibi.
Waktu menunjukkan pukul setengah 10, malam barulah Nanda dan putra pulang, begitu tiba di rumah, mereka langsung mencari keberadaan Mira.
" Waalaikusalam Den." Jawab bibi.
" Bi Sevi mana?" Tanya Nanda,
" Di kamarnya Den."
" Sevi pulang jam berapa?" Giliran Putra yang bertanya.
" Jam 5."
" Ko telat banget." Sahut Nanda.
" Mungkin habis dari rumah non intan atau non Dila den."
" Ohh, udah makan dia." tanya Nanda lagi.
" Belum." Tanpa bertanya lagi Keduanya langsung menuju kamar Mira.
Putra memutar Hendel pintu kamar adiknya, di lihat sang adik masih tertidur dengan menggunakan mukenanya.
" De, bangun." Nanda menepuk pipi Adiknya.
" Hmmm."
" Kenapa tidur di sini." Tanya Putra.
" Ngantuk ka."
" Ya udah makan dulu ya! kamu belum makan kan?"
" Nanti aja bang Ade ngantuk."
" Nggak makan sekarang, biar Abang suapin, buka dulu mukenanya." Pinta Nanda dan sepi pun hanya menuruti perintah kedua kakaknya.
Nanda dan putra pun menemani Mira, makan malam di ruangan makan, selesai makan ketiganya duduk di ruang keluarga. Mira berbaring menjadikan paha putra sebagai bantalnya, sedangkan putra memijit pelan kaki Mira.
" Kaki kamu ko tambah memar? kamu paksain ya."
" Iya, habis kalau nggak di paksain, ntar aku jalannya susah."
" Tapi jangan sering juga."
" Kalau gitu sevi di rumah aja."
" Nggak bisa kamu harus sekolah." Nanda mencubit hidung adiknya, membuat bibir Mira cemberut.
.
.
.
.
Bersambung.
Happy reading..🖤🖤
Jangan lupa like dan komen.🙏😘