Sevi Is Mine (Hate But Love)

Sevi Is Mine (Hate But Love)
My husband.



Keesokkan harinya Sevi terbangun karena silaunya cahaya matahari yang masuk menembus tirai jendela kamarnya. Begitu Sevi mencoba untuk duduk seluruh tubuhnya terasa begitu sakit, akibat pemainan mereka kemarin.


Sevi pun baru sadar kalau Arsen sudah tidak berada kamarnya. Ia mengambil ponselnya untuk melihat jam dan menemukan sebuah note tepat di samping ponselnya.


" Honey, aku berangkat kerja! Maaf aku tidak tega untuk membangunkan kamu! Sebab kamu terlihat begitu lelah. Jangan lupa sarapan ya. Hubungi aku kalau kamu sudah bangun."


Sevi tersenyum membaca note yang di tinggalkan Arsen, ia pun menyibak selimutnya dan perlahan turun dari tempat tidurnya. Saat akan masuk ke kamar, Sevi melihat sarapannya sudah tersedia di atas meja sofa. Sudut bibirnya kembali tertarik keatas. Ia tidak menyangka Arsen akan memperlakukannya semanis itu.


Sevi pun meneruskan langkahnya, ia membasuh wajahnya, menyikat gigi! Kemudian keluar untuk sarapan. Selesai sarapan barulah Sevi mandi dan bersiap-siap untuk pergi ke kampus. Tak lupa ia mengirim pesan kepada Arsen.


Begitu ia turun ke bawah, kepala pelayan menghampirinya dan memberikan kunci mobil kepada Sevi. " Buat apa ini Bi?" Tanya Sevi kepada pelayan senior itu.


" Bibi juga nggak tahu non, tapi den Arsen pesan untuk memberikan kunci ini kepada non! Kalau sudah bangun." Jelas nya.


Sevi mengangguk kepalanya kemudian mengucapkan. " Terima kasih ya Bi."


Pelayan senior itu tersenyum kepada Sevi. " Sama-sama non! Bibi pamit ke belakang ya." Sevi mengangguk.


Setelah pelayan itu pergi, Sevi tersenyum menatap kunci di tangannya. Ia senang akhirnya tidak perlu di antara jemput. Dan kesempatan untuk kembali ke jalan bersama teman-temannya seakan terbuka lebar untuknya. " Ah kita pikirkan itu nanti saatnya ke kampus." Ucap Sevi kepada dirinya sendiri. Ia kembali melangkah keluar rumah dengan perasaan senang. Tapi belum sampai pintu utama.


Suara Meisya menghentikan langkahnya. " Tunggu." Sevi mengatur nafas dan menyiapkan hatinya sebelum berbalik menatap sang ibu mertua.


Sementara di belakang sana langkah Meisya semakin dekat dengan Sevi. Begitu keduanya berhadapan dengan jarak hanya sejengkal. Meisya langsung memberikan kantung yang terbuat dari kertas itu kepada Sevi, Seraya berkata." Itu berisi undangan untuk pesta pernikahan kalian, undangan itu masih kosong! Terserah kamu ingin memberikannya kepada siapa."


Sevi mengeluarkan satu undang untuk melihat bentuknya. Udah itu terlihat simpel tapi begitu mewah. Sekali melihat saja, Sevi yakin undangan ini pasti di pilih mommy nya karena, sang mommy begitu menyukai sesuatu yang terlihat simpel tapi mewah. " Buat aku mi?"


" Hmm." Gumam Meisya.


" Terima kasih mami." Sevi tidak peduli dengan tatapan dingin Meisya, ia langsung memeluk dan mencium pipi mertuanya, kemudian berlari keluar rumah sebelum kena omelan-nya! Tanpa dia tahu di belakang sana sang mertua tersenyum geleng-geleng melihat tingkahnya.


Sevi menekan tombol pada kunci mobilnya. Ia begitu terkejut saat tahu, mobil yang dia beli kemarin sudah bisa ia gunakan dan kini sedang terparkir di hadapannya menunggu dia mencobanya. Tanpa membuang waktu Sevi langsung masuk kedalam mobilnya. Sebuah mobil mewah memang sungguh dahsyat.


Sevi begitu bahagia mengemudi mobil itu di jalan, terlalu banyak hal baik yang terjadi pagi ini sehingga ia merasa hari ini adalah hari begitu indah.


...\=\=\=\=\=\=\=...


Setibanya di kampus, Sevi langsung memarkirkan mobilnya tepat di samping mobil Dila dan Rizal yang sedang menunggunya di parkiran. " Hai semua, lihatlah hadiah my husband." Keempat temannya itu langsung kompak memutar wajah mereka. " Tas baru, sepatu baru dan mobil baru. Semuanya hadiah dari my husband." Ulangnya lagi.


" Sev, aku mau muntah, sumpah! Perasaan kita cuma minta kamu kembali menjadi diri kamu sendiri, bukan menjadi tukang pamer ya." Sahut Dila. Berpura-pura kesal dengan tingkah Sevi.


Sementara Sevi tidak mengambil hati ucapan Dila dan menghampiri sahabatnya itu kemudian memeluknya. " Dila sayang aku bukannya pamer tapi ingin berbagi kebahagiaan dengan kalian, aku juga akan membagikan undangan untuk pesta pernikahan aku. Tapi setelah nama kalian di cetak ya. "


" Serius? " Tanya Intan di angguki Sevi. " Kamu bawa undangannya nggak?" Tanya Intan lagi.


" Undangan aku mana! Kasih aja nggak usah namanya di cetak segala terlalu formal, tulis tangan aja. " Ucap intan kemudian merebut! Kunci mobil dari tangan Sevi. Ia berjalan kearah pintu mobil, membukanya kemudian mengeluarkan kantong yang terbuat dari kertas itu lalu membagikan kepada Dila, Rizal dan Arya, tanpa menunggu persetujuan Sevi." Nih! Kalian tulis nama kalian aja sendiri, nggak usah manja pakai di cetak segala."


Bukan hanya kepada sahabatnya. Bahkan kepada teman-teman kampus mereka yang cukup dekat! Intan membagi undangan itu di bantu, Dila, Rizal dan Arya. mereka juga mengatakan hal yang sama dengan yang dikatakan intan kepada mereka. " tulis aja nama kalian sendiri."


Sementara Sevi tidak bisa berkata apa-apa! Ia hanya menepuk jidatnya, dalam hitungan menit undangan itu sudah selesai di bagikan, sebagian dosen juga di undang tapi untuk dosen tentunya Rizal dan Arya yang di tugaskan untuk menulis nama dosen lengkap dengan gelar mereka.


Selesai membagi undangan mereka masuk kelas. Hari ini Sevi hanya mempunyai satu mata kuliah. Begitu mata kuliah selesai, Sevi langsung meninggalkan kampus, ia tidak menunggu Intan dan Dila, sebab kedua sahabatnya itu masih memiliki mata kuliah lain! Maklum saja keduanya adalah kakak senior Sevi. Karena mereka lebih dulu kuliah begitu juga dengan Rizal dan Arya.


Mobil yang di kendarai Sevi menuju, perusahaan keluarga Firmansha, wanita itu sudah bertekad untuk memperbaiki hubungannya dengan sang mommy hari ini juga! Ia tidak akan pergi walaupun sang mommy nantinya akan mengusirnya.


Satu jam kemudian mobil Sevi sudah terparkir di parkiran khusus petinggi perusahaan. Ia keluar dari mobilnya, kemudian melangkah masuk kedalam lobby perusahaan dan menghampiri resepsionis yang ada di sana. Tiga orang wanita yang berada di sana! Dua diantaranya tidak Sevi kenal! Mungkin saja mereka pegawai baru! Sementara yang satunya langsung menyapa Sevi begitu melihatnya.


" Hai De! Apa kabar? Tumben baru main lagi kesini." Ucap resepsionis dengan name tag Thita itu.


" Alhamdulillah baik, seperti yang mbak lihat. Lagian mbak kan tau sendiri, kalau aku udah nikah jadi baru sempat lagi kesini. Mommy ada kan." Ujar Sevi.


" Ada kok De, langsung ajak keruang mommy! Masih tahu kan ruangan nya atau mau mbak antar."


Sevi melambaikan tangannya." Nggak usah mbak! Aku sendiri aja. Aku ke atas yang mbak. " Resepsionis itu tersenyum kemudian mengangguk kepalanya. Sedangkan Sevi langsung melangkah masuk kedalam lift khusus begitu pintu lift terbuka.


Lift itu membawanya menuju lantai dua puluh delapan di mana ruang mommy, ayah dan yang lainnya berada. Dan begitu lift berhenti di lantai tersebut, pintu lift pun terbuka. Ia langsung di sambut sosok yang begitu ia rindukan, Devi, Aksel dan kedua putranya sedang menunggu lift di depan lift. " Mommy, Dede kangen mommy." Ucap Sevi langsung melempar dirinya kepada Sevi, beruntung Aksel begitu sigap sehingga istri dan putrinya tidak sampai terjatuh. Tidak hanya sampai disitu Sevi juga mencium kedua pipi mommy-nya." Mommy! Maafkan aku! Aku sangat mencintai mommy, tapi mommy jangan meminta aku memilih antara mommy dan om Arsen karena kalian berdua sangat berarti untuk. Oke jangan marah lagi. Nanti mommy cepat tua." Sevi kembali mencium pipi Devi.


Apa yang di lakukan Sevi membuat Devi senang juga kaget. Ia kaget karena tidak menyangka Sevi akan datang menemui, senang karena putrinya sudah kembali dan berani mengatakan keinginan walaupun dia tidak suka tapi ia menepis perasaan itu untuk kebahagiaan Sevi. " Mommy juga kangen sama kamu! Jangan menjauh lagi dari mommy." Devi membalas pelukan Sevi dan menciumnya. Sebesar apapun Sevi, bagi Devi ia tetap putri kecilnya yang cerewet dan selalu mengutarakan keinginannya. Bukan orang lain yang pendiam dan mengikuti keinginan orang lain. " Jangan pernah merubah apapun dari kamu! Karena apa yang terjadi kepada kamu seburuk apapun itu, kamu tetap putriku. Kamu tidak dilahirkan untuk membuat mommy terkesan tapi kamu dilahirkan untuk melengkapi kebahagiaan mommy. Mommy akan bahagia jika kamu bahagia sayang." Pelukan Sevi semakin erat. Kini ia sadar, semua yang terjadi kepadanya karena Ia selalu diam padahal mommy-nya selalu menunggu dia bercerita dan mengatakan keinginannya.


" Maafkan mommy yang terlalu keras sama kamu." Sevi mengangguk kemudian menangis sejadi-jadinya.


" Aku sayang sama mommy."


" Mommy juga sayang sama kamu." Aksel, Putra dan Nanda ikut menitihkan air mata, menyaksikan semua itu.


.......


.......


.......


.......


...Bersambung....


...Happy reading..🖤🖤...