Sevi Is Mine (Hate But Love)

Sevi Is Mine (Hate But Love)
BAB 50



" Jam berapa dia datang?" Tanya putra. Ketiganya kini sedang duduk menunggu Sevi yang masih tertidur Di ranjang.


Awalnya, Sevi memang tidur di sofa, tetapi putra memindahkannya keranjang begitu mereka bangun dan menyadari kehadiran Sevi adiknya.


" Jam lima, lewat lima menit. " Jawab Arsen seadanya.


" Kamu tidak apa apakan dia, selama kita tidurkan?" Tanya Putra seraya menatap penuh curiga kepada Arsen.


" Aku memang brengsek tapi aku tidak akan melakukan hal bodoh dua kali kepada orang yang aku cintai. Bahkan aku berani bertaruh dengan kamu, bahwa aku lebih mencintai dan menyayanginya dari pada kamu kakaknya. " Ucap Arsen penuh percaya diri. Yudha yang mendengar hal itu memutar bola matanya malas.


" Jika tidak ada kasus pemerkoasan dan pembunuhan anak sendiri, mungkin aku akan percaya dengan kata kata mu. Tuan Arsen." Sindir Yudha.


Begitulah kalau orang sudah berbuat salah segala sesuatunya akan di kaitkan dengan kejadian yang sudah sudah, mau membela diri dan berbuat baik sekeras apapun. Semuanya tetap akan di pertanyakan kembali, sama hal nya seperti Arsen.


" Itu hak kalian, mau percaya atau tidak dengan perasaanku kepadanya. Tapi satu yang pasti, aku akan melakukan yang terbaik yang dia minta." Putra dan Yudha kompak menaikkan kedua bahunya. Tidak peduli dengan apa yang di katakan Arsen. " Lupakan,sebaiknya kita pikirkan alasan dia datang kesini. " Sambung Arsen.


" Itu dia masalahnya. " Yudha membenarkan ucapan Arsen.


" Sebaiknya kita tunggu sampai dia bangun dan berkata lebih jelas padanya, kita tidak bisa asal menduga saja." Ucap putra. Arsen dan Yudha hanya bisa mengangguk.


Ketiga memutuskan untuk sarapan sambil menunggu Sevi bangun. Satu jam kemudian, wanita itu mulai menggerjap matanya. Ia menatap sekeliling ruangan itu ketika kesadarannya mulai terkumpul.


" Kamu sudah bangun." Tanya putra, ia Menghampiri adiknya itu dan duduk di bibir ranjang Tepat di samping Sevi yang kini sedang bersandar pada kepala ranjang. " Tadi pagi kamu tidak sholat loh, kakak ingin membangunkan kamu untuk berjamaah tapi kata Arsen kamu baru saja tidur." Jelas Putra sembari mengusap kepalanya.


" Aku sedang datang bulan, makanya pas sampai disini aku langsung tidur tadi." Sahut Sevi. Mungkin karena efek bangun tidur, dia tidak terkejut sedikit pun saat kakaknya itu menyebut nama Arsen.


" Ya sudah, kamu cuci muka dulu! Terus sarapan, Kakak udah siapin sarapan kamu di meja. " Tunjukan nya kearah meja sofa di mana Arsen dan Yudha sedang duduk.


Seketika itu mata Sevi langsung membulat. Menyadari kehadiran Arsen dan Yudha. " Kakak! Mereka?"


" Nanti kakak jelaskan, sebaiknya kamu segera cuci muka dan sarapan, setelah itu barulah kita bicara oke." Putra mengacak acak rambut Sevi. Kemudian ia kembali bergabung bersama Arsen dan Yudha, sementara Sevi langsung turun dari ranjang, menuju kamar mandi untuk melakukan apa yang diminta kakaknya.


Lima belas menit kemudian ia sudah bergabung bersama ketiga orang itu di sofa. Sembari menikmati sarapannya yang sudah kesiangan.


" Ada apa?" Tanya putra setelah Sevi selesai meneguk susu yang di siapkan nya. " Apa kalian memiliki masalah." Sambungnya lagi.


Sementara Sevi hanya menatap ketiga orang itu secara bergantian, Sembari menimbang nimbang apa dia harus mengatakan sebenarnya. Kepada sang kakak atau tidak.


" Apa kalian akan percaya padaku." Tanya Sevi.


" Tergantung, kebenaran atau kebohongan yang kamu ucapkan nanti." Tegas putra, wajahnya terlihat begitu serius.


" Aku percaya sama kamu." Sahut Arsen. Lelaki itu memberikan dukungan kepada Sevi. Bahkan ia tidak peduli tatapan tidak suka yang di tunjukkan putra padanya.


" Seperti yang di jelaskan Arsen tadi. Bahwa kita hanya rekan bisnis."


" Tapi kakak tahu sendiri, dia_"


" Dalam pekerjaan tidak mengenal masalah pribadi, selama pekerjaan itu memberi keuntungan, tidak ada salahnya mencoba bukan." Sahut putra. Ia langsung memotong ucapan Sevi, sebelum adiknya itu bertanya lebih jauh tentang kedekatan mereka. " Sekarang cerita sama kakak. " Desaknya lagi.


Membuat Sevi mau tidak mau menceritakan, masalahnya kepada putra, mulai dari malam pertama mereka di hotel, kehadiran putri sampai hubungan kedua orang itu secara terang terangan di depan.


Tidak sampai di situ saja, Sevi juga menceritakan bagaimana ia di kurang di apartemen itu dan semua fasilitasnya di tarik dan di batasi. Jika ingin keluar harus menunggu sampai Mommy, Ayah atau Nanda mengunjunginya. Itu pun juga harus di temani Randy lelaki itu selalu ikut kemana Sevi pergi bersama keluarganya. Sebab dia hanya ingin memastikan Sevi tidak mengatakan tentang putri kepada siapapun sekaligus menunjukkan pada semua orang jika hubungan mereka baik baik saja dan semakin harmonis dari hari ke hari.


" Kamu tidak sedang membohongi kakak kan dek?" Tanya putra. Sementara Arsen sudah mengepalkan tangannya hingga buku buku jarinya memutih. 'Aku melepaskan dia untuk kebahagiaannya, jika seperti ini jadinya, aku tidak akan mengembalikan dia kepadamu, walaupun aku harus melawan dunia sekalipun.' Tekadnya di dalam hati.


" Apa aku pernah berbohong?" Tanya Sevi. Putra menggeleng kepalanya. Sebab adiknya itu tidak pernah berbohong untuk hal hal seperti ini. Ia akan berbohong jika di tanya baik-baik saja. Wanita itu akan mengangguk walaupun kenyataannya tidak seperti itu.


" Kasih kakak waktu untuk membuktikan semua itu dan jika saat itu tiba, kakak akan membebaskan kamu darinya, untuk sementara waktu, sebaiknya kamu menginap disini dulu." Sevi hanya mengangguk sementara Arsen dan Yudha hanya mendengar sambil menyusun rencana di otak mereka untuk membantu Sevi.


" Sebaiknya kita bahas itu nanti, sebab kita harus ke rumah sakit sekarang. " Ucap Yudha, mengingat Arsen memiliki jadwal check up hari ini.


" Baiklah, aku akan ikut dengan kalian! Apa kamu tidak apa jika sendiri disini." Tanya putra kepada Sevi.


Wanita itu menggeleng." Ayo ikut, sekalian jalan jalan. " Putus Arsen. Entah kenapa setelah mendengar cerita Sevi, Lelaki itu langsung menghentikan sandiwara nya. Ia bahkan tak tanggung tanggung menempelkan dirinya pada Sevi. Walaupun ia jelas tahu wanita itu masih berstatus istri orang.


Setengah jam kemudian, mereka sampai pada rumah sakit dimana Arsen biasanya melakukan check up. Karena hotel yang mereka tempati tidak terlalu jauh dari rumah sakit itu.


Saat hendak melewati lobby rumah sakit, putra tidak sengaja melihat adik iparnya dengan wanita yang bernama putri itu. Ia langsung menarik tubuh Sevi dan Arsen untuk bersembunyi di belakang tembok. Setelah kedua orang itu berlalu. Mereka memutuskan untuk mengikuti mereka dari jarak jauh.


" Ngapain mereka di ruangan itu. Mungkin wanita itu hamil?" Tanya putra seraya menatap kearah Sevi, tetapi adiknya itu hanya mengangkat bahunya. Tidak peduli dengan pasangan no akhlak itu.


.......


.......


.......


.......


...Bersambung....


...Happy reading.. 🖤🖤...